Selasa, 27 Mei 2014

Enchanting England

.: Kaos Inggris selalu eksis di mana-mana :.
Pernahkah Anda menginginkan sesuatu hingga terbawa dalam mimpi? Pernahkah Anda terobsesi dengan sesuatu yang sulit direngkuh hingga secara tak sadar, berusaha mengidentikkan hal yang Anda obsesikan tersebut dengan sesuatu hal lain yang ada di sekitar?

Inggris. Saya menganggapnya sebagai negara adidaya kedua setelah Amerika, negara kepulauan layaknya Indonesia, dan penganut monarki serupa Yogyakarta. Meski secara fisik jauh, tapi jejak peradaban bangsanya terserak begitu dekat di penjuru nusantara.

Saya tidak sedang menikmati amortentia dalam dosis kolosal. Tapi, jika mendapat tawaran untuk mengunjungi Inggris, setidaknya saya punya jawaban paten mengapa harus bertandang ke sana.

The Wondrous World of Harry Potter

Beberapa orang menganggap masa kecil saya kurang bahagia. Sebagian lagi menganggap saya salah pergaulan. Ada yang bilang kalau saya sedikit aneh. Bahkan, dalam bahasa yang lebih sarkastik, ada yang diam-diam mengatakan saya gila, walaupun tidak permanen. Namun, bagi saya itu hal yang biasa asal tidak sampai telinga orang tua. Semua gara-gara saat masuk bangku kuliah, saya kenal dengan seorang penyihir cilik, berkacamata bulat dengan gagang sedikit patah, dan mempunyai tanda kilat seperti halilintar yang menghiasi keningnya. Agak telat memang, mengingat saya datang dari daerah yang boleh dianggap jauh dari hingar bingar kehidupan kota.

.: Wondrous World of Adie Potter :.

Tapi begitu selesai membaca buku Harry Potter dan Batu Bertuah, sejak saat itulah saya tergoda untuk membaca kisah lanjutannya. Saya setia menunggu buku-buku berikutnya terbit, mengoleksi majalah, atribut, merchandise, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan Harry Potter, dan menonton filmnya di hari pertama penayangannya di Indonesia.

Lebih jauh dari itu, mungkin karena terlalu menghayati alur ceritanya, saya mulai mengidentikkan tempat-tempat di Indonesia yang memiliki visualisasi sangat dekat dengan dunia Harry Potter. Saya banyak menemukannya di kawasan Kota Tua Jakarta, Bogor, dan Surakarta. Misalnya, suatu ketika saya iseng mengetuk-ketuk tiang peron di stasiun Kota, berharap akan ada jalan tembus menuju dunia lain layaknya Peron 9 3/4 di Stasiun King's Cross.

.: Double Dekker di Indonesia. Mau yang di London, Inggris :.
Lukisan-lukisan yang tergantung di Museum Sejarah Jakarta seakan bisa bergerak dan meminta kata kunci agar kita bisa masuk di pintu yang ada di baliknya. Saya 'menemukan' lukisan serupa Nona Gemuk (The Fat Lady) di sana. Aula Museum Bank Indonesia dengan atap lengkungnya tak ubahnya seperti Gringotts Bank. Kaca patri yang tergantung di sisi timur Museum Bank Mandiri identik dengan kaca patri di kamar mandi prefek asrama Gryffindor. Saat berada di Pasar Triwindu, Surakarta, seakan saya sedang berada di Knocturn Alley yang menjual beraneka macam peralatan sihir. Saya merasa sedang naik Bus Ksatria (The Knight Bus) saat menumpang bus tingkat Werkudara keliling Surakarta dan bus wisata keliling Jakarta.

Dan jika semua dimulai dari Stasiun Kota Tua Jakarta, maka dalam imajinasi saya, Istana Bogor merupakan Sekolah Sihir Hogwarts dengan Kebun Raya  Bogor sebagai Hutan Terlarangnya. Mungkin, imajinasi yang paling jahil dari itu semua adalah menganggap keluarga sepupu saya sebagai keluarga Vernon Dursley. Saran dari salah satu sahabat saya, sepertinya mengunjungi Harry Potter Studio di London akan membuat saya sedikit 'waras'. Setidaknya, apa yang selama ini hanya ada dalam benak saya, dapat tervisualisasi dalam kehidupan nyata.

The Theater of Dreams, Old Trafford 

Menjadi minoritas di antara mayoritas itu terkadang menyakitkan. Dan menjadi orang yang tidak suka bola, berada di antara para pecandu sepak bola merupakan salah satunya. Dulu, saat masih SMP, sebelum tahu asyiknya menikmati serunya nonton pertandingan sepak bola, saya kerap mendapatkan semacam celaan yang menganggap betapa tidak lelakinya seorang cowok yang tidak suka bola. Saat itu saya sudah berpikir, betapa uniknya isi kepala orang-orang yang ada di sekitar saya ini hingga sanggup menghakimi orang-orang lugu seperti saya, bahwa tidak suka bola bisa otomatis identik dengan ganti jenis kelamin di kartu pelajar.

Tapi, begitu saya tidak sengaja menyaksikan dan mendadak terpukau dengan tendangan memutar yang dilakukan oleh David Beckham, sejak saat itu saya jadi tertarik untuk menonton bola. Itupun hanya terbatas pada pertandingan klub-klub yang namanya familiar di telinga saya. Waktu itu David Beckham masih menjadi stricker andalan Manchester United (MU). Saya mencari informasi tentang David Beckham di internet, majalah, dan surat kabar. Ternyata, beberapa teman saya sudah lama menjadi fans fanatiknya. Dan bertambahlah satu lagi pengagum Beckham dan MU. Begitulah semuanya bermula. Betapa lingkungan mampu memengaruhi seseorang yang tadinya tidak suka bola, hingga akhirnya rela begadang malam-malam hanya untuk menyaksikan orang-orang berebut sebuah bola dan berlomba-lomba untuk memasukkannya ke kandang lawan.

Gara-gara seorang teman mengunggah fotonya sedang berada di Stadion Old Trafford, mendadak saya tak mau kalah dan berharap suatu saat dapat berkunjung ke sana. Bagi pendukung setia MU, pergi ke Old Trafford itu ibarat naik haji. Dan meski untuk musim ini, MU sedang dalam keadaan terpuruk, sebagai salah satu pendukung setianya, saya tetap akan menempatkannya sebagai tim kebanggaan. Kata sahabat saya itu, namanya juga klub sepak bola, ada kalanya sedang berjaya, ada saatnya pula menjadi klub biasa-biasa saja.

Pasar Tradisional

Meski menyandang sebagai The Greatest City on Earth, sepertinya London yang modern tidak menghilangkan kantung-kantung pasar tradisionalnya. Sejak kecil, saya memang suka diminta ibu berbelanja sayuran di pasar. Alasannya, biar pintar menghitung uang dan pandai menawar harga. Namun begitu, saya jadi suka berbelanja di pasar tradisional justru karena menikmati suasana dan pemandangan seperti sayuran segar yang berjajar berwarna-warni, tumpukan umbi-umbian semacam kentang dan lobak, serta tawar-menawar harga antara pembeli dan penjual. Rasa-rasanya unik sekali memerhatikan hal tersebut berlangsung di hadapan kita.

.: Blusukan di Pasar Tradisional :.

Di Indonesia, saya suka berlama-lama saat berkesempatan mengunjungi Pasar Beringharjo di Yogyakarta dan Pasar Gede Harjonagoro di Surakarta. Jika kesampaian terbang ke London, dari dulu saya sudah mengincar untuk menyempatkan diri mengunjungi Camden Lock Market, Stables Market, dan Borough Market, yang konon merupakan pasar tradisional paling menarik dan pantang untuk dilewatkan saat bertandang ke London.

Ayo ke Museum

Sebagai seorang pejalan yang suka mengunjungi museum, sepertinya sangat disayangkan jika jauh-jauh ke Inggris tidak menengok museum-museum yang ada di sana. Dengan banyaknya museum yang ada, yang paling ingin saya kunjungi adalah Museum Charles Dickens, Museum London, dan Museum Madam Tussaud. Ada beberapa alasan saya ingin mengunjungi ketiga museum itu. Yang pertama tentu saja ingin tahu tentang beberapa koleksi yang disimpan di museum tersebut. Saya senang dengan karya-karya Charles Dickens. Buku-buku karyanya menjadi teman saya saat bosan dengan tugas kuliah, bersanding manis dengan Harry Potter. Yang menjadi favorit saya adalah novelnya yang berjudul The Great Expectation.

Saya tertarik mengunjungi Museum London sama tertariknya dengan saya mengunjungi Museum Sejarah Jakarta. Bagi saya, untuk mengenal sebuah kota, selain bergaul dengan masyarakatnya, saya berusaha untuk menyempatkan diri mampir ke museum kota tersebut. Dengan begitu, saya jadi sedikit memahami karakter dari kota yang bersangkutan baik dari segi sejarah masa lalunya hingga transformasinya saat ini. Sedangkan untuk Museum Madam Tussaud, saya penasaran ingin melihat secara langsung koleksi pertamanya yang menjadi cikal bakal museum ini ada yaitu patung lilin Francois Marie Arouet de Voltaire. Patung tersebut dibuat pada tahun 1777.

.: Beberapa buku yang juga menginspirasi saya untuk bertandang ke Inggris :.

Berburu Selfie di Jembatan

Baru-baru ini, London ditetapkan sebagai ibukota selfie dunia gara-gara banyak sekali digunakan sebagai tempat untuk melakukan foto narsis. London memang menarik dengan kumpulan bangunan ikonik tersebar di seluruh penjuru kotanya. Saya memang tertarik untuk memiliki koleksi foto diri dengan latar belakang bangunan terkenal semacam House of Parliament, Westminster Abbey, London Eye, dan Istana Buckingham. Tapi, karena saya juga punya kesenangan lain untuk berfoto di jembatan, London dengan Sungai Thamesnya sungguh memanjakan siapa saja yang mempunyai kesenangan 'aneh' seperti saya untuk bisa melakukan selfie di jembatan.

Layaknya jembatan Suramadu di Surabaya dan jembatan Barelang di Riau, jembatan di London yang sudah menjadi incaran saya untuk melakukan selfie adalah jembatan Westminster (yang sering saya lihat di kartu pos), jembatan Tower (fotonya menjadi cover Lembar Kerja Siswa Bahasa Inggris saat saya SMU), jembatan Hungerford dan jembatan Millenium (saya melihatnya sedang berguncang hebat ditabrak oleh sekelompok Pelahap Maut di film Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran).

Naik Kereta Api

Sebagai seorang pejalan yang gemar melintasi Pulau Jawa dengan kereta api, saya selalu tergoda untuk turut serta menikmati kereta api dengan kompartemen nyaman layaknya Hogwarts Express. Bagi saya, stasiun kereta itu suasananya lebih nyaman dibandingkan bandara maupun terminal bus. Setidaknya, untuk saat ini, stasiun-stasiun di Indonesia sudah menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan saat saya masih kuliah dulu.

Berbekal pengalaman melintasi Pulau Jawa dengan kereta api, jika berkesempatan mengunjungi Inggris, untuk jarak yang agak jauh, saya ingin sekali melintasi Pulau Great Britain tersebut dengan kereta api. Meski saya yakin tak akan mirip dengan Hogwarts Express, setidaknya saya bisa mencoba kesempatan menembus Peron 9 3/4 di Stasiun King's Cross.

Bertamu di Istana 

Beberapa kali berkesempatan menginjakkan kaki di istana kepresidenan yang dikoleksi Indonesia, saya jadi tahu bahwa beberapa di antaranya masih meninggalkan jejak Inggris saat berkuasa atas tanah Jawa. Beberapa yang paling sering saya lihat, tersaji dengan jelas ada di Istana Bogor. Di sini masih hidup ratusan rusa peninggalan Gubernur Jenderal Thomas Stanford Raffles. Selain lukisan dan koleksi istana, Kebun Raya Bogor juga menjadi tempat yang penuh historis yang berhubungan dengan Inggris karena pernah menjadi tempat makam istri Raffles.

.: Rumahku Istanaku :.

Saya memang tidak setiap hari berada di kawasan istana, tapi memerhatikan foto keluarga presiden yang sedang memerintah merupakan suatu kesenangan sendiri. Dari keempat istana kepresidenan di Indonesia yang pernah saya jejak, menurut saya Istana Kepresidenan Cipanas yang menunjukkan suasana paling hommy. Suasananya tenang, persis seperti sebuah rumah peristirahatan yang hangat. Dengan banyaknya tanaman di sekililing bangunan induk, istana ini mengisyaratkan bahwa sebuah istana kepresidenan bisa menjadi sebuat tempat yang sangat tidak kaku dengan berbagai macam aturan protokoler.

Memerhatikan foto-foto keluarga yang bergantung di dinding Istana Kepresidenan Cipanas, pikiran saya melayang pada salah satu mimpi saat saya berburu rusa dengan senapan angin bersama Pangeran Harry dan diperhatikan dari kejauhan oleh Ratu Elisabeth II yang sedang bersantai minum teh di beranda belakang istana. Mungkin banyak yang tidak percaya saya pernah punya mimpi seperti itu. Tapi mimpi tersebut benar-benar terjadi (di alam mimpi). Gara-garanya saya begitu tertarik saat memerhatikan berita di televisi yang menyiarkan Pangeran Harry dan Pangeran William sedang berlibur mengisi waktu luang dengan sang nenek sembari berburu rusa. Mungkin, lagi-lagi karena terobsesi dengan keluarga kerajaan Inggris yang begitu memesona. Mungkin juga karena saya seumuran dengan Pangeran Harry, ikut menyaksikan sendiri saat prosesi pemakaman ibundanya. Rasa haru bisa jadi mengantarkan saya pada empati yang berbuah mimpi yang sangat absurb.

.: Saat Bertugas: Setia Waspada :.

Jika berkesempatan bertandang ke Inggris, mungkin saya akan membuang jauh-jauh harapan untuk bertemu dengan keluarga kerajaan Inggris dan merasakan kehangatan keluarga tersebut seperti yang pernah terjadi dalam salah satu mimpi saya. Tapi setidaknya, saya akan melihat langsung prosesi pergantian pengawal kerajaan di Istana Buckingham yang mana foto para pengawal tersebut sering menyapa saya sejak kecil, terutama saat lebaran tiba.

Sosok berseragam biru merah dengan topi bulu hitam sebagaimana terdapat dalam kaleng Danish Monde Butter Cookies tersebut sudah membius saya sejak kecil. Modelnya lucu tapi tidak dengan raut mukanya yang tegas dan tampak tak terganggu konsentrasinya dalam memerhatikan aba-aba dari Sang Komandan. Saya pun juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi bagian dari salah satu penjaga istana. Namun demikian, mencoba iseng dengan memotret para pengawal istana ini sepertinya sesuatu yang menarik untuk dicoba. Saya pernah dimarahi oleh salah satu pengawal Istana Merdeka Jakarta gara-gara iseng memotret mereka saat berjaga. Semoga saya punya kesempatan untuk memotret para pengawal Istana Buckingham atau bahkan bisa foto bersama dengan salah satu dari mereka.

.: Let's the magic begins :.
Hampir semua mimpi dan dorongan untuk mengunjungi Inggris muncul dalam fragmen-fragmen kisah yang terjadi dalam hidup saya sejak kecil. Saya tak akan tahu sampai kapan fragmen-fragmen tersebut akan menyatu menjadi sebuah gambaran utuh berupa euforia yang sangat menyenangkan akan sebuah kunjungan penuh kenangan. Yang saya tahu, jika suatu ketika akan tiba waktunya mimpi tersebut benar-benar menjadi kenyataan, saat itu pulalah saya akan menyadari bahwa saya tidak sedang tidur, tapi senantiasa terjaga dengan usaha dan doa untuk membuat segala sesuatu yang tadinya hanya sebatas mimpi menjadi nyata dan meninggalkan makna.

10 komentar:

  1. Oh belakangan ngincer kuis yak hahaha,,,, semoga berhasil kakak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, namanya juga usaha. Pengen ke Inggrisnya udah dari kecil sih. Sekarang udah sampai ubun-ubun kali masbro hehehe. Amin. Terima kasih doanya :D

      Hapus
  2. Makanya Di.. nabung.... jgn boros... hahaha..

    BalasHapus
  3. hihihihi asikk asikk, semoga cepet ketemu Harry Potternya kakk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terima kasih lho doanya Mei hehehe :)

      Hapus
  4. saya doakan dech,mudah-mudahan angan dan impiannya cepat terlaksana..
    amin

    BalasHapus
  5. Wah banyak banget blogger yg lagi rame-rame buat ke inggris dari hadia Veetos... gimana kak dapat gak..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha sepertinya harus ke Inggris dengan jalan lain bro, yang ini belum dapet :)

      Hapus