Jumat, 07 September 2012

Angkor Wat di Nganjuk

Candi Lor
What? Biasa aja bray. Memang bukan Candi Angkor, secara letaknya saja gak elit di tempat yang tidak semua orang Indonesia tahu. Nganjuk? Di mana tuh? Saya sih gak menyalahkan orang karena pelajaran geografi bukan pelajaran favorit orang kebanyakan. Malah yang lebih ekstrim, teman saya pernah bilang, "Ini Nganjuk kotanya kecil banget, gue kedip aja padahal baru lihat tulisan Selamat Datang, begitu melek lagi udah ada tulisan Selamat Jalan." Jleb. Halah, omongan lebay sih menurut saya.

Anyway, ceritanya gara-gara suntuk gak bisa ke mana-mana saat libur lebaran kemarin, saya putar otak kanan-kiri untuk mencari objek wisata di Nganjuk yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Tadinya mau mandi di air terjun Sedudo, tapi karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mampir ke Candi Lor. Heran, berkali-kali melewatinya tapi saya belum pernah sekalipun mampir ke candi ini. Saya akui sih, ini salah satu 'penyakit' orang Indonesia: sudah ngacir ngalor ngidul ke mana-mana tapi belum pernah datang ke objek-objek wisata tidak populer di daerah sendiri.

Sampai saat ini saya belum mengerti mengapa candi ini diberi nama Candi Lor (utara) padahal saya tidak pernah tahu (atau paling tidak mendengar) ada Candi Kidul (selatan). Penduduk setempat menyebutnya sebagai Candi Bata karena bahan baku candi dibuat dari batu bata merah.

@ monumen Jayastamba Candi Lor :)
Waktu kecil saya pernah didongengi oleh ayah saya bahwa candi ini dibangun untuk mengubur semua senjata termasuk keris dan tombak pasca perang antara Majapahit pimpinan Empu Sendok melawan musuh-musuhnya yang terjadi di bumi Anjuk Ladang (Nganjuk). Tapi setelah gedhe, saya baru tahu bahwa candi ini adalah sebuah tugu peringatan kemenangan perang. Empu Sendok menitahkan kepada Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara, dan Rakai Kanuruhan untuk membuat bangunan suci bernama Srijayamerta sebagai penanda bahwa wilayah Anjuk Ladang ditetapkan sebagai daerah swatantra (daerah bebas pajak) atas jasa masyarakat Anjuk Ladang dalam peperangan.

Meski kelihatannya biasa saja, Candi Lor pernah menjadi objek penelitian bagi peneliti purbakala pada zaman penjajahan kolonial. Bahkan, yang menerjemahkan isi prasasti Anjuk Ladang adalah Brandes, Damais, dan Krom yang merupakan warga Belanda, meski isinya dalam bahasa Sansekerta yang saat itu digunakan sebagai bahasa resmi untuk dokumen-dokumen dan prasasti di tlatah Majapahit. Mereka berhasil menyimpulkan bahwa Candi Lor dibangun pada tanggal 10 April 859 Caka atau 937 M.Tanggal tersebut akhirnya dipilih dan ditetapkan sebagai hari jadi kota Nganjuk.

Akar pohon Kepuh mencengkeram badan candi
Karena terbuat dari batu bata yang mudah rapuh, Candi Lor keadaannya sudah jauh dari utuh. Sekilas kalau diperhatikan bentuknya mirip tumpukan batu bata biasa. Hal itu diperparah dengan tumbuhnya pohon kepuh yang akar-akarnya mencengkeram kuat badan candi sebelah selatan. Keadaan itulah yang mengingatkan saya pada Candi Ta Prohm di Siem Riep, Kamboja. Memang sih, kompleks Candi Ta Prohm lebih besar ukurannya, lebih terawat, dan banyak dikunjungi wisatawan sehingga foto-fotonya banyak tersebar di internet sebagai salah satu destinasi andalan jualannya pariwisata Kamboja.

Sedangkan Candi Lor, dari buku tamu saya ketahui bahwa candi ini sehari-harinya tidak ramai pengunjung. Yang datang ke sini paling-paling cuma orang-orang yang punya minat jalan-jalan, yang ngaku-ngaku traveler, masyarakat yang gak sengaja lewat, orang-orang yang tinggal dekat dengan candi, dan para penyuka sejarah. Bahkan, saya masih sangsi para guru sejarah di Nganjuk pernah datang ke sini. Atau, malah tidak tahu letaknya? Duh.

Saat saya ke sini, ada beberapa anak kecil yang tinggal di dekat candi sedang dolanan bareng. Saya hanya berharap anak-anak ini suatu saat tahu betapa pentingnya keberadaan candi ini di panggung sejarah nasional di masa lampau yang saat ini hanya mereka anggap sebagai tempat menyenangkan untuk main petak umpet. Satu hal yang mungkin anak-anak ini tidak tahu adalah bahwa nama Nganjuk diambil dari sebuah prasasti yang dulu ada di dekat candi ini.

mirip candi Ta Prohm di Siem Riep, Kamboja
Prasasti Anjuk Ladang merupakan 'dokumen' penting bagi sejarah berdirinya Kabupaten Nganjuk di mana di dalamnya termuat sebutan (toponimi) yang sangat dekat ucapannya dengan kata Nganjuk yaitu Anjuk Ladang. Dengan alasan untuk kepentingan penelitian, prasasti tersebut diamankan ke Residen Kediri, lalu dimuseumkan dan menjadi salah satu koleksi Museum Nasional Jakarta.

Yang membuat saya heran, di dekat candi tidak dibangun replikanya untuk memudahkan pengunjung mengetahui keberadaan prasasti tersebut mengingat orang-orang kita kan tidak suka ke museum meski replika serupa juga dibuat di pelataran museum Anjuk Ladang dan di pertigaan dekat terminal Kota Nganjuk. Yang membuat saya lebih heran lagi, saat mengunjungi Museum Nasional Jakarta, prasasti Anjuk Ladang justru diidentifikasi sebagai prasasti yang berasal dari Kediri. Hal itu merujuk pada pembagian wilayah lama di mana Nganjuk masuk dalam wilayah Karesidenan Kediri. Walah, diganti dong braay, kan asalnya dari Nganjuk. :'(

Eyang Kerto dan Eyang Kerti: mengabdi tanpa henti
Selain candi dan pohon kepuh yang akarnya unik, yang menarik perhatian dari kompleks candi ini adalah keberadaan dua makam keramat Eyang Kerto dan Eyang Kerti yang merupakan abdi kinasih dari Ken Arok. Yang lebih menarik lagi, hare gene, dua makam inilah yang justru menjadi magnet bagi orang-orang galau untuk mencari wangsit atau berkah di malam-malam tertentu dalam hari pasaran Jawa.

Memang sih, kompleks Candi Lor pada zaman dulu pernah digunakan sebagai tempat pertapaan bagi tokoh yang bernama Gentiri, tapi kan bukan untuk menyembah candi atau mengeramatkan makam, melainkan melalui laku hening-hening eling tapa brata kepada Penguasa Semesta. Tapi sayang sekali, meski menurut sejarah dulunya di sini terdapat beberapa arca seperti ganesha, nandi, lingga, dan yoni, sekarang sudah tidak dapat ditemui lagi. Yang lebih bikin wow, di sawah dekat candi ini pernah ditemukan empat buah arca dari perunggu yang menggambarkan pantheon budhisme. Karena keindahannya, pada tahun 1931 arca tersebut pernah dipamerkan di Arena Pameran Benda Seni Negeri Jajahan di Paris. Dan setelah itu, keberadaan keempat arca itu tak tahu rimbanya karena terjadi kebakaran besar pasca pameran berlangsung.

menjejak sejarah
Selalu saja berakhir seperti itu. Kayaknya bangsa Indonesia itu seperti tidak diizinkan untuk memiliki dan menikmati kekayaan bangsanya sendiri. Beberapa buah tangan mahakarya bangsa kita selalu saja bernasib menjadi berita tidak menyenangkan.Saya masih ingat dengan cerita menyedihkan tentang salah satu arca budha dari Candi Borobudur yang jalan-jalan ke luar negeri sejak tahun 1980 hingga ditemukan lagi sedang leyeh-leyeh nunggu dilelang di Christie, New York pada tahun 2005. Catatan tersebut menambah daftar panjang 'pencurian' arca sejak zaman penjajahan Belanda yang memboyong arca prajnaparamita ke negerinya. Belum lagi penjualan arca-arca dan artefak sejarah di Solo.

Duh, saya sampai geram mendengar berita-berita seperti itu. Bagaimana mungkin barang-barang bernilai sejarah bisa dengan mudahnya berpindah tangan? Sungguh, bangsa ini memang enggan belajar dari sejarah dan sedang mengidap amnesia akut akan sejarah negerinya di masa lampau. Meninggalkan kompleks Candi Lor, saya hanya bisa berharap bahwa hal-hal tersebut tidak terulang kembali.

4 komentar:

  1. Hallo Mas Adi. Salam kenal :)
    Wah,saya lebih sering hanya "nglewatin" Nganjuk kalo mo ke Trowulan, Surabaya, atau Banyuwangi. Menarik untuk disinggahi ni, kapan2 kalo ada kesempatan "ngelewatin" Nganjuk lagi :D.

    Apakah candi ini relatif mudah dijangkau? Bisa minta ancer2nya?

    Terimakasih,

    Inu

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah banget Mas Inu, Candi Lor ini letaknya ada di pinggir jalan Nganjuk-Kediri. Cuma pinggir jalannya sekarang ketutup ruko-ruko baru.

      Klo Mas Inu dari Nganjuk Kota, jalan aja ke arah Kediri lewat Ploso. Kira-kira satu km dari Stadion Anjuk Ladang di Ploso, arahkan pandangan ke arah kanan jalan. Perempatan pertama (letaknya ada sawah-sawahnya di sekitar situ) sila belok kanan. Candi Lor ada sekitar 300 m dari perempatan itu. Sudah kelihatan kok sebenarnya dari jalan.

      Selamat jalan-jalan Mas Inu, salam kenal juga. :)

      Hapus
  2. Siem Reap itu Kamboja mas, bukan Vietnam :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Raka koreksinya, sudah dibetulkan :)

      Hapus