Tampilkan postingan dengan label Mozaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mozaik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2019

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah

.: Masjid Sultan Ahmed (The Blue Mosque), Istanbul, Turki :.

Seiring terbenamnya matahari Ramadhan dan terbitlah Syawal,
dengan segala kerendahan hati
saya, Adie Riyanto dan segenap admin blog adiedoes.blogspot.com
mengucapkan taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum
Taqabal ya kariim 🙏

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah
Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin
Semoga amalan kita diterima oleh Allah SWT 
dan puasa kita dapat memberikan syafaat di hari kiamat.

Apa yang sudah baik, semoga semakin baik.
Apa yang belum baik, semoga dapat diperbaiki di kemudian hari.
Semoga Allah SWT selalu memberi niat dan kesempatan kepada kita
untuk senantiasa berlomba-lomba mendapatkan pahala
dan mengejar ridhoNya.

Aamin ya rabbal 'alamiin 🙏

Minggu, 25 Juni 2017

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah

.: Masjid Raya Banda Aceh :.

Seiring terbenamnya matahari Ramadhan dan terbitlah Syawal,
dengan segala kerendahan hati
saya, Adie Riyanto dan segenap admin blog adiedoes.blogspot.co.id
mengucapkan taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum
Taqabal ya kariim 🙏

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah
Semoga amalan kita diterima oleh Allah SWT 
dan puasa kita dapat memberikan syafaat di hari kiamat.

Apa yang sudah baik, semoga semakin baik.
Apa yang belum baik, semoga dapat diperbaiki di kemudian hari.
Semoga Allah SWT selalu memberi niat dan kesempatan kepada kita
untuk senantiasa berlomba-lomba mendapatkan pahala
dan mengejar ridhoNya.

Aamin ya rabbal 'alamiin 🙏

Jumat, 30 September 2016

Kejutan Kecil dan Hal-Hal yang Membangkitkan Ide Kreatif

.: Kopi, Buku, dan Beberapa Lembar Kartu Pos :.

Sore menjelang. Langit sembap sehabis hujan. Bau harum tanah basah dan serentetan kelelahan dengan banyak percakapan. Meja kerja sedikit berantakan. Berkas-berkas, alat tulis, dan banyak kertas. Betapa belum efisiennya penggunaan kertas dalam laku keseharian saya. Di meja sebelah, seorang rekan menyeduh kopi. Aroma emas hitam menguar. Kepulan asapnya menyeruak memasuki rongga penciuman. Pikiran saya pun sedikit melumer. Ada semacam momen magis saat pikiran berada pada koordinat yang simetris dengan keinginan yang terbit di hati.

Saya teringat sesuatu. Beberapa hari sebelumnya, seorang kawan di ujung sana mengirimkan bingkisan kecil: sebungkus kopi Toraja. Seorang kawan yang lain mengirimi satu eksemplar buku. Keduanya mendarat di meja kerja saya dengan jeda waktu yang tidak terlampau lama. Hati saya mengembang. Mata saya berbinar. Setidaknya, di antara serentetan kelelahan akibat banyak percakapan yang perlahan menggerus waktu, terdapat kejutan kecil yang menghadirkan senyum dan melonggarkan keseriusan. Saya sungguh bersyukur sekaligus terkesan dengan bagaimana Tuhan memeluk hambaNya melalui tangan-tangan rapuh nan ringan umatNya.

Kamis, 05 Maret 2015

Suatu Sore di Pasar Gede

.: Pasar Gede Hardjanagara, Solo :.

Meski kota Surakarta mulai dikepung dengan pusat perbelanjaan modern, keberadaan Pasar Gede Hardjanagara tidak lantas ditelantarkan oleh warganya. Pasar tradisional ini masih merupakan pasar terbesar di Surakarta yang memasok bahan kebutuhan sehari-hari seperti daging, sayur, dan berbagai macam bumbu dapur.

Kata 'gede' disematkan untuk tempat ini merujuk pada atap joglo berukuran jumbo yang menaungi bangunan pasar. Pada tahun 1930, seorang arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten berhasil mengawinkan gaya arsitektur Belanda dan Jawa pada fasad bangunan ini sehingga menghasilkan hibrida yang menjadi magnet bagi para arsitek dan turis untuk bertandang, mempelajari keunikan arsitekturnya, atau sekadar mengagumi keindahannya.

Senin, 19 Mei 2014

Triwindu

.: Pasar Triwindu, Surakarta :.

Antik. Kuno. Tua. Bekas. Deskripsinya seolah tak menarik. Tapi begitu melongok ke dalamnya, para penyuka barang antik dijamin langsung tenggelam dalam sebuah saujana yang menyejukkan mata. Pasar Triwindu merupakan salah satu pasar 'tua' di kota Surakarta. Nama Triwindu disematkan karena dulunya, pasar ini hanya diselenggarakan setiap tiga windu atau 24 tahun sekali sejak tahun 1939.  Saat ini, Pasar Triwindu buka setiap hari dari pukul 9 sampai dengan pukul 4 sore.

Pasar ini dikenal sebagai tempat jual beli barang bekas, barang antik dan kuno, maupun barang-barang unik yang sudah dimakan usia. Saya sengaja mampir ke Pasar Triwindu sebelum mengunjungi Pura Mangkunegaran yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari pasar ini.

Kamis, 06 Juni 2013

Menikmati Jakarta dari Ketinggian

Hampir satu dekade saya menghirup udara ibukota. Sebelumnya, tak terbayangkan saya akan betah untuk tinggal dan menetap di sini. Membayangkan terkena macet, banjir, dan polusi seolah menjadi momok setiap pendatang. Belum lagi masalah kriminalitas. Berangkat dari niatan untuk menimba ilmu, berlanjut mencari penghidupan, dan akhirnya bergelut di dalamnya. Hampir setiap sudutnya sudah saya jelajahi. Banyak tempat juga pernah saya tinggali. Jakarta yang megah memang menawarkan sejuta harapan, kesenangan, dan hiburan. Namun demikian, selain kesenangan dan sekelumit kebahagiaan, saya juga pernah mengalami ketidakramahan yang mengintai ibukota ini.
 
Bosan mengunjungi objek wisata yang bahkan sudah sering saya kunjungi waktu kecil dan seringnya menikmati atraksi wisata yang dihelat di ibukota membuat saya memutar kepala mencari alternatif lain cara menikmati ibukota yang agak tidak biasa. Dulu, saat masih berkantor di Wisma 76, untuk mengusir penat, saya kerap menuju ke parkiran di lantai paling atas hanya untuk mencari udara segar. Hembusan angin kencang dan pemandangan rimbun gedung yang berlomba tinggi-tinggian seolah sanggup mengusir sejenak rasa penat yang disematkan radiasi monitor komputer.  

Berangkat dari ide serupa, saya mencoba mengulangi kenikmatan lama tersebut dengan menikmati lagi kota Jakarta dari ketinggian tertentu. Saya sengaja memilih tempat-tempat yang memang memiliki sejarah atau titik episentrum ibukota ini untuk mendapatkan medan pandang yang agak leluasa sekaligus mendapatkan reka ulang historis berdirinya republik ini. Mungkin foto-foto yang tersaji di galeri ini tak mempunyai arti banyak bagi Anda. Tapi, saya pikir, setiap foto di bawah ini memiliki impresi personal dalam kaitannya dengan jejak langkah yang pernah saya lakukan di Jakarta.

Kamis, 14 Februari 2013

Mampir Sejenak di Meuligo Aceh

.: Meuligo: Pendopo Gubernur Aceh :.

Saya tak tahu kalau bangunan megah ini adalah tempat tinggal Gubernur Aceh. Begitu mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, mata saya tertuju pada papan pengumuman yang menunjukkan peta lokasi objek wisata yang wajib dikunjungi selama di Aceh. Dan salah satunya adalah Meuligo (Mahligai) Aceh ini.

Sekilas bangunan ini mengingatkan saya pada Istana Kepresidenan Cipanas. Rumah mungil dengan desain mengadopsi gaya rumah musim panas Eropa dengan akulturasi rumah Aceh ini dibangun dan ditempati pertama kali oleh Letnan Jenderal Karel van der Heijden pada tahun 1880.

Rabu, 26 Desember 2012

Mengenang Tsunami di Masjid Rahmatullah

Magical Masjid - Rahmatullah

Delapan tahun berlalu tapi kenangan akan bencana dahsyat itu masih mengendap di benak banyak orang, termasuk saya. Masjid Rahmatullah adalah salah satu masjid yang menjadi saksi bisu tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam. Bangunan ini seolah menjadi 'prasasti' wajib kunjung dalam daftar tempat-tempat yang saya kunjungi saat jalan-jalan di Aceh.

Saya terpesona dengan masjid ini sejak menonton sebuah berita yang menayangkan video landscape Lampu'uk dari udara, beberapa hari setelah tsunami. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan padang datar penuh puing bekas tsunami dan satu bangunan putih yang berdiri tegak sendirian yaitu Masjid Rahmatullah ini.

Minggu, 02 Desember 2012

Tumpeng dan Sebait Doa

.: tumpeng kuning pertama buatan saya :) :.

Hampir tak pernah ada perayaan berarti dalam hidup saya. Kalaupun ada, biasanya hanya acara seremonial sederhana. Hari ini mungkin adalah hari yang biasa saja, tapi buat saya, tanggal 02 Desember 2012, bertepatan dengan hari Minggu pula, merupakan hari di mana saya mulai datang untuk 'jalan-jalan' di muka bumi ini, beberapa tahun yang lalu. Tumpeng nasi kuning, sesuai dengan filosofi orang Jawa mewakili gambaran tentang kekayaan dan moral yang luhur, cocok digunakan untuk perayaan yang penuh suka cita dan persembahan rasa syukur. Sesuai dengan filosofinya, saya hanya berharap bahwa di tahun-tahun mendatang akan bertemu dengan banyak keberkahan dan kebermaknaan hidup sesuai dengan doa yang dilantunkan di awal 'upacara' untuk mendekati sifat kekayaan dan moral yang luhur seperti yang diwakili oleh tumpeng kuning ini. Amin. Salam suka cita untuk semuanya. :)

Rabu, 14 November 2012

Selamat Tahun Baru 1434 Hijriyah

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh
Binarung lumingsiring bagaskara pungkasaning sasi Dzulhijjah, asung sasmita bebukaning sasi Muharram, kulo ngaturaken sugeng mapag warsa enggal 1434 H, mugi tansah pinaringan berkah, sih lumunturing Gusti, saha tinebihake saking rubeda lan sambikala. Aamiin.