Senin, 14 Mei 2012

Tampil Menarik dengan (m)Batik

koleksi kain batik kesayangan
Saya sedang duduk sendirian di kamar lantai 5 sebuah hotel di Jakarta saat sebuah televisi swasta nasional menayangkan film dokumenter berjudul Batik: Our Love Story karya Nia diNata. Meski dalam keseharian tak lepas dari batik, rasa-rasanya saya belum pernah secara khusus menaruh perhatian pada batik. Berkali-kali menyampaikan keinginan untuk mengunjungi Museum Tekstil Tanah Abang untuk belajar membatik, selalu saja berakhir hanya sebatas niat belaka.

Makanya, entah terbius oleh film atau mungkin hasrat terpendam yang mulai muncul kembali, keinginan saya untuk mempelajari batik mulai tumbuh lagi. Awalnya sih saya iseng-iseng mendata koleksi batik yang saya miliki. Setelah itu, mulailah saya senang browsing-browsing tentang batik, motif yang unik-unik, sampai mengerti bahwa batik sendiri sebenarnya punya dua pengertian. Pertama yaitu batik dimaknai sebagai suatu bentuk seni atau teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Teknik ini sering disebut sebagai wax-resist dyeing. Yang kedua (dan ini merupakan pengertian yang banyak dipahami oleh orang kebanyakan), batik adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik wax-resist dyeing tadi yang di dalamnya meliputi penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki sesuatu yang khas atau unik.

Demi menyalurkan hasrat untuk menyukai dan belajar tentang batik, saya mulai senang mengoleksi baju-baju batik dengan motif-motif yang 'beda' serta mengumpulkan kain-kain batik yang menurut saya unik dan jarang dijumpai di pasaran. Saya juga mulai kepikiran untuk mendesain baju batik sendiri yang berbeda dengan baju batik kebanyakan. Lebih jauh dari itu semua, sudah lama saya ingin belajar membatik.

kompor dan wajan mini untuk memanaskan malam
Beberapa bulan sebelumnya sebenarnya saya sempat berkunjung ke kampung batik Trusmi di Cirebon. Tapi, karena ke sananya rame-rame dan waktunya terbatas, saya tak sempat blusak-blusuk ke tempat workshopnya gara-gara lebih suka berendam di antara tumpukan kain batik yang bikin ngiler untuk dibeli. Namun demikian, pucuk dicinta, kesempatan untuk belajar membatik tersebut datang justru dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah yang sedang promosi wisata di Jakarta dan mengusung workshop batik dari Pekalongan.
Maka, bersorak-horelah saya hari itu bisa belajar membatik tanpa harus ke Cirebon, Pekalongan, Solo, atau Yogyakarta yang memang terkenal sebagai 'basis'nya kampung batik di Pulau Jawa. Membatik itu ternyata prosesnya rumit dan membutuhkan kesabaran yang tinggi. Dari kain mori putih panjang yang disebut kain primis, kita menggambar pola. Pola ini dapat dipilih dari pola-pola yang sudah ada (kita tinggal memindahkan pola-pola tersebut pada kain dengan mengeblatnya) atau bisa digambar langsung sesuai dengan motif gambar yang kita inginkan.

Mencelup malam dalam canting
Pada jaman dulu, motif batik yang umum adalah motif gambar tanaman dan binatang. Setelah itu, mulai berkembang sesuai dengan status sosial dari pemakai batik. Saya masih ingat, nenek saya pernah bilang kalau motif Parang Barong, Parang Rusak, Semen, dan Ukel, hanya boleh dipakai oleh keluarga keraton. Keraton yang dimaksud oleh nenek saya adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Saya sendiri belum pernah melihat motif tersebut sampai suatu ketika, ibu saya menunjukkan kain jarit bermotif Parang Rusak yang dipakai Suzanna dalam film Nyi Roro Kidul yang diputar di televisi.

Seiring masuknya budaya asing melalui interaksi kontak perdagangan, terjadi pula akulturasi motif-motif batik di Jawa. Teman saya dari Pekalongan sering membawa contoh baju-baju batik dengan motif-motif yang sudah bercampur dengan budaya Belanda, Arab, Jepang, Cina, India, dan Melayu seperti batik klengenan dan batik encim yang dipengaruhi oleh budaya China, batik jlamprang yang kental dipengaruhi budaya Arab dan Gujarat, batik pagi sore yang terbentuk dari akulturasi budaya Belanda, dan batik hokokai yang berkembang saat pendudukan Jepang di Indonesia. Tapi, favorit saya adalah batik Lasem yang mempunyai kesan unik, klasik tiada duanya. Apalagi yang ada warna merahnya atau hitam dengan motif berwarna putih. Rasanya elegan sekali saat memakainya. Selain itu, saya juga menyukai motif batik megamendung asal Cirebon. Motifnya yang besar-besar menggambarkan gundukan awan memberi kesan maskulin bagi pemakainya.

Malam cair dan Canting
Anyway, setelah membuat pola selesai, menorehkan malam (lilin) yang sudah dipanaskan pada kompor dan wajan kecil dengan menggunakan canting. Canting inilah yang membuat batik Indonesia memiliki kekhasannya dibanding batik-batik dari negara lain yang biasanya 'hanya' dilukis pakai kuas sehingga pada tahun 2009 mendorong PBB melalui UNESCO melabeli batik Indonesia dalam Representative List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity. Maksudnya, merujuk pada pengertian batik yang saya sebutkan pertama di atas, batik Indonesia diakui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia tak benda karena secara keseluruhan baik dari teknik, motif, penggunaan 'teknologi' dalam pembuatannya, serta keterkaitannya dengan nilai-nilai budaya, batik Indonesia dipandang memiliki kekhasannya sendiri.

Itu artinya, Indonesia bukan merupakan negara satu-satunya yang menjadikan batik sebagai hasil kerajinan negaranya. Jadi, kalau ada yang bilang ada batik Malaysia, batik China, atau batik Thailand, batik Filipina, dan lain-lain, tak perlu sewot atau nyolot karena mereka memang memiliki tradisi membatik juga. Jika menilik sejarahnya, batik mulai dikenal sejak jaman Majapahit yaitu sekitar tahun 1293 hingga 1500. Kala itu, membatik masih dilakukan pada daun lontar. Bukankah dahulu wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit meliputi daerah-daerah yang sekarang bernama Malaysia, Thailand, dan Filipina? Bukankan raja Majapahit pernah melakukan kontak dagang dengan kerajaan Champa dan China?

Biar canting tidak kering
Dari beberapa hubungan sosio kultural dan historis tersebut, tak menutup kemungkinan bahwa di masa lalu hubungan tersebut menimbulkan akulturasi budaya secara turun-temurun hingga saat ini. Dan menurut saya, yang dipertanyakan saat ini adalah apakah orang-orang yang suka protes tentang klaim batik oleh negara lain tersebut benar-benar memakai batik produksi dalam negeri mengingat arus globalisasi saat ini batik produksi China menggempur pasar Indonesia dengan harga yang relatif lebih murah. Sila cek label baju batik Anda saat ini juga untuk sekadar intropeksi diri. :)

tekun membatik meski mbleber-mbleber ;P
Setelah kain bermotif ditutup dengan lilin, saatnya kain diwarnai. Dewasa ini, pewarnaan kain batik secara komersial menggunakan pewarna kimia. Padahal kualitas kain batik yang bagus diperoleh dari kain batik dengan pewarna alami. Nenek saya dulu sering mengumpulkan buah-buahan atau kulit-kulit kayu tertentu yang digunakan untuk mewarnai kain batiknya. Nenek saya dari pihak bapak adalah seorang pembatik. Beliau suka membuat batik sendiri atau menjadi rewang (membantu) membatik bagi para tetangga yang menjadi saudagar batik. Sayang sekali, dari anak-anak, cucu, dan cicitnya, sepertinya cuma saya yang menaruh perhatian pada kain-kain batik. Kalau melihat kain peninggalan nenek tersebut, betapa kain batik yang dibuat dengan pewarnaan alami mampu bertahan hingga saat ini jika perawatannya benar. Untuk hasil maksimal, kalau saya sih biasanya tidak mencuci kain batik yang bagus dengan sabun atau pakai mesin cuci. Tapi cukup dicuci pakai tangan dengan sabun mandi atau sampho dan dikeringanginkan (tidak kena sinar matahari langsung) agar warnanya tidak cepat pudar.

Setelah dilakukan pewarnaan, kain dikeringkan dengan diangin-anginkan. Jika menginginkan lebih dari satu warna, maka bagian yang telah diwarnai mesti ditutup dengan malam agar warnanya tidak bercampur. Lalu dilakukan pewarnaan lagi, begitu seterusnya sampai mendapatkan motif batik dengan warna yang diinginkan. Begitu selesai diwarnai dan dikeringkan, kain batik yang masih mengandung lilin tadi direbus untuk menghilangkan semua lilin yang menempel. Setelah itu dibilas dengan air bersih dan dikeringkan lagi dengan diangin-anginkan. Dan, voila, selembar kain batik dengan motif cantik telah selesai diproduksi.

Voila, selembar kain batiknya sudah jadi :)

Kalau dipikir-pikir, setelah mengikuti workshop membatik ini, saya baru sadar bahwa pada dasarnya motif dan warna dari kain batik yang menjadi hasil akhir dari keseluruhan proses membatik ini merupakan 'pengantar pesan' berupa simbol-simbol tertentu yang menjadi ide atau imajinasi dari pembuatnya. Bayangkan, saat belum ada motif yang menjadi pakem dan tinggal diblat, pengrajin batik harus berpikir keras untuk menciptakan kreasi-kreasi motif. Jaman dulu sih, motif-motif tersebut diadaptasi dari gambar-gambar yang dipengaruhi oleh legenda-legenda daerah, mitos, hingga aliran kepercayaan dalam animisme dinamisme, dan legenda-legenda dalam ajaran agama Hindu dan Budha yang berkembang di Nusantara sehingga dapat dipahami bahwa pada dasarnya, tak ada motif batik yang benar-benar sama. Batik-batik pesisiran (terutama di daerah pantai utara Pulau Jawa), motif-motifnya diinspirasi dari latar kehidupan keseharian. Misalnya, yang suaminya bekerja sebagai nelayan, sang istri yang bekerja sebagai pembatik terinspirasi untuk membuat motif batik dengan gambar ikan, udang, perahu, atau gambar nelayan. Fyi, saat ini saya sedang tergila-gila mengoleksi batik dengan motif gambar yang berbau-bau hasil laut.

Hal-hal itulah yang membuat batik mampu bertahan jadi identitas bangsa Indonesia sekaligus sebagai lambang adibusana yang merakyat karena dalam selembar kain batik Indonesia akan terurai banyak cerita di dalamnya yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, dahulu hingga kini. Seiring dengan perkembangan jaman, budaya kontemporer masa kini turut meramaikan motif batik seperti adanya batik bermotif klub sepak bola yang mulai menjamur di pasaran saat ini.

Berbagai motif dasar batik yang menawan ;)

Pulang dari kegiatan membatik, saya bongkar-bongkar isi lemari sekadar mencocokkan apa yang dikatakan mbak-mbak instruktur pelatihan membatik tentang motif-motif pada batik. Secara umum memang warna dasar batik yang digemari ada empat macam yaitu hitam, putih, cokelat, dan biru. Bagi orang Indonesia, khususnya Jawa, warna-warna dasar tersebut semuanya mengandung perlambang. Warna hitam menunjukkan kewibawaan dan percaya diri. Warna putih mewakili sifat kesucian dan ketenteraman hati pemakainya. Cokelat (sebagai warna dasar paling umum dan paling mudah dijumpai di pasaran) menunjukkan sifat sederhana dan andhap asor (rendah hati). Sedangkan warna biru menjadi lambang sifat ketenangan dan kedamaian hati pemakainya.

Eksekutif muda dengan batik luriknya

batik saat lunch meeting dengan kolega

Batik saat Hari Kartini

Mengetahui hal-hal tersebut di atas, saya merasa beruntung memiliki semuanya. Di luar itu semua, mengetahui filosofi batik Indonesia yang begitu luhur, memakai batik buatan Indonesia membuat saya merasa benar-benar sangat Indonesia dan semakin percaya diri untuk mengenakan batik dalam berbagai kesempatan.

3 komentar: