Jumat, 12 Oktober 2012

Obat Kuat Para Dewa

negeri di atas awan, hawa dinginnya menusuk tulang
Ngobrol tentang seks memang selalu menarik. Meski masih ada yang menganggapnya tabu, toh iklan-iklan di surat kabar maupun televisi banjir juga informasi seputar seks dan printilannya. Coba saja baca koran kuning. Di situ, info apa saja, mulai dari memperbesar ini, memperbesar itu, menambah stamina, dan lain-lain dibeberkan semua. Saya sampai ketawa-ketiwi kalau pas lagi di kereta dan gak sengaja dapat koran seperti itu sebagai alas duduk. Lebih lucu lagi kalau nemu koran yang gambarnya iklan begituan dipakai sebagai alas waktu sholat Jumat. Mau fokus ke mana coba?

Eh, tapi saya perhatikan, sekarang memang banyak banget yang buka lapak jual obat kuat. Kalau di Jakarta terkenalnya dengan sebutan pil biru. Di jalanan, di pasar, di gang-gang sempit, saya sering gak sengaja nemu papan nama yang menawarkan khasiat pil obat kuat. Saya sih belum pernah lihat bentuknya seperti apa, secara masih merasa kuat dan gak perlu yang namanya pil-pilan untuk bisa 'bangun'. Melihat papan-papan nama serupa yang kian menjamur, berarti memang ada permintaan besar akan khasiat dari pil tersebut. Entah karena kurang percaya diri atau memang agak susah bangun, makanya banyak orang menggantungkan harapan pada obat-obatan tersebut.

jamuan sehat: kentang goreng dan purwacen
Jauh-jauh pergi ke Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, niatan saya adalah untuk melihat-lihat kompleks Candi Arjuna dan menikmati alamnya yang memesona yang konon dikenal sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Gempor jalan dan trekking naik turun bukit, saat leyeh-leyeh di warung dekat kawah Sikidang yang letupannya kayak lumpur Lapindo, saya ditawari untuk icip-icip kentang goreng. Di sini disebutnya kentang Dieng. Pokoknya kalau ke Dieng, semua-muanya musti dilabeli dengan embel-embel Dieng: kentang Dieng, kacang Dieng, wortel Dieng, kobis Dieng, dan seterusnya yang seolah tak mau disamakan dengan barang sejenis dari daerah lainnya. Sepertinya, cuma dua hal yang luput dari embel-embel Dieng yaitu carica (manisan dari buah sejenis pepaya tapi kecil-kecil) dan purwaceng karena memang gak ada di tempat lain selain Dieng.

Ngomong-ngomong tentang purwaceng, gara-gara kehausan sehabis ngemil kentang goreng Dieng, sama si ibu penjaga warung disarankan untuk mencoba minum purwaceng. Karena belum tahu itu minuman apaan, ya saya iyakan saja untuk membuatnya satu yang rasa kopi. Sembari coba-coba ceritanya, ups. Tak dinyana, ternyata minumannya minuman panas. Kepedesan habis makan kentang goreng dicocol sambal, kemudian disiram dengan purwaceng yang panas mengepul membuat lidah saya kayak dialusin pakai setrika karatan zaman dulu yang isinya bara dari arang. Aww. Panas gila.Tapi setelah panasnya hilang, tinggal rasa hangatnya yang masih nempel. Lumayan lah sebagai penghangat tubuh dari dalam karena meskipun siang ini mataharinya bersinar terik, tapi suhunya tetep duingin, jadi saya selalu pakai jaket ke mana-mana.

jiwa muda: segar bugar, siap bertualang
Teman-teman saya yang perempuan pada cekikikan saat tahu saya minum purwaceng kayak minum es teh. Saya sih biasa saja karena memang merasa semua wajar-wajar saja. Begitu si ibu penjaga warung bilang, "Purwaceng itu minuman obat kuatnya orang sini, biar masnya tambah jos nanti tenaganya."
Kontan, air putih yang menjadi peredam panasnya lidah saya menyembur keluar. Kampret. Pantesan cewek-cewek itu dari tadi cekikikan terus memerhatikan saya minum purwaceng.

Purwaceng sendiri sebenarnya adalah nama tumbuhan perdu yang tumbuh liar di dataran tinggi Dieng. Sepintas kalau saya perhatikan bentuknya seperti pegagan. Meski dianggapnya tanaman liar, tak semua tempat di Dieng dapat menjadi habitatnya. Di Dieng, tanaman ini banyak ditemukan di Gunung Perahu dan Gunung Pakujiwo. Jika ingin dikembangbiakkan, purwaceng ini akan berkurang khasiatnya jika diberi pupuk kimia. Jadi, mengolah purwaceng itu benar-benar dari bahan-bahan alami saja yang bahannya 'hanya' dikeringkan dan dihaluskan saja.

tanaman purwaceng, mirip pegagan yah ;)
Banyak orang percaya bahwa purwaceng mengandung zat yang diyakini mampu meningkatkan stamina dan gairah seksual pria dewasa. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ginseng asli Indonesia. Yang lebih lucu lagi, purwaceng mendapat julukan sebagai viagra dari tanah Jawa. Duh, plis dong. Memang sih, habis minum segelas purwaceng, badan jadi hangat. Tapi bukan berarti serta merta disebut obat kuat juga kan? Kadang-kadang, info seperti inilah yang sering berkembang di masyarakat. Keyakinan-keyakinan yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman seseorang, lalu menyebar dari mulut ke mulut, akhirnya berkembang menjadi sesuatu yang dipercaya kebenaran khasiatnya meski tanpa dibuktikan melalui suatu uji empiris di laboratorium.

Langkanya tanaman purwaceng sendiri karena memang tidak mudah tumbuh di sembarang tempat ditambah tingginya permintaan di masyarakat semakin membuat purwaceng jadi barang buruan saat berkunjung ke Dieng. Buktinya, teman-teman saya pada memborong produk ini sampai berdus-dus. Bukan hanya yang cowok, teman saya yang cewek pun tiba-tiba saja jadi pengen icip-icip juga dan memenuhi suatu warung. Alibinya mereka nongkrong di warung awalnya untuk makan kentang goreng, lalu ikutan minta dibuatkan segelas purwaceng. Halah modus banget. Ckckck. Eh tapi, nggak tahu kenapa, yang perlu diingat, wanita hamil dilarang minum purwaceng kalau kandungannya ingin sehat.   

icip-icip purwaceng, mostly ibu-ibu lho ;P
Purwaceng di sini dijualnya dalam bentuk sachetan dan dikemas dengan kotak kecil. Ada yang isi enam, ada juga yang isi selusin. Kalau mau yang botolan juga ada. Jadi bentuknya serbuk gitu dikemas dalam semacam toples-toples kecil seperti kemasan madu. Ada dua pilihan macam rasa yaitu purwaceng susu dan purwaceng kopi. Kalau yang gak mau rasa keduanya, ya pilih aja yang polos yaitu serbuk purwaceng saja tanpa campuran apa-apa. Sebagai penggemar kopi, tentu saya lebih memilih purwaceng rasa kopi dibanding rasa susu yang agak eneg. Selain tambah hangat, minum purwaceng panas, apalagi di Dieng itu sesuatu banget. Lebih pas lagi kalau diminum pagi-pagi sebelum trakking melihat matahari terbit di bukit Sikunir. Dijamin tetap fit dalam hawa dingin yang membuat gigil. Coba aja sendiri.  

Sepulang dari Dieng, bulan berikutnya saya datang ke pameran pariwisata Indonesia di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Pas keliling-keliling pameran, saya lihat ada 'lapak' dari daerah Wonosobo. Pas saya iseng nanya apakah jual purwaceng di pameran ini, petugasnya bilang kalau tinggal satu dus. Benar kan, yang nyari banyak. Hehehe. Karena yang tersisa tinggal kemasan besar, saya tidak jadi beli. Eh, begitu saya mau beranjak dari lapak, ada bapak-bapak tua yang lebih cocok saya panggil kakek, bilang kalau mau joinan dengan beli setengahnya saja. Yailah, ini aki-aki mau ngapain lagi coba beli purwaceng segala? Yang membuat saya sakit perut gara-gara menahan tawa, sebelum membayar setengah lusin purwacengnya, si bandot tua aki-aki ini sibuk banget nanya-nanya tentang efek samping minum purwaceng mengingat dia punya simpanan asam urat dan hipertensi. Haduh.

ramuan alami: obat kuat para dewa. ciyuuus? ;P

segar bugar siap mendaki bukit Sikunir

4 komentar:

  1. selain hangat gak ada efek lainnya kah ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya banyak sih. salah satunya bisa melancarkan peredaran darah. cuma yang sering digaungkan cuma sebagai obat 'greng' aja. padahal itu kan cuma efek tidak langsung akibat minum purwaceng.

      Hapus
  2. Balasan
    1. ckckckck dasar tikus, gak beda jauh ama si bandot tua


      *peace* ;P

      Hapus