Selasa, 30 September 2014

Menerabas Cibodas

.: Jalur Pendakian ke Puncak Gunung Gede - Pangrango via Cibodas :.

Naik gunung itu sungguh menyenangkan. Ada usaha yang harus ditempuh untuk dapat menggapai puncaknya. Ada pula tenaga yang harus dibakar menjadi peluh untuk menuruninya. Saya pikir, hanya orang yang benar-benar niat saja yang dapat menikmati aktivitas ini tanpa mengeluhkan suatu apapun.

Selepas menikmati momen matahari terbit di puncak Gunung Gede (2.958 mdpl), beberapa teman pendaki menyarankan untuk turun gunung melewati jalur Cibodas saja. Alasannya, selain karena jalur Gunung Putri akan menjadi 'lebih padat' daripada hari-hari biasa akibat dipakai sebagai jalur Lomba Kebut Gunung 2014, jalur Cibodas relatif lebih landai dan banyak 'hiburan'nya di sepanjang jalur pendakian. Saya yang dasarnya suka mencoba jalur baru, tentu saja langsung setuju saat diiming-imingi akan melewati banyak sekali objek menarik sepanjang jalan. Baru kali ini sepertinya saya merasakan adrenalin yang memuncak tanpa kekhawatiran tertinggal rombongan saat akan turun gunung.   

1. Jalan (Lain) Menuju Turun

Sepertinya memang benar rumor yang santer saya dengar sebelum pendakian. Mendekati puncak Gunung Gede, jalur pendakian ini menurut saya medannya lebih berat daripada jalur Gunung Putri. Selain penuh dengan pecahan batu yang ukurannya tak beraturan, banyak sekali 'jalur liar' yang menjadikan jalur pendakian mencapai puncak terlihat sangat acak-acakan.

Saya juga menemui undakan cukup tinggi di beberapa titik yang seyogyanya dijadikan catatan sendiri untuk para pendaki. Kelenturan kaki perlu dijaga saat menumpu dan menjejak undakan sehingga potensi engsel kaki terpuntir atau keseleo dapat dihindari. Meski saya dalam posisi turun, ketika berpapasan dengan pendaki lain yang akan menuju puncak, tak henti-hentinya saya memberikan semangat dan menyampaikan informasi bahwa puncak sudah dekat.  Ternyata memang nikmat dan menyenangkan saat berada di posisi pendaki yang akan turun ketika memerhatikan ada banyak pendaki yang susah payah bersimbah peluh untuk menggapai puncak.

.: Antri Turun di Tanjakan Setan :.
2. Tanjakan Setan

Semula saya mengira jalur turun menuju Cibodas ini sangat mengerikan karena harus melewati Tanjakan Setan. Pikiran saya melayang-layang penuh perhitungan jika saja nanti ketinggalan rombongan dan harus berjumpa dengan makhluk yang bernama Setan, setidaknya saya bisa bersiap-siap untuk lalu sekencang-kencangnya. Ternyata, Tanjakan Setan yang dimaksud adalah jalur pendakian berupa medan vertikal di mana cari naik atau turunnya harus dibantu dengan tambang yang dikaitkan di pohon.

Mengingat banyak orang yang juga penasaran dengan jalur ini, antrean menurun sudah mengular begitu saya datang. Hampir semua pendaki (terutama perempuan) sepertinya terlihat deg-degan. Saya yang tadinya santai saja jadi ikutan deg-degan gegara lihat seorang pendaki yang sudah lengkap memakai peralatan kayak mau panjat tebing. Gila, niat dan lengkap banget peralatan outdoornya. Tapi sejujurnya, saya paling deg-degan lewat jalur ini gara-gara khawatir tidak ada yang motret saat saya meniti jalur 'berbahaya' ini.   

.: Tanjakan Setan yang Legendaris :.
Menunggu memang pekerjaan yang membosankan. Termasuk menunggu giliran untuk turun lewat Tanjakan Setan ini. Padahal saya sudah mencari-cari kegiatan yang cukup efektif membunuh rasa bosan seperti memotret dan mengobrol dengan pendaki lain. Tapi rasanya tetap lama sekali. Di sela-sela waktu menunggu, saya sampai menyalahkan diri sendiri karena berbuat kurang ajar diam-diam meski tidak secara sengaja. Saya kentut. Padahal sudah menjauh dari antrian, ternyata bau amoniak tersebut masih juga menyebar dengan brutalnya sehingga beberapa pendaki yang antrinya agak di belakang sempat misuh-misuh membaui kentut saya. Maaf sekali. Mungkin saya khilaf. :D

Begitu giliran saya, ternyata rasa deg-degan itu tidak sebesar saat mengantri. Saya bisa turun tanjakan ini dengan lancar. Melewati tanjakan ini, saya jadi teringat saat mountaineering di Markas Paspampres Grup C dari tower setinggi 27 meter. Sensasinya memang sungguh luar biasa. Yang membuat acara penurunan tanjakan ini jadi menyenangkan adalah gurauan dari seorang teman yang mengatakan, "Tanjakan ini namanya Tanjakan Setan. Tapi kalau lo yang lewat, namanya jadi tanjakan aja." Saya sampai ngakak mendengarnya. Selepas melewati Tanjakan Setan, saya tertinggal jauh dengan rombongan pendaki gegara terlalu sibuk motret. Dan parahnya lagi, beberapa meter di sebelah tanjakan ini terdapat jalur alternatif yang bisa digunakan tanpa harus antri dan susah payah pegangan tali. Alih-alih menyesal, pikiran terakhir yang menenangkan adalah setidaknya saya jadi punya pengalaman melewati jalur yang dianggap ngeri oleh para pendaki ini. Yihaa!

.: Mana Badaknya? :) :.
3. Kandang Badak

Saya agak heran saat tahu namanya. Mungkin dulunya tempat berkubang dan bermainnya badak-badak Jawa. Tempat ini merupakan pos terakhir sebelum menuju puncak. Di punggungannya terdapat percabangan jalur untuk menuju Puncak Gunung Gede dan Pangrango.

Di sinilah terdapat daerah yang cukup lapang tempat para pendaki beristirahat dan mendirikan tenda. Ada juga sumber air bersih untuk minum dan memasak bekal. Saya banyak makan cemilan, minum air putih, dan menyimpan stok air untuk bekal melanjutkan perjalanan.

.: Mana Batunya? :) :.
4. Kandang Batu 

Tak jauh berbeda dengan Kandang Badak, tempat ini merupakan persinggahan para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak. Menurut gosip-gosip para pendaki saat ngobrol di Tanjakan Setan, Kandang Batu dianggap tempat yang lebih 'sepi' daripada Kandang Badak untuk bermalam.

Namanya yang unik membuat saya juga berasumsi jika tempat ini dulunya penuh dengan batu sehingga dinamai demikian. Saya berhenti sejenak di tempat ini untuk sekadar mengatur nafas dan menunggu teman-teman pendaki yang tertinggal jauh di belakang. Sepertinya saya terlalu cepat berjalan demi segera bisa melihat ....

.: Mandi air panas di atas gunung :.
5. Air Panas

Siapa yang mengira jika jauh di dalam hutan dan di atas gunung yang terkenal bersuhu dingin, terdapat aliran air panas yang menggoda untuk disinggahi. Saya baru ingat jika daerah Puncak dan sekitarnya, termasuk Cipanas, wilayahnya kaya akan sumber mata air panas.

Sejak melanjutkan perjalanan dari Kandang Batu, saya sudah mendengar suara gemericik aliran air yang di atas airnya terselaput uap dan asap tipis melayang-layang. Saya ikuti aliran sungai kecil tadi hingga bertemu dengan sebuah pos tempat beristirahat.

Ternyata, beberapa teman pendaki juga sudah berada di situ. Tak mau ketinggalan kesempatan, saya segera ganti baju dan ikutan mandi di air panas. Sungguh, inilah nikmat hidup yang tak perlu didustakan lagi bagi para pendaki. Segala pegal, penat, bau badan, dan segala tetek bengek setan gunung langsung larut bersama aliran air panas. Begitu sudah merasa cukup 'ringan', saya kembali melanjutkan perjalanan seorang diri di tengah hutan karena rombongan sudah lebih dulu berjalan, sementara teman-teman yang lain masih asyik berendam di air panas. Saya merasa perlu untuk melanjutkan perjalanan turun demi mengejar waktu untuk menikmati pesona air terjun.

.: Banyak Muda-Mudi Pacaran di Air Terjun Cibeureum :.
5. Air Terjun Cibeureum

Panas dan dingin di atas gunung. Anomali ini biasa terjadi. Tapi saya sering mengalaminya hanya di daerah sekitar segitiga wilayah Bandung, Bogor, dan Purwakarta. Setelah menikmati pesona panas dingin di Curug Cijalu dan lanjut berendam di pemandian air panas Ciater, inilah kali kedua saya menikmati pesona panas dingin di tempat yang tidak terlalu jauh.

Dari aliran air panas tempat saya berendam sebelumnya, perjalanan menuju air terjun Cibeureum terbilang jalur yang paling jauh jaraknya antara pemberhentian yang satu dengan yang lain. Perjalanan menurun seakan tak berujung saja. Beberapa kali saya bertanya ke pendaki yang mau naik, bilang kalau air terjun bisa ditempuh sekitar 20 menit lagi. Tetapi setelah 20 menit, air terjun yang di maksud belum ketemu juga. Beberapa kali bertanya, hingga saya memutuskan untuk menikmati saja perjalanan ini. Dalam kesendirian, saya sempat melihat owa Jawa bergelantungan di dahan-dahan yang tinggi. Saya hanya berharap tidak bertemu saja dengan kawanan macan tutul.  

Perasaan tentang perjalanan yang tiada akhir ini sepertinya juga dirasakan oleh pendaki yang akan naik. Ada beberapa pendaki yang menanyakan saya tentang berapa jauh lagi kira-kira bisa mencapai puncak. Alih-alih menjawab masih jauh, saya lebih memilih menyemangati untuk tidak perlu memikirkan puncak gunung dahulu. Lebih baik tenaga, harapan, dan semangatnya digunakan untuk menempuh Kandang Badak terlebih dahulu.

.: with Gadis Cabe-Cabean. Euwh :.
Setelah perjalanan yang sepertinya tak ada ujungnya, saya sampai juga di persimpangan Panyangcangan. Banyak sekali pendaki yang sudah sampai sini. Saya berasumsi, siapa saja pendaki yang sudah sampai persimpangan ini, bisa dihitung juga sudah dekat dengan pintu gerbang. Saya melihat banyak sekali orang berkerumun layaknya orang sedang piknik di hari libur. Tempat ini memang cocok buat pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih.

Tak ada yang tertarik untuk mandi di air terjun. Alasannya, ada yang sudah pernah merasakan dinginnya air terjun saat pendakian sebelumnya. Ada juga yang tidak begitu tertarik karena kakinya sudah terlalu lelah untuk diajak merayap. Akhirnya saya sendirian saja menuju air terjun. Dan, demi melihat aliran air terjun yang deras dengan laguna yang tidak terlalu dalam, pantang sekali sepertinya untuk tidak mandi.

Beruntung sekali, tak banyak pengunjung yang berniat untuk basah-basahan sehingga saya dan beberapa orang cukup puas main air tanpa banyak berjubel berebut tempat. Sebelum kembali ke persimpangan Panyangcangan, saya menyempatkan diri mengambil air minum untuk persediaan di jalan. Oh, sungguh nikmat dan segar sekali memang air dari sumber di gunung itu.

.: Burung Penunjuk Arah :.
6. Elang dan Burung Penunjuk Arah di Persimpangan Panyangcangan

Kembali ke persimpangan Panyangcangan, saya menemui sedikit pendaki saja. Para rombongan sudah berangkat lebih dulu. Sementara beberapa teman lain masih sabar menunggu anggota rombongan yang masih berada di atas. Saya bergabung kembali dengan beberapa teman pendaki yang suka ngopi sembari memerhatikan mereka yang sedang melucu. Ini merupakan sebentuk hiburan yang lain bagi saya.

Sementara bosan menunggu, tiba-tiba saya melihat seekor burung cantik yang meloncat-loncat di atas tanah dan terbang rendah. Saya tidak tahu namanya. Tapi beberapa pendaki menyebut kalau burung itu merupakan sejenis burung yang bisa menunjukkan jalan bagi pendaki yang tersesat. Yang lain bilang kalau burung tersebut memberi tahu atau pertanda bahwa ada pendaki yang tersesat. Malah ada lagi yang bilang kalau mengikuti burung tersebut, seorang pendaki bisa jadi tersesat. Sepertinya logika saya lebih setuju dengan alasan terakhir. Tapi entah mana yang benar, perhatian saya dialihkan dengan kepak burung elang yang melayang anggun di atas pohon.

.: Puncak Gunung Pangrango dilihat dari Jalur Cibodas :.
Saya jadi ingat kalau kawasan Taman Nasional Gede - Pangrango ini juga merupakan suaka untuk mengembangbiakkan elang Jawa. Memerhatikan elang tumbuh sehat di tempat ini, jika menilik dari rantai makanan, saya pikir seharusnya banyak juga sumber makanan bagi elang di kawasan ini. Saya agak bergidik dan berdoa semoga saja tidak pernah melihat makanan elang ini sepanjang perjalanan.

Setelah lebih dari 2 jam menunggu, akhirnya saya mohon ijin untuk melanjutkan perjalanan karena belum sholat. Meski jalanannya sudah relatif landai, ternyata jarak ke pintu gerbang Cibodas masih jauh. Saya masih sempat menyaksikan tebaran pemandangan memesona sepanjang jalur. Kawasan rawa, hutan lebat, aliran air deras, telaga cantik berair tenang, dan yang paling spektakuler adalah pemandangan Gunung Pangrango yang menjulang tinggi dengan gagahnya. Sungguh damai sekali berada di tempat ini. Pantas saja banyak sekali pendaki Jakarta dan sekitarnya yang memilih 'mengasingkan' diri ke gunung ini di akhir pekan.  

.: [Awal Mula] Gerbang Masuk Pendakian dari Cibodas :.
7. Menjejak Cibodas

Tiada hal yang lebih melegakan saat pendakian selain berhasil mencapai puncak dan selamat hingga turun kembali. Rasanya seperti baru saja naik kelas. Banyak pendaki berkerumun di pos pemeriksaan saat saya sampai di gerbang Cibodas. Beberapa sedang menunggu giliran mendaki. Tapi kebanyakan karena menunggu teman pendaki yang masih berada di atas.

Setelah bebersih dan sholat, saya bergabung dengan teman pendaki lain, berbagi cerita sepanjang pendakian, sembari menikmati segelas kopi dan goreng pisang. Saya melihat banyak sekali wajah-wajah bahagia yang rindu akan rumah. Dan bagi saya, menjejak Cibodas seakan menjadi langkah pengantar menuju gunung-gunung lain yang menunggu untuk disambangi. Jika ada yang bilang mendaki gunung itu ibarat makan candu, saya rela untuk mabuk kepayang berkali-kali untuk menikmati sensasinya. Salam lestari. [] 

20 komentar:

  1. Setelah baca ini kok jadi mupeng pingin mendaki gunung juga... Ahh gunung yang baru kudaki cuma Gn Bromo, Gn Agung, eh ini masuk kategori "muncak" nggak ya? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha selow wae kok mas. Aku malah belum pernah ke Bromo, padahal orang Jawa Timur tulen. Tapi udah move on ke Jakarta sih hehehe. Dicoba muncak ke Gunung Lawu mas, dekat kan dari Solo :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Enggak ngeri kok kalau ngadepin langsung, coba aja sekali-kali wkwkwk :P

      Hapus
  3. Mantaff. jalur cibodas lebih enak dibandingkan jalur gunungputri dan salabintana. banyak sampah ya Mas Adie?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener sih, jalurnya relatif lebih landai, tapi jarak tempuhnya juga jadi lebih jauh. Di beberapa tempat seperti Panyangcangan, Kandang Batu, dan Kandang Badak memang jadi banyak sampah karena kekurangpedulian beberapa orang pendaki :'(

      Hapus
  4. Ini kunjungan pertamaku. :)) Jujur, aku gak pernah mendaki dan sejak dulu ingin mendaki tapi selalu tidak jadi karena "MALES" :3
    Tapi aku suka baca tulisanmu, detil namun tidak membosankan :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha diniatkan saja. Yakin deh, kalau udah pernah sekali sampai puncak gunung, pasti bakal ketagihan pengen naik gunung lagi :)

      Btw, terima kasih lho apresiasinya, bikin semangat ngeblog aja ih :)

      Hapus
  5. Aaaaak... jadi semakin kepengen naik gunung! :D

    Itu tanjakan setannya serem banget, Mas.... Apalagi yg nggak terbiasa melewati medan vertikal gitu ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ayo ayo, dicoba naik gunung yang gak terlalu tinggi dulu. Papandayan bisa jadi latihan lho. Naik gunung itu seru banget kalau jalannya santai, fun, dan sama orang-orang yang seru.

      Tanjakan Setan itu gak seserem aslinya kok, kapan-kapan bisa dicoba :)

      Hapus
  6. asik banget siiih jalan2 nya ke gunung hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mbak, lagi seneng-senengnya naik gunung. Sebulan sekali lah, biar gak bosen jalan-jalan ke pantai sama kota tua mulu :)

      Hapus
  7. Wih seru banget itu :-)
    Itu air terjunnya :-) :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seger banget mandi siang-siang di air terjun. Cobain aja hehehe :)

      Hapus
  8. Balasan
    1. Wah, lo harus cobain Cum sekali-sekali. Seru lho :)

      Hapus
  9. Jadi pengen nyobain naik gunung, seumur-umur belum pernah karena ga di bolehen ama emak ;((


    Jangan lupa main2 ke ---> www.travellingaddict.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha lo jangan ikut-ikutan Cumilebay ah, dipecut dulu baru mau naik gunung wkwkwk :D

      Hapus