Selasa, 31 Juli 2012

Dari Sipil ke Militer: Menjadi Pasukan Pengamanan Presiden

Welcome to Military Zone
Tak pernah terlintas di benak saya jika suatu saat akan berhubungan dengan dunia militer. Tidak juga pernah terbersit cita-cita menjadi kapiten yang mempunyai pedang panjang. Maklum, dari kecil profesi sebagai tentara bukan idaman saya. Setidaknya, memori kolektif masa kecil saya mengingatkan jika suatu saat harus jauh-jauh dari representasi bapak-bapak gendut dengan seragam loreng yang kerjaannya duduk-duduk saja di koramil dekat pasar dan selalu bersendawa keras sehabis makan di warung tetangga.

Tapi hari itu instruksi dari pimpinan sangat jelas dan ringkas: bawa pakaian secukupnya, baju dalam yang banyak, dan kumpul di kantor pusat, minggu depan tepat pukul 6 pagi. Tak ada penjelasan lebih lanjut tentang lokasi dan tak ada penjelasan tambahan yang menenangkan tentang mau dibawa ke mana. Tadinya saya pikir kalau tidak ke markas Akademi Militer di Magelang, kemungkinan besar akan dibawa ke Pusdiklat TNI di Bandung. Tapi ternyata, gerbang Markas Komando Grup C Pasukan Pengamanan Presiden Lawang Gintung, Bogor menjawab semua spekulasi yang beredar sebelumnya. Setelah masuk gerbang megah tersebut, saya segera lupa dan tak menyadari bahwa saya tak akan melihat gerbang ini lagi selama beberapa minggu ke depan.

Dari bus ber-AC, semua orang (yang nantinya disebut siswa) langsung dijemur di tengah lapangan untuk dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Serasa jadi Harry Potter mau masuk Sekolah Sihir Hogwarts, semua calon siswa ditentukan akan masuk barak yang mana. Selain pembagian barak, seharian itu digunakan untuk pembagian baju seragam dan perlengkapan selama pendidikan sembari antre untuk dicukur cepak ukuran 0,5 cm yang tidak memungkinkan untuk dijambak sekaligus tes kesehatan sebagai prasyarat pendidikan.
tempat bobo'
Saya berkumpul dengan sekitar 250 orang yang baru saya kenal. Hari itu sampai besoknya, perasaan saya  selalu mendorong untuk pulang, mumpung belum telat, melihat jadwal yang dibagikan dan kegiatan yang jelas-jelas akan melatih fisik dan mental. Namun, pikiran terakhir yang mampu menenangkan saya: pulang membuat lega, tapi malu yang tak tertanggung akan menghantui seumur hidup jika saya menyerah sebelum 'perang'. Pertemuan (tak sengaja) dengan 1-2 orang teman semasa sekolah dan melihat ekspresi teman-teman yang akan menjadi 'keluarga' satu barak membuat saya bertahan dan mencoba untuk mengikuti pendidikan ini hingga selesai.

Setelah upacara pembukaan kemiliteran yang paling menegangkan dalam hidup saya (karena upacara ini mempertaruhkan nama baik pelatih di hadapan komandannya yang harus mengajari para calon siswa Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan lagu-lagu militer termasuk mars paspampres), dari situlah beberapa kebebasan saya sebagai warga sipil beristirahat. Tak boleh pakai telepon seluler, tak boleh ada kontak dengan keluarga, selalu memakai seragam siswa, tak boleh pakai baju preman (baju biasa) kecuali saat tidur, ke mana-mana harus bareng pasukan atau minimal dua orang saat akan ke masjid sekalipun kecuali ke kamar mandi, dan makan selalu bareng-bareng di ruang makan pada jam yang ditentukan dengan aba-aba dari komandan peleton. Saya harus mulai belajar untuk tidak protes pada semua instruksi yang diberikan. Dan seperti saya duga sebelumnya, saya selalu diingatkan bahwa saat ini harus mulai mengubah mindset untuk selalu melaksanakan instruksi komandan dan hanya memberi satu jawaban: LAKSANAKAN!!!

[Siap grak] Apel pagi :)

Seminggu pertama pendidikan ini sepertinya agak membosankan karena isinya kuliah-kuliah di kelas yang isi kuliahnya sudah sering dipelajari sejak saya kenal bangku sekolah: pengamalan Pancasila, UUD 1945, agama, etika, organisasi, wawasan nusantara, dan beberapa teori awal tentang dunia kemiliteran serta tugas-tugas yang harus diemban.

[Samapta] lari keliling lapangan
Ternyata, Paspampres itu terbagi dalam 3 grup yang anggotanya berasal dari pasukan-pasukan terbaik Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Kopassus, dan Paskas. Grup A salah satunya bertugas menjamin keselamatan presiden dan keluarganya, Grub B bertugas menjamin keselamatan wakil presiden beserta keluarganya, dan Grup C bertugas menjaga keselamatan tamu negara asing setingkat kepala negara selama berada di Indonesia. Dan saya tergabung dalam Grup C. Meski kebanyakan isinya berupa indoktrinasi, pelan-pelan logika pikiran-orang-sipil saya berdamai dan berpikir bahwa untuk menjalankan tugas kemiliteran dalam rangka pertahanan dan keamanan negara, hanya dibutuhkan satu pemberi instruksi dan satu jawaban.

Tak ada kegiatan fisik berarti selama seminggu selain latihan PBB dan olahraga ringan. Mungkin untuk adaptasi juga. Saya mulai mengikuti ritme pendidikan ini. Disiplin mengikuti kegiatan sejak pukul 4 pagi hingga jam 10 malam, dilanjutkan dengan piket jaga serambi tiap 2 malam sekali, menghafal kata sandi, menghafal semua nama siswa dalam satu barak, piket jaga barak tiap 3 hari sekali, menghafal lagu-lagu kemiliteran di jam bimbingan pengasuh sebelum apel malam, menghafal nama-nama pelatih, dan melatih keberanian dengan digilir tiap hari menjadi komandan peleton dan komandan kompi tiap apel pagi dan apel malam. Saya juga mulai hafal kebiasaan teman-teman satu barak, mulai hafal siapa yang tidur paling cepat dan bangun paling akhir, mulai menikmati tidur di velbed dengan suara dengkur doremi fasolasido saking banyaknya yang ngorok. Dan di luar itu semua, saya dan para siswa mulai susah mengingat hari apa yang sedang dijalani.

Minggu berikutnya mulai agak lebih menarik. Hari minggu yang cerah akan dilaksanakan ujian pertama sekaligus tes fisik ke tahap selanjutnya: samapta. Dari pagi semua siswa sudah antre cek kesehatan dan fisik karena samapta ini termasuk berat meski kelihatannya sederhana. Menurut pelatih, resiko paling fatal jika tidak sesuai instruksi adalah meninggal dunia. Dan itu terjadi di pendidikan sebelumnya. Horor banget gak sih? Lari, push up, sit up, pull up, scot jam, dan lain-lain dalam durasi waktu tertentu. Untungnya saya sudah membiasakan diri olahraga dengan jogging 7 putaran, push up, sit up, dan angkat barbel tiap habis subuh, jadi tidak mengalami kesulitan berarti. Ternyata, pada akhir tes diketahui bahwa ada beberapa siswa yang terpaksa dipulangkan karena jantung dan fisiknya lemah. Seperti ditinggal pergi jauh, perpisahan itu sungguh mengharu biru penuh drama yang pernah saya alami selama ini.

[Ujian] menembak dengan pistol: serasa jadi agen 007
Hari-hari berikutnya, kegiatannya membuat saya tambah tertarik dan semangat. Selain pelajaran di kelas yang porsinya semakin sedikit, para siswa yang lolos samapta mulai mengikuti pelajaran di lapangan. Pelajarannya juga mulai menarik meski beberapa sudah pernah saya dapatkan dari kegiatan ekskul di SMU seperti membuat tandu, pertolongan pertama dan pengetahuan tentang P3K, cara membaca peta, menggabungkan peta yang terpecah-pecah, cara menggunakan kompas, menentukan posisi diukur dari suatu objek tertentu, hingga pengetahuan tentang bertahan hidup di alam (survival). Selain itu, setiap siswa juga mulai diingatkan tentang etika makan yang mulai 'asal-asalan' saking laparnya, bahwa kalau makan itu yang bergerak adalah sendok dan garpunya menuju mulut, bukan mulutnya yang menghampiri sendok garpu. Noted!

Karena banyak kegiatan lapangan, saya mulai mengenal lingkungan barak dan mengetahui alasan yang lebih logis atas larangan mendekati bangunan tertentu dan berjalan sendirian terutama di malam hari. Ternyata, bangunan barak ini dulunya adalah markas Gerwani, tempat berkumpulnya pasukan wanita sebelum menuju Lubang Buaya saat tragedi 1965. Konon, sungai di sebelah barak wanita menjadi salah satu tempat pembantaian. Makanya sering ada cerita horor yang membuat para siswa semakin waspada saat dapat tugas jaga serambi. Pasalnya, pernah suatu malam di kamar mandi barak terdengar suara orang sedang mandi sementara di dalam barak isinya utuh semua pada tidur. Selidik punya selidik, keesokan harinya pelatih bilang, " Kalau ada suara-suara orang mandi atau ada sepatu jalan sendiri ke kamar mandi, itu sebenarnya ulah 'teman' kita: siswa senior yang dulunya juga pernah tinggal di barak ini." Hihihi. Bahkan saat menulis ini saya masih merinding.

Seiring berjalannya waktu, meski masih merinding saat harus lapor ke pos jaga saat pergantian personel jaga malam, akhirnya kisah-kisah horor mulai tergantikan dengan materi pelajaran yang semakin menarik. Siswa mulai dikenalkan dengan penggunaan senjata api untuk pertahanan diri yang dimulai dengan latihan menggunakan simulator yang mempunyai spesifikasi persis dengan senjata aslinya. Hal ini digunakan untuk melatih fokus mengenai sasaran. Banyak siswa memperoleh skor tinggi karena terbiasa main play station. Setidaknya, tak ada yang perlu dikhawatirkan saat ujian kelak. Yang paling saya ingat adalah perkataan Lettu Infanteri Agung Rahmadi yang bilang bahwa senjata itu merupakan istri pertama dari seorang prajurit, sangat sensitif. Maka dari itu bijaksanalah dalam menggunakannya. Sekali pelatuk sudah dilepaskan, tak dapat diulangi lagi jika terjadi kesalahan fatal. Hati-hatilah memperlakukan senjata dan jangan main-main saat menggunakannya. Bikin jleb banget sampai-sampai saya harus minta bantuan komandan saya saat pengecekan senjata sebelum ujian sebenarnya dilaksanakan dan saya diijinkan (untuk pertama kalinya) menggunakan peluru asli. 

[Ujian] menembak pakai SS1

Selain menembak, untuk melatih pertahanan diri, setiap siswa wajib mengikuti kelas beladiri yaitu aikido dan young moo do setiap sore sehabis ashar. Kapten Rahayu dan anak buahnya secara bergiliran memberi contoh gerakan dan mempraktekkan langsung pada para siswa. Hal yang perlu dipahami, serumit apapun gerakannya, yang perlu dipahami pertama kali terhadap 'musuh' adalah siapa yang sedang dihadapi. Jika dirasa tak mampu melawan, lari adalah tindakan pertahanan diri yang paling mungkin dilakukan meski tidak pernah dianjurkan :|.

young moo do time: saatnya dibanting-banting ;P

Kelas yang paling saya tunggu sebenarnya adalah mountaineering atau pelajaran yang banyak berhubungan sama tower. Secara, sejak pertama datang, tower mountaineering setinggi 27 m (tertinggi di Indonesia) ini sudah menggoda untuk dicoba. Saya pikir, kopassus yang pendidikannya ngeri saja towernya tak setinggi ini. Saya jadi ingat tower milik ekskul Pecinta Alam di SMU dulu yang tingginya 12 m saja sudah bikin senam jantung.

persiapan rapeling dari tower tertinggi di Indonesia

Tapi ini memang bikin deg-degan sekaligus paling 'lucu'. Untuk siswa laki-laki yang takut ketinggian dan gak mau meluncur, hukumannya lebih horor lagi yaitu disuruh lari keliling lapangan sambil pakai rok. Untuk menguji 'nyali', siswa pun selalu disapa dengan panggilan "nona-nona". Yang lebih lucu lagi, karakter masing-masing orang akan muncul saat berada di atas tower: yang lama gak pulang kampung akan menjerit "mamaaaaak" saat meluncur, yang banyak dosa akan sibuk komat-kamit mohon ampun, yang sering selingkuh *ups* pada inget anak istrinya dan berniat insyaf, serta yang muda, gila, dan sadar kamera ya kayak gitu tuh, eksis di mana-mana kayak artis ibukota hahaha. Tapi ya sudahlah, daripada disuruh pakai rok, mending saya pakai daster pilih meluncur dari tower yang tingginya setara gedung 5 lantai saja. Sensasinya memang luar biasa. Yihaaa.

[Meluncur] daripada pakai rok :D

Selain kelas-kelas yang sifatnya mengasah keterampilan individual, juga ada kelas yang bertujuan meningkatkan jiwa korsa. Salah satunya adalah psikologi lapangan. Kelas ini sebenarnya lebih mirip seperti kegiatan outbound tapi tetap dengan porsi yang lebih keras. Terbukti, banyak sekali siswa yang tangan dan tubuhnya lecet setelah ikut permainan memindahkan pasukan dengan drum besar dan papan kayu.

Kewaspadaan juga merupakan poin penting dalam pengamanan kedaulatan negara. Untuk itu ada kelas praktek alarm steering. Siswa dikumpulkan di lapangan, ditunjukkan posisinya masing-masing di mana harus tiarap saat ada serangan mendadak dari musuh dengan 'tanda' ledakan granat. Jika tiba-tiba ada granat meledak dan dengar suara tembakan beruntun, siswa harus siap sedia dengan seragam lengkap dan tiarap di posisinya masing-masing yang telah ditentukan.

Suatu malam sehabis gosok gigi, saya tidak bisa tidur. Dan saat akan merebahkan badan, tiba-tiba ada ledakan granat dan berondongan tembakan yang kondisinya persis seperti perang. Barak isinya kocar-kacir para siswa yang lalu lalang menyelamatkan diri masing-masing untuk segera berseragam lengkap dan berada di posisi masing-masing. Yang membuat drama malam itu semakin cetar membahana, ada satu siswa yang lugu banget dan begitu dengar suara granat dan tembakan mengira ada perang beneran. Dia sedang mencuci baju malam itu. Saat ada granat, bukannya kembali ke barak dan ganti seragam, dia malah lari ngumpet di kamar mandi. Saat dikira udah sepi, dia mengendap-endap mau keluar dari bilik closet. Ternyata, sudah ada sersan yang bertugas jaga di balik pintu. Dan duaaar, tertangkaplah dia yang akhirnya jadi bulan-bulanan dan hiburan malam siswa yang lain karena dapat hukuman disuruh nyanyi di depan seluruh siswa berpakaian seragam sementara dia pakai kaos oblong putih yang baru dibelinya saat liburan di Bali. Segi positifnya, dia jadi dikenal semua siswa. :D

binsik siang: saatnya merayap di lapangan
Tapi, karma tetap berjalan. Gara-gara menertawai siswa-lugu-yang-ngumpet-di-closet, saya kena tulahnya. Suatu sore yang biasa saja, semua siswa diberi waktu istirahat karena kegiatan hari itu sudah terlaksana semua sesuai jadwal. Sore itu gerah mau hujan, makanya saya berniat mandi. Karena kamar mandi barak penuh dan antrinya masih 2 baris, saya mandi di kamar mandi masjid yang letaknya agak jauh melewati kompleks asrama prajurit. Tak disangka tak dinyana, tiba-tiba ada granat meledak tiga kali diikuti suara tembakan beruntun, tepat saat saya sedang pakai sampo. Mati deh gw. Akhirnya saya putuskan untuk tenang dan tetap menyelesaikan ritual mandi. *koplak* Perkiraan saya, saat semua siswa sudah merayap di lapangan, saya akan diam-diam menyusup ke barak. Awalnya tenang-tenang saja dan saya berhasil menembus kompleks perumahan prajurit dengan aman, sampai Kapten Sukandar yang aslinya kebapakan itu naik pitam mengetahui ada siswanya masih memakai celana pendek, sandal jepit, dan handuk sembari menenteng tas plastik toiletries  seperti Sarimin pergi ke pasar. Langsung saja beliau berteriak ke anak buahnya untuk mengejar saya. Tak tahulah waktu itu, saya langsung lari pontang panting diikuti dengan berondongan tembakan di kanan kiri kaki saya hingga akhirnya berhasil masuk barak, menyahut seragam dan sepatu, serta berlari ke lapangan. Pokoknya serasa kayak maling ketahuan orang satu kampung. Tapi untunglah saya selamat dari hukuman karena bisa berseragam lengkap sembari merayap.

Yang lebih lucu lagi, si Fredy, teman saya satu barak, niatnya mau leyeh-leyeh sebentar sembari nunggu antri mandi. Bodohnya, dia menjemur seragam yang dipakainya barusan di jemuran luar, bukan di jemuran dalam barak. Baju seragamnya diangkat dari jemuran oleh teman-teman lain bersama dengan puluhan baju lainnya saat hujan turun dan si Fredy ketiduran. Saat granat meledak, sementara yang lain pada sibuk pakai seragam lengkap dan berlari ke lapangan, si Fredy baru sadar dari tidur dan kebingungan sendiri mencari-cari baju seragamnya di antara tumpukan baju yang menggunung. Karena durasinya singkat (hanya 3 menit), tertangkaplah si Fredy oleh Komandan Ketertiban, Mr. Firmansyah si prajurit militan dan digelandang ke lapangan dengan hanya memakai celana pendek dan kaos dalam. Aaaaah, bahagianya itu si komandan dapat mainan baru. Hahahaha.

[saya tertawan] 'disiksa' di siang bolong :'(

Euforia hukuman si Fredy mulai terlupakan saat semua ingat dengan kelas praktek yang paling membuat adrenalin memuncak dari semua kelas yaitu caraka malam. Masing-masing siswa akan dilepas sendirian di dalam hutan di malam hari mengikuti alur tali yang telah ditentukan dengan membawa pesan yang akan disampaikan di setiap pos pemberhentian. Pesan ini harus jelas dan sama persis dengan pesan yang diberikan di pos pertama. Hari itu memang durjana sekali. Ada 3 kelas yang harus diikuti dilanjut dengan ujian tertulis, 2 sesi praktek psikologi lapangan, 1 insiden alarm streering, dan tak ada makan malam di ruang makan. Sebagai gantinya, setelah isya' semua baru dapat jatah makan nasi komando: nasi kalengan yang digunakan prajurit saat perang. Untungnya, setiap makan siang saya menyelundupkan beberapa buah pisang di saku celana. Kalau gak gitu, bisa-bisa saya 'tewas' saat ujian. *Ups*.

Semua siswa digiring keluar menuju hutan di bukit sebelah kompleks tempat pendidikan. Gila, suasananya benar-benar gelap sampai jalan pun harus meraba-raba tanah. Malam itu mendung pula. Jalur yang dilewati tali ini benar berliku-liku. Kalau gak mau tersesat, memang harus memegang tali tersebut apapun yang akan terjadi. Bagai masuk taman labirin, sekali kita keluar jalur, maka akan tersesat jauh. Saya awalnya merasa bergidik ngeri saat mengetahui bahwa jalur yang dilewati ini akan blusak-blusuk ke tanah tegalan juga karena banyak banget kuburan. Iya, bener-bener kuburan. Dan bayangkan, tak ada yang lebih ngeri daripada kita harus nulis nama kita di buku absen yang diletakkan di atas nisan dengan penerangan sebuah dian kecil di tengah malam. Saya masih ingat, setelah kuburan tempat absen itu, ada beberapa pocong jebakan yang disiapkan oleh penguji untuk menakut-nakuti siswa dan memecah konsentrasi.

Yang saya takuti sebenarnya bukan pocongnya meski pas sekali ketemu, saya agak kaget juga. Tapi gak sampai menjerit sih, cuma mengucap doa sedikit kemudian jalan lagi karena saya melihat ada tali yang menarik pocong tersebut. Yang saya takuti justru keberadaan ular saat meniti jalur tali dan saya diharuskan merayap melalui lorong-lorong semak yang rimbun. Tapi penguji di pos pertama meyakinkan saya bahwa di sepanjang jalur penjelajahan, sudah ditabur garam dalam jumlah cukup. Saya sempat mau terpeleset saat meniti jalan di lereng sungai dan sempat deg-degan juga mendengar suara jeritan dan teriakan di kejauhan. Memang sih, pelatih sudah menjelaskan jika nanti saat ujian caraka malam akan mendengar tiga suara yaitu suara cowok, suara cewek, dan suara lekong. Eaaa. Tapi untunglah semuanya berjalan lancar. Saya dapat mengingat isi pesan dan menyampaikan dengan jelas sampai di pos terakhir. Rasanya lega luar binasa karena badan seperti habis diperkosa orang satu barak. Aaaarrrggghh.        

[diantar bapak]: Kapten Sukandar setelah inagurasi
Hari-hari berikutnya sepertinya sudah agak lega. Tinggal belajar, belajar, dan belajar karena akan dilakukan ujian untuk semua pelajaran yang tersisa. Kelas beladiri adalah kelas praktek terakhir yang diujikan dan setelah itu rasanya luar bisa enteng sambil deg-degan menunggu hasilnya. Sembari menunggu nilai, seluruh siswa masih diwajibkan untuk mengikuti latihan upacara dan meningkatkan porsi latihan langkah deville hingga tanpa cacat mengikuti irama musik drumband. Malam prajurit diadakan semalam sebelum dilakukan upacara penutupan. Semuanya pada berpisah haru sambil membuat janji untuk bisa bertemu lagi di lain waktu. Saat semua sudah dilaksanakan, semua tugas selesai ditunaikan, upacara penutup dan baris langkah deville seakan menjadi sajian manis dan bonus pengabdian bagi para pelatih kepada komandannya. Senang sekali bisa ikut sesuatu yang tak semua orang bisa mengikutinya. Saya sampai terharu ketika akan pulang dijabat erat oleh para pelatih dan 'diantar' oleh Pak Kapten Sukandar, komandan yang berteriak menyuruh anak buahnya menembaki dan menggiring saya saat terlambat menuju lapangan sewaktu alarm steering.

Banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapat dari pendidikan ini. Yang jelas saya jadi tambah punya banyak teman, lebih meningkatkan jiwa toleransi dan jiwa korsa, makan lebih teratur *teteup*, hidup juga lebih teratur, badan jadi tambah berisi, dan saya jadi punya kesempatan untuk bisa blusak-blusuk ke Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Merdeka, dan menikmati Istana Bogor secara intens di malam hari secara 'eksklusif'. Senang rasanya bisa masuk ke tempat-tempat yang tak semua orang bisa menjejaknya. Dan akhirnya, saya mendapati diri saya berada di antara para lulusan Akademi Militer (yang menjadi pelatih dan pengajar selama pendidikan) sekaligus menepis memori masa kecil bahwa menjadi prajurit tak selalu harus buncit, tak mesti juga harus berbadan gempal. Yang jelas, apapun kondisinya, saya jadi merasa harus selalu siap sedia. SETIA dan WASPADA!!!.

17 komentar:

  1. baca ginian bikin merinding euy.. antara seru pengen nyoba ama ngeri dengan rutinitasnya.. :D
    BTW, pas denger suara lekong, berasa denger suara diri sendiri dong pli.. :p

    BalasHapus
  2. Gila, seru banget, Mas! :))

    Benar-benar pengalaman yang sangat berkesan....

    BalasHapus
  3. Gila, seru banget, Mas! :))

    Benar-benar pengalaman yang sangat berkesan....

    BalasHapus
  4. Hahahhahahhaaa ceritanya serruuuuuuu ...
    Dari tadi sering ketawa2, apalagi bagian yang gara2 main PS, nilai menembak jadi bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, itulah. Pengalaman yang menyenangkan bisa bergabung dengan pasukan elit nan prestisius :)))

      Hapus
  5. Saya juga sudah pernah,tapi latihannya lebih ringan dari yang anda ceritakan....

    BalasHapus
  6. Benar yang anda ceritakan ada rasa bangga,yang tidak dirasakan orang lain

    BalasHapus
  7. Benar yang anda ceritakan ada rasa bangga,yang tidak dirasakan orang lain

    BalasHapus
  8. Hahahah, walau pun mcm sengsarah tapi lucu dan asyik juga ya :v mau pengen gini bah

    Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahaha pengalaman menyenangkan lah pokoknya :)

      Hapus
  9. Salut. tapi saya selalu berharap Paspampres dilepaskan dari Kementerian Pertahanan atau TNI. Saya berharap Paspampres berada di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Saya amat mengkhawatirkan keamanan Presiden beserta keluarganya, keamanan Wakil Presiden dan keluarganya serta keamanan para tamu negara jika pasukan keamanan VVIP ini berada dibawah TNI.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, kenapa? Kan simbol negara. TNI sejati gak akan berkhianat pada NKRI kali. Cmiiw. :)

      Hapus