Selasa, 20 Januari 2015

Jogging dan Anjing

.: Jogging di Pantai Sumur Tiga, Pulau Weh, Aceh :.

Warning! Tulisan ini mungkin tidak nyaman dibaca oleh sebagian orang.

Dalam setiap kesempatan, saya selalu menyelipkan kegiatan olahraga supaya tubuh tetap fit. Olahraganya pun sebenarnya yang ringan-ringan saja seperti angkat barbel, push up, sit up, dan jogging. Kombinasi ketiga hal terakhir itulah yang paling sering saya lakukan. Maklum, karena tak perlu alat, saya bisa melakukannya kapan saja, termasuk saat jalan-jalan. Apalagi kalau jalan-jalannya ke pantai yang garis pantainya panjang banget. Wuih, sungguh pantang sepertinya untuk melewatkan kesempatan jogging.

Tapi, kebiasaan jogging itu untuk saat ini mulai mengalami sedikit gangguan. Entah mengapa, sekarang ini tiap kali jogging ke pantai bawaannya kok dikejar anjing (galak). Suatu pagi saat liburan ke Bali, saya sudah siap untuk lari di pantai Kuta. Maksud hati milih waktu saat pantai masih sepi sehingga bebas lari pagi dengan tenang, tiba-tiba saja saya diikuti oleh sekelompok anjing yang tak tahu datangnya dari mana, tiba-tiba saja sudah ada 100 meter di belakang saya. Untunglah, saat itu saya segera menemukan kerumunan orang yang lagi sarapan di halaman salah satu resort. Maka, dengan sangat terpaksa saya lari untuk menyelamatkan diri masuk ke dalam resort tersebut. Untung petugasnya mahfum akan keadaan ini. Coba kalau tidak? Bisa-bisa saya dituduh menyelinap ke resort orang. Duh.

.: Bebas Jogging Tanpa (khawatir) Ada Anjing :'( :.
Dulu, orang bilang saya terlalu kurus hingga sering dibilang agar makan dan minum susu yang banyak. Saya juga disarankan (lebih tepatnya diledek) untuk tidak buka baju saat jogging di pantai biar tidak dikira kumpulan tulang berjalan sama anjing liar. Tapi kan, ketakutan saya sama anjing liar di pantai Kuta ini cukup beralasan. Pasalnya, resepsionis hotel tempat saya menginap sempat bilang kalau minggu sebelumnya ada beberapa turis yang digigit anjing hingga terkena rabies. Bagaimana saya tidak panik coba saat tahu informasi seperti itu.

Saya tak tahu bagaimana awalnya. Mungkin saya mengidap cynophobia - takut pada anjing, sejak kecil. Masih terpatri dalam ingatan bahwa dulu saya pernah dikejar anjing milik teman sekolah saat disuruh ibu beli gula di toko kelontong. Gara-gara insiden itu, tiap kali disuruh beli sesuatu ke toko tersebut, saya selalu minta diantar tetangga. Paling tidak, sampai melewati rumah teman saya yang memiliki anjing galak itu.

Eh, kebiasaan ini sepertinya berlanjut saat saya sudah bekerja. Bos saya sepertinya sudah hafal sekali untuk mengandangkan anjing peliharaannya jika saya akan datang berkunjung. Pasalnya, saat pertama kali bertamu ke rumah beliau, anjingnya serta merta menggonggong dengan brutalnya. Mungkin ini perilaku normal anjing manapun saat bertemu dengan manusia yang baru dikenalnya. Tapi, memerhatikan muka si anjing ini kelihatan kok galak minta ampun ya, sehingga membuat saya tak mau turun dari mobil sampai bos saya ini menggiring anjingnya masuk ke kandang, baru kemudian saya mau turun.

Saya mungkin masih agak permisif dengan peristiwa dikejar anjing di pantai Kuta maupun digonggongi anjing di rumah bos saya itu karena lokasinya merupakan tempat komunitas warga nonmuslim. Berbeda halnya saat saya berada di lingkungan yang mayoritas penduduknya muslim, tapi anjingnya banyak sekali. Saat menyusuri jalanan di Sumatera Barat dari bandara menuju Bukittingi, saya perhatikan banyak sekali anjing liar yang saya temui. Belakangan saya baru tahu kalau anjing-anjing ini dipelihara sebagai 'teman' untuk berburu babi hutan.

.: Finding Innerpeace :.

Di pantai Anyer, Banten, saya pernah jogging di pantai pagi-pagi dan tidak bisa balik lagi gara-gara ada sekawanan anjing yang menghadang jalan menuju ke hotel. Alhasil, saya numpang sebuah angkot dan saya minta sopirnya mengantarkan sampai depan gerbang hotel. Liburan yang rencananya tiga hari, di dua hari terakhir saya mengurungkan niat untuk jogging di pantai yang sama gara-gara takut dikejar dan digigit anjing.

Di dalam hotel, saya pernah bertanya-tanya, mengapa anjing-anjing itu sepertinya buas sekali dan menggonggong dengan kasar, padahal saya tidak mengganggunya. Kata orang-orang, kalau ada anjing yang mengejar, saya disuruh diam saja. Ada yang bilang, saya disuruh tenang dan duduk jongkok. Tapi, bagaimana caranya ya saya bisa duduk tenang dan jongkok kalau melihat anjing menggonggong dengan sorot mata ingin menerkam dengan gigi-geliginya yang mirip serigala itu sedang berlari menuju arah saya?

.: Jogging di Senggigi :.
Mungkin saya sedikit iri dengan teman-teman saya di Bali yang sepertinya bisa akrab sekali dengan anjing peliharaannya. Mereka biasa jogging di pantai bareng, jalan-jalan sore bareng, atau sekadar leyeh-leyeh bersama di beranda rumahnya. Saya juga merasakan haru saat menonton film Hachiko, anjing yang sangat setia pada majikannya hingga rela menunggu sang majikan yang tak kunjung datang itu di stasiun kereta. Anjing sepertinya bisa begitu bersahabat dan seolah-olah lebih 'manusiawi' ketimbang manusia.

Kejadian dikejar anjing sepertinya masih berlanjut. Saat menginap di Senggigi, saya menyempatkan diri untuk jogging dan mampir sebentar di Pura Batu Bolong. Saat akan balik ke hotel, saya dihadang oleh beberapa ekor anjing liar sehingga harus diantar oleh warga setempat sampai pantai di dekat hotel yang sudah steril dari anjing. Dalam perjalanan menuju Gili Trawangan, mobil yang saya tumpangi hampir saja menyerempet seekor anjing liar hingga sopirnya misuh-misuh.

"Dasar anjing gak tau diri, hampir aja ditabrak tadi," kata si sopir.

Saya pun akhirnya bercerita kalau tadi pagi juga habis dikejar anjing saat jogging di pantai. Menimpali obrolan saya dengan si sopir, teman saya si Jefry dari Balige, Sumatera Utara tiba-tiba nimbrung, "Anjing liar yang gak tahu adat begitu kalau di kampung gue udah dikarungin tuh, digetok, lalu dimakan."

Hening beberapa saat. Lalu semua orang pecah dalam tawa. Terus terang saya bingung antara ingin tertawa menanggapi lelucon Jefry atau sedih dengan nasib anjing liar yang dibunuh dengan brutal dan dimakan. Memang sih, ada beberapa kelompok masyarakat di Indonesia yang makan daging anjing. Konon untuk memasaknya, seekor anjing tidak disembelih dengan dipotong urat lehernya, tapi dengan dikarungin, digetok kepalanya atau dipukuli hingga mati, biar darahnya tidak mengucur keluar agar dagingnya lebih empuk dan nikmat.

Saya mendengar ceritanya saja sudah jengah. Bukan apa-apa, selain ngeri membayangkan cara membunuh anjing untuk hidangan, saya termasuk orang yang tidak tega memakan hewan peliharaan sendiri yang setelah disayang-sayang dan diberi makan, lalu dibantai dengan brutal untuk dikonsumsi. Saya pernah menolak makan daging ayam yang disembelih dari peliharaan sendiri. Bayangkan saja, tiap hari sepulang sekolah saya kasih makan dan saya masukkan ke kandang saat sore menjelang. Begitu ada hajatan, tiba-tiba saja saya harus makan daging ayam yang kemarin-kemarin menjadi teman main. Meski sering dibilang lebay, tapi kok rasa-rasanya seperti makan teman sendiri.

.: Jogging di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi, Jawa Timur :.
Gara-gara  cerita tentang ketakutan saat bertemu anjing, saya sering dinasehati oleh orang-orang di sekitar untuk tetap berhati-hati. Mereka sering bilang bahwa asal tidak mengganggu, anjing pasti juga tidak akan menggigit. Saya sendiri tidak pernah punya niatan untuk memukul atau melempari batu terhadap seekor anjing yang mungkin galak.

Sampai-sampai, Pak Ustad di masjid dekat rumah merasa perlu bilang bahwa memelihara anjing bagi umat muslim di rumah bisa membuat malaikat enggan bertandang. Meski begitu, di kesempatan lain, Pak Ustad juga bilang bahwa kita tidak boleh berlaku semena-mena terhadap anjing karena dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ada seorang pelacur yang diampuni dosanya oleh Allah gara-gara menolong anjing yang sakit dan terlantar. Lambat laun, saya pun jadi agak percaya diri dan tenang saat berpapasan dengan anjing tetangga yang tak sengaja lepas tali kekangnya.

Baru saja berdamai dan mengamini nasehat Pak Ustad, saya  berlibur ke Pantai Pulau Merah dan menyempatkan diri untuk jogging. Niatnya pagi-pagi mau lari ke arah desa dan lewat ke sebuah gang kecil menuju pantai. Tak dinyana, tiga ekor anjing yang sangat galak menggonggong gak karuan dan mengejar hingga saya jauh-jauh dari gang tersebut. Sungguh, kejadian ini membuat saya trauma dan introspeksi diri. Mungkin, setelah 4 tahun berlalu sejak saat saya dikejar anjing di pantai Kuta dan berat badan sudah naik 10 kg, saya masih harus disuruh untuk banyak makan dan minum susu agar berat badan saya mencapai ideal dengan naik 7 kg lagi. Hmm ... Good excuse. []

22 komentar:

  1. Banyak juga pengalamanan dikejar anjingnya ya Hehehe. Saya dulu melihara anjing, 5 atau 6 ekor. Ada anjing saya yang juga suka ngegigit, anjing pemberian teman sih, setelah diperiksa ke dokter katanya anjing saya stres. Hehe, bawaan dari sebelumnya. tapi dari keseluruhan anjing saya baik-baik, saya lepas juga. Ada yang bilang anjing peliharaan pintar, kadang bisa ngerasain apa yang kita rasain, kalau temen saya agak takut gitu kerumah entah kenapa saya ngerasa anjing sayanya juga risih, gak nyaman, biasa diajak main soalnya :D saran saya, kalo ketemu anjing lagi, cuek bebek aja. Dielus-elus kalo bisa Hehehehe *abis itu jogging lagi* *sprint*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooooo gitu ya, maaf, soalnya saya udah ketakutan duluan hehehe. Tapi sepertinya anjing emang lebih aktif ya, maksudnya, suka diajak jalan-jalan atau lari-lari juga gitu biar sehat. Soalnya, saya sering lihat tetangga yang secara rutin ngajak anjingnya jalan atau lari, pas malam hari sekalipun.

      Btw, thanks banget ya infonya :)

      Hapus
  2. Bru mampir udah suka sama tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiih, gw seneng banget lho bacanya. Bikin semangat belajar nulis nih hehehe ;)

      Hapus
  3. Kapan kamu ultah Die? Tak kado boneka guk-guk deh, hahaha. :D

    Eh, katanya kalau anjing lari ke arah kita terus kita lari ke arahnya nanti si anjing bakal takut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, serius? Mauuuu, tapi nunggu 11 bulan lagi :|

      Kayaknya mitos itu. Udah pernah nyoba? Klo udah pernah nyoba, ntar kasih tau ya hahaha :D

      *seringai dedemit* :)))

      Hapus
  4. ahaha, saya juga takut sama anjing mas, meski sdh tau taktiknya, kalau ada anjing jgn lari, titik! Tapi, ya tetep saja takut. Apalagi kalau mendengarkan suara gonggongannnya secara tiba-tiba saat lewat depan rumah orang, walah jantung lsg berdetak kencang, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya udah sering nyoba. Cara ini efektif pada beberapa anjing. Untuk anjing yang banyak lainnya, gak ngefek. Saya udah berhenti, berjalan pelan, sampai disuruh jongkok, tapi tu anjing melet-melet sambil nunjukin giginya yang tajam, jarak 100 meter ya mending lari ngibrit menyelamatkan diri hahaha. Iya, saya emang cemen sama anjing. Cedih :'(

      Hapus
  5. Wah sama. Dulu pernah dibilang gitu. Jangan lari sendirian ntar dikira tulang sama anjing.. Dalem sih tapi cuek aja. Kalau ada anjing galak udah dikasih tahu suruh duduk trus pura-pura mau lempar apa.. Sejauh ini berhasil tapi belum nemu kalau anjingnya beneran galak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha mungkin aku emang cemen kali ya, tapi mau gimana lagi, udah takut duluan dari sononya mungkin. Atau gara-gara trauma sama anjing galak makanya udah diem jongkok pun rasa-rasanya kayak mau diterkam aja. Tatuuut :'D

      Hapus
  6. Kalo jongkok katanya ga bakal dikejar guguk mas...jadi kalo dikejar guguk langsung jongkok aja...hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, itu katanya kan. Saya udah praktekkan tapi tetep dikejar. Mungkin tergantung anjingnya juga kali ya. Lalu saya cerita ke temen tentang disuruh jonggok itu. Kata temen saya, maksudnya jongkok itu disuruh ngambil batu untuk dilemparkan ke batu. Wih, saya gak suka kekerasan hehehe :')

      Hapus
  7. Wah, kita punya beberapa kesamaan, Mas. Takut sama anjing, iri sama orang yg bisa bersahabat dgn anjing, dan nggak mau makan ayam piaraan sendiri, haha.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waw, jangan-jangan kitaaa ..... *tutup muka* *tidaaaaaaaak* :'( :D

      Hapus
  8. Die, aku kasih tips ya.. kalau di deket anjing, usahakan jangan menunjukkan rasa takut/gelisah. Usahakan tetap tenang, karena anjing itu bisa "mencium" rasa takut kita, dan akhirnya dia curiga kenapa kita ketakutan. Apa kita ada niat jahat?

    Kalau dideketin anjing, perhatiin ekornya deh. Kalau ekornya tegak lurus, itu artinya dia emang marah dan mungkin mau nyerang. Sebisa mungkin hindari aja kalau takut. Tapi kalau ekornya goyang-goyang melambai, itu doggie nya happy.

    Next time jogging di pantai dan ketemu anjing, cobain yaa.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah baru tau nih tentang identifikasi ekor. Kayaknya, seingatku semua yang mau nyerang itu ekornya tegak lurus deh, atau paling enggak, agak tegang gitu deh, berarti udah tepat langkahku untuk lari hehehe ;D

      Semoga sih kalau jogging ke pantai gak nemu anjing ya, tapi kalau nanti ketemu, tak cobanya. Makasih banget tipsnya mbok Ginuk *peluk* ;)

      Hapus
    2. hadeeuuh, gua juga kesel banget sama anjing2 yang berkeliaran dan ngegonggong2 di Bali (atau di mana pun).. soalnya ya gua takut..hehehe.. Pernah ke Villa Kitty di Ubud (karena gue penyuka kucing tapi gak bisa piara kucing), eh tauknya di sana mereka piara anjing juga, banyaak, dan rajiin banget ngegonggong! buset dah.. sebagian nggak dikurung, pula! urung deh gue masuk ke sana! Namanya doang Villa Kitty, tapi dari bunyi2annya aja didominasi anjing.. huhuhu..

      Hapus
    3. Hahaha harusnya diganti tuh namanya, jadi Villa Doggy :))

      *lalu bikin bubur merah*

      Hapus
  9. baca tulisan kamu bikin aku senyum-senyum sendiri...kok ada ya orang yang punya banyak pengalaman dikejar anjing..hehehehe...tapi aku nggak mau kasih tips dan saran karena aku juga takut dikejar anjing, aku cuma terhibur dengan tulisan ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha terima kasih lho udah sempetin baca ;)

      Hapus
  10. Biasanya anjing yang agresif begitu itu ciri2 anjing rabies. Karena anjing yang sehat tidak akan menyerang kalo tidak diganggu/diserang duluan. Di kompleks perumahan saya juga banyak anjing yang dilepas bebas gitu, mengganggu warga yang lewat dengan cara menyerang. Pemiliknya pun sepertinya gak punya otak karena melepas anjingnya yang agresif gitu ke jalanan. Udah beberapa hari ini pas saya bawa anjing saya jalan pagi, si anjing agresif itu berusaha mendekat mau menyerang anjing saya. Untung ada tetangga yang tolongin ngusir anjing itu kalo enggak kasian anjing saya harus muter lagi padahal udah deket rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Ada beberapa anjing yang kelihatan lucu dan bersahabat kok. Saya juga senang melihatnya ... dari kejauhan hehehe :'(


      *walaupun sudah diterapi masih agak takut kalau dekat-dekat anjing* *maafkan*

      Hapus