Rabu, 20 April 2016

Sambang ke Sabang, Saujana Pariwisata Aceh yang Bersemayam di Ujung Nusantara

.: Kawasan Perairan Selat Malaka dilihat dari Petilasan Benteng Jepang :.

Terapung di perairan Andaman yang teduh, Pulau Weh seakan berusaha mengasingkan diri dari ingar-bingar daratan nusantara. Di atas peta, lokasinya kerap dijadikan patokan sebagai 'pagar' alam kedaulatan negara. Sejak Aceh ditata ulang paska tsunami tahun 2004 silam, reputasi Pulau Weh kian bersinar sebagai salah satu destinasi yang menarik untuk disambangi di tlatah Negeri Serambi Mekah ini. Aksesnya mudah ditembus, baik melalui jalur laut maupun udara.

Sementara itu, Sabang sebagai ibukotanya, yang teronggok persis di tengah pulau, namanya wajib didendangkan dengan merdu di depan kelas di seantero nusantara oleh jiwa-jiwa muda sebagai upaya sederhana untuk memupuk rasa cinta tanah air sejak usia belia. Berbagai simbol yang menasbihkan rasa nasionalisme ditanam di penjuru pulau. Dikungkung bukit-bukit rimbun dan dipagari deretan nyiur menjadikan Sabang tak ubahnya sebuah oase untuk mengasingkan diri sejenak dari keriuhan kota. 

Jumat, 15 Januari 2016

Gema Gravitasi Gede

.: Kawah Gunung Gede dilihat dari Puncaknya :.

Setelah menginjakkan kaki di puncak Gunung Gede setahun silam, ada semacam keinginan untuk mendaki puncak Gunung Pangrango yang terletak bersebelahan. Pasalnya, tahun lalu hendak menuju gunung tersebut tapi terkendala masalah waktu. Jujur, saya tertarik untuk mengunjungi Gunung Pangrango karena membaca tulisan Catatan Seorang Demonstrannya Soe Hok Gie. Buku tersebut saya baca berulang-ulang sejak masa kuliah hingga sudah bekerja. Filmnya saya tonton. Saya sampai meninggalkan buku tersebut di rumah orang tua di Nganjuk dan menyimpannya rapat-rapat agar tidak teringat dengan Pangrango karena disibukkan dengan hal lain.     

Sampai suatu ketika, saya mendapatkan bingkisan dari koh Halim Santoso yang isinya berupa buku Catatan Seorang Demonstran dan selembar tenun ikat Sumba. Pikiran saya kembali teringat akan niatan untuk mendaki Pangrango. Bagai semesta yang sedang berbisik untuk mendukung, di kesempatan yang sama, saya mendapat ajakan untuk mendaki kembali Gunung Gede-Pangrango dari para sahabat yang dulu sama-sama mendaki. Namun kali ini, pendakian akan dimulai dari jalur Cibodas. Saya tak kuasa untuk menolak ajakan saat kesempatan datang di depan mata.

Kamis, 07 Januari 2016

Taman Bumi Sukabumi

.: Selamat datang di kawasan Ciletuh Geopark :.

Teronggok di ujung selatan Pulau Jawa, Ciletuh Geopark seolah bergeming dengan ingar-bingar pariwisata. Lokasinya dibentengi dengan bukit-bukit tinggi yang dirimbuni dengan deretan air terjun dan sawah berundak. Potensinya cukup menarik untuk dikembangkan dan dijadikan andalan penarik wisatawan. Untuk menembusnya, diperlukan kesabaran ekstra karena jalurnya tidak mudah.

Saya melakukan lawatan ke Ciletuh Geopark di akhir musim kemarau. Bukan waktu yang tepat sebetulnya mengingat kawasan ini lebih menarik saat tebing-tebingnya dihiasi aliran air yang mengucur deras. Pepohonan meranggas. Tanahnya gersang layaknya di hutan kapur. Hujan sepertinya sudah lama tidak bertandang. Pagi yang syahdu baru saja lewat saat saya sampai di Pantai Palangpang, sebuah pantai sepi yang menghampar menghadap samudra Indonesia. Sulit membayangkan jika kawasan ini merupakan dasar samudra berjuta-juta tahun yang lampau.