Kamis, 05 Maret 2015

Suatu Sore di Pasar Gede

.: Pasar Gede Hardjanagara, Solo :.

Meski kota Surakarta mulai dikepung dengan pusat perbelanjaan modern, keberadaan Pasar Gede Hardjanagara tidak lantas ditelantarkan oleh warganya. Pasar tradisional ini masih merupakan pasar terbesar di Surakarta yang memasok bahan kebutuhan sehari-hari seperti daging, sayur, dan berbagai macam bumbu dapur.

Kata 'gede' disematkan untuk tempat ini merujuk pada atap joglo berukuran jumbo yang menaungi bangunan pasar. Pada tahun 1930, seorang arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten berhasil mengawinkan gaya arsitektur Belanda dan Jawa pada fasad bangunan ini sehingga menghasilkan hibrida yang menjadi magnet bagi para arsitek dan turis untuk bertandang, mempelajari keunikan arsitekturnya, atau sekadar mengagumi keindahannya.

.: Santai di Solo :.
Sempatkan untuk mencicipi kuliner tradisional yang disuguhkan di pasar ini sekuat perut Anda menampung. Menikmati sepincuk cabuk rambak, sepiring nasi liwet, dan semangkok es dawet sembari menguping hiruk pikuk orang-orang yang bertransaksi dengan bahasa Jawa 'halus' krama inggil, akan menghadirkan kesan bahwa Anda sedang tersesat di episentrum masyarakat yang menahbiskan diri mewarisi semangat Jawa dalam kehidupan sehari-harinya. Sungguh, suatu pengalaman yang mampu mengolah rasa dan memperkaya jiwa. []

16 komentar:

  1. Pas imlek kemarin aku kesini, tapi enggak sempet masuk ke dalamnya euy~ Alhasil kuliner pun terlewat :( padahal disini itu salah satu tempat berburu kuliner di solo :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu artinya kamu 'diminta' kembali datang ke sini suatu saat nanti. Aku seneng banget makan jajanan pasar dan es dawet telasih di dalam pasar ini. Asli enak dan murah meriah :)

      Hapus
  2. wah bro saya suka jalan-jalan ke pasar, bahkan dulu juga suka belanja, menurut saya pasar meruoakan ciri khas kita, dan di beberapa daerah pasar tidak jauh dari alun-alun yah.. sesuai tata kota Jawa dan budaya kita juga tuh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, tata kota di Jawa biasanya alun-alun dekat dengan pusat pemerintahan, masjid, dan penjara. Pasarnya tak jauh dari pusat pemerintahan itu. Saya juga senang sekali main-main ke pasar :)

      Hapus
  3. Belum pernah saya wisata kuliner ke Pasar Gede. Info yang menarik Mas Adie. makasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk info kuliner Solo, postingannya menyusul ya mas hehehe. Lagi sibuk bingits nih :)

      Hapus
  4. ih aku suka sama bentuk bangunan + menara jam yg di depan *kebiasaan banget, kalo kemana-mana pasti motoin clock tower*

    bangunan Pasarnya juga unik banget sukaaa, ayo dong dikasih pilihan menu-menu kulineran plus fotonya kak (biar ikutan ngiler) *nyuruh orang balik ke Solo* ahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mei, info kuliner Solo akan tampil pada postingan selanjutnya. Aku juga seneng banget main ke pasar ini. Jajanan pasar dan aneka kulinernya enak dan murah meriah :)

      Hapus
    2. aaseeekkkkk, yang banyak yah kak, kalo ga banyak balik ke Solo duluu

      Hapus
    3. Hahaha jangan ngiler lho nanti. Bener-bener puas wiskul di Solo *lap iler* :'))

      Hapus
  5. Aku anak mall kak bukan anak pasar :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha biar kekinian yak? Aku sukak ke pasar, tapi gak mau disebut Sarimin :D

      Hapus
  6. Nek menurut saya Mas... justru Mal2 kuwi yang kudu minggir...Harus distop pertumbuhannya. Karena justru di pasar lah banyak pelajaran2 komunitas akar rumput :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Tapi pemilik modal jauh lebih cihuy menarik minat pejabat yang berkuasa buat ngurus perijinannya. Masyarakat harus lebih waspada dan siap sebagai alat kontrolnya :)

      Hapus
  7. Sudah saatnya pemda melestarikan pasar tradisional yang dimoderenkan daripada memboroskan lahan buat mal. Mal itu cuma menguntungkan yang sudah kaya raya.

    Cabuk rambak seperti apa penampakannya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mas, semoga kota-kota lain yang menuju menjadi kota maju gak perlu bangun mal di kotanya. Cukup pasar tradisionalnya saja yang ditata ulang biar kelihatan bersih dan nyaman.

      Penampakan cabuk bisa digoogling mas, atau nunggu postingan selanjutnya tentang kuliner khas Solo hehehe :)

      Hapus