Senin, 19 Mei 2014

Triwindu

.: Pasar Triwindu, Surakarta :.

Antik. Kuno. Tua. Bekas. Deskripsinya seolah tak menarik. Tapi begitu melongok ke dalamnya, para penyuka barang antik dijamin langsung tenggelam dalam sebuah saujana yang menyejukkan mata. Pasar Triwindu merupakan salah satu pasar 'tua' di kota Surakarta. Nama Triwindu disematkan karena dulunya, pasar ini hanya diselenggarakan setiap tiga windu atau 24 tahun sekali sejak tahun 1939.  Saat ini, Pasar Triwindu buka setiap hari dari pukul 9 sampai dengan pukul 4 sore.

Pasar ini dikenal sebagai tempat jual beli barang bekas, barang antik dan kuno, maupun barang-barang unik yang sudah dimakan usia. Saya sengaja mampir ke Pasar Triwindu sebelum mengunjungi Pura Mangkunegaran yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari pasar ini.

Begitu masuk pelatarannya, mata saya langsung dimanjakan dengan deretan kios-kios kecil yang menjual beragam pernak-pernik cenderamata. Ada berderet-deret topeng kayu, patung-patung lucu pewayangan Jawa seperti karakter punokawan, uang kertas dan koin lama, dan lukisan-lukisan cat minyak dalam ukuran mini.

.: Uang Kuno dan Patung Kayu Punokawan :.

.: Kuno vs Modern :.

.: Seribu Muka :.

.: Budha Lara Blanya :.

Di kios-kios yang lain, saya serasa berada di toko Borgin and Burges, Knockturn Alley, yang ada di dunia sihir Harry Potter. Lampu-lampu bergantung serampangan. Benda-benda logam yang menggambarkan dewa-dewa dalam agama Budha berjejer rapi dalam laci-laci kaca dan rak kayu. Di bagian lain, porselin dan keramik kuno tampak berderet di sebuah rak pajang khusus yang sanggup menggoda hasrat belanja para kolektor barang antik.

Berloncatan dari satu kios ke kios yang lain, beberapa barang yang saya temui ternyata mampu mengingatkan pada memori masa silam. Ada setrika tua dengan simbol ayam jago yang dipanaskan dengan arang. Saya masih ingat saat masih kecil dulu (sebelum listrik masuk desa, tentu saja), ibu selalu memanaskan arang untuk setrika seragam dinas ayah. Model setrika tua yang mungkin masih tersimpan di gudang rumah saya tersebut, saya temui di salah satu kios Pasar Triwindu dalam jumlah dan ukuran yang bervariasi.

.: Serasa di toko Borgin and Burkes, Knocturn Alley :.

Ada juga pajangan-pajangan meja dalam bentuk yang sangat menarik. Saya terkesan dengan sebuah patung kuningan berbentuk naga. Fasadnya mengingatkan saya pada permainan dakon, yang di beberapa negara juga dikenal sebagai Dangeon and Dragon. Piring-piring antik dengan lukisan aksara China juga mengingatkan saya pada hiasan dinding di Keraton Kasepuhan Cirebon. Lemari-lemari kayu yang dipelitur dengan mulus berhasil menggiring kenangan yang sama akan lemari serupa yang masih tersimpan di rumah nenek. Saya benar-benar seperti sedang menyelami sebuah mesin pembalik waktu saat mampir di pasar ini.

.: Di mana Tuan Borgin bersembunyi? :) #terHarryPotter :.

Sebagai sebuah pasar yang menjual barang antik, Pasar Triwindu juga terkesan sangat nyaman sekali untuk dijadikan destinasi alternatif saat mengunjungi kota Surakarta. Tempatnya mudah diakses, suasana pasarnya mirip dengan museum, dan para pengunjung bisa bebas menikmati suasana pasar tanpa harus merasa risih dibuntuti para penjaja barang dagangan.

Tidak begitu minat untuk membeli (karena susah mau membawa barang-barang berat sebagai oleh-oleh), saya bertanya kepada salah satu pedagang apakah menjual kartu pos. Niatnya sebagai buah tangan untuk para sahabat yang gemar mengoleksi kartu pos. Namun karena tidak ada yang menarik dan ada satu kios yang menjual kartu pos bekas yang juga kurang menarik, maka saya mengurungkan niat untuk berbelanja.

Berloncatan dari satu kios ke kios yang lain, setidaknya saya menemukan satu lagi tempat asyik di kota Surakarta yang bisa dijadikan rujukan untuk mencari buah tangan berupa cenderamata. Hanya saja, melihat beragamnya barang yang dijual di tempat ini, bercampur antara yang benar-benar antik dan kuno dengan barang-barang yang sengaja dipoles biar kelihatan antik dan kuno, diperlukan pengetahuan yang mumpuni untuk mengenali barang-barang sesuai dengan keadaan sebenarnya dan dibutuhkan sedikit keterampilan untuk menawar. Selamat menyelami keunikan dan kekunoan Pasar Triwindu. Semoga tidak lupa waktu. :)

.: Let's the magic begin :.

2 komentar:

  1. Aku ngak suka yg kuno kak, maunya daun muda dan unyu ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, saya tahu banget kok seleranya kak Cumi :D

      Hapus