Sabtu, 12 April 2014

Jelajah Nusantara Bersama Garuda Indonesia

.: Boeing 737 - 800 NG :.
Sebagai seorang pejalan yang terobsesi menjelajahi seluruh bumi nusantara, saya kerap memilih moda transportasi udara demi menghemat waktu. Berkali-kali naik pesawat terbang, saya kerap bermimpi suatu saat bisa naik Garuda Indonesia. Mungkin sering dianggap norak (oleh teman-teman), saya sering minta difoto di hadapan pesawat Garuda Indonesia saat berjalan menuju terminal bandara meski tidak naik pesawatnya.

Maklum, dalam pikiran kolektif saya, Garuda Indonesia adalah maskapai dengan tarif premium. Bayangkan, dari 14 maskapai nasional, Garuda Indonesia merupakan satu dari tiga maskapai yang menawarkan kelas bisnis dan satu-satunya yang bermain di segmen full-servise. Bagi saya, bisa naik Garuda Indonesia itu ibarat tingkat kegantengan dan kepercayaan diri sedikit terkatrol dalam lingkungan pergaulan para pejalan yang kerap jor-joran bersaing mendapatkan tiket paling murah dari maskapai bujet.

Sabtu, 15 Maret 2014

Jogja Melankolia

.: Welcome to Yogyakarta :.
Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta, Yogya, Jogjakarta, Jogja, Yogja dan malah ada yang menyebutnya dengan Yoja. Meski paham nama yang benar dan baku setelah Indonesia merdeka adalah Yogyakarta, tapi demi mendukung program yang diusung dalam tagline Never Ending Asia, saya akan menggunakan nama Jogja saja.

Saya tidak dilahirkan di Jogja. Tapi, entah mengapa, sepertinya mempunyai hubungan emosional yang kuat dengan kota ini sampai-sampai banyak orang mengira kalau saya berasal dari sana.

"Dari Jogja ya mas?" Begitu biasanya teman-teman yang baru kenal berusaha menimpali. Awalnya saya berpikir, apa yang membuat mereka mengidentikkan saya dengan (orang) Jogja? Kalau lagi niat menjawab, saya akan jelaskan kalau saya bukan dari Jogja dan tidak tinggal di Jogja. Tapi, kalau lagi malas, saya akan mengiyakan saja dan berusaha melihat reaksinya. Hehehe. Tapi, pada suatu kesempatan saya bertandang kembali untuk kesekian kalinya ke kota ini, saya sering mendapat pertanyaan, "Jogjanipun pundi mas?" (Jogjanya sebelah mana mas?) dari orang-orang Jogja sendiri. Lho? Wong orang Jogja saja mengira kalau saya bagian dari masyarakatnya, berarti saya pikir itu juga jadi alasan yang cukup untuk menjelaskan mengapa saya mempunyai hubungan emosional yang kuat dengan Jogja.   

Jumat, 14 Februari 2014

Ekspedisi Susur Sungai

.: Sungai yang Menantang untuk Disusuri :.

Eksotis. Itulah kata yang selalu disematkan oleh teman-teman saat mengomentari beberapa foto perjalanan saya. Kata itu hampir selalu diidentikkan dengan suatu destinasi yang tidak populer, susah untuk menjangkaunya, dan dibutuhkan biaya yang tidak murah untuk menuju ke sana. Padahal, tempat-tempat yang saya kunjungi merupakan tempat yang sangat familier bagi banyak orang, tidak terlalu susah untuk pergi ke sana jika memang diniatkan, dan untuk mendapatkan harga terjangkau, hal itu dapat disiasati dengan berbagi biaya dengan para pejalan lain.

Beberapa kali turut serta dalam tantangan menyusuri sungai berarus liar, tiba-tiba saja saya kepikiran untuk mencoba menyusuri sungai-sungai berair tenang. Sungai seperti ini biasanya berada di dekat muara, alirannya membelah hutan yang cukup lebat, dan tantangannya justru tersimpan di dalam arusnya yang santun. Sungai dengan karakter seperti yang saya sebutkan di atas, sangat mudah dijumpai di Indonesia. Beberapa sudah menjadi destinasi wisata populer, tapi masih banyak lagi yang belum tercium radar wisatawan. Dari ratusan sungai yang dikoleksi bumi pertiwi, saya susuri tiga di antaranya.