Minggu, 05 Oktober 2014

[Behind The Scene] Kisah di Balik Foto

.: Foto Sejenak di Batu Bolong Cottage, Senggigi, Lombok :.
Saat mengunggah foto di media sosial, saya kerap mendapat pertanyaan atau komentar begini, "Teman-temanmu baik semua ya, mau ngeladenin kamu foto-foto narsis."

Saya hanya mengiyakan saja sembari menimpalinya dengan jawaban, "Iya, kan gantian. Saya juga dengan senang hati bersedia memotret mereka sesuai dengan gaya yang mereka mau. That's what friends are for (salah satunya), selain buat patungan uang jalan." Cukup rasional, bukan?

Tapi, setelah mendapat pertanyaan tersebut, saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Maksudnya, saya pikir, foto-foto yang saya unggah umumnya adalah foto-foto yang 'biasa', dalam artian, semua orang bisa punya kesempatan yang sama berfoto di tempat tersebut. Mungkin hanya gaya berfotonya saya saja yang lebih bervariasi. Itupun alasannya juga berasal dari komentar teman-teman di media sosial, baik yang saya kenal secara personal di dunia nyata, atau hanya sekadar akrab di ranah maya. Mereka bilang, "Gayanya jangan begitu-begitu aja dong. Bosen." Gila, komentar gaya foto udah kayak komentar adegan ranjang saja. Euwh.

.: Siapa bilang lampu merah selalu identik dengan perempatan? :.
Begitu banyaknya komentar senada yang dilayangkan oleh para fans fanatik (cuih), tentu saja saya mulai memutar daya kreativitas untuk mencari gaya atau pose foto yang (menurut saya) unik agar lebih variatif. Biasanya memang tidak ada konsep khusus yang sudah direncanakan di awal. Ide semua gaya di foto-foto saya, muncul begitu saja mengikuti latar tempat di mana saya ingin difoto.

Seperti misalnya, saat melihat lampu merah, entah mengapa naluri saya untuk berfoto langsung menyala di kepala. Mungkin karena saya berpikir bahwa ternyata, lampu merah itu tidak selalu identik dengan perempatan atau pertigaan, atau simpang lima. Di jalan lurus pun ada lampu merah.

.: Ngangkangin Fotographer :.
Selain itu, saya juga berpikir bahwa foto-foto yang diambil di dalam masjid kebanyakan foto dengan latar kubah atau jamaah yang sedang ibadah. Tapi, begitu saya melihat lubang-lubang sirkulasi udara di Masjid Istiqlal, saya kok tiba-tiba ingin difoto dengan latar tersebut.

Untuk mendapatkan gambar dengan efek dramatis yang sedikit unik, sudut pengambilan gambarnya harus dari bawah, yang mana mengharuskan orang yang mengambil foto dalam posisi saya kangkangi biar tidak perlu menggunakan teknik zooming terlalu banyak.

Dan setelah melihat hasilnya, kembali harus saya amini kata-kata teman saya yang berkomentar di atas bahwa teman-teman jalan saya sungguh baik hati dan tidak sombong, rela mengambilkan gambar saya dengan sepenuh hati tanpa paksaan dari siapapun. Sungguh, Tuhan bersama para orang-orang narsis yang banyak maunya. :D

Ada banyak sekali momen-momen yang menghadirkan ide cemerlang saat berfoto diri. Kadang-kadang, momen tersebut hanya terjadi dalam beberapa saat tanpa kita bisa ulang kembali. Momen seperti itulah yang saya rasa bisa membuat foto-foto diri tampak terlihat istimewa dan patut untuk dikenang. Padahal sebenarnya foto yang dihasilkan sebenarnya biasa saja.

.: Aku kotor kak :'( :.
Contohnya, dalam suatu kesempatan menjelajah rimba Kalimantan beberapa bulan lalu, saya melihat ada sebuah jembatan kayu panjang menuju Pondok Tanggui, Taman Nasional Tanjung Puting. Jembatan itu panjang sekali menuju ke tengah hutan. Belum ada satupun orang yang lewat sehingga tidak ada 'iklan' yang akan terlihat sebagai latar. Saya pun meminta tolong kepada salah seorang teman-yang-baru-kenal-di-hutan, untuk mengambilkan gambar.

Mungkin karena menurutnya saya ini lucu dan cukup menghibur selama perjalanan, sehingga tanpa berkeberatan teman saya tersebut segera menyanggupinya. Begitu saya pasang pose tidak senonoh yang menurutnya tidak biasa, tiba-tiba saja dia tersenyum dan tertawa terbahak-bahak.

Setelah kesadarannya pulih, dia kembali fokus untuk memotret saya. Dan menurut saya, foto yang dihasilkan sangat unik seperti orang sedang leyeh-leyeh di tempat antah berantah tanpa ada orang lain. Efeknya, setelah saya sadar dari euforia jalan-jalan di Taman Nasional Tanjung Puting, saya merasa 'kotor' sekali setelah tahu dipotret oleh banyak orang yang ada di situ. Yang lebih membuat malu, yang memotret saya waktu itu adalah seorang perempuan. Oh, Tuhan, malunya saya. Tapi, sebagai seorang model profesional papan atas Indonesia, saya harus selalu percaya diri dalam melakukan setiap sesi pemotretan. Saya pikir, semua orang akan setuju dengan hal ini.   

.: Cameraaaa, Action! :.
Kejadian di Taman Nasional Tanjung Puting bukanlah momen pertama saya diambil fotonya oleh seorang perempuan. Setidaknya, saya pernah difoto oleh perempuan itu saat bertandang di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, di Tana Toraja dan Tanjung Bira, Sulawesi Selatan, di Candi Prambanan, Jawa Tengah, dan terakhir di Gunung Anak Krakatau. Setidaknya itulah perempuan-perempuan cantik baik hati yang saya ingat.

Dan sebagai tips, mereka ini cenderung baik hati dan ringan tangan membantu orang. Tapi hukum resiprokal tetap harus dijalankan, saya juga dengan senang hati mengambilkan gambar sesuai dengan keinginan perempuan-perempuan cantik itu. Bukannya modus, tapi jujur, biasanya saya juga mengambil gambar mereka satu atau dua frame sekadar sebagaik kenang-kenangan. Orang baik memang layak dikenang, bukan?  

Tapi ada kalanya saya merasa kebingungan harus mengambil foto diri saat sedang jalan-jalan seorang diri. Sudah bertahun-tahun saya mengasah kemampuan berfoto di depan kamera dengan mode self timer. Beberapa hasilnya sungguh membuat saya tercengang. Tapi ada juga yang masuk kategori dibuang sayang karena ada efek memberikan kenangan bahwa tidak semua tempat bisa membuat kita leluasa mengambil gambar dengan mode self timer di kamera. Tempat-tempat berbukit dan berbatu terjal adalah salah satunya. Untuk itu saya dengan terpaksa meminta pertolongan kepada siapa saja yang sedang lewat di dekat situ.

.: Siapakah yang sedang motret saya? :.

Saya pernah meminta tolong untuk mengambilkan gambar kepada seorang penyabit rumput saat sedang gowes di tengah hutan di Nganjuk, Jawa Timur. Pernah juga kepada anak kecil yang sedang naik sepeda di pantai Pangandaran, Jawa Barat. Suatu ketika saya juga pernah meminta diambilkan gambar pada seorang tukang kebun di penginapan Freddie's Santai, Sumur Tiga, Pulau Weh, Aceh. Untuk mendapatkan gambar yang diinginkan, biasanya saya memberikan contoh singkat bagaimana sebaiknya saya difoto, dari arah mana mengambilnya, pakai zooming berapa, dan sebagainya. Dan sungguh ajaib, foto-foto yang dihasilkan, 90% sesuai dengan foto yang saya inginkan.

.: Artis Ibukota Wajib Foto di Sini :.
Sampai saat ini, saya bersyukur bisa bertemu dengan orang baik hati di perjalanan. Saya tidak ingin menilai diri sebagai orang yang sangat baik. Tapi konon, orang-orang yang kita temui sepanjang perjalanan merupakan bagian dari refleksi sifat-sifat yang ada dalam diri kita.

Dan sebagai bonusnya, saya jadi berpikir sekali lagi. Mungkin foto-foto saya biasa saja. Tapi foto-foto diri yang menurut teman saya punya gaya yang unik dengan pose yang tidak biasa itu, mendorong mereka mengabadikan momen saat saya diambil fotonya karena dianggap lucu dan menghibur. Untuk itulah, saya punya postingan dengan gambar-gambar seperti di atas, yang mungkin tidak dimiliki oleh orang paling narsis sekalipun. Dan jika ada orang yang melabeli saya dengan orang paling narsis, saya akan dengan percaya diri mengoreksinya. Saya memang narsis, tapi narsisnya sangat serius dan punya konsep. Setuju? :D []

18 komentar:

  1. Hmmm, jujur saya tidak begitu memperhatikan gayamu pas difoto Bro. Yang justru menarik perhatianku malah... kumismu... wakakakak :D

    Saya sendiri malah kurang seneng berpose seorang diri pas mengunjungi suatu tempat. Kalau pun terpaksa ya pakai self-timer, dipotret dari sisi belakang tanpa menunjukkan wajah ke kamera. Doyan motret tapi ga seneng dipotret, hehehe. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakakak edisi kumis udah lewat. Kumis dipotong dengan brutal per tanggal 30 September 2014.

      Ya itulah, makanya disebut narsisnya serius dan berkonsep :P :D

      Hapus
  2. Klo saya solo traveling kawan terbaik saya adalah tripod hahaha,,, rasanya sudah nggak percaya sama orang lain buat moto,,, hasilnya pasti blur hahaha... tapi klo orang lain minta bantu pasti makasih mkasih soalnya hasil jepretanku keren haha...

    Masih sama temen juga kadang malesin karena mereka juga gak jago urusan jepret walau sudah diarahkan haduh..

    hanya beberapa teman yang keahliannya sy percaya buat jepret,, klo sudah gitu tripodlah paling keren :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau Solo traveling emang lebih Ok pakai tripod, tapi kalau ketemu penduduk setempat sih lebih baik minta tolong difotoin, sekalian biar membaur gitu. Halah :D

      Hapus
  3. Foto ke-4 udah mirip banget kaya Cumi lebay kak?! :D

    Jgn lupa mampir ke www.travellingaddict.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, berarti aku kotor banget dong kak? Hahaha. Padahal kan aurat masih ketutup. Kalau Cumilebay kan cuma modal kancutnya yang legendaris itu wkwkwk *kabuuuuur* :P

      Hapus
  4. ampuun foto di yen-yen -_- . Agato

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dipaksa foto dengan artis ibukota wkwkwk :P

      Hapus
  5. Dulu waktu saya mulai traveling pasti ada aja foto narsisnya. Kemudian makin kesini makin males, lebih milih di belakang kamera aja.

    Tapi pada akhirnya tersadar, suka atau tidak suka, kalian harus punya foto narsis di tempat tujuan. Kenapa? Untuk foto profil di blog atau majalah itu penting, beneran!

    *kasusnya gara2 diminta foto profil untuk suatu majalah, setelah obrak-abrik folder baru ketemu deh tuh foto narsis di Lombok, itu pun tahun 2012 silam

    *harus rajin2 foto narsis mulai sekarang #tekad

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu lagi bukti bahwa foto narsis itu penting hahaha.

      Tapi, kalau foto narsisnya udah lebih dari 64Gb kayak punyaku gimana dong kak? Aku kudu piye? Hahahaha *pengakuan*

      *digampar ramai-ramai* :') :P

      Hapus
  6. Kalo aku sih mas foto gantian ama pasangan soalnya punya pasangan sih. Udah gitu aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakak ampuuuun, simbok komene menyakitkan. Tega kau menusuk hatiku mbok. Aku rapopo wis :'(

      Hapus
  7. Di cameraku malah jarang ada foto diriku, kalaupun ada pasti kurang bagus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah, masa sih? Kalau aku sih sekarang agak proporsional. Jadi foto diri tetap ada meski foto-foto tentang tempat porsinya lebih banyak. Kalau jaman dulu, wah semua foto tempat, pasti ada model gantengnya hahaha :D

      Hapus
  8. Kalau aku termasuk jarang foto-foto, Mas. Dan kalau pas foto-foto, biasanya gayanya itu-itu aja. Pengetahuanku tentang gaya berfoto masih minim banget, hahaha....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha sering-seringlah mematut diri di depan kaca #lifeguide :P

      Hapus
  9. Kalo nemu kawan seperjalanan yang sealiran emang asyik bisa foto-foto narsis n diajak pose gila, tapi karena sering jalan sendiri akhirnya cuma ngandelin mode self timer. mentok kalo susah akhirnya cuma foto kaki hihihi.

    betewe salam kenal, mas. ini kunjungan perdana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, sama kok, seringnya saya emang pakai mode self timer di kamera karena kebanyakan jalan sendiri. Tapi kalau pas lagi jalan rame-rame emang banyak foto narsisnya hehehe.

      Btw, salam kenal juga. Thanks for coming :)

      Hapus