Kamis, 03 Januari 2019

Berlabuh di Labuan Bajo

.: Gugusan pulau di Labuan Bajo :.

"Saatnya berkemas. Sesaat lagi kita akan sampai di Labuan Bajo dan berakhir sudah pelayaran kita kali ini. Terima kasih atas kerja samanya. Semoga berkesan. Sampai jumpa lagi di lain waktu", kata Pak Seba, nahkoda kami, mengakhiri narasinya, sesaat sebelum perahu melempar sauh di dermaga.

Perasaan saya tiba-tiba sedih ketika menyadari bahwa sailing trip yang saya ikuti akhirnya berakhir. Itu artinya, saya harus berpisah dengan rombongan kecil ini. Meski hanya melalui kebersamaan selama kurang dari sepekan, hidup 'bersama' dengan orang-orang asing dari beragam latar belakang dalam semesta kapal kayu berukuran mini sanggup menyeret perasaan melankolis dari masing-masing diri kami.

Seketika kenangan sepanjang perjalanan berkelebat layaknya rol film yang diputar ulang: bahagianya memulai perjalanan dengan menyinggahi pulau-pulau kecil di Selat Alas, menjelajah hutan Pulau Moyo yang asri, menyelami keheningan Pulau Satonda yang misterius, mendaki bukit Gili Lawa yang memesona, menyapa ora di Pulau Komodo dan Rinca, dan serunya singgah sejenak di Pulau Kelor.

Rabu, 03 Oktober 2018

Menjejak Kisah Crazy Rich Asians

.: Welcome to Singapore :.

Rasa-rasanya, dulu, tak ada alasan untuk mengunjungi Singapura karena pengaruh film yang telah ditonton. Alasan pergi ke Singapura bagi sebagian besar orang Indonesia tak pernah jauh dari mencoba paspor baru dan merasakan pengalaman pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Nah, setelah film Crazy Rich Asians beredar di bioskop, saya seperti menemukan alasan baru untuk pergi ke Singapura demi menjejak kembali tempat-tempat yang dijadikan latar pengambilan gambar film tersebut. Setidaknya, saya tidak merasa perlu ikut arus jika suatu saat ada travel agent yang menawarkan paket tur bertajuk napak tilas kisah film Crazy Rich Asians.

Meski sudah pernah mengunjungi hampir semua lokasi syuting film tersebut, saya hanya memfokuskan pada Singapura saja. Entah mengapa, negara kecil ini seakan sanggup mendongkrak popularitas seseorang di media sosial. Padahal kan ya biasa saja. Mungkin karena Singapura terkenal mahal, bahkan paling mahal di antara semua ibukota negara di Asia Tenggara, sehingga orang akan berasumsi bahwa yang bisa merasakan suasana negara kota ini, lengkap dengan fasilitas terbaiknya ialah orang-orang spesial. Sekali lagi, menurut saya sih, biasa saja.   

Sabtu, 30 Juni 2018

Bersimbah Peluh di Batu Caves

.: Batu Caves dengan Patung Dewa Murugan Selalu Ramai Pengunjung :.

Meramal cuaca tak ubahnya membaca isi hati. Kita tak pernah benar-benar tahu sampai sesuatu terjadi. Siang itu langit cerah. Matahari bersinar dengan jumawa. Memakai baju koko lengan panjang seusai salat Jumat, keringat menyeruak di sekujur tubuh, menjawab jerangan siang yang membabi buta. Untung sekali di dalam LRT ada pendingin udara. Saya sengaja mempercepat langkah di Stasiun Central untuk menuju Batu Caves, destinasi populer di Kuala Lumpur, Malaysia.

Batu Caves merupakan sebuah 'kompleks' pemujaan yang disucikan umat Hindu Tamil di Malaysia. Lokasinya berada di dalam perut karst di utara kota. Saya bertandang ke Batu Caves bersama seorang kawan-ketemu-di-jalan dari Polandia. Namanya Radek. Usia kami kebetulan tidak berbeda jauh. Hobi kami pun sama: jalan-jalan dan lari maraton. Sepanjang perjalanan menuju, kita ngobrol ngalor-ngidul tentang destinasi yang sudah dikunjungi dan ajang maraton yang sudah diikuti.