Senin, 14 Mei 2012

Ngabur ke Bali

Selamat datang di Pulau Dewata
Itulah status teman-teman yang kerap saya baca di situs jejaring sosial saat akhir pekan tiba. Bali seolah menjadi tempat pelarian dari kepenatan hidup di ibukota. Memang sih, ngabur ke Bali saat akhir pekan lebih asyik daripada macet-macetan ke Bandung atau Puncak. Tapi kan, kalau 'hanya' untuk tempat ngabur saja, kenapa mesti Bali? Padahal di Indonesia kan, banyak sekali daerah yang dapat dipilih sebagai weekend gateway destination.

Tapi tak tahu juga ya, kalau dipikir-pikir, Bali itu semacam punya magnet tersendiri yang sanggup mengundang orang untuk datang ke sana. Alamnya yang cantik, pantainya yang indah, budayanya yang masih terjaga, orang-orangnya yang ramah, dan tentu saja, makanannya yang enak-enak. Saya akan heran kalau ada orang yang suka jalan-jalan tapi belum pernah menginjak tanah Bali. Orang kalau berlibur ke Bali rasanya pengen liburan terus. Waktu seakan melambat dan enggan beranjak. Rasanya hidup cuma untuk leyeh-leyeh, tidur-tiduran, makan-makanan yang enak (dan banyak), dan jalan pun pengennya yang pelan tanpa tergesa-gesa diburu waktu.

Meski di akhir pekan, Bali ramai wisatawan, saya selalu mencari cara untuk datang ke tempat-tempat ramai tersebut saat masih sepi pengunjung. Atau paling tidak, kalaupun mau foto-foto, tak banyak 'figuran' yang nongol sebagai latar belakang. Saya senang lari pagi di pantai Kuta. Pantai ini kalau siang dan sore ramainya kayak cendol. Cobalah lari-lari pagi sambil menunggu matahari benar-benar menyengat. Saat seperti itu, pantai Kuta masih sepi. Yang jogging ke pantai kebanyakan adalah bule-bule 'alim' yang tak ikut dugem malam sebelumnya. Itupun seringnya yang udah tua atau sebuah keluarga lengkap dengan anjing peliharaannya.

Sunday santai di sebuah resort di Pantai Dream Land
Kalau sekiranya sudah mulai ramai (banyak orang berdatangan dan pedagang mulai 'buka toko'), saya kembali ke penginapan untuk mandi dan sarapan sebelum menuju ke tempat-tempat wisata menarik yang ada di Bali.
Yang paling menarik sih buat saya tetap pantai, jadi selama di Bali sebisa mungkin menjajah pantai-pantainya yang cantik itu. Standarnya sih selain Kuta adalah pantai Legian dan Seminyak (yang lebih sepi daripada Kuta dan asyik buat motret sunset), Sanur, dan Dream Land. Saat teman-teman asyik main banana boat, paragliding, dan jet sky, saya lebih memilih leyeh-leyeh di pantai atau ngopi-ngopi di warung. Kalau di pantai Dream Land, saya sih paling suka leyeh-leyeh di kolam renangnya sambil memandang laut lepas dari atas tebing. Kesannya mengingatkan kalau saya adalah Makhluk Tuhan yang kecil dibanding alam semesta ciptaanNya.

Selain pantai yang cantik, karena mayoritas penduduknya beragama Hindu, banyak sekali objek wisata berupa pura di Pulau Dewata ini. Sebut saja Pura Tanah Lot. Pura legendaris ini sangat sering digunakan sebagai representasi Pulau Bali dalam kartu pos, kalender, iklan pariwisata, brosur penginapan, dan suvenir-suvenir khas Bali. Saya merasa perlu datang ke Tanah Lot karena, bagi saya, pura ini sangat 'magical'. Dan saking semangatnya ingin narsis ke Tanah Lot sampai-sampai gak nyadar kalau salah kostum. Bukan maksud tidak menghormati pemeluk Hindu yang sedang beribadah di pura, tapi memang waktu itu dipikirnya mau leyeh-leyeh ke pantai saja, gak taunya teman saya ngajak main ke pura. Tapi untunglah, meski saya gak sampai masuk ke dalam pura yang katanya terdapat gua dan sumber air yang dijaga oleh ular-ular berbisa.

Saltum di Pura Tanah Lot

Menurut cerita, pura ini dibangun oleh brahmana dari Jawa bernama Dang Hyang Nirartha yang diusir oleh penguasa Tanah Lot saat itu yaitu Bendesa Beraben yang mulai kehilangan pengikut sejak kedatangan Nirartha. Sebelum pergi, Nirartha membangun pura dari bongkahan batu ke tengah pantai dan mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Mendengar kisah tersebut dari Pak Anom--supir yang mengantarkan saya keliling Bali--saya jadi teringat kisah Salazar Slytherin di buku Harry Potter.

Selain Tanah Lot, Pura Luhur Uluwatu bagi saya juga punya kesan tersendiri. Terletak di atas tebing barat daya Pulau Bali, pura ini dipercaya sebagai penyangga dari 9 mata angin. Awalnya pura ini digunakan untuk memuja pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan yang menurunkan ajaran tentang desa adat dengan segala aturannya. Selain itu, pura ini digunakan pula untuk memuja pendeta suci berikutnya yaitu Dang Hyang Nirartha yang moksa dan ngeluhur di tempat ini. Atas dasar itulah saya mengunjungi dua pura yang memberikan kesan teduh bagi siapa saja yang berkunjung karena antara Pura Tanah Lot dan Pura Luhur Uluwatu mempunyai keterkaitan secara historis.

hening-hening eling di Pura Luhur Uluwatu

Berada di atas ketinggian 97 meter di atas permukaan laut, dengan tembok-tembok kecil sebagai pembatas tebing, pura ini kelihatan seperti benteng suatu kerajaan. Dengan dililit kain (karena saltum tadi), saya berjalan berkeliling menikmati suasana pura yang saat itu penuh dengan turis mancanegara. Karena siang tadi hujan deras, lantai pura yang telah berubin batu tampak licin dan di sana-sini terdapat genangan air. Namun itulah daya tariknya, kita tak perlu kepanasan keliling pura. Saat kaki sudah terasa gempor, saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ini menuju ke pintu keluar melewati undak-undakan yang kanan-kirinya terdapat bunga kamboja. Kata salah satu teman saya, jika bunga kamboja di sini sedang mekar, suasananya seperti di bawah pohon Sakura di Jepang. Jika masih punya banyak waktu, jangan lewatkan pagelaran Sendra Tari Ramayana menjelang sunset tiba. Sayang sekali karena jadwalnya yang tidak matching dengan waktu sholat, saya mengurungkan niat untuk menyaksikan pertunjukan spektakuler tersebut dan memilih menuju ke Jimbaran untuk makan malam.

Makan malam di Pantai Jimbaran :)
Sebenarnya, makan seafood di Jimbaran itu suasananya yang enak. Kalau makanannya sendiri sih biasa saja kayak di Jakarta. Semilir angin pantai, makan bareng teman-teman, dengan diiringi lagu-lagu jazz dari pengamen restoran itu rasanya sesuatu banget. Kayak orang kaya saja sampai-sampai ngasih tip ke pengamen saja jadi gocap karena yang makan banyak.

Kata teman saya, "Malu ah, mau kasih seribu, kita aja makannya di sini." Hadewh.

Ngantuk dan kenyang setelah makan, buat yang capek silakan balik ke penginapan, tapi buat saya the show must go on until tomorrow morning hehehe. Maka, acara pun berlanjut dengan klabbing aka kelayaban bingung bagi orang-orang gila berjiwa muda. Dengan konsep club hopping, saya dan beberapa teman yang malam itu masih on, jalan sambil mampir sana-mampir sini dari satu bar ke bar yang lain dalam hingar bingar dan setengah sadar. Acara selanjutnya .... rahasia.

Outlet Khrisna
Liburan ke Bali, dulu rasanya kurang lengkap kalau belum beli oleh-oleh untuk sahabat dan keluarga. Kalau sekarang, saya sudah jarang beli oleh-oleh. Biasanya, orang yang mau beli suvenir khas Bali akan langsung menuju Pasar Seni Sukowati. Tapi, kalau cuma mau beli kaos Bali atau pernak-pernik berbau Bali seperti topi, jepit rambut, kain, gantungan kunci, dan lain-lain, tak perlulah ke Sukowati, cukup pergi ke galeri Khrisna yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari bandara. Kalau mau kaos Joger, ya langsung saja melipir ke outletnya yang selalu ramai kayak tempat demo. Sebenarnya paling males sih beli kaos di Joger ini. Tempatnya yang kecil, sementara pengunjungnya yang membludak membuat pengunjung jadi uwel-uwelan serasa berada di tribun festival konser dangdut. Jadi, kalau mau beli satu potong kaos oblong, titip saja pada teman biar antriannya gak berjubel dan bikin orang lain sesak napas. Tapi, karena saya sudah merasakan belanja-belanji oleh-oleh di tempat-tempat tersebut, kalau ke Bali lagi kayaknya udah mulai perlu dicoret dari daftar kunjung agar hidup jadi agak sedikit waras. Hehehe.

Tapi, yang gak boleh dilewatkan kalau ke Bali adalah makan nasi pedasnya ibu Andhika. Meski kadang antriannya gak ketulungan tapi masakannya selalu bikin kangen. Saya dan teman-teman sampai hafal 'rumusnya' kalau makan di situ. Makan nasi pedas ibu Andhika itu antrinya 30 menit, makan nasinya 10 menit, dan ngilangin bibir jontornya sehabis kepedesan 15 menit. Rasakan sensasi bibir dowernya hahaha. 

Yang jelas, meski ramai dan terlalu mainstream untuk dijadikan destinasi wisata dalam negeri, bagi saya Bali selalu punya magnet tersendiri yang selalu menarik orang untuk ke(m)Bali mengunjunginya. Tapi, kalau ke Bali lagi, saya pengennya ke daerah Ubud saja atau ke daerah Bali Timur. Kayaknya lebih sepi dan tak terlalu hingar bingar. Jadi, siapa yang mau kabur ke Bali bareng saya berikutnya? #kode ;P

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar