Rabu, 20 Juli 2016

Lelarian di Bandung

.: Lari di Depan Gedung Sate, Bandung :.

Apa yang akan Anda lakukan saat berkunjung ke Bandung? Kebanyakan akan menjawab wisata kuliner. Saya pun akan melontarkan jawaban serupa. Menjadi kota ketiga favorit saya setelah Jakarta dan Yogyakarta, Bandung sepertinya selalu menyimpan magnet tersendiri untuk selalu dikunjungi. Meski untuk menuju ke sana untuk saat ini sudah tidak 'semulus' dulu karena macetnya sudah bertambah, sepertinya selalu saja ada alasan yang mendorong saya untuk bertandang ke Kota Kembang ini. 

Seperti misalnya, saat saya sudah merencanakan untuk main ke Bandung karena ada pelatihan fotografi, tidak tahunya di bulan yang sama, saya mendapatkan tugas untuk mengikuti pelatihan menulis dan menjadi pembicara. Alhasil, main ke Bandung yang direncanakan hanya sekali saja di bulan itu menjadi tiga kali. Kuliner seperti batagor dan siomay sudah menjadi menu wajib cicip. Brownies sudah lama tak wajib disambangi karena cabangnya bisa ditemukan juga di luar Bandung. Bolu pisang Kartika Sari jelas menjadi cemilan wajib yang pantang untuk ditolak. Saat ini, deretan menu tersebut bertambah dengan aneka racikan kopi dari kafe-kafe yang tersebar di seantero Bandung. 

Rabu, 20 April 2016

Sambang ke Sabang, Saujana Pariwisata Aceh yang Bersemayam di Ujung Nusantara

.: Kawasan Perairan Selat Malaka dilihat dari Petilasan Benteng Jepang :.

Terapung di perairan Andaman yang teduh, Pulau Weh seakan berusaha mengasingkan diri dari ingar-bingar daratan nusantara. Di atas peta, lokasinya kerap dijadikan patokan sebagai 'pagar' alam kedaulatan negara. Sejak Aceh ditata ulang paska tsunami tahun 2004 silam, reputasi Pulau Weh kian bersinar sebagai salah satu destinasi yang menarik untuk disambangi di tlatah Negeri Serambi Mekah ini. Aksesnya mudah ditembus, baik melalui jalur laut maupun udara.

Sementara itu, Sabang sebagai ibukotanya, yang teronggok persis di tengah pulau, namanya wajib didendangkan dengan merdu di depan kelas di seantero nusantara oleh jiwa-jiwa muda sebagai upaya sederhana untuk memupuk rasa cinta tanah air sejak usia belia. Berbagai simbol yang menasbihkan rasa nasionalisme ditanam di penjuru pulau. Dikungkung bukit-bukit rimbun dan dipagari deretan nyiur menjadikan Sabang tak ubahnya sebuah oase untuk mengasingkan diri sejenak dari keriuhan kota. 

Jumat, 15 Januari 2016

Gema Gravitasi Gede

.: Kawah Gunung Gede dilihat dari Puncaknya :.

Setelah menginjakkan kaki di puncak Gunung Gede setahun silam, ada semacam keinginan untuk mendaki puncak Gunung Pangrango yang terletak bersebelahan. Pasalnya, tahun lalu hendak menuju gunung tersebut tapi terkendala masalah waktu. Jujur, saya tertarik untuk mengunjungi Gunung Pangrango karena membaca tulisan Catatan Seorang Demonstrannya Soe Hok Gie. Buku tersebut saya baca berulang-ulang sejak masa kuliah hingga sudah bekerja. Filmnya saya tonton. Saya sampai meninggalkan buku tersebut di rumah orang tua di Nganjuk dan menyimpannya rapat-rapat agar tidak teringat dengan Pangrango karena disibukkan dengan hal lain.     

Sampai suatu ketika, saya mendapatkan bingkisan dari koh Halim Santoso yang isinya berupa buku Catatan Seorang Demonstran dan selembar tenun ikat Sumba. Pikiran saya kembali teringat akan niatan untuk mendaki Pangrango. Bagai semesta yang sedang berbisik untuk mendukung, di kesempatan yang sama, saya mendapat ajakan untuk mendaki kembali Gunung Gede-Pangrango dari para sahabat yang dulu sama-sama mendaki. Namun kali ini, pendakian akan dimulai dari jalur Cibodas. Saya tak kuasa untuk menolak ajakan saat kesempatan datang di depan mata.