Minggu, 05 Oktober 2014

[Behind The Scene] Kisah di Balik Foto

.: Foto Sejenak di Batu Bolong Cottage, Senggigi, Lombok :.
Saat mengunggah foto di media sosial, saya kerap mendapat pertanyaan atau komentar begini, "Teman-temanmu baik semua ya, mau ngeladenin kamu foto-foto narsis."

Saya hanya mengiyakan saja sembari menimpalinya dengan jawaban, "Iya, kan gantian. Saya juga dengan senang hati bersedia memotret mereka sesuai dengan gaya yang mereka mau. That's what friends are for (salah satunya), selain buat patungan uang jalan." Cukup rasional, bukan?

Tapi, setelah mendapat pertanyaan tersebut, saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Maksudnya, saya pikir, foto-foto yang saya unggah umumnya adalah foto-foto yang 'biasa', dalam artian, semua orang bisa punya kesempatan yang sama berfoto di tempat tersebut. Mungkin hanya gaya berfotonya saya saja yang lebih bervariasi. Itupun alasannya juga berasal dari komentar teman-teman di media sosial, baik yang saya kenal secara personal di dunia nyata, atau hanya sekadar akrab di ranah maya. Mereka bilang, "Gayanya jangan begitu-begitu aja dong. Bosen." Gila, komentar gaya foto udah kayak komentar adegan ranjang saja. Euwh.

Selasa, 30 September 2014

Menerabas Cibodas

.: Jalur Pendakian ke Puncak Gunung Gede - Pangrango via Cibodas :.

Naik gunung itu sungguh menyenangkan. Ada usaha yang harus ditempuh untuk dapat menggapai puncaknya. Ada pula tenaga yang harus dibakar menjadi peluh untuk menuruninya. Saya pikir, hanya orang yang benar-benar niat saja yang dapat menikmati aktivitas ini tanpa mengeluhkan suatu apapun.

Selepas menikmati momen matahari terbit di puncak Gunung Gede (2.958 mdpl), beberapa teman pendaki menyarankan untuk turun gunung melewati jalur Cibodas saja. Alasannya, selain karena jalur Gunung Putri akan menjadi 'lebih padat' daripada hari-hari biasa akibat dipakai sebagai jalur Lomba Kebut Gunung 2014, jalur Cibodas relatif lebih landai dan banyak 'hiburan'nya di sepanjang jalur pendakian. Saya yang dasarnya suka mencoba jalur baru, tentu saja langsung setuju saat diiming-imingi akan melewati banyak sekali objek menarik sepanjang jalan. Baru kali ini sepertinya saya merasakan adrenalin yang memuncak tanpa kekhawatiran tertinggal rombongan saat akan turun gunung.   

Selasa, 23 September 2014

Jalan Sunyi Seorang Pendaki

.: Jejak Langkah Sepasang Sepatu :.
"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung."         - Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran.

"Jika sedang patah hati, sebaiknya kamu naik gunung." kata seorang teman saya secara tiba-tiba di suatu siang yang biasa.

Saya tertegun sejenak. Ada banyak alasan mengapa orang naik gunung. Ada banyak pula hipotesis yang berkembang tentang alasan mengapa saya naik gunung kembali setelah vakum kurang lebih dua tahun. Dan mengapa kesemuanya merujuk pada musabab yang sama yaitu tentang perasaan patah hati ditinggal pergi ke pelaminan oleh perempuan-perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan saya, entah sebagai sahabat, entah sebagai ... ah sudahlah.  Sebegitu meranakah kelihatannya diri saya hingga selalu dihubung-hubungkan dengan hal remeh semacam itu. Namun demikian, hal-hal tersebut tetap saya dengar sebagai sebentuk perhatian yang hangat dari sebuah persahaban.