Sabtu, 15 November 2014

Cinta dalam Secangkir Kopi

.: [Sarapan] Kopi, Nasi Goreng, dan Beberapa Iris Buah Segar :.
"Ibu lebih memilih tidak makan nasi daripada harus tidak minum kopi saat sarapan," kata ibu saya suatu ketika.

Kata-kata itu terlintas begitu saja saat saya sedang adu diam dengan buku menu di sebuah kedai di Jakarta. Gerimis yang syahdu menenggelamkan saya pada ingatan masa kecil yang menyenangkan untuk dikenang. 

Dari kecil saya sadar bahwa saya tumbuh di lingkungan orang-orang yang menyukai kopi. Ibu adalah orang pertama yang saya kenal sebagai seorang penikmat kopi militan. Beliau meracik sendiri kopi yang terhidang di meja. Mulai memilih biji kopi di pasar, mencuci dan menjemurnya di bawah terik matahari, menyangrainya di wajan tanah liat, dan kemudian menggilingnya. Beliau melakukan hal itu semua sendirian dengan penuh ketelatenan.

Jumat, 07 November 2014

Semarak Santa: Keriaan Sederhana di Sebuah Pasar

.: Pasar Santa, Pasar Tradisional yang sedang Bermetamorfosis :.

Lokasinya tersembunyi. Untuk orang yang baru pertama kali ke sini, saya perlu tiga kali bertanya untuk bisa menemukan lokasinya. Maklum, meski sering melintas saat saya masih tinggal di Otista dulu, kawasan ini hanya menjadi semacam 'tempat lewat' saja saat wara-wiri Blok M - Kampung Melayu. Pasar Santa namanya. Beberapa hari belakangan, pasar ini sempat melambung namanya dan menjadi topik pembicaraan hangat. Bahkan, dua orang menteri dari Kabinet Kerja juga menyempatkan diri blusukan dan potong rambut segala di pasar ini beberapa hari sebelum saya bertandang.

Saya berkunjung ke Pasar Santa bukan karena ingin menengok tempat cukur yang didatangi menteri. Saya datang atas undangan seorang kawan di ujung sana yang begitu ingin saya temui setelah rentetan kisah perjalanannya saya baca. Begitu menginjak pintu masuknya, terus terang saya sedikit terkejut. Sebuah peti mati drakula menjadi suvenir selamat datang. Mungkin saya datang kepagian. Kios-kiosnya masih pada tutup. Seorang ibu pemilik Toko Emas Cantik tampak sumringah menunjukkan arah ke toilet saat saya datang tergopoh-gopoh kebelet pipis. "Jalan lurus saja sampai mentok, lalu belok kiri. Toilet ada di ujung lorong." Begitu jawabnya sambil tersenyum ramah.  

Jumat, 31 Oktober 2014

Finding Innerpeace

.: Leyeh-Leyeh di Penginapan Freddie's Santai, Sumur Tiga :.
"Leyeh-leyeh."

Itulah jawaban terbaik yang bisa saya sampaikan kepada salah seorang teman yang begitu ingin tahu, untuk alasan apa sebenarnya saya jalan-jalan. Saya memang bukan orang melankolis, yang melakukan perjalanan untuk tujuan semisal menemukan jati diri atau sejenisnya. Saya jalan-jalan karena memang ingin jalan-jalan.

Awalnya karena ingin melihat lebih dekat segala sesuatu yang saya lihat di televisi atau saya baca di surat kabar. Selebihnya, hal-hal tertentu datang sebagai komplimen terhadap kesukaan saya akan jalan-jalan yang sifatnya lebih personal. Maksudnya, mungkin kesan yang saya tangkap tentang suatu tempat bisa jadi berbeda dengan apa yang dirasakan oleh pejalan lain.

Seperti saat bertandang ke Aceh. Tujuannya adalah mengunjungi Mesjid Raya Baiturrahman yang saya lihat dari sebuah tayangan adzan magrib di televisi. Selain mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan, saya sempatkan untuk melaksanakan sholat di sini. Saya merasa tempat ini begitu tenang dan mengundang rasa khidmad. Setidaknya, di masjid sebesar ini, saya tak merasa perlu terlalu khawatir untuk kehilangan sandal meski hari itu sedang dilaksanakan sholat Jumat, di mana jamaahnya banyak sekali.