Sabtu, 16 Juni 2018

Lebaran di Negeri Jiran

.: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah :.

Langit gelap bertabur bintang. Gema takbir berkumandang. Jalanan cukup lengang. Masjid-masjid tampak mulai bersiap untuk hajatan esok hari. Lebaran telah datang. Untuk kali pertama saya berlebaran di negeri orang. Bukan karena alasan menghindari sesuatu, tapi lebih karena berburu pengalaman baru. Semesta mendukung dengan mengirimkan tanda berupa tiket promo pergi pulang dengan harga terjangkau. Sungguh kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.   

Memang, idealnya lebaran digunakan untuk berkumpul bersama keluarga di rumah. Berhubung liburnya lumayan panjang, saya memanfaatkannya dengan liburan juga. Bosan kan di rumah tidak melakukan apa-apa selain bengong membaca buku dan menghabiskan cemilan saja. Melipirlah saya ke negeri tetangga. Selain akses yang mudah dan suasananya juga tidak berbeda jauh dengan di tanah air, biaya hidupnya juga murah.

Sabtu, 09 Juni 2018

Jogja Melankolia (Jilid Dua)

.: Welcome to Jogja :.

Roda-roda kereta berderit saat memasuki Stasiun Tugu Jogja. Hari masih pagi. Dingin mereguk tengkuk. Namun rona kehangatan menjalar ke seluruh tubuh. Saya tiba kembali di Jogja. Kota yang tetap istimewa. Setidaknya bagi saya. Empat tahun silam, saya menulis catatan tentang kenangan istimewa saat berlibur ke Jogja bersama keluarga bertahun lalu dan berusaha merunut keping memori yang tertinggal.

Hari ini, empat orang yang sama, berangkat dari tempat berbeda, dengan membawa keping memori yang tersisa di kepala masing-masing, berjanji jumpa dalam sebuah pertemuan keluarga untuk merunut perjalanan pertama. Rasanya seperti berjalan kembali ke titik nol. Tempat segalanya bermula.

Minggu, 27 Mei 2018

What I Talk about When I Talk about Books

.: Bersama Haruki Murakami di Kompleks Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat :.

Beberapa waktu lalu, linimasa saya diramaikan oleh riuhnya orang-orang yang berburu buku di Big Bad Wolf Bookfair, ICE BSD, Tangerang Selatan. Entah mengapa, saya senang sekali mengikuti keriuhan tersebut. Mungkin, perasaan 'dekat' secara emosional dengan sesama pecinta buku yang menjadi katalisnya. Saya sendiri senang berada di lingkaran orang-orang yang suka membaca, membahas suatu buku, atau paling tidak, mempunyai kesenangan untuk berbelanja buku.

Saat gairah untuk menulis sedang surut akhir-akhir ini, saya seperti menemukan semacam oase sebagai jalan pelampiasan. Sebenarnya keadaan seperti ini tidak sehat. Setidaknya menurut pemikiran saya pribadi. Kegiatan menulis seyogianya bisa berselang-seling berkelindan dengan keasyikan membaca. Normalnya, saya biasa menyelesaikan membaca tiga sampai dengan lima buku saban bulan (termasuk di antaranya satu buku berbahasa Inggris) dan menulis paling tidak satu postingan blog tiap pekan.