Senin, 26 September 2011

(Belajar) Cinta Produk Dalam Negeri

Cinta Indonesia 100%
Saat jalan-jalan, tas (butut) yang saya gunakan selalu sama. Hal itu karena hanya tas tersebut yang saya punya. Pertimbangan paling utama sebenarnya karena tas tersebut nyaman buat dibawa ke mana-mana, mampu menampung barang-barang yang saya butuhkan dalam perjalanan, dan dapat berubah fungsi jadi bantal (atau guling) jika diperlukan. Perihal kenyamanan itulah mungkin yang diburu oleh para penggila tas. Saya tak habis pikir saat tahu ada orang yang rela menggelontorkan ribuan dolar pundi-pundinya hanya untuk membeli sebuah tas kesayangannya.

Merek-merek seperti Louis Vuitton, Hermes, dan Channel seakan menjadi 'benda ajaib' yang wajib dimiliki hingga mencari bajakannya pun dilakukan agar punya pengalaman menentengnya ke mana-mana. Tapi, ada sebagian kalangan yang menyebutnya sebagai aib jika ketahuan menenteng tas bermerek tapi palsu. Memang tas-tas bermerek itu telah berubah fungsi dari hanya sekadar 'wadah' barang, menjadi 'tiket masuk' suatu komunitas. Untuk itulah orang berlomba-lomba memilikinya hingga rela berburu ke luar negeri segala atau mencari yang bekas pakai (tapi masih bagus) hanya untuk bisa masuk ke dalam suatu komunitas atau lebih dihargai di suatu kalangan masyarakat tertentu. Selain tas, barang-barang yang (katanya) bisa mendongkrak image seseorang adalah baju dan sepatu. Tapi keduanya tak memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pergaulan layaknya pengaruh tas yang ditenteng.

Tas (butut) saya ;-(
Mungkin demam barang-barang bermerek ini sungguh happeningnya di kalangan masyarakat hingga membuat pemerintah khawatir masyarakatnya sangat konsumtif dan menghambur-hamburkan uangnya ke luar negeri untuk membelinya. Orang rela antri di butik terkenal di Paris atau di Singapura hanya untuk mendapatkan sebuah tas atau sepatu model mutakhir yang limited edition.Untuk itu, akhir-akhir ini saya perhatikan ada iklan di televisi, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan seperti mengingatkan warganya untuk kembali cinta produk dalam negeri. Tapi tetap saja, anjuran hanyalah sebuah anjuran jika tidak diberi teladan oleh pemerintah sendiri. Saya jadi ingat dengan isi blog salah satu wartawan Istana. Di blog tersebut dijelaskan bahwa seorang menteri perempuan membungkus tas bermereknya dengan kantong plastik sesaat setelah Presiden mengeluarkan instruksi untuk cinta produk dalam negeri.

Instruksi Presiden yang menyerukan kepada masyarakat untuk memakai produk dalam negeri ini mungkin agak lucu. Saya jadi ingat akan sesuatu, apakah mobil-mobil dinas pejabat-pejabat pemerintah ini produksi dalam negeri ya? Seingat saya, banyak sekali mobil-mobil dinas itu bermerek Camry, Marcedes-Benz, atau Royal Saloon. Apakah itu produksi dalam negeri?

di Keraton Kasepuhan Cirebon
Saya belajar untuk cinta produk dalam negeri dari 'pemerintah' justru saat berkunjung ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Gara-gara bete luntang-lantung di asrama saat ada penugasan dari kantor untuk ikut training di Cirebon, saya dan teman-teman 'ngabur' ke Keraton Kasepuhan Cirebon untuk refreshing. Keraton tertua dan termegah di Cirebon ini memiliki koleksi istimewa berupa kereta kencana yang dinamai Kereta Singa Barong. Yang membuat kagum, kereta ini merupakan produk asli dalam negeri. Dibuat tahun 1549 dengan perancang desain kereta adalah Panembahan Losari, sedangkan pemahatannya dilakukan oleh Ki Notoguna yang berasal dari Kaliwulu. Saya jadi ingat dengan kereta-kereta yang dimiliki oleh keraton-keraton lain di Indonesia. Kebanyakan kereta-kereta tersebut merupakan kereta buatan Belanda atau Swiss. Barang impor juga kan?

Kalau diperhatikan, model kereta Singa Barong tak kalah ketinggalan dengan model kereta yang diproduksi pada zamannya. Desainnya unik karena adanya akulturasi budaya dari bangsa-bangsa yang menjadi mitra dagang dengan pihak keraton yang berwujud pada tubuh tiga binatang: berkepala naga, berbelalai gajah, dan bertubuh buraq. Naga di sini menunjukkan bahwa Keraton Kasepuhan Cirebon mempunyai hubungan baik dengan China yang beragama Budha. Hal ini juga diperkuat dengan ornamen-ornamen porselin China yang menempel di tembok-tembok keraton. Belalai gajah melambangkan persahabatan dengan India yang beragama Hindu, sedangkan buraq merepresentasikan hubungan pihak keraton dengan Mesir yang beragama Islam.

(1) trip (trip?) bareng teman-teman training, (2) ornamen keramik China yang menghiasi dinding keraton

Di bagian samping kereta Singa Barong juga dilengkapi dengan dua sayap yang bisa bergerak-gerak jika keretanya sedang berjalan sehingga seolah-olah memberikan kesan kalau Sang Raja sedang 'terbang' di atas tunggangannya. Kereta ini hanya dikeluarkan setahun sekali pada tanggal 1 Sura atau 1 Muharam. Kalau dulu digunakan untuk kirab keliling Kota Cirebon, sejak tahun 1942 kereta tersebut keluar dari istananya hanya untuk dijamas atau dibersihkan karena keadaannya yang memang 'sudah tua'. 

Yang membuat beda dengan kereta lain, kereta Singa Barong tidak ditarik oleh kuda sebagaimana layaknya kereta istana, tapi ditarik dengan empat kerbau bule. Saya mengira kereta ini pasti jalannya pelan banget. Hehehe. Berkunjung ke Keraton Kasepuhan Cirebon dan melihat kereta Singa Barong ini sebenarnya menyenangkan karena saya jadi merasa diingatkan untuk selalu percaya pada kemampuan sendiri dan (sebisa mungkin) memanfaatkan sumber daya yang ada di negeri sendiri, hingga saya dihadapkan pada kenyataan: di salah satu sisi kereta ditempatkan bunga untuk sesaji dan kita selalu diingatkan oleh penjaga kereta agar menempatkan uang di sebelah sesaji tersebut.

Kereta Singa Barong, kereta kencana produksi dalam negeri
Yang lebih menyebalkan dari itu semua adalah jika pas berkunjung ke situ bareng dengan rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang piknik di hari Minggu, ruangan penuh sesak hingga saya susah untuk mengambil foto tanpa ada pengunjungnya. Mereka-mereka ini ribut banget rebutan untuk bisa menyentuh kereta dengan harapan keinginannya bisa terkabul. Ya Allah tolong, udah tahun 2011 gitu lho.

Tapi ya sudahlah. Memang demikian kondisi (sebagian) masyarakat Indonesia: kalau kaya raya cenderungnya konsumtif banget, sedangkan yang miskin masih percaya dengan hal-hal yang berbau klenik. Mungkin itu juga yang membuat dukun masih eksis di masyarakat, tayangan hantu-hantuan masih laris menghiasi bioskop kita, seeksis dan selaris butik-butik mewah yang dengan senyum palsunya menawarkan produk-produk pendongkrak citra dengan harga selangit. Mungkin, memang sudah waktunya bagi masing-masing kita untuk menghadiahi diri dengan 'kaca' supaya bisa segera belajar mencintai Indonesia apa adanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar