Jumat, 09 November 2012

Pemandangan di Balik Jendela Pesawat

Window seat yang selalu saya suka :)
Saat bepergian naik pesawat, saya selalu memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Apalagi kalau penerbangan pagi, rasanya saya selalu semangat untuk motret pemandangan dari angkasa. Jika tempat duduk bisa dipesan saat pembelian tiket tanpa ada biaya tambahan, saya biasanya langsung pilih tempat duduk yang memungkinkan saya duduk dengan leluasa motret tanpa terhalang sayap pesawat. Tapi kalau harus bayar, saya berusaha check in lebih awal supaya bisa meminta tempat duduk yang dekat dengan jendela.

Sampai saat ini, saya belum pernah memaksa menduduki nomor kursi orang lain hanya untuk bisa duduk di dekat jendela. Kalaupun dapat duduk di tengah atau di dekat lorong pun, akan saya patuhi sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket. Saya juga tidak mau kalau ada orang yang tidak berhak, tiba-tiba menyerobot tempat duduk yang sudah saya dapat. Jika sudah ada yang menempati, biasanya saya minta dengan sopan untuk pindah atau bergeser. Kalau gak mempan, saya akan tanya nomor kursinya. Kalau masih keras kepala juga gak mau pindah, saya bilang saja ke pramugarinya. Pernah saya mengalaminya, sampai langkah ketiga, eh si penyerobot ini tetap gak mau pindah dan malah bilang, "udah duduk aja di situ, sama saja kan mas."

tetap eksis meski di dalam pesawat :P
Idih, minta digampar.
Saya pun menimpali dengan, "Kalau tempat duduk itu sama saja, ngapain kalau booking harus kena biaya tambahan, harus ada kelas eksekutif dan ekonomi, dan kenapa pula kamu milih duduk di situ yang jelas-jelas milik orang lain."
Saya tadinya mengira, penumpang seperti ini adalah penumpang yang baru pertama kali naik pesawat atau yang biasa naik pesawat murah tanpa nomor kursi. Tapi begitu melihat tentengannya, dia sebenarnya termasuk orang yang berpendidikan yang cuma butuh dikasih peringatan agak keras saja supaya melek aturan. Huh, perjalanan yang tadinya diharap menyenangkan, jadi bete gara-gara masalah beginian.

negeri di atas awan
Tapi suasana hati saya kembali bahagia saat sudah di udara. Karena toh peristiwa di atas tak terjadi setiap saat. Pertama kali memerhatikan pemandangan di udara itu saat saya pulang liburan dari Bali. Kata pilotnya, saat itu katanya di bawah sana sedang hujan lebat. Begitu melongok ke luar, benar saja, sejauh mata memandang, yang ada hanyalah tumpukan awan putih seperti gelaran permadani. Tadinya saya mengira pesawat ini terbang di atas awan yang sedang hujan, tapi ternyata, pada ketinggian 36.000 kaki, pesawat ini terbang di atas awan yang posisinya berada di atas awan yang sedang hujan. Jadi ada dua lapis awan di bawah sana. Itupun di atas sana juga kelihatan ada lapisan awan. Saya jadi teringat dengan pelajaran SD tentang jenis-jenis awan: nimbus, stratus, dan lain-lain. Saya juga jadi ingat omongan Pak Ustad bahwa di atas awan masih ada awan, di atas langit masih ada langit, yang mengajarkan kita agar tidak menjadi umat yang tinggi hati lagi menyombongkan diri. #jleb

zamrud khatulistiwa yang subur makmur
Saya senang sekaligus miris itu kalau terbang di atas Pulau Sumatera. Bukit Barisan yang membentang dari Aceh hingga Lampung sering membuat saya berdecak kagum dan memahami mengapa Indonesia disebut zamrud khatulistiwa. Warna hijau seakan ditumpahkan begitu saja dari langit dengan disekat-sekat warna cokelat sungai yang meliuk-liuk menuju bibir pantai. Tapi, kalau diperhatikan lebih seksama, warna hijau tersebut tidak semuanya berupa gerumbulan pepohonan, tapi hijau jarang-jarang berupa tanaman yang tertata rapi dengan jarak teratur antar tanaman. Ya, hutan Sumatera memang berangsur-angsur berubah menjadi lahan sawit. Belum lagi ada cerukan-cerukan raksasa bekas dan tempat galian tambang yang tampak menganga dari angkasa. Mengerikan.

terbang di atas kota Surabaya
Selain di atas gerumbulan hutan, saya juga senang memotret saat pesawat melintas di tengah kota. Biasanya sih saat akan mendarat. Soalnya kalau pesawat sedang take off, saya sibuk sendiri komat-kamit baca doa. Sebenarnya saya lebih suka melihat pemandangan pemukiman penduduk saat malam hari. Jadi yang kelihatan adalah lampu kelap-kelip warna-warni. Tapi saya tak punya foto kota dari udara saat malam karena sering dapat kursi di tengah atau di dekat lorong akibat check in terakhir. Karena lumayan sering terbang ke dan dari Surabaya saat siang, saya hanya punya stok foto di atas kota Surabaya. Lucunya, gara-gara pengalaman pelongok keluar jendela melihat pemandangan, saya pernah mengira pesawat yang saya tumpangi akan mendarat di atas atap rumah penduduk saat akan mendarat di bandara Selaparang, Mataram. Gila, bandaranya ada di tengah kota. Mungkin karena itu sekarang dibangun bandara baru yang lebih besar dan modern di luar kota dan agak jauh dari pemukiman penduduk.

lautan Indonesia: indah di atas, indah di bawah
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan dua pertiga wilayahnya terdiri atas lautan, terbang di atas laut Indonesia juga merupakan pengalaman tersendiri. Saya sering melihat kapal-kapal besar berlayar di tengah laut, justru saat berada di udara. Saya juga pernah melihat sekawanan ubur-ubur saking banyaknya sedang bergerombol di permukaan laut. Melihat laut dari udara saat cuaca cerah itu lumayan bisa menjadi penyejuk mata. Gradasi warna air laut dari biru tua, biru, hijau toska, hijau muda, dan putih buih saat bertemu bibir pantai dapat terlihat dengan jelas. Apalagi jika ada sekumpulan pulau yang letaknya berdekatan. Saya jarang melihat pulau-pulau di Kepulauan Seribu saat terbang di atasnya karena sering tertutup awan dan asap kota Jakarta. Paling asyik memang ke tempat-tempat yang jauh dari kota besar seperti terbang dari Mataram ke Labuan Bajo atau ke tempat lainnya yang banyak bertebaran dari Sabang hingga Merauke.

Selain pemandangan kota, hutan, sungai, laut, dan awan, saya juga suka melihat gunung dari udara. Bahkan, di antara pemandangan yang tersaji di balik jendela pesawat, keberadaan gunung ini yang paling sering diberitahukan oleh pilot. Memang sih tidak semua gunung, tapi kalau Anda terbang dari atau ke Bali dan daerah-daerah yang ada di timurnya, dari Jakarta saat matahari masih bersinar, si pilot sering memberi tahu kalau di sebelah kanan atau kiri dari posisi pesawat adalah Gunung Bromo. Sesaat setelah pengumuman itu, akan ada banyak kepala yang melongok ke arah jendela untuk turut menyaksikan keindahannya. Hehehe.

Terus terang, saya belum pernah melihat Bromo dari udara karena seringnya terbang malam atau dapat tempat duduk yang berseberangan dengan letak gunung. Tapi saya lumayan sering melihat gunung-gunung yang tinggi menjulang dan tersebar dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, sepenglihatan saya sampai mendarat di Surabaya. Saat cuaca cerah, kita dapat melihat semua badan gunung dari pangkal hingga puncak. Tapi kalau berawan, cukuplah puncak-puncaknya yang menyembul di atas awan. Walaupun belum pernah mendaki Merapi, saya jadi tahu perubahan bentuk puncak Merapi pasca erupsi tahun 2011 lalu.

[Negeri Para Dewa] Sindoro, Sumbing, dan Kompleks Pegunungan Dieng

Yang justru membuat saya berdecak kagum justru pemandangan kompleks pegunungan Dieng dan dua gunung kembar, eh maksud saya, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang letaknya bersebelahan. Saya sempat memotret ketiganya dalam satu posisi satu garis lurus sehingga tampak seperti tumpukan gegunungan layaknya Gunung Bromo dan Semeru di kejauhan. Saya pernah memotret Sindoro dan Sumbing dari Puncak Sikunir di Dieng. Memotret ketiganya dari udara mengembalikan memori saya akan keindahan matahari terbit dan secangkir purwaceng hangat yang sanggup menepis napas berembun kala berada di desa tertinggi di Jawa.

Itulah beberapa pemandangan yang mampu membuat saya selalu ingin duduk di dekat jendela pesawat. Saya berharap mendapatkan pengalaman yang lebih menakjubkan lagi saat terbang di daerah lain di penjuru nusantara. Pemandangan-pemandangan tersebut selain sehat bagi mata juga membuat saya sadar akan betapa kecilnya saya di hadapan Tuhan. Menikmati kemegahan ciptaanNya juga membuat saya 'ingat' dan sudah sepantasnya untuk tidak tinggi hati pada sesama. Menurut saya, itulah salah satu alasan paling hakiki kenapa perjalanan-perjalanan ini selalu layak untuk dilanjutkan.

7 komentar:

  1. negeri para dewa-nya bikin kangen balik ke sana :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sangat berterima kasih banyak MBAH RAWA GUMPALA atas bantuan pesugihan dana ghaib nya kini kehidupan kami sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ternyata apa yang tertulis didalam blok MBAH RAWA GUMPALA itu semuanya benar benar terbukti dan saya adalah salah satunya orang yang sudah membuktikannya sendiri,usaha yang dulunya bangkrut kini alhamdulillah sekaran sudah mulai bangkit lagi itu semua berkat bantuan beliau,saya tidak pernah menyangka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan kebaikan MBAH,,bagi anda yang ingin dibantu sama MBAH RAWA GUMPALA silahkan hubungi MBAH di 085 316 106 111 insya allah beliau akan membantu anda dengan senang hati,pesugihan ini tanpa resiko apapun dan untuk lebih jelasnya buka saja blok mbah
      BUKA PESUGIHAN PUTIH TAMPA TUMBAL

      Hapus
  2. wooo, fotonya bagus. itu yang pegunungan dieng ngambil foto pas naik pesawat jalur mana ya? jam berapa? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang Dieng itu naik Citilink, dari Jakarta ke Surabaya, sekitar jam 10 atau 11 siang gitu, pas mudik lebaran kemarin mas :)

      Hapus
  3. Dulu malah sempet di Dieng muncak di gunung Sikunir . dingin bener breee ...
    Pemandangan Sun Risenya recomended dah untuk di kunjungi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sunrise di Sikunir memang cakep. Saya sudah pernah ke sana juga :)

      Hapus