Jumat, 31 Agustus 2012

Bertamu ke Istana Merdeka

Istana Merdeka Jakarta
Setelah berkesempatan memasuki Istana Bogor, saya pikir tinggal menunggu waktu saja untuk bisa masuk dan mengetahui bagian dalam Istana Kepresidenan di Jakarta. Sejak kecil, tak pernah terbersit selintaspun jika suatu saat bisa menjejakkan kaki di Istana Merdeka. Maklum, bayangan saya waktu itu, Istana Merdeka itu adalah tempat rapat presiden bersama para menterinya sekaligus juga tempat berlangsungnya upacara peringatan kemerdekaan Indonesia saja. Anak kecil dilarang masuk, apalagi sampai blusak-blusuk ke dalamnya.

Sampai suatu ketika, saat diajak jalan-jalan ke Monumen Nasional, bapak pernah bilang kalau Istana Merdeka itu adalah "tempat Mbah Harto (Presiden Soeharto-pen) tinggal dan menyampaikan pidato-pidatonya". Tak banyak informasi yang saya dapat dari sebuah kota kecil di Jawa Timur tentang istana ini selain gambar-gambar yang ditampilkan oleh siaran berita melalui kanal televisi bertagline Menjalin Persatuan dan Kesatuan. Alasan saya mengunjungi Istana Merdeka sebetulnya lebih kepada ingin berada lebih dekat dengan lokasi episentrum di mana seluruh penjuru negeri dari Sabang hingga Merauke ini diperintah.

tetap megah di antara gedung pencakar langit
Istana Merdeka merupakan satu dari enam Istana Kepresidenan yang dimiliki Indonesia. Meski telah banyak bangunan bertingkat yang berdiri di sekelilingnya, bangunan Istana Kepresidenan ini masih tampak terlihat megah dan memperlihatkan aura kekuasaan penghuninya. Berbagi lahan dengan Istana Negara membuat kedua istana ini sering mendapat sebutan sebagai Istana Kembar. Istana Merdeka dibangun atas prakarsa Gubernur Jenderal Pieter Mijer, namun baru terlaksana pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal James Lindon. Istana Merdeka dibangun oleh seorang arsitek bernama Drossares dan selesai pada tahun 1879 saat Hindia Belanda dibawah perintah Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsberge. Sejak itulah, istana ini digunakan sebagai tempat kediaman resmi gubernur jenderal selain Istana Bogor dengan nama resmi Istana Gambir atau Koningsplein Paleis.

Nama Istana Merdeka disematkan oleh Presiden Soekarno bertepatan dengan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia saat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar pada tanggal 27 Desember 1949. Saat itu, pekik dan sorak "Merdeka! Merdeka! Merdeka" berkumandang riuh di istana ini mengiringi kedatangan Bung Karno sebagai penghuni barunya setelah sebelumnya pernah ditempati oleh 15 Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan 3 Panglima Tinggi Kekaisaran Jepang. 

Perasaan berdebar juga menyelimuti dada saya saat pertama kali meniti 16 anak tangga hingga beranda depan yang biasa dipakai sebagai tempat menyerahkan Sang Saka Merah Putih saat Peringatan Detik-Detik Proklamasi. Istana Merdeka tampak megah dari depan dengan ditopang enam pilar bergaya Doria. Posisinya yang agak lebih tinggi dari halaman membuat saya leluasa melihat halaman seisinya. Tampak berdiri menjulang sebuah tiang bendera setinggi 17 meter di sebelah kolam teratai berbentuk melati. Dari sini juga kelihatan jelas Monumen Nasional.

Menkeu/Menparekraf/Menlu Tahun 2030 :P
Ruang Kredensial adalah ruang pertama yang menyapa saya. Semacam Bangsal Srimanganti di keraton-keraton Jawa, ruang ini digunakan sebagai tempat kepala negara menerima surat-surat kepercayaan para duta besar negara asing. Di dindingnya terpasang 4 buah cermin besar seperti cermin kembar di Istana Bogor. Salah satu cermin ini ujung bawahnya ada yang bolong akibat adanya serangan udara saat terjadi percobaan pembunuhan Presiden Soekarno pada tahun 1960. Ruang Kredensial saya kenali sebagai ruangan di mana Presiden Soeharto membacakan pengumuman pengunduran dirinya saat terjadi demonstrasi Tahun 1998.

Ruang Penghubung: 'gerbang' ke Ruang Resepsi
Ruang Resepsi sebagai ruangan terbesar di Istana Merdeka dihubungkan dengan Ruang Penghubung dari Ruang Kredensial. Di Ruang Penghubung ini terdapat patung perunggu Dwitunggal Soekarno-Hatta dan beberapa lukisan pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Panglima Jenderal Soedirman, dan Gajah Mada. Di bagian sayap kanan Ruang Penghubung terdapat Ruang Ibu Negara yang dulu terkenal dengan nama Ruang Raden Saleh. Dinamakan demikian karena ruangan ini digunakan oleh Ibu Negara menerima tamunya yang interiornya penuh dengan lukisan indah karya Raden Saleh. Di seberangnya terdapat Ruang Jepara, yang merupakan ruang kepala negara menerima tamu kenegaraan. Ruang ini didominasi dengan ukiran Jepara yang rumit berelief cerita Epos Ramayana. Di Ruang Jepara inilah kerap terjadi pertemuan empat mata antara presiden dan kepala negara sahabat yang melaksanakan lawatan kerja.

Ruang Resepsi didesain sebagai ruang serba guna. Sepertinya di masa lampau ruang ini biasa digunakan sebagai tempat pesta dansa. Tampak sebuah kandelar besar seberat 500 kg menggantung di langit-langitnya sehingga menambah dramatis tata cahaya di dalam ruangan di waktu malam. Dindingnya berhias lukisan keenam foto presiden yang pernah menempati istana ini. Ada pula beberapa barang kuno bernilai sejarah seperti guci dan keramik dari China. Yang membuat takjub tetap saja lukisan karya maestro seni lukis Indonesia. Saya terkesan dengan lukisan berjudul Gatotkaca, Pregiwo, dan Pregiwati yang didominasi warna merah menyala karya Basoeki Abdullah serta Penangkapan Pangerang Diponegoro karya Raden Saleh. Selain itu juga ada lukisan berjudul Mengungsi karya Sudjojono yang tampak lebih 'tenang'. Untuk hari Sabtu dan Minggu, Ruang Resepsi ini akan 'disulap' menjadi ruang pamer karya fotografi dari Ibu Negara Ani Yudhoyono. :))

Terdapat delapan kamar dalam Ruang Resepsi. Di sayap barat, ruangannya digunakan sebagai ruang kerja, ruang istirahat, dan ruang makan presiden (ada lemari es krimnya juga lho :)). Sedangkan di sayap kiri, salah satu ruangannya digunakan sebagai tempat menyimpan bendera pusaka jahitan Ibu Fatmawati yang dulu dikibarkan saat detik-detik proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.

Halaman Tengah, antara Istana Merdeka dan Istana Negara
Keluar melalui pintu belakang, kita akan disambut dengan halaman taman dengan rumput menghijau. Banyak sekali suara burung liar berkicau dan menari-nari di pepohonan rindang yang tumbuh di sini. Sepetak kecil dari permadani rumput ini dibuat sebagai media untuk bermain golf. Ada pula gazebo mungil di tengah halaman sebagai tempat pertemuan tidak resmi kepala negara. Sewaktu Bung Karno dan keluarganya tinggal di sini, gazebo ini digunakan sebagai tempat belajar para putra-putri beliau dengan didatangkan guru ke tempat ini. Jadi kayak semacam home schooling yang populer saat ini. Di seantero taman ini juga terdapat berbagai macam artefak kuno seperti Arca Dhyani Bhoddisattva dan patung-patung perunggu karya seniman nusantara.

Berbagi Kebun dengan Istana Negara

Dari halaman ini tampak terlihat jelas bagian belakang Istana Negara. Berbagi halaman dengan Istana Merdeka, bangunan yang dididirikan tahun 1796 ini awalnya merupakan rumah tinggal J.A van Braam yang diakuisisi oleh Pemerintah Belanda dan dijadikan sebagai Rumah Dinas Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Istana ini pernah digunakan oleh Letnan Jenderal Thomas Standford Raffles saat Inggris berkuasa atas tanah Jawa pada tahun 1811-1816.

Memiliki ruangan-ruangan yang lebih besar dibanding Istana Merdeka, Istana Negara pada dasarnya terdiri dari dua balairung besar yaitu Ruang Upacara dan Ruang Jamuan. Sesuai dengan namanya, Ruang Upacara memang diperuntukkan bagi acara upacara kenegaraan, sedangkan Ruang Jamuan digunakan sebagai tempat beramah-tamah para tamu seusai melaksanakan acara upacara kenegaraan. Di Ruang Upacara terdapat seperangkat alat musik gamelan Jawa dan Bali yang masing-masing ditempatkan secara berseberangan di sayap-sayap ruangan.

Ditempati pertama kali oleh Gubernur Jenderal Baron van Der Cappelen, sepertinya Istana Negara memang ditakdirkan sebagai saksi sejarah tempat dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Di sini pernah berlangsung penandatanganan Perjanjian Linggarjati antara delegasi Indonesia yang diwakili oleh Sutan Sjahrir dan delegasi Belanda yang dipimpin Dr. van Mook. Meski tak segagah Istana Merdeka, jika dilihat dari arah Jalan Veteran, Istana Negara ini tampak anggun dengan deretan pintu memanjang.

 Tur Istana yang 'agak' Kaku 

Siapa berani foto bareng penjaganya hayo? ;P
Bagi rakyat jelata seperti Anda (hehehe) juga bisa kok kalau ingin jalan-jalan di dalam kompleks istana. Tur istana yang dikenal dengan Tur Istana untuk Rakyat  (Istura) ini dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Para peserta tur dimohon untuk mendaftar terlebih dahulu di kantor Sekretariat Negara. Dengan dipandu oleh Tim Tur Istura, para peserta akan diajak berkeliling kompleks Istana Merdeka mulai dari gerbang di dekat Masjid Baiturrahim masuk melalui pintu depan, melewati Ruang Kredensial, Ruang Penghubung, dan Ruang Resepsi. Para peserta akan 'digiring' keluar melalui pintu belakang dilanjut mengelilingi jalan yang melingkari halaman tengah. 

Tapi mohon maaf, dengan alasan keamanan (karena di dalamnya terdapat benda-benda bersejarah yang amat penting dan berharga), para peserta tur istura ini tidak akan dibawa masuk ke dalam Istana Negara. 

Setelah sekian lama mengamati dan sesekali ikut sebagai peserta, Tur Istura ini menurut saya terkesan kaku dan sangat penuh dengan aturan protokoler. Saya sangat paham bahwa semua tur istana di seluruh dunia hampir semuanya melarang pesertanya untuk membawa kamera atau memotret bagian dalam, tapi sepertinya hanya di Istana Merdeka inilah tidak pernah saya lihat ada turis foto bersama dengan penjaga istana yang memang harus bersikap seperti patung. Padahal jika dikemas dengan lebih baik lagi, saya yakin akan ada banyak turis datang ke sini hanya untuk mengabadikan proses pergantian petugas jaga seperti layaknya 'atraksi' serupa di Istana Buckingham atau istana-istana lain di seluruh dunia. Mungkin petugas jaga di pintu gerbang ini disetting untuk membuat Jalan Medan Merdeka Utara di depan Istana Merdeka ini benar-benar steril dari manusia sehingga setiap orang, baik dengan tujuan 'damai' (hanya ingin foto-foto saja misalnya) sekalipun, tetap diperlakukan layaknya 'pengganggu' ketenangan istana layaknya orang berdemo, satu hal yang dapat mereduksi istilah tur ini diberi nama Tur Istura.         

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar