Rabu, 12 Desember 2012

10 Hal Paling Tidak Menyenangkan dalam Dunia Jalan-Jalan Saat Ini

Belum ke Lombok nih, cuma di Gili saja :'(
Traveling memang sedang booming. Banyak orang mulai terjangkiti virus jalan-jalan. Orang mulai berpikir bagaimana mengumpulkan uang dan merencanakan sebuah perjalanan. Mereka mulai sadar bahwa jalan-jalan sekarang menjadi semacam gaya hidup. Karena hidup akhirnya punya banyak gaya, traveling lambat laun mulai mengalami pergeseran makna. Banyak orang mulai sibuk mendiskusikannya, membanding-bandingkan, membuat sebuah parameter tertentu tentang konsep perjalanan, menentukan indikator 'keberhasilan' sebuah perjalanan baik dengan angka-angka maupun menerjemahkannya dengan bahasa filosofis (yang terkadang malah sulit dimengerti) sehingga konsep jalan-jalan menjadi tak lagi sesederhana pergi ke suatu tempat dan menikmatinya.

Berdasarkan pengamatan saya, setidaknya ada 10 hal yang membuat dunia jalan-jalan menjadi semakin 'ribet' dan terkesan penuh aturan yang tak perlu sehingga mengurangi keasyikan dalam perjalanan itu sendiri.

1. Backpacker vs Tourist

Sebenarnya ini lagu lama, tapi masih banyak juga yang menyanyikannya. Saya tak habis pikir ada orang yang begitu sibuk dan getolnya ingin disebut sebagai backpacker dan menolak disebut turis. Apa istimewanya coba? Padahal, jika ingin rendah hati sedikit dan mencari tahu, penduduk lokal sekalipun tetap menganggap mereka turis meski dandanannya kayak gembel sekalipun.

 2. "Belum ke 'suatu tempat', kalau belum .........."

Ini adalah kalimat paling naif yang sering saya dengar. Seolah jalan-jalan itu ada rukun-rukun tertentu yang harus dipenuhi layaknya ibadah haji bagi umat muslim: jika ada satu saja tempat yang belum dikunjungi atau sesuatu yang belum dikerjakan, dianggap belum pergi ke tempat tersebut. Coba bayangkan, saat Anda jalan-jalan di Jakarta, sudah berkunjung ke Monas, Kota Tua, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan tempat lainnya, tetapi lupa atau tidak sempat makan kerak telor atau naik bajaj, lalu Anda dianggap belum pernah ke Jakarta. Jadi, Monas, Kota Tua, dan TMII ada di mana? Hongkong? Saya jadi berpikir, mungkin gara-gara kalimat di atas, orang jadi merasa (perlu) sibuk untuk dipotret di semua tempat yang dikunjungi agar perjalanannya tidak disebut omong kosong belaka.

3. DSLR vs Kamera Saku

Lo pikir kalau bawa kamera segedhe bagong gini selalu photographer?
Saya sebenarnya malas berkomentar kalau hal-hal seperti ini dipermasalahkan karena memang tidak ada relevansinya. Mengabadikan momen tak terlupakan dalam perjalanan menurut saya memang penting karena tak menutup kemungkinan seorang pejalan tak akan kembali lagi ke tempat tersebut dalam waktu dekat. Tapi, mempermasalahkan alat? Ok, jika Anda seorang hardcore photographer mungkin akan lebih puas mendapatkan foto-foto memakai kamera dengan kualitas paling bagus. Tapi, jika foto tersebut 'hanya' mampir di situs jejaring sosial atau penghias blog, saya pikir foto-foto dari kamera saku atau bahkan dari ponsel pintar pun sudah cukup memfasilitasi. Jadi, menjadi tidak penting bukan membandingkan sesuatu yang semestinya bukan suatu permasalahan krusial?

4. Mencoba Hal 'Gila' Tidak Selalu Keren

menaati aturan daerah lain itu juga ciri rendah hati lho
Ini serius. Melakukan sesuatu yang sedikit mendobrak norma daerah setempat hanya biar kelihatan keren dan 'berani' sangat tidak bijaksana. Suatu misal, yang paling sering dicoba adalah menikmati ganja dari Aceh. Fyi, ganja bukan oleh-oleh dari Aceh dan Aceh tidak identik dengan ganja. Menjadikan ganja sebagai alasan mengunjungi Aceh atau bahkan menjadikannya sekadar gurauan sangatlah tidak etis. Apalagi ganja sendiri masih dianggap terlarang dan kontroversial konsumsinya di negeri ini. Ingat! Sebagai pendatang, sudah menjadi kewajiban kita untuk menghormati norma dan tradisi yang sudah berlaku di daerah tersebut, meski untuk hal yang sama, berlaku aturan yang agak longgar di tempat kita berasal. 

5. Liburan atau Sebuah Perlombaan?

Tak dapat dipungkiri, gairah untuk mengunjungi tempat-tempat di seluruh dunia sedang melanda banyak kalangan. Semakin tersedianya akses dan akomodasi murah menjadi salah satu katalisnya. Namun yang perlu disadari, jalan-jalan saat ini juga menjadi semacam ajang 'perlombaan' untuk banyak-banyakan mengunjungi suatu tempat dan murah-murahan mencapainya. Seolah kalau bisa mengunjungi banyak tempat dengan biaya super murah akan menjadi super backpacker dan menduduki kasta tertinggi dalam dunia perjalanan sehingga merasa patut diperhitungkan dan dianggap 'dewa' dalam setiap pembicaraan tentang pariwisata.

6. Eksklusifnya 'Duta' Pariwisata

Saya pikir setiap pejalan pada dasarnya adalah seorang tourist ambassador juga. Paling tidak, mereka bisa berbagi pengalaman dengan orang-orang terdekatnya. Akan lebih bagus lagi jika pengalaman jalan-jalannya dituangkan dalam bentuk tulisan baik di media massa atau paling sederhananya ditulis di blog. Kalau kita searching di internet tentang destinasi wisata tertentu, akan ditemukan banyak sekali tautan ke blog-blog pribadi yang menuliskan review atau pengalaman perjalanannya.

(bukan) Duta Pariwisata?

Banyak jalan-jalan otomatis juga akan banyak pengalaman untuk diceritakan. Saat ini, blog menjadi media yang paling mudah untuk berbagi pengalaman. Para blogger sendiri juga sudah mulai dilirik pemerintah untuk turut serta mengembangkan pariwisata. Namun, apakah menjadi blogger lantas membuat orang menjadi tahu segala dan selalu jumawa sehingga jika ada pejalan pemula, pelaku pariwisata, atau duta wisata (pilihan pemerintah) yang mungkin belum pengalaman atau belum punya jam terbang tinggi dan tidak melakukan perjalanan ke suatu pelosok yang susah dicapai seperti yang sudah dilakukan si blogger, dianggap tidak pantas dan tidak layak berada di jajaran orang-orang yang juga turut andil memajukan pariwisata?

Saya pikir, siapapun, yang melakukan perjalanan, melakukannya dengan penuh tanggung jawab, dan berusaha membagi informasi atau pengalamannya dalam media apapun, bisa mendapat sebutan sebagai duta wisata. Sematan tersebut bukan merupakan suatu eksklusivitas yang hanya dimiliki oleh wakil (yang ditunjuk) pemerintah dan bukan pula spesial untuk para blogger saja. Jadi, biasa aja bray. :P

7. Traveling with(out) Responsibility

jagalah kami baik-baik!!! :)
Industri pariwisata Indonesia sepertinya punya prospek jangka panjang yang cukup menjanjikan. Banyak destinasi wisata yang belum dikelola maksimal. Namun, banyak juga yang dikelola serampangan dan menimbulkan kekhawatiran. Benihnya apalagi jika bukan euforia berlebihan tanpa dibarengi pengetahuan dan persiapan yang memadai dalam berwisata. Tak perlulah menyebut kekayaan sumber daya alam yang dikandung bumi pertiwi, setiap jengkal wilayah nusantara ini adalah titipan harta karun yang tak ternilai harganya untuk generasi mendatang. Sebagai pemegang amanah, pihak yang dititipi tidak seharusnya merusak sebuah barang titipan.

Logika sederhananya dalam dunia pariwisata, jika tidak ingin disebut sebagai pihak yang turut andil merusak destinasi wisata, seorang pejalan harus mampu memastikan dirinya sendiri tidak meninggalkan jejak yang berpotensi merusak. Keadaan suatu tempat saat seorang pejalan meninggalkannya, paling tidak harus sama dengan saat dia baru datang. Camkan di benak masing-masing yang dalam: jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu. Evaluasi sederhananya, jika habis menggunakan toilet, pastikan pengguna berikutnya kesulitan mendeteksi bahwa toilet tersebut baru saja digunakan, minimal tidak ada bekas dan bau yang tidak sedap.

8. Oleh-oleh  

Sepertinya 'tradisi' membeli oleh-oleh melekat dalam dunia jalan-jalan. Padahal jalan-jalan tidak harus selalu identik dengan oleh-oleh. Menurut saya, ini sangat berpengaruh pada pendidikan etiket seseorang. Alangkah bijaksana jika sepulang jalan-jalan dan membagi-bagikan oleh-oleh, Anda tak perlu berharap bahwa suatu saat akan mendapat oleh-oleh juga dari orang yang barusan kita beri. Berharap mendapat hal serupa, apalagi sampai memaksa agar mendapatkan oleh-oleh dari orang lain tak ubahnya seperti rentenir: oleh-olehnya dianggap sebagai 'utang' yang harus dikembalikan dengan mengoleh-olehi balik.


satu backpack dan satu tas tangan untuk oleh-oleh

Perlu diketahui, saat ini, orang jalan-jalan kebanyakan duitnya untuk membeli pengalaman. Cerita-cerita dan foto perjalanan buat saya adalah oleh-oleh yang jauh lebih bermakna daripada sekadar gantungan kunci atau makanan ringan. Tapi, demi menghormati orang yang punya pandangan berbeda dengan kebanyakan pejalan pada umumnya, saya tetap berusaha membawa sesuatu sebagai buah tangan. Tentu, banyak dan jenisnya disesuaikan dengan keadaan kantong. Tapi, prinsip yang seyogyanya dipegang teguh oleh setiap orang adalah dengan tidak pernah minta dioleh-olehi secara khusus jika ada teman yang akan jalan-jalan, tidak sewot atau menggerundel jika teman yang pulan jalan-jalan ternyata tidak membawa oleh-oleh, dan yang lebih penting lagi, tidak mencela oleh-oleh yang sudah repot-repot dibawakan oleh teman. Sebuah sikap sederhana yang tidak setiap orang mampu melaksanakannya saat ini, bukan?

9. Guide dan Story Teller

Ada banyak sekali cara seorang pejalan dalam berbagi pengalaman perjalanannya. Ada yang berbagi cerita, ada pula yang berbagi semua detail informasi tentang suatu daerah: ada apa saja di sana, bagaimana caranya ke sana, sampai berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mencapainya. Menurut saya, tulisan-tulisan tersebut sama-sama bergunanya untuk para pejalan berikutnya yang hendak menuju ke sana. Paling tidak, jika ada foto atau cerita uniknya akan mendorong orang untuk bertandang ke tempat tersebut.

Dalam dunia perjalanan, kedua jenis tulisan tersebut sama-sama eksis, sama-sama berguna, sekaligus sama-sama punya pemuja fanatik. Untuk itu, saya pikir tak perlulah dibahas, apalagi dibandingkan. Toh, apapun jenis tulisan atau informasi yang disukai atau tidak disukai oleh seorang pejalan, perjalanan sendiri adalah sesuatu yang sangat personal bagi seseorang di mana impresinya tak akan pernah sama meski jalan bersamaan sekalipun atau mengikuti jalur dan informasi yang sama persis dengan sudah dipakai pejalan sebelumnya.

Jadi, mengapa menjadi sibuk membandingkan atau mengevaluasi kekurangan kelebihan suatu tulisan jika pada dasarnya hal itu identik dengan tempat yang sama dengan dua atau lebih jalur yang berbeda. Mungkin, ada kalanya seseorang perlu mengganti kacamatanya agar perspektifnya lebih berwarna.

10. Sendiri atau Ramai-ramai

Mungkin masih terpatri dalam benak banyak orang (Indonesia) bahwa jalan-jalan itu harus selalu dilakukan bareng-bareng alias ramai-ramai. Padahal, saat ini sudah banyak orang yang berani melakukan perjalanan seorang diri. Alasannya kebanyakan khawatir perihal keamanan, terutama untuk pejalan perempuan. Saya saja sampai sering dinasehati agar kalau jalan-jalan, paling tidak, harus ada teman yang mendampingi. Sebenarnya tidak ada masalah jalan ramai-ramai atau sendiri. Tapi, kadang kala kita kan juga butuh privasi dan ingin menikmati perjalanan tanpa ada interupsi dari siapapun. Toh, meski berangkatnya sendiri, dalam perjalanan selalu bertemu dengan (banyak) pejalan lain yang juga melakukan perjalanan seorang diri dan berkenalan dengan banyak orang lokal yang baik hati. Intinya, seorang solo traveler pada dasarnya tak pernah benar-benar berjalan sendirian.

Bersenang-senang ... nang ... nang ... nang ;P

Jalan-jalan memang sedang naik daun. Tapi, penggeseran makna yang tidak perlu membuat dunia perjalanan seolah menjadi suatu eksklusivitas kelompok tertentu saja. Inilah yang perlu dihindari. Setiap pejalan mempunyai 'rute'nya sendiri-sendiri yang harus dilalui untuk menuju makna personal di balik jalan-jalan yang dilakukannya. Layaknya hidup dalam bangsa yang berbhineka seperti Indonesia, setiap pejalan berhak untuk menentukan sendiri segala hal ihwal perjalanannya sekaligus berkewajiban menghormati perbedaannya dengan perjalanan orang lain. Rasa-rasanya, saya selalu merindukan perjalanan yang mula-mula saya lakukan saat umur 4 tahun dulu: bersenang-senang saja tanpa perlu membahas banyak ini itu yang tidak perlu.
Bukankah itu juga hal pertama yang ingin setiap pejalan lakukan?

39 komentar:

  1. Sebuah catatan yang sangat berharga mas Adie. Dadi kapan iki mampir Suroboyo? Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, setidaknya ada 8 kali penerbangan ke Surabaya lho yang aku lakukan di 2012 kemarin. Tapi belum sempat saja mampir ke markasnya Hifatlobrain. Mungkin tahun ini setelah bukuku selesai hehehe. Matur nuwun undangannya :)

      Hapus
  2. seratus jempol buat tulisan ini! :D

    BalasHapus
  3. whuaaaa .. ada liputan ganja di aceh, so, menyesalkah mas adie??

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan, saya pikir pembicaraan tentang konsumsi ganja, apalagi merujuk pada suatu destinasi wisata, sangat perlu dihindari. Mengingat legalitas konsumsinya di Indonesia juga masih menjadi perdebatan. Ngomongin yang lain saja ya bro hehehe :)

      Hapus
  4. ha ha.., apapun tema tulisannya foto penulis selalu gak ketinggalan. narsis abis :)

    Saya setuju 1000% dengan apa yang dituliskan di sini. Khusus poin nomor 2 mungkin bisa dijadikan catatan untuk para penulis, supaya gak terlalu berlebihan menggambarkan hal-hal yang dianggapnya sangat menarik.

    Saya sendiri sekarang menghindari judul tulisan bernada superior seperti "10 pantai terindah di..." atau "20 kota terbaik..." Tulisan beginian menurut saya lumayan mengganggu dunia jalan-jalan, he he. No offense...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha sayang mas kalau foto-foto bagus hanya bersemayam di laptop saja. Biar yang baca postingannya juga gak terlalu pusing gitu lihat tulisan aja. :P *ngeles.com*

      Btw, terima kasih sharingnya. Saya baru saja beli buku Malaysia-nya. Informatif sekali isinya.

      Hapus
  5. Balasan
    1. Hehehe, terima kasih lho udah mampir, Happy banget hehehe :)

      Hapus
  6. *manggut-manggut setuju baca tulisan ini*

    BalasHapus
    Balasan
    1. @ Iqbal Rois: waaah, terima kasih Iqbal udah mampir. Masih waras berarti kalau setuju hahaha :D

      Hapus
  7. pada akhirnya saya berpikir kalau yang namanya jalan - jalan itu personal, entah mau make style seperti apa. toh bayarnya pake duit kita sendiri, kalau dibayarin ga tau juga sih. trus masalah tulisan juga, yang penting niat kita baik, mau model kayak gimana juga tulisannya. seperti tulisan yang ini, sangat bermanfaat :) keep writing ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangat personal sekali, jadi tak perlulah dibanding-bandingkan. hehehe. Thanks Fahmi :)

      Hapus
  8. saya sama sekali tak tertarik dengan namanya oleh oleh mas Adi Riyanto. Like this your posting. SUKSES

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe oleh-oleh itu sifatnya fleksibel kok, kalau masih punya duit lebih, gak ada salahnya juga untuk membawakan oleh-oleh untuk orang-orang terdekat, misal orang tua, saudara, sahabat, dll. :)

      Hapus
  9. Setuju banget sama ulasannya. Terutama bagian oleh-oleh dan traveling rame-rame atau sendiri. Jujur, saya lebih suka jalan-jalan solo ketimbang rame-rame,lebih bebas menentukan waktu dan rute. Untuk oleh-oleh memang harusnya bukan suatu hal yg mutlak ada, sayangnya orang-orang kita banyak yg menganggap oleh-oleh itu suatu keharusan,klo gak bawa oleh-oleh kesannya sombong,pelit,dkk. Giliran udah dibawa,klo terlalu dikit dikomen,klo terlalu banyak juga dibilang kebanyakan duit. Intinya serba salah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha klo udah bawa oleh-oleh masih dicela juga, cuekin ajuah wkwkwk :D

      Hapus
  10. karena jalan-jalan sebenarnya untuk membuat kita menemukan diri sendiri dan menghargai tempat tinggal kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. .... sangat personal sekali hehehe .... :)

      Hapus
  11. salam jalan2 mas, saya jadi mau nulis pengalaman jalan2 yang "baru git" doang huehehehee. salam jalan2! hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sila ditulis. kabar-kabari ya kalau nanti sudah bikin buku :)

      Hapus
  12. Sebagian besar pendapatnya, setuju Mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh kok berbeda pendapat hehehe, namanya juga tulisan di personal blog, tentu ini pendapat pribadi gw, dan pembaca blog gw berhak punya pendapat pribadi hahaha. Selow aja mas bro hahaha :D

      Hapus
  13. setuju bro!

    #8. Oleh-oleh. Kadang sy takjub kalo ada orang menanyakan kenapa gak beli cinderamata saat berkunjung ke suatu tempat (seakan-akan itu wajib hukumnya). masalahnya kalo kita berkunjung ke bnyk negara dalam rentang waktu lama, lalu ketika pulang bisa-bisa backpack overweight dong?!? oleh-oleh kan bisa berupa cerita jg ya ^^

    #10. Gara-gara jalan sendiri ini sy pernah ditahan oleh petugas imigrasi di bandara Juanda.
    http://birokrasi.kompasiana.com/2012/11/02/nyolot-ala-petugas-custom-bea-cukai-juanda-airport-500133.html
    menurutnya 'aneh... koq jalan-jalan sendirian? orang laen tuh jalan banyakan'
    (jalan sendirian = gak normal, mencurigakan)

    Tapi petugas kita terkadang diskriminatif sama orang lokal, coba kalo bule pasti dia lewat aj...


    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha setuju. Wah, tapi gw belum pernah tuh ditahan pihak imigrasi atau petugas bandara, mungkin karena sering dikira artis kali ya? Hahahaha :D

      *melipir*

      Hapus
  14. Tulisan bagus yang banyak benarnya.. *manggut-manggut sambil elus jenggot*

    BalasHapus
  15. Tulisan yang bagus dan banyak benarnya.. *manggut manggut sambil elus jenggot*

    BalasHapus
  16. Tulisan yang bagus dan banyak benarnya.. *manggut manggut sambil elus jenggot*

    BalasHapus
  17. Tulisan yang bagus dan banyak benarnya.. *manggut manggut sambil elus jenggot*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya. Take it easy. Kalau dianggap masuk akal, gak ada salahnya kan dijalankan. Tapi kalau dirasa tidak cocok dengan pendapatnya, jenggot jangan dipotong ya, apalagi dibakar hahaha :D

      Hapus
  18. ini kok pas banget ya,, kalo saya jalan2 pas lagi poto2, suka minder kalo sebelahnya pake dslr,, duh, tulisannya makjleb banget, hehe, jadi malu,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha santai saja mbak, bukan maksud menyindir siapapun kok hehehe. Keep on traveling (& writing) :D

      Hapus