Rabu, 15 Oktober 2014

Kelana Krakatau

.: Anak Gunung Krakatau :.

Apakah yang paling membuat hidup tidak tenang selain memerhatikan sebuah rumor dengan serius? Apakah yang paling membuat tidur tak nyenyak sebelum pendakian selain mendengar kabar burung yang simpang siur? Pendakian kali ini sudah lama saya tunggu-tunggu kesempatannya sekaligus paling membuat saya was-was. Hal ini karena tiap hari Anak Gunung Krakatau masih mengenduskan asap belerang di puncak kepundannya. Selain itu, hampir semua orang yang saya mintai informasi mengatakan kalau menjejak Anak Gunung Krakatau sangat tidak aman. Sandal japit bisa meleleh seketika. Berada di atasnya serasa berada di atas panggangan bara api.

Informasi tersebut diperparah dengan memori kolektif yang saya ingat pernah baca dari buku dan majalah. Bumi pernah luluh lantak karena amukan gunung ini. Konon, bunyi gelegarnya sampai terdengar hingga Australia dan India. Bahkan, stasiun pencatat gempa yang bercokol di Washington pun tak ketinggalan mencatatnya. Berkaca pada tragedi tsunami di Aceh tahun 2004 dan peristiwa erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah tahun 2011 silam, saya membayangkan bahwa letusan gunung Krakatau tahun 1883 merupakan kombinasi dari keduanya, meski dengan skala yang jauh lebih besar.     

Minggu, 05 Oktober 2014

[Behind The Scene] Kisah di Balik Foto

.: Foto Sejenak di Batu Bolong Cottage, Senggigi, Lombok :.
Saat mengunggah foto di media sosial, saya kerap mendapat pertanyaan atau komentar begini, "Teman-temanmu baik semua ya, mau ngeladenin kamu foto-foto narsis."

Saya hanya mengiyakan saja sembari menimpalinya dengan jawaban, "Iya, kan gantian. Saya juga dengan senang hati bersedia memotret mereka sesuai dengan gaya yang mereka mau. That's what friends are for (salah satunya), selain buat patungan uang jalan." Cukup rasional, bukan?

Tapi, setelah mendapat pertanyaan tersebut, saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Maksudnya, saya pikir, foto-foto yang saya unggah umumnya adalah foto-foto yang 'biasa', dalam artian, semua orang bisa punya kesempatan yang sama berfoto di tempat tersebut. Mungkin hanya gaya berfotonya saya saja yang lebih bervariasi. Itupun alasannya juga berasal dari komentar teman-teman di media sosial, baik yang saya kenal secara personal di dunia nyata, atau hanya sekadar akrab di ranah maya. Mereka bilang, "Gayanya jangan begitu-begitu aja dong. Bosen." Gila, komentar gaya foto udah kayak komentar adegan ranjang saja. Euwh.

Selasa, 30 September 2014

Menerabas Cibodas

.: Jalur Pendakian ke Puncak Gunung Gede - Pangrango via Cibodas :.

Naik gunung itu sungguh menyenangkan. Ada usaha yang harus ditempuh untuk dapat menggapai puncaknya. Ada pula tenaga yang harus dibakar menjadi peluh untuk menuruninya. Saya pikir, hanya orang yang benar-benar niat saja yang dapat menikmati aktivitas ini tanpa mengeluhkan suatu apapun.

Selepas menikmati momen matahari terbit di puncak Gunung Gede (2.958 mdpl), beberapa teman pendaki menyarankan untuk turun gunung melewati jalur Cibodas saja. Alasannya, selain karena jalur Gunung Putri akan menjadi 'lebih padat' daripada hari-hari biasa akibat dipakai sebagai jalur Lomba Kebut Gunung 2014, jalur Cibodas relatif lebih landai dan banyak 'hiburan'nya di sepanjang jalur pendakian. Saya yang dasarnya suka mencoba jalur baru, tentu saja langsung setuju saat diiming-imingi akan melewati banyak sekali objek menarik sepanjang jalan. Baru kali ini sepertinya saya merasakan adrenalin yang memuncak tanpa kekhawatiran tertinggal rombongan saat akan turun gunung.