Jumat, 17 Maret 2017

Visit Tidore Island - Saga Pala di Lembah Kie Matubu

.: Selamat datang di Tidore. Foto dipinjam dari sini :.

Mengapung di Laut Maluku yang kerap dihempas ombak ganas, Tidore tak ubahnya serupa noktah yang berkonstelasi dalam gugusan pulau di Provinsi Maluku Utara. Keberadaannya yang kerap luput dari peta Indonesia pernah menyita perhatian dunia. Sebagai seseorang yang lahir di daerah pegunungan dan hidup di wilayah barat nusantara, hanya ada satu kata yang sanggup mendefinisikan wilayah Indonesia bagian timur ini: jauh. Segala informasi yang terkait dengannya bagaikan dogma dari televisi dan produk informasi sejenis. Bahkan, keharuman aroma rempah-rempahnya hanya tercium dari lembaran teks buku sejarah di bangku sekolah.

Tersohor sebagai negeri penghasil rempah, bersama dengan kerajaan atau kesultanan lain di sekitarnya seperti Ternate, Bacan, Jailolo, Obi, dan Loloda, Tidore seakan sanggup menghipnotis para penjelajah ulung dari berbagai belahan dunia untuk berlabuh dan menjadi bagian dari ekspedisinya. Saudagar dari Arab merupakan salah satu rombongan pionir selain dari Jawa, Malaka, Makassar, dan China, yang melakukan ekspedisi ke perairan Maluku ini. Mereka memenuhi lambung kapalnya dengan cengkeh, pala, kenari, dan banyak komoditas rempah lainnya lalu menjualnya kembali di pasar Eropa dengan keuntungan yang berlipat ganda. Di sana, rempah bukan hanya berguna sebagai bumbu masakan, melainkan juga berfungsi sebagai bahan pembuat obat dan minyak wangi.

Sabtu, 21 Januari 2017

Naik Gunung di Era Kekinian

.: Sensasi di Ketinggian Bumi :.

Awal tahun seringkali dilabeli sebagai masa 'reses' bagi para pendaki. Cuaca sering berubah. Alam kerap kurang bersahabat. Hujan turun kelewat kerap. Hal ini diantisipasi dengan dikeluarkannya surat penutupan jalur pendakian di beberapa gunung. Tujuannya hanya satu: memberikan kepastian akan keselamatan para pendaki demi menghindari jatuhnya korban akibat pendakian tak berizin.

Di sisi lain, penutupan jalur pendakian dilakukan sebagai suatu upaya sadar untuk memberikan kesempatan kepada alam untuk 'memulihkan' diri, mengembalikan 'prana' tubuh bumi setelah sepanjang tahun dijamah manusia. Sebagai seorang pendaki yang taat pada aturan, saya memilih mengalihkan destinasi perjalanan yang jauh dari gunung dan mencoba tetap konsisten tidak tergiur tawaran mendaki di gunung-gunung yang secara resmi ditutup sementara demi kelangsungan kelestarian alam.

Sabtu, 14 Januari 2017

Mantra Mayura

.: Suatu Siang Taman Mayura :.

Teronggok di pusat kota Mataram, Pulau Lombok, eksistensi taman tirta Mayura mengingatkan saya pada kompleks petirtaan serupa yang bercokol di tlatah Mataram Yogyakarta. Meski peruntukannya berbeda, keduanya sama-sama bernafaskan Hindu kuno, yang secara telaten, merekam kejayaan masa silam. Fasad bangunannya begitu bersahaja dan sarat dengan simbol-simbol nilai kebaikan yang diamini secara universal.

Saya sengaja menyempatkan diri menyambangi kompleks petirtaan ini di suatu siang yang terik setelah beberapa kali terlewatkan pada kunjungan ke Lombok sebelumnya.

"Silakan dipakai kainnya dahulu sebelum kita mulai tur keliling taman.", ujar Pak Malik, pemandu saya siang itu.

Sabtu, 07 Januari 2017

17 Hal yang Sering Ditanyakan kepada adieDOES tentang Berlari

.: Berlari di Jalanan Jakarta Saat Car Free Day :.

Saya suka jalan-jalan. Saya lari secara rutin. Saya menyenangi fotografi. Di sela-sela waktu luang, saya masih menyempatkan diri untuk membaca (banyak) buku. Saya suka nonton film. Saya makan teratur mengikuti kaidah empat sehat lima sempurna. Saya senang icip-icip kopi. Hampir setiap waktu, saya juga aktif menyebarkan hal (yang menurut saya) positif di akun media sosial.

Di era media sosial seperti saat ini, di mana akses internet dapat dijangkau hampir semua orang, batasan jarak dan sekat seolah mengabur. Orang mudah terhubung satu sama lain di sudut bumi manapun. Efeknya, yang saya rasakan, orang jadi punya kecenderungan untuk mengetahui latar belakang orang lain (kepo).