Rabu, 15 Oktober 2014

Kelana Krakatau

.: Anak Gunung Krakatau :.

Apakah yang paling membuat hidup tidak tenang selain memerhatikan sebuah rumor dengan serius? Apakah yang paling membuat tidur tak nyenyak sebelum pendakian selain mendengar kabar burung yang simpang siur? Pendakian kali ini sudah lama saya tunggu-tunggu kesempatannya sekaligus paling membuat saya was-was. Hal ini karena tiap hari Anak Gunung Krakatau masih mengenduskan asap belerang di puncak kepundannya. Selain itu, hampir semua orang yang saya mintai informasi mengatakan kalau menjejak Anak Gunung Krakatau sangat tidak aman. Sandal japit bisa meleleh seketika. Berada di atasnya serasa berada di atas panggangan bara api.

Informasi tersebut diperparah dengan memori kolektif yang saya ingat pernah baca dari buku dan majalah. Bumi pernah luluh lantak karena amukan gunung ini. Konon, bunyi gelegarnya sampai terdengar hingga Australia dan India. Bahkan, stasiun pencatat gempa yang bercokol di Washington pun tak ketinggalan mencatatnya. Berkaca pada tragedi tsunami di Aceh tahun 2004 dan peristiwa erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah tahun 2011 silam, saya membayangkan bahwa letusan gunung Krakatau tahun 1883 merupakan kombinasi dari keduanya, meski dengan skala yang jauh lebih besar.     

.: Anggrek Hutan :.
Langit berubah hitam. Angin memorak-porandakan daerah pesisir pantai. Banyak korban berjatuhan. Dan tsunami tak dapat ditolak lagi. Semua luluh lantak seolah menjadi sebuah penanda dan bukti kejumawaan alam semesta. Seorang penulis Inggris, Simon Winchester dalam bukunya menyebutkan bahwa saat tragedi tersebut berlangsung merupakan hari di mana bumi meledak.

Fenomena yang terjadi pasca letusan juga tak kalah mencekamnya. Bumi seakan ditutupi debu sehingga sinar matahari sulit menembusnya. Siklus musim di Eropa dan Amerika konon bergeser. Yang lebih mengerikan lagi, wabah sampar menyebar di mana-mana. Dan 131 tahun pasca erupsi dahsyat tersebut, saya berusaha menjejaknya dengan segenap tenaga.

Gunung Krakatau telah menjadi legenda. Namun demikian, sang anak yang muncul di atas permukaan laut 87 tahun silam menerbitkan semangat dan godaan baru untuk dijamah. Pagi itu sungguh murung. Perahu yang akan saya tumpangi gagal mengangkat sauh selama lebih dari sejam akibat dasarnya tertimbun pasir akibat laut surut. Pulau Sebesi, pulau terdekat yang berpenghuni tampaknya enggan melepas saya terlalu pagi. Setelah terombang-ambing selama 2 jam dalam perahu kayu, saya berhasil mendarat di pantai Anak Gunung Krakatau yang berwarna hitam.

.: Hamparan Pasir Gembur yang Panas :.

Saya tak merasa berada di atas sebuah gunung saat menjejaknya, tapi serasa di atas sebuah pulau. Suasananya sungguh tenang. Angin bertiup sepoi-sepoi membelai pepohonan dan jiwa-jiwa yang haus petualangan. Sebuah pos Balai Cagar Alam berdiri dengan fasilitas sangat minim untuk tempat peraduan para jagawana perhutani. Setelah mengikuti briefing singkat dari petugas jagawana, saya dipersilakan untuk memulai pendakian.

Sebuah hutan mini tumbuh rimbun di kaki Anak Gunung Krakatau ini. Vegetasinya didominasi oleh hutan pinus yang membuat saya mendadak seperti seorang Quileiteian saat berada di tengah-tengahnya. Saya juga menemukan beberapa varietas anggrek hutan bergelayut di batang-batang pohon. Sebuah jalan setapak membelah hutan ini dengan sangat serampangan yang mengantarkan saya pada hamparan pasir lapang tempat pendakian benar-benar dimulai. 

.: Lanskap Pendakian Anak Gunung Krakatau :.

Pasir di bawah kaki saya memang gembur. Saya langsung teringat dengan pasir kali untuk bahan bangunan. Pikiran yang lain mengantarkan saya pada pasir-pasir panas media penggorengan kerupuk. Pasir ini memang panas dan berpotensi menciptakan debu penyebab sesak napas. Saya melanjutkan pendakian sambil sesekali mencari pijakan batu untuk berhenti sejenak.

Tetumbuhan absen di lautan pasir vertikal dengan sudut kemiringan 40 derajat ini. Jika cuaca terik, peluh di tubuh memang tak dapat dihindari. Sungguh bijaksana membawa persediaan air minum untuk diangkut serta ke atas. Meski sangat masuk akal untuk memulai pendakian di pagi hari demi sebuah kenyamanan, rumor sandal meleleh sungguh alpha dari kenyataan. Pasir ini memang panas dan tidak disarankan berjalan tanpa alas kaki saat matahari sudah terik. Tapi yang pasti, panasnya tak sampai membuat sandal jepit meleleh.

.: Mendaki, Menuju Puncak :.
Seperti saya yang masih dalam masa pertumbuhan, sejak muncul ke permukaan, Anak Gunung Krakatau terus tumbuh hingga mencapai ketinggian 230 mdpl. Dindingnya dipahat dengan taburan bebatuan dan material vulkanik perut bumi.

Sepanjang pendakian, saya 'menemukan' berbagai macam jenis batuan yang komposisi dan nama-namanya pernah masuk dalam ingatan pelajaran IPA saat di bangku sekolah dulu. Ada batu berwarna merah, hitam, dan kuning. Material terakhir dengan mudah saya identifikasi sebagai batuan belerang. Beberapa batu masih kelihatan mengepulkan asap. Beberapa batu yang lain terlihat menampakkan pori-pori sisa pelepasan gas saat proses pendinginan. Saya curiga, dalam suatu masa saat gunung ini sedang berkontemplasi, material dari perutnya kerap terlontar sampai di titik tempat saya menjejak saat ini.

Saya meloncat dari satu batu ke batu lain membentuk jalur pendakian zig-zag, demi menghindari sering terbenam dalam pasir gembur dengan mendaki langsung secara vertikal. Selain memungkinkan saya untuk mengeksplorasi semua sisi lebih intens, pendakian seperti ini lebih membuat rileks. Di lereng bagian atas, ada satu titik yang dinamai dengan patok sembilan, titik pendakian paling jauh yang diijinkan oleh Balai Cagar Alam.   

.: Finding Innerpeace :.

Di titik ini, saya melihat kepundan bagai bangunan tumpeng raksasa dengan lelehan belerang. Kepundan tersebut dipisahkan oleh sebuah jurang curam nan terjal yang seolah bertindak sebagai perisai alami untuk menghalau siapa saja yang nekat mendaki hingga puncak. Namun, inilah magnet yang menarik setiap pendaki untuk datang ke gunung ini. Keeksotisan serupa juga mendorong setiap pemerintahan di republik ini berusaha untuk melindunginya sejak lama sebagai kawasan konservasi. Melalui Kementerian Kehutanan, zona cagar alam ini diperluas areanya hingga perairan seluas 11.200 hektare. Puncaknya, sejak tahun 1991, bersama dengan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di wilayah Provinsi Banten, kawasan ini dinobatkan sebagai salah satu World Heritage Site oleh Unesco. 

.: Pulau Rakata dilihat dari Patok Sembilan :.
Begitu berbalik, hamparan pasir berwarna hitam, seulas hutan mungil yang menghijau, bentangan selat Sunda, dan sekumpulan pulau kecil tersaji di depan mata. Pulau-pulau ini seolah mengajak saya memutar otak. Berderet-deret dari sebelah kanan, Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung merupakan 'saudara' kembar dari Anak Gunung Krakatau.

Sulit memang menata imajinasi bahwa dulu, keempatnya berasal dari satu induk yang sama. Tak mau kalah dengan pemerintah dan Unesco, tiga pulau tersebut berdiri di sini seolah turut menjaga sang 'adik' paling bungsu yang mempunyai karakter paling labil. Semua orang dibikin penasaran sekaligus was-was saat Anak Gunung Krakatau dikabarkan batuk-batuk.

Saya mengamati sekali lagi gunung ini dan tenggelam dalam sebuah kontemplasi. Perasaan seperti ini selalu hadir saat saya berada di puncak sebuah gunung. Kecil dan fana adalah perasaan pertama yang mengemuka. Selanjutnya adalah pikiran tentang kematian, tentang jatah hidup, dan kesempatan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Ada selintas perasaan khawatir. Ada pula selintas perasaan ketakutan. Yang membuat saya kembali tenang, saya selalu merasa ada celah waktu dan sejumput kesempatan untuk menyelesaikan semua 'tugas' yang diembankan sepanjang saya masih mengembuskan napas.

.: Begajulan Turun Gunung :.
Sinar matahari mulai menyengat, sebuah alarm alami bagi saya agar segera turun gunung. Saya mengamati kepundan hitam itu sekali lagi dan segera saja tenggelam dalam rasa kagum. Sebuah gunung pulau paling labil di muka bumi sekaligus anak dari gunung yang pernah menghentak bumi dan menyadarkan seluruh penghuninya akan eksistensi sebuah kepulauan cincin api di selingkungan khatulistiwa kini ada di depan mata.

Saat ini, mungkin geliat sang anak belum segalak ibunya. Tapi gerakannya yang sangat perlahan-lahan dan kerap batuk itu diawasi terus oleh badan yang berwenang mencatat gempa dan aktivitas vulkanik gunung api.

Saya meninggalkan patok sembilan dengan sedikit pertanyaan di kepala. Bagaimana kalau anak gunung ini nantinya muntah seperti yang terjadi pada Gunung Kelud tahun lalu? Akankah itu menjadi babak baru sebuah tragedi besar berikutnya? Untuk saat ini, saya tak berani berspekulasi dengan pikiran saya sendiri. Namun tiba-tiba saja, tanpa dikomando, saya seperti terdorong untuk turun gunung dengan berlari. Saya ingin merasakan sensasi lari sambil turun gunung yang belum berani saya coba layaknya Lomba Kebut Gunung 2014 di Gunung Gede bulan lalu.

.: Sarang Semut di Hutan Anak Gunung Krakatau :.
Baru kali ini saya merasakan turun gunung seperti orang begajulan. Napas saya putus-putus saat sampai di mulut hutan pinus. Untung saja ada yang menawari segelas air mineral, penghapus dahaga di tengah padang gersang.

Kembali membelah hutan, saya menemukan sebuah sarang semut yang menggantung di sebuah ranting. Tak henti-hentinya perasaan takjub mengekor di kepala saya setelah pendakian ini. Sebuah pulau gunung yang menyembul dari dasar laut, membentuk vegetasi hingga menjadi ekosistem kompleks yang merupakan rumah bagi pepohonan, reptil, hingga sekawanan burung.

Meski tidak mendapat label sebagai salah satu keajaiban dunia, buat saya fenomena keberadaan Anak Gunung Krakatau sendiri sudah ajaib secara alamiah. Dan pendakian kali ini setidaknya mengafirmasi tentang fakta tersebut. Selain ini, pendakian ini mengajarkan saya bahwa segala rumor tidak perlu sepenuhnya didengarkan dengan serius.

Kulit kaki saya seakan menjumpai oasenya saat menjejak air asin di pantai berpasir hitam ini lagi. Saya naik ke atas perahu untuk sejenak mengucap salam perpisahan kepada pulau gunung yang ajaib ini. Perahu kayu yang saya tumpangi perlahan-lahan menjauhi bibir pantai, meninggalkan Anak Gunung Krakatau kembali dalam kesunyian yang melenakan. []

14 komentar:

  1. Itu ada kalimat "...milik nelayan sialan itu..." apa tidak terlalu kasar mas Bro? Kan si nelayan tidak salah? Apa mungkin dirimu mau menulis "... milik nelayan bernasib sial itu... "

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah? Yang mana sih? :D

      Gara-garanya, kita jadi molor dari jadwal semula. Maaf kakak :'(

      Hapus
  2. Anak Gunung Krakatau itu eksotis. Dulu lokasi KKN-ku tidak jauh di sana, dan saat itu aku sering was-was kalau-kalau gunung itu meletus. Soalnya dulu juga denger2 Anak Gunung Krakatau lagi mulai aktif....

    BalasHapus
  3. Mungkin nggak ya weekend trip ke sana? Kaki udah gatel pengen jalan tapi cuti udah abis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin banget. Ini kan perginya pas weekend :)

      Hapus
  4. Aduh kak, itu pose mendakimenuju puncaknya kok yaa pamer pantat gitu :-) kan jadi terangsang pingin nepok tuch pantat hua hua #kabur

    BalasHapus
  5. Indah juga ya Gunung Krakatau ini. Tapi kelihatannya gersang dan panas.
    Btw katanya di gunung krakatau ini banyak hantunya ya Mas Adi ? xix

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau disebut indah sekaligus gersang, saya setuju sekali. Makanya, saya menyarankan untuk membawa perbekalan air yang cukup saat naik ke atas. Kalau disebut banyak hantunya, wah, ini yang saya gak bisa jawab. Pasalnya, saya gak punya indera keenam dan pas ke sana merasa aman-aman saja. Tapi, kata orang sih, kalau ada gunung api yang masih aktif, konon memang banyak hantunya hehehe :)

      Hapus
  6. nggak longsor itu di daki?
    serem liatnya :D
    btw salam kenal, mampir2 di blog yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe enggak kok, seru sekali lho naik gunung itu. Coba aja deh sekali-kali kalau ada kesempatan.

      Btw, salam kenal juga ya. Terima kasih sudah mampir. :)

      Hapus