Sabtu, 25 April 2020

Pengabdi Artemis

.: Kucing Penjaga di Jalan menuju The Great Theater :

Kota tua Efesus yang teronggok di episentrum wilayah Selçuk merekah menjadi magnet utama destinasi wisata di kawasan barat daya Anatolia. Situs-situs uzur berkoloni membuat liga dan sanggup bertahan hingga saat ini. Saya bertamu di suatu siang yang terik tanpa prasangka apapun. Bahkan, saya tidak begitu memerhatikan adanya kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut yang bertujuan untuk mengawasi gerak-gerik pengunjung.

Saya menikmati suasana kota tua ini. Bagai terlempar kembali ke masa kejayaan bangsa Romawi berabad silam, saya menyusuri jalan-jalannya yang dilapisi pualam dengan penuh keceriaan seorang remaja yang akan berjumpa dengan artis idolanya.

Sabtu, 11 April 2020

Menembus Gerbang Efesus

.: Panggung untuk menikmati Lower Agora :.

Pagi berjalan merayap di Selçuk. Suasananya yang tenang dengan hawa sejuk musim semi seperti menuntun siapa saja untuk menikmati momen tanpa diburu ketergesa-gesaan. Toko-toko dan jalanan sepertinya baru benar-benar hidup setelah embun angkat kaki digusah mentari. Saya merasa, mungkin beginilah suasana kota yang cocok untuk melewatkan hari saat pensiun tiba.

Setelah mandi dan sarapan seadanya, saya istirahat sebentar. Hawa yang sejuk dan suasana yang tenang membuat saya betah berlama-lama duduk di samping jendela kamar hotel, memandang bukit Bulbul yang hijau di kejauhan, sambil sesekali terhibur dengan seliweran burung-burung liar di seantero kota.

Minggu, 29 Maret 2020

Isa Bey dalam Pusaran Reinkarnasi

.: Ahlan wa sahlan, Isa Bey :.

Sesaat setelah keluar dari gerbang reruntuhan Saint John Basilica, saya berjalan kembali ke arah Selçük otogar. Niat hati ingin mampir ke bank lokal untuk menukar uang lira dan membeli roti simit (roti khas Turki) untuk sarapan. Maklum, persediaan lira saya menipis. Saya sengaja hanya membawa dolar saja. Saya tukar di bank lokal supaya mendapat nilai tukar yang lumayan daripada di money changer.

Namun sebelum berjalan terlalu jauh, saya membaca papan penunjuk jalan. Di gang yang saya lalui, menurut informasi tersebut, ada dua situs bersejarah. Satunya berupa gereja, satu lagi berupa masjid. Saya pikir satunya lagi berupa kastil yang baru saja saya datangi. Saya menerka dalam hati, mungkin bangunan seperti bongkahan kubus yang saya lihat dari ketinggian kastil tadi masjidnya. Saya pun bertanya ke seorang penjual cenderamata tentang keberadaan mesjid tadi.

Sabtu, 07 Maret 2020

Menziarahi Yohanes

.: Selamat Datang di Reruntuhan Gereja St. John 🍁 :.

Langit masih gelap saat bus yang saya tumpangi berhenti di Izmir Otogar. Saya terbangun dengan geragapan. Maklum, saya hanya sempat memajamkan mata sejenak. Angin dingin menembus kulit saya yang sudah dibebat tiga lapis kain. Benar-benar membuat gigil.

Saya pun langsung menuju bagian informasi, menanyakan apakah operator bus ini menyediakan suttle gratis menuju Selcuk, tujuan saya berikutnya. Jawabannya nihil. Saya hanya dijawab dengan kalimat singkat sambil ditunjukkan arah menuju terminal utama.

"Servis otobűsű yok. Orada", katanya.

Sabtu, 29 Februari 2020

Menjejak Konya dalam Sekejap Mata

.: Menara-Menara Mini di Museum Mevlana 🌿🍁:.

Traveling tanpa rencana perjalanan yang jelas memang penuh tantangan. Saya sadar dengan konsekuensinya. Saya harus disiplin, cermat dalam mengatur waktu serta biaya, dan bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Hal seperti ini sudah saya perhitungkan sejak mendarat di Istanbul dalam rangkaian #TurkeyTrip ini. 

Saat kembali ke Göreme Otogar dari Uchisar Castle, saya segera menuju agen tiket untuk menuju kota berikutnya. Saya dihadapkan pada dua pilihan: Selcuk atau Konya. Selcuk sudah lama ada dalam bucket list kunjungan saya karena adanya kota kuno Ephesus dan situs sejarah lainnya. Sementara itu, saya baru mendengar kota Konya pada hari terakhir di Göreme dalam sebuah obrolan ringan di ruang resepsionis penginapan.

Kamis, 30 Januari 2020

Sendirian di Uchisar Castle

.: Kastil Batu Karang Uchisar 🍁🍂 :.

Sewaktu berada di bukit belakang penginapan untuk menikmati panorama Cappadocia dengan  balon udara yang melayang-layang di langitnya, saya melihat sebongkah batu karang raksasa yang menyembul di kejauhan. Fasadnya terlihat seperti sebuah keraton. Bernuansa gelap dan terkesan misterius.

Saya bertanya kepada seorang kawan-baru dari Suriname tentang keberadaan bongkahan batu raksasa tersebut.

"That's Uchisar Castle, the highest point of Cappadocia. You should go there if you have more time. Very beautiful and magical," katanya.

Terhipnotis dengan kata magical dan kesan misterius yang ditimbulkannya, saya pun tergoda untuk mampir sebentar.  Apalagi setelah Erme, resepsionis penginapan mengompori.

Minggu, 26 Januari 2020

Malaikat Penjaga dari Cappadocia

.: Malaikat Penjaga yang Manis Sekali 😍🐕 :.

Sebelum berangkat liburan ke Turki beberapa waktu lalu, saya kerap dinasihati oleh beberapa kawan.

"Kalau lo mau jogging pagi di Goreme nanti hati-hati ya. Anjingnya guedhe-gedhe. Galak lagi. Suka gonggongin orang." Begitu kata mereka.

Dulu, saya memang takut sekali dengan anjing. Lebih tepatnya, trauma. Saya sudah pernah menuliskannya di sini. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, saya pelan-pelan berusaha untuk bersikap biasa saja saat bertemu dengan anjing.

Minggu, 19 Januari 2020

Balon Raksasa di Langit Cappadocia

.: Up In The Air :.

Cappadocia yang menghampar di jantung Anatolia, Turki kerap dijadikan rujukan untuk wisata balon udara. Meski bukan satu-satunya, tapi balon udara Cappadocia hampir selalu dijadikan bucket list oleh kebanyakan pejalan dari seluruh dunia saat mengunjungi Turki. Saya saja sampai bosan ditanya orang-orang di bus saat menuju Desa Göreme.

"Mau naik balon udara ya," duga mereka.

Begitu populernya wisata balon udara ini sampai-sampai setiap penginapan pun sepertinya bisa mengurus pendaftaran paket wisatanya. Harganya bervariasi, tergantung kapasitas keranjang dan jumlah peserta yang ikut. Berkisar antara US $140-$200. Jumlah yang cukup 'mahal' jika dibandingkan dengan keseluruhan biaya yang saya keluarkan untuk #TurkeyTrip ini.

Minggu, 12 Januari 2020

Bertamu ke Rumah Flintstones

.: Welcome Home 🍁🍂 :.

Di antara rimbunan pilar aneh yang membentuk kawasan Cappadocia, kompleks gua di Göreme Open Air Museum disusun oleh batu-batu dengan lanskap yang paling menarik. Lokasinya ada di pinggir jalan raya antara Urgup dan Göreme. Jika tidak ikut tur, kompleks gua kuno ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik sepeda dari Desa Göreme.

Di suatu sore yang cerah, dalam perjalanan mengunjungi Taman Nasional Göreme, saya menyempatkan diri untuk mampir ke museum ini. Sekilas, fasadnya memang sama saja dengan gua-gua batu yang tersebar di seluruh Cappadocia. Tapi di sini, gua-guanya sudah rapi, lebih terawat, dan beberapa jalannya dibuat jalur berundak supaya lebih mudah dilalui.

Minggu, 05 Januari 2020

Teroka Cappadocia

.: Welcome to The Fairy Chimneys 🌲😻 :.

Malam menggelayut sendu saat kereta metro melaju kencang mengantarkan saya menuju Istanbul Central Bus Station (Otogar). Perjalanan kali ini memang sungguh impulsif. Saya hanya mengantongi tiket pergi-pulang Jakarta-Istanbul, salinan visa elektronik, dan beberapa lembar dolar Amerika. Tanpa reservasi hotel dan tanpa tujuan yang jelas.

Tapi begitu mendarat di Istanbul tengah malam, saya memutuskan untuk segera ke terminal bus dan menuju Cappadocia. Saat melakukan perjalanan, saya kerap berjudi dengan waktu. Dan kali ini, kalau sampai tidak ada lagi bus yang berangkat malam ini juga, terpaksa saya akan bermalam di Istanbul saja. Angin dingin membuat saya terkesiap. Suhunya 12 derajat Celcius malam itu. Cukup hangat untuk cuaca yang baru lepas dari musim dingin.