Minggu, 07 Januari 2018

Tak Ada Ora di Gili Lawa

.: Pemandangan dari Puncak Gili Lawa Darat :.

Jauh sebelum Pulau Padar menjelma destinasi ikonis untuk menikmati Taman Nasional Komodo dari ketinggian, Gili Lawa merekah sebagai primadona. Daratan mungil ini kerap disambangi pengunjung sebelum mendarat di Pulau Komodo. Pantainya landai dan berpasir putih. Lautnya dangkal dan tidak berombak. Sebuah selat cupet menjadi pemisah antara dua daratan yang pernah bersatu di masa lampau, membentuk lekukan unik serupa bendungan alam. 

Setelah bertarung dengan ombak dan badai dalam pelayaran sembilan jam dari Pulau Satonda, kapal yang saya tumpangi merapat di Gili Lawa Darat. Gili Lawa Laut sengaja dilewatkan karena selain topografinya serupa dengan Gili Lawa Darat, menurut perhitungan sang pemandu, tak ada cukup waktu untuk mengejar perjalanan menuju Pulau Komodo pada siang hari nanti. Tak ada dermaga di Gili Lawa Darat. Pulau ini sepi seperti pagi yang baru saja dimulai. Hening. Air laut sedang surut. Lambung kapal tak sanggup mencium bibir pantai. Dengan terpaksa, para ABK dengan sigap menyiapkan sampan untuk merengkuh daratan.  

Sabtu, 30 Desember 2017

Menyapa Kampung Halaman

.: Menyapa Kampung Halaman :.

Perjalanan kerap membawa kita ke tempat-tempat asing nan jauh. Perjalanan tak jarang melambungkan angan kita pada capaian-capaian tertentu, reputasi, hingga kesempatan berharga yang tidak pernah kita sangka. Di sisi lain, perjalanan juga sanggup menyeret kita dalam perasaan jumawa, superior, atau bahkan menenggelamkan kita pada jurang kesombongan, meski muncul dalam kata-kata halus yang hampir tidak terlihat. 

Setahun berlalu. Ada begitu banyak destinasi yang disambangi. Dalam dan luar negeri. Ada banyak manusia-manusia baik hati yang ditemui. Semuanya meninggalkan kesan di memori. Di antara ribuan arsip foto, video, dan catatan perjalanan, terselip juga kisah tentang perjudian dengan waktu, pengorbanan, dan kerelaan dalam bentuk pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup. Nan jauh di sana, ada orang-orang, tempat, maupun lingkungan yang selama ini kita tinggalkan, bahkan sejenak kita lupakan demi mendatangi tempat-tempat eksotis yang selama ini kita impi-impikan.

Senin, 25 Desember 2017

Lumpia Istimewa

.: Kenikmatan Paripurna :.

Pernahkah Anda membayangkan ingin menyantap suatu makanan hingga terbawa sampai mimpi? Entah mengapa, saya selalu mengalaminya. Meski tidak tahu sendiri karena memang sedang tidak sadar, orang-orang yang kebetulan sedang berada di dekat saya selalu mengonfirmasi kalau saya kerap mengigau tentang makanan saat tidur. Misalnya, saat menginap di suatu penginapan murah di Magelang untuk ikut Borobudur Marathon 2017, tiba-tiba, sehabis magrib kawan saya mengajak untuk santap malam nasi goreng dan mie godog. Hal itu dilakukannya karena mereka tak sengaja mendengar saya mengigau dengan menyebut-nyebut nasi goreng dan mie.

Hal yang sama saya alami saat ingin sekali makan nasi pecel Nganjuk dan bolu pisang Kartika Sari, dua makanan favorit saya. Suatu ketika, seorang kawan dari Semarang mengunggah foto lumpia di akun instagramnya. Dan entah bagaimana, foto lumpia tersebut sanggup menghipnotis saya untuk segera menyantapnya. Bahkan, kalau boleh jujur, saya sering (secara tak sengaja) meneteskan air liur saat teringat lumpia istimewa dari Semarang itu. (Saat menulis postingan inipun, saya sering menelan ludah mengintip foto lumpianya. Duh 🙈)