Minggu, 20 Mei 2018

Mandiri Jogja Maraton 2018: Berlari Keliling Candi

.: Sugeng rawuh wonten Jogja :.

Ada saat di mana kita begitu merasa mempunyai ikatan batin yang sangat kuat dengan suatu tempat. Perasaan yang begitu hangat dan tenang seperti saat berada di rumah sendiri. Entah mengapa, perasaan itu begitu menyala saat saya bertamu ke Jogja. Saya tidak lahir di Jogja. Tidak pula tinggal dan bekerja di Jogja. Namun, setiap kali bertemu dengan orang baru, saya kerap dituduh dan mendapat sematan sebagai orang yang berasal dari Jogja. Bahkan dari warga Jogja sendiri.

Betapa sering para tukang becak dan penjual nasi pecel yang berderet di sepanjang Malioboro dengan lugas melayangkan tanya, "Jogjanipun pundi mas?". Awalnya saya agak kaget. Lama-kelamaan akhirnya mampu menguasai diri dan mahfum. Saya berusaha menjawab dengan bahasa Jawa krama inggil. Mereka biasanya senang sekali. Membuat orang lain bahagia merupakan salah satu bentuk kebajikan, bukan?

Kamis, 10 Mei 2018

Maraton di Malaysia

.: Selamat datang di Malaysia :.

Tahun 2018 bagi saya merupakan tahun yang mendebarkan. Ada beberapa agenda yang akan saya lakukan pertama kali dalam hidup. Meski sebenarnya, setiap memasuki tahun baru, saya juga deg-degan karena akan jalan-jalan mengunjungi daerah baru, atau bahkan, negara baru yang akan menambah koleksi cap di paspor. Tapi rasanya lain. Dalam dunia lari yang sedang saya geluti, tahun 2018 adalah tahun Full Marathon (FM) bagi saya.  

Sejak ikut race lari pertama kalinya di YOI Bandung Great Run tahun 2016 silam, kecuali bulan Ramadhan, saya secara ajeg mengikuti race lari kategori 5K dan 10K sepanjang tahun tersebut. Bahkan, saya bisa saja ikut race lari di hari Sabtu dan Minggu. Saya cukup 'keras kepala' menolak semua ujaran, cemoohan, ataupun sindiran yang mengatakan sudah waktunya saya 'naik kelas' ke kategori Half Marathon (HM).

Sabtu, 07 April 2018

Mengapa Harus (Jalan Bareng) Bule?

.: Lalu lalang para pejalan mancanegara :.

Setiap generasi selalu melahirkan pengalaman dan fenomenanya sendiri. Hampir tiga tahun berselang, saya pernah menulis di sini tentang betapa sebagian orang Indonesia begitu suka berfoto dengan bule. Mereka menjadikan itu sebagai sebuah kebanggaan sebagaimana bangganya mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Inggris. Seolah ada sesuatu yang spesial atau menjadi bernilai lebih jika hidup kita bersinggungan dengan bule. Padahal kan, ya biasa saja gitu.

Dari dulu, saya tidak menganggap bahwa bule itu 'sesuatu' banget. Ya biasa saja. Persinggungan hidup saya dengan bule juga berlangsung alamiah saja. Sama seperti saya kenal atau bersinggungan dengan orang Indonesia pada umumnya. Meski dulu sempat canggung karena masalah bahasa, saat ini hampir-hampir tidak mengalami hal itu. Apalagi, semakin jauh (dan sering) melakukan perjalanan, semakin sering pula saya bergaul dengan bule. Dan karena sudah begitu seringnya, saya semakin merasakan hal yang biasa saja terhadap bule. Intensitas itulah yang perlahan-lahan membuat saya paham dan mungkin semakin menegaskan pandangan saya terhadap bule. Berikut ini beberapa hal di antaranya.