Jumat, 31 Oktober 2014

Finding Innerpeace

.: Leyeh-Leyeh di Penginapan Freddie's Santai, Sumur Tiga :.
"Leyeh-leyeh."

Itulah jawaban terbaik yang bisa saya sampaikan kepada salah seorang teman yang begitu ingin tahu, untuk alasan apa sebenarnya saya jalan-jalan. Saya memang bukan orang melankolis, yang melakukan perjalanan untuk tujuan semisal menemukan jati diri atau sejenisnya. Saya jalan-jalan karena memang ingin jalan-jalan.

Awalnya karena ingin melihat lebih dekat segala sesuatu yang saya lihat di televisi atau saya baca di surat kabar. Selebihnya, hal-hal tertentu datang sebagai komplimen terhadap kesukaan saya akan jalan-jalan yang sifatnya lebih personal. Maksudnya, mungkin kesan yang saya tangkap tentang suatu tempat bisa jadi berbeda dengan apa yang dirasakan oleh pejalan lain.

Seperti saat bertandang ke Aceh. Tujuannya adalah mengunjungi Mesjid Raya Baiturrahman yang saya lihat dari sebuah tayangan adzan magrib di televisi. Selain mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan, saya sempatkan untuk melaksanakan sholat di sini. Saya merasa tempat ini begitu tenang dan mengundang rasa khidmad. Setidaknya, di masjid sebesar ini, saya tak merasa perlu terlalu khawatir untuk kehilangan sandal meski hari itu sedang dilaksanakan sholat Jumat, di mana jamaahnya banyak sekali.

Selain masjid raya, saya menemukan ketenangan saat menyambangi Pulau Weh. Pulau yang terserak di ujung nusa Sumatera ini seperti menawarkan oase yang menenangkan. Saya menginap di sebuah penginapan mungil berdinding anyaman bambu yang langsung menghadap pantai. Pada pagi harinya, saya bisa langsung bebas menikmati udara sejuk pantai, hangatnya sinar matahari pagi, sekaligus lari pagi di pasir putihnya yang lembut. Di tempat ini, saya juga dengan leluasa bisa tidur-tidur santai tanpa harus melakukan apa-apa diburu waktu. Bukankah itu yang semua orang cari saat liburan?

.: Suatu Sore di Dreamland Hotel & Resort :.
Lain di Aceh, lain pula di Bali. Saya pikir semua pejalan punya satu kenangan akan perjalanan yang dilakukan ke Pulau Dewata. Saya senang main ke Bali gara-gara pulaunya menawarkan garis pantai yang panjang dan beberapa tempat ekslusif yang sepi.

Meski sekarang terkenal sesak, pantai Kuta tetap layak disapa saat pagi dan masih sepi untuk sekadar tempat lari. Dan jika banyak orang bilang kalau Bali sudah penuh dan ramai, saya pikir, dengan menginap di hotel-hotel tertentu yang menawarkan pengalaman ekslusif menikmati keheningan dengan jumlah tamu terbatas, saya tetap bisa mendapatkan perasaan rileks yang menenangkan dan sanggup mengembalikan semangat bekerja saat kembali ke kantor.

Mungkin apa yang saya alami, banyak dialami juga oleh para pekerja muda di belantara Jakarta. Hari kerja terasa begitu menyita waktu. Bertemu banyak orang dengan karakteristik dan latar belakang yang berbeda. Melakukan pembicaraan dan dialog dengan beberapa pejabat daerah. Membuat janji bertemu atau koordinasi untuk mengadakan suatu acara. Selain itu, masih ada sederet tagihan untuk menyiapkan laporan sebagai sebentuk tanggung jawab atas terlaksananya suatu kegiatan yang sudah diagendakan. Meski semuanya bisa saya laksanakan dengan santai hingga selesai, tapi jika intensitasnya sangat kerap, saya pikir rasa kebosanan bisa melanda kapan saja.

.: Suatu Siang di The Beach House, Gili Trawangan, Lombok :.
Tapi saya tetap menolak bahwa kebiasaan jalan-jalan merupakan sebuah pelarian dari kesibukan bekerja. Saya tidak perlu merasa harus lari dari permasalahan dan (secara sadar) berani menghadapinya untuk kemudian berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Jalan-jalan saya anggap sebagai sebuah penyeimbang saja terhadap rutinitas pekerjaan. Saya bisa saja seharian berada di penginapan. Hanya tidur, leyeh-leyeh, makan-makan, dan sesekali melemaskan kaki sembari menghidup udara segar dengan berjalan-jalan ringan di sekitar penginapan. 

Salah satu pulau 'ramai' yang menawarkan ketenangan adalah Gili Trawangan. Serupa Bali, Gili Trawangan penuh dengan bule yang (katanya) merasa bosan akan Bali yang bising. Jadi, mereka seperti memindahkan kebisingan di Bali ke pulau mungil di barat laut Lombok ini. Sudah pengalaman dengan keadaan di Bali, saya menginap di salah satu penginapan lumayan bagus di Gili Trawangan yang menawarkan kenyamanan akomodasi dan ketenangan suasana. Intinya, meski pulau ini kalau malam begitu bising penuh pesta, saya tetap bisa merayakan keheningan karena tempat tidur yang saya pesan, jauh dari pusat hingar bingar pesta.

.: Menggapai Puncak Gunung Gede :.

Selain menyepi di penginapan-penginapan yang menawarkan ekslusivitas, naik gunung merupakan aktivitas lain yang saya sukai demi memburu sebuah ketenangan batin. Kegiatan ini menjadi terapi paling efektif bagi saya untuk belajar melesapkan segala atribut apapun yang melekat dalam diri saya sekaligus segala keterikatan dengan benda yang membuat ketergantungan dalam hidup. Saya tak perlu merasa risau tidak update informasi tentang berita di ibukota dan kehilangan sinyal telepon seluler.

.: Menggapai Puncak Anak Gunung Krakatau :.
Saat berada di gunung, saya merasa pikiran begitu bebas dan ringan. Mungkin masih banyak yang belum mengerti dan mendapatkan jawaban memuaskan mengapa orang begitu senang naik gunung. Sudah capai-capai merangkak ke puncak, begitu sampai, mengendap-endap untuk turun lagi. 

Bagi saya, bukan sebuah kewajiban untuk memberikan jawaban memuaskan. Jawaban terbaiknya hanya dapat diperoleh dari sebuah pengalaman personal. Saya juga tak berusaha memaksa orang yang bertanya tersebut mencari tahu sendiri pengalaman yang saya maksud jika orang tersebut memang tidak benar-benar menginginkannya. Ketenangan batin dan kepuasan personal hanya dapat dirasakan melalui sebuah proses mengalami dengan ikhlas, bukan proses mengalami karena sebuah paksaan atau tendensi.

Memang, yang harus dipahami juga adalah selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap kepuasan yang didapat. Namun begitu, tak semuanya harus dinilai dengan harga yang sangat mahal. Bisa jadi, ketenangan batin dan kepuasan personal dapat diperoleh dari belakang rumah sendiri atau dari tempat kita bermula. Bisa juga dari kesukaan kita akan sesuatu semisal naik gunung, nonton film, atau mengoleksi perangko. Tapi, ada satu kesimpulan kecil yang diam-diam saya amini bahwa kampung halaman juga merupakan salah satu tempat yang menawarkan ketenangan batin. Ada keluarga. Ada kepingan kenangan. Ada banyak cerita yang bisa dikisahkan. Saya merencanakan suatu saat akan kembali ke sana untuk melanjutkan hidup dan merangkai kembali kepingan kenangan tersebut menjadi sebuah cerita utuh yang menggenapi kisah hidup saya.

.: Leyeh-Leyeh di Teluk Lampung :.
Di luar itu semua, sampai saat ini, saya masih menyukai serangkaian perjalanan menyambangi tempat-tempat di seluruh pelosok nusantara untuk sejenak mencicipi pengalaman yang ditawarkan oleh masing-masing daerah tersebut. Benang merah dari semuanya masih sama seperti saat saya membangkitkan kembali semangat menjelajahi negeri ini beberapa tahun lalu yaitu leyeh-leyeh saja. Bersama dengan kesukaan saya yang lain yaitu membaca buku sembari sesekali menulis catatan-catatan ringan, menikmati secangkir teh manis atau segelas kopi di sebuah kedai favorit akan tetap menjadi agenda wajib di kala sibuk maupun senggang.

Sebagaimana nasihat para orang tua dahulu bahwa hidup itu harus seimbang, saya pikir jalan terbaik untuk menjaga keseimbangan tersebut adalah dengan konsisten melaksanakan apa yang menjadi kewajiban sekaligus kesenangan kita secara bersinergi. Saya yakin semua orang setuju untuk menggelontorkan dananya (meski tidak semua orang mau membuat pilihan ini) demi mendapatkan kesehatan dan ketenangan pikiran melalui cara-cara yang kita senangi, daripada harus menyerahkannya kepada kasir sebuah rumah sakit atau dokter untuk mengembalikan kesehatan yang entah sengaja atau tidak, berusaha kita rusak sendiri. Tak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup ketika kita sedang berada dalam keadaan sehat dan bisa merasakan ketenangan batin melalui cara-cara baik yang dipilih dengan kesadaran penuh. Selamat mengalami. []

16 komentar:

  1. suka baca postingan ini ;)

    Emang mas, jalan2 mah buatku itu udh wajib hukumnya harus ada tiap tahun... pokoknya pergi aja ketempat yg aku blm pernah datangin sebelumnya...

    buatku sih, udah jenuh capek penat ama kerjaan dikantor, ga ada salahnya kan bikin pikiran freh dan rilex lagi dgn suasana baru..makanya tiap kali cuti, aku lbh suka ambil jatah cuti setahun dalam 1 waktu :).. jd puassss bgt liburannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh enak banget itu cutinya bisa diambil sekaligus. Intinya sih, harus imbang. Jangan kerjaaaa mulu. Liburan juga penting, untuk penyeimbang hidup dan penenang pikiran hehehe :)

      Hapus
  2. Kalau aku termasuk jarang banget jalan-jalan, Mas. Soalnya tipe anak rumahan sih, hehe.... Tapi kalau baca atau dengerin cerita seru dari orang yg habis jalan-jalan, ya seneng juga.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, dicoba deh jalan-jalan Dit. Seru lho bisa mengalami sendiri :)

      Hapus
  3. ini kompilasi jalan2 narsis ya? hahahaaa.. tapi keren lah udah bnyk koleksi foto nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha bolehlah kalau dibilang begitu. Misi terselubung kayaknya hehehe. Tapi kalau ukurannya koleksi foto, punya udah lebih dari 80-an Gb. Iya, narsis akut kak :D

      Hapus
  4. Wah udah sampai di Aceh :-)
    Kerenn...

    BalasHapus
  5. pengen deh jadi traveller blogger. sayangnya belum bisa kemana-mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan-jalan tidak harus ke tempat yang jauh. Terkadang, kisah-kisah menarik justru hadir di belakang rumah kita sendiri. Belajarlah untuk lebih peka dan membuat sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan di sekitarmu :)

      Hapus
  6. adie, mau nanya..apa maksud "leyeh-leyeh" ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Leyeh-leyeh means doing nothing. Gak ngapa-ngapain, cuma duduk-duduk atau tidur-tiduran santai saja :)

      Hapus
  7. Kalo leyeh2 di pantai itu mesti pake celana renang kak, bukan baju lengkap. Jadi mana pose mu yg pake kancut ??????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah, jangan pengaruhi aku ke jalan yang salah kak. Ampuuuun :D

      Hapus
  8. Saya juga bukan orang yg traveling untuk jati diri :V saya traveling karena ingin liburan, santai dan suasana berbeda yg intinya leyeh-leyeh juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang kebanyakan orang cari sebenernya :)

      Hapus