Sabtu, 07 Oktober 2017

Bandar Bugis

.: Sebuah Jendela Kafe di Kawasan Jalan Arab :.

Deretan roda kereta bergerak dengan cepat. Mobil-mobil melesat. Kaki-kaki manusianya berderap dengan lincah. Jalanannya bersih. Jalurnya sungguh teratur. Negara mungil seukuran Jakarta ini tak henti-hentinya membuat kagum dunia. Tak ada sumber daya alam yang dikandung dalam perut buminya. Tak ada pula peninggalan ratusan tahun seperti candi atau artefak sejarah.

Namun begitu, setiap jengkal aset yang dimilikinya seolah memiliki presisi untuk menjadi magnet yang mampu menarik turis dari seluruh penjuru dunia untuk singgah. Singapura bisa jadi asing dengan istilah surga tersembunyi karena semua destinasinya sudah terpampang dalam brosur wisata. Tapi bukan berarti tak ada yang baru. Setiap tempat berubah. Setiap titik menyublim dalam tampilan baru yang lebih memikat. Dan hal-hal yang bisa dibilang baru (bisa jadi malah artifisial) justru menunggu untuk 'ditemukan' kembali keberadaannya.    

Minggu, 03 September 2017

Lari di Bali: Catatan tentang Maybank Bali Marathon 2017

.: Welcome (back) to Bali :.

Waktu begitu cepat berlalu. Masih terpatri di benak tentang pengalaman berlari sejauh 10 km di ajang Maybank Bali Marathon 2016. Semangat begitu bergelora. Ada piknik, reuni kecil, hingga ingar bingar pesta sehari sebelumnya. Bersyukur, masih bisa finish tidak sampai melewati batas satu jam seperti yang saya targetkan sebelumnya. Setelahnya, setidaknya ada sekitar 60-an ajang lari, baik road, trail, maupun virtual yang saya ikuti. Berlangsung setiap akhir pekan. Hanya absen saat ramadhan dan seminggu liburan lebaran.

Setiap minggu rasanya menjadi semacam 'parade' foto tentang lari. Hingga saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dicari orang-orang ini hingga rela bangun pagi, datang ke tempat acara, berlari sejauh yang diikuti, dan yang lebih penting dari itu semua, harus bayar pula. Awalnya, ajang lari menjadi semacam substitusi untuk kegiatan jalan-jalan yang saya lakukan. Selain memberi variasi kegiatan, dari segi biaya, jelas jauh lebih murah karena lokasinya kebanyakan di sekitaran ibukota.

Kamis, 03 Agustus 2017

Ruang Rupa Lukisan Istana

.: Lukisan Perkawinan Adat Rusia karya Konstantin Egrovick Makowsky :.

Dua tahun terakhir, ruang utama Galeri Nasional menyublim menjadi jendela untuk mengintip dinding istana kepresidenan. Sudah lama menjadi buah bibir di kalangan tamu negara bahwa istana-istana kepresidenan di Indonesia menyimpan benda seni dan artefak terindah di dunia, salah satunya adalah lukisan. Namun, keindahan itu hanya dapat dinikmati oleh sedikit sekali masyarakat dan lebih banyak bergaung sebagai rumor yang didengungkan oleh mereka-mereka yang pernah sambang ke istana. Bermula dari hal tersebut, pihak istana melalui Sekretariat Negara berusaha 'mendekatkan diri' dengan membuka isi 'perut' istana kepada masyarakat. Salah satunya dengan memamerkan beberapa koleksi lukisan istana.

Pameran perdana yang dihelat setahun silam memajang setidaknya 28 buah lukisan dengan tajuk Goresan Juang Kemerdekaan. Berusaha mengulang sukses yang sama, tahun ini sebanyak 48 lukisan karya dari 41 perupa dipamerkan dengan tema Senandung Ibu Pertiwi. Dibagi dalam empat subtema yaitu pemandangan alam, kesehari-harian, tradisi, serta mitologi dan religi, lukisan yang dipamerkan telah melewati kurasi sehingga setidaknya dapat mewakili karya seni terbaik yang dimiliki negeri ini.