Jumat, 21 September 2012

Ziarah ke Pulau Kuburan

Pulau Kherkof, sepi, sendiri, dan penuh misteri
Sering disangka atau salah disebut sebagai Pulau Unrust, Pulau Kherkof memang seolah punya daya tarik tersendiri dibanding tiga pulau lain yang berada di dekatnya. Setiap pejalan yang melintasi pulau ini untuk menuju kawasan wisata di Kepulauan Seribu hampir selalu pernah mengabadikan kemisteriusannya. Hal itu berkenaan dengan keberadaan satu-satunya benteng Mortello di Indonesia yang wujud fisiknya masih utuh. Benteng peninggalan pemerintah kolonial Belanda ini dibangun untuk menghadapi serangan Portugis ke Batavia pada abad ke-17.

Berbeda halnya saat menuju pulau-pulau di sekitarnya, diperlukan sedikit 'ketegangan' untuk bisa merapatkan perahu motor di Pulau Kherkof. Beberapa saat sebelum sampai di bibir pantainya yang berpasir putih, mesin perahu sempat tersendat dan mati. Perahu jadi terombang-ambing di tengah laut dan para penumpang yang tak berbekal pelampung pun sempat ada yang menjerit takut dan segera merapalkan doa. Pulau ini seakan ingin mempertahankan eksistensi kemisteriusannya tanpa mau dijamah oleh pendatang.

Ukurannya yang cukup 'mini' dengan luas kurang dari dua hektar membuatnya dijuluki Pulau Kelor. Pada zaman pemerintah kolonial Belanda, pulau ini disebut Pulau Kherkof atau Pulau Kuburan karena digunakan untuk memakamkan para tahanan politik dan pemberontak yang melawan kekuasaan Belanda. Beberapa di antaranya adalah pemberontak di atas kapal Zeven Provincien (Kapal Tujuh) yang terjadi pada Februari 1933, korban tembak mati, dan kuburan bagi warga pribumi yang meninggal karena sakit.

kemegahan Mortello di Pulau Kherkof
Saat berkeliling di areal pulau, saya sama sekali tak menemukan bekas-bekas makam atau nisan yang menunjukkan bahwa di tempat ini pernah dijadikan areal pekuburan Belanda. Teman saya, Bekti, dari Komunitas Historia Indonesia (KHI) bilang, "Di pulau ini sebenarnya kalau kita gali, penuh dengan harta karun." Katanya dengan penuh keyakinan. Dalam benak saya, yang dimaksud dengan harta karun adalah benda-benda semacam emas, perak, atau perhiasan dan benda-benda peninggalan zaman dahulu. Tapi, melihat muka sumringah saya yang unyu-unyu, dia melanjutkan, " Kalau kita gali pulau ini, kita akan menemukan banyak sekali tengkorak dan rangka manusia sisa-sisa kuburan Belanda." Deg. Saya pun segera melipir menuju benteng, meninggalkan Bekti yang sedang nyengir kuda. Sigh.

Kemegahan benteng berbahan bata merah ini seakan merekam jejak kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Batavia. Benteng ini merupakan garda terdepan pertahanan kekuasaan Belanda. Selain sebagai menara pengintai, di benteng berbentuk bulat tabung ini terdapat jendela-jendela lebar yang dilengkapi dengan meriam-meriam sehingga memungkinkan untuk bermanuver 360 derajat. Tapi sayang, saya tak lagi menemukan sisa-sisa meriam tersebut di sini. Tidak pula bekasnya.

sisa reruntuhan benteng 'luar' dan tiang pancang pemecah ombak
Benteng Mortello ini konon saat dibangun mengadopsi model dari Benteng Mortella Corsica di Laut Tengah. Bata merah yang menjadi bahan dasarnya didatangkan dari daerah Tangerang Banten dan Pleret, Purwakarta. Satu bukti lagi bahwa kala itu, bata merah buatan dalam negeri merupakan bahan bangunan yang kuat dan mempunyai daya tahan yang lama. Bahkan kalau ditilik lebih jauh lagi, candi-candi yang banyak tersebar di Jawa Timur juga menggunakan bata merah sebagai bahan bangunannya sehingga beberapa masih dapat kita saksikan reruntuhannya hingga sekarang. Benteng Mortello ini juga tetap kelihatan kokoh dan kala itu kekuatannya sampai tak tertembus meriam. Lalu, apa kabar dengan bangunan berbatu bata merah saat ini?

Landasan pemecah ombak yang sudah hancur ;'(
Namun demikian, benteng ini pernah rusak berat akibat terjangan gempa dan tsunami akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883. Kalau diperhatikan lebih seksama, benteng yang masih bisa dilihat sekarang ini merupakan bagian terdalam atau perlindungan lapis terakhir dari ukuran benteng sesungguhnya. Sedangkan benteng utamanya berada sekitar beberapa meter dari bangunan Mortello yang sekarang masih ada. Sisa-sisa bata benteng utama masih dapat dilihat di bibir pantai sebelah barat dan utara benteng. Selain gempa dan tsunami, keberadaan benteng ini juga terancam dengan pengikisan oleh abrasi air laut.

Sebenarnya, pemerintah telah membangun beton-beton penahan abrasi. Tapi, entah karena kuatnya arus laut yang menghantam beton atau karena komposisi bahan pembuat beton yang acakadut yang menjadikan benteng abrasi tersebut keropos dan tak dapat berfungsi secara maksimal.

paku-paku yang tertancap di 'badan' benteng ;'(
Selain faktor alam, campur tangan manusia memang cukup mengambil andil bagi kelestarian situs cagar budaya ini. Saya memerhatikan, di dinding-dinding benteng terdapat paku-paku yang digunakan untuk menggantung pakaian dan menambatkan tali-tali pancing para nelayan yang biasa mengais rezeki di pulau ini. Selain itu, bata-bata yang kian rapuh juga terkikis oleh mereka-mereka yang ingin foto-foto narsis dengan naik di atas benteng dan kurang hati-hati sehingga menyebabkan pondasi benteng gempil di sana-sini. Sungguh disayangkan jika perilaku demikian terus berlangsung tanpa ada kendali yang menggugah kesadaran untuk saling memiliki dan menjaga kelestarian situs-situs sejarah seperti ini.

Soal promosi wisata, meski merupakan satu-satunya pulau di Indonesia di mana terdapat Benteng Mortello yang masih utuh, Pulau Kelor nampaknya bukan merupakan situs sejarah favorit yang 'dijual' pemerintah sebagai daerah tujuan wisata. Tak ada papan nama maupun petunjuk yang menjelaskan sejarah pulau tersebut seperti halnya yang terdapat di ketiga pulau yang ada di dekatnya. Pulau ini seakan asing dan terlupakan. Selain itu, transportasi umum ke pulau ini pun tidak ada, jadi harus dicarter dengan harga yang relatif mahal. Kecuali untuk tujuan tertentu seperti foto prewed atau penelitian, saya yakin jarang sekali orang-orang pribadi atau keluarga yang menjadikannya sebagai weekend gateway destination kecuali dengan ikut tur rame-rame seperti yang dilakukan oleh teman-teman dari Komunitas Historia Indonesia (KHI) atau komunitas sejenis lainnya.

(bukan) Kucing garong ... ewww ;P
Hal lain yang membuat saya penasaran selain keberadaan benteng dan makam adalah adanya beberapa kucing liar yang mendiami pulau ini. Tak jelas dari mana datangnya, adanya kucing-kucing tersebut juga menimbulkan spekulasi tentang asal-usulnya. Ada yang bilang kucing-kucing tersebut sudah ada sejak dulu dan beranak-pinak hingga sekarang. Ada lagi yang bilang kalau kucing itu kucing-kucing buangan yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya di pulau ini supaya tidak bisa kembali (pasti kucingnya nakal, makanya gak diarepin ;P). Versi paling ekstrim (dan sesat karena bikin merinding), kucing-kucing itu adalah kucing jadi-jadian dari orang-orang pribumi zaman dulu yang masih setia ditugaskan menjadi penunggu pulau dan akan berubah menjadi manusia, tepat saat tengah malam tiba. Widih, coba ada cerita kayak gini beneran, pasti ada tuh produser-produser kita yang mau bikin filmnya.*brb daftar paling depan*. Eh tapi, kalau salah satu kucing-kucing tersebut adalah jelmaan Anne Hathaway, saya mau dong dicakar. :P #eaaa 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar