Kamis, 17 Juli 2014

Mengarung Teluk Lampung

.: Pantai Pasir Putih di Pulau Pahawang Kecil, Teluk Lampung :.

Awalnya, saya pikir tak banyak yang bisa ditawarkan Lampung sebagai sebuah destinasi wisata lokal yang menjanjikan. Pasalnya, saya hanya mengenal Lampung sebagai oase tempat mamalia terbesar sejagad bersemayam. Selebihnya, akhir-akhir ini, melalui bincang-bincang santai dengan beberapa kawan pejalan, Lampung mulai terdengar di telinga saya melalui atraksi lumba-lumba di lepas pantai Kiluan yang (katanya) mulai menyaingi akrobatik serupa di Lovina, Bali. Saya pun heran saat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memilih propinsi di kaki Sumatera ini sebagai tuan rumah perhelatan akbar Tourism Indonesia Mart and Expo (TIME) dua tahun berturut-turut di 2011 dan 2012. Apa yang ditawarkan oleh Lampung yang bahkan namanya tak terlalu bergaung di kancah pariwisata nasional?

Keinginan untuk menilik Lampung dari dekat bersambut ketika datang undangan dari teman kantor yang hendak melepas masa lajang. Hal pertama yang melintas di kepala saya tetap saja mengunjungi Waikambas. Tapi, berdasarkan info dari teman yang lama tinggal di Lampung, Waikambas terlalu jauh dari pusat kota Bandar Lampung. Saya mulai mencari informasi tentang destinasi menarik lain di Lampung untuk membunuh waktu seharian sebelum datang ke acara kondangan. Saya cek peta, dan mulai mengarahkan pandangan ke arah Selat Sunda. Bagai planet-planet kecil yang membentuk konstelasi, serakan pulau di Teluk Lampung seakan menggoda untuk dijamah. Dan saya pikir, menyusuri pantai dan menjelajah pulau-pulau kecil di teluk Lampung yang teduh merupakan pilihan yang lebih menarik daripada membenamkan diri seharian di penginapan. 

.: Dermaga Ketapang: Meeting Point Jelajah Teluk Lampung :.
Pagi yang mendung mengantarkan saya meniti jalanan bergejolak menuju dermaga Ketapang, meeting point untuk menjelajah Teluk Lampung. Meski cuaca mendung, deretan pancuran kecil di tambak garam penduduk menjadi panorama yang apik untuk dinikmati sepanjang perjalanan. Sampai di dermaga Ketapang, saya dijemput oleh Usman, operator trip yang akan mengantar dan mengatur semua perjalanan saya di Teluk Lampung ini.

Setelah berkemas dan membawa perlengkapan seperlunya, saya dibawa ke sebuah warung kecil di pinggir pantai untuk sarapan. Menunya sederhana (dalam arti sebenarnya) sekali. Nasi dingin dan pera. Tempe gorengnya juga dingin, bahkan tampak seperti tidak kenal garam. Sayurannya minim kuah. Sambalnya dari cabe yang sudah lama dijemur matahari. Teh tawarnya juga benar-benar tawar, mirip sekali dengan daun diseduh air payau panas. Satu-satunya penambah semangat adalah butiran telur rebus yang porsinya boleh nambah. Tak mau merusak mood, saya dengan sabar makan pelan-pelan hingga habis dua piring.

Tak sabar segera main air, sehabis sarapan saya segera menuju dermaga, di mana sudah menunggu beberapa orang pemilik perahu yang siap mengantarkan para petualang musiman asal ibukota untuk menjelajah Teluk Lampung. Orang-orang ini lucu sekali, khas keramahan tulus orang daerah. Bahasa bercandaannya cukup membuat saya tersenyum geli. Semisal saat saya sibuk memotret bukit di seberang dermaga, ada satu kenek perahu yang dibully sesama temannya.

"Mas, nanti kalau balik ke Jakarta, teman saya diajak ya. Pulangin ke kandangnya di Ragunan." kata seseorang yang disambut gelak tawa orang-orang di sekitarnya. Ternyata, urusan bully-bully-an juga ada di kampung sini.

.: Pulau Tegal, Teluk Lampung :.

Meski rasanya waktu berjalan lambat, tapi sepertinya jadwal hari ini padat sekali. Ada sekitar setengah lusin pulau akan disinggahi. Saat semua rombongan sudah naik di atas perahu dan berdoa bersama, saya baru sadar jika si Usman tidak ikut. Perahu yang saya tumpangi dikemudikan Pak Rudi yang saat itu juga bertindak sebagai guide. Sedangkan si Usman berpesan kalau akan menunggu di Pulau Pahawang Kecil sembari menyiapkan makan siang dan kelapa muda. Tujuan pertama adalah menuju Pulau Tegal. Pulau kecil ini ditempuh sekitar 30 menit perjalanan naik perahu. Langit lumayan cerah. Air lautnya juga jernih hingga karang-karang di bawah perahu kelihatan.

.: Adie Ganteng bersama 13 Manusia Standar Lainnya :P :.
Begitu mesin perahu dimatikan, semua langsung sumringah melihat air laut hijau toska tersaji di depan mata. Tanpa dikomando oleh Pak Rudi, semua sibuk sendiri-sendiri memasang peralatan snorkel dan menceburkan diri di samping perahu.

Namun, entah karena terlalu lelah bekerja hari sebelumnya atau kurang tidur semalaman, saya merasa akan terserang flu saat akan snorkeling. Suhu tubuh mendadak dingin. Tapi demi melihat air laut bening, saya tetap saja pakai pelampung dan alat snorkel. Tujuannya bukan untuk berenang, tapi untuk ... pipis. Ups. Biar tidak kelihatan kalau mau buang air kecil, terpaksalah saya pura-pura ikut snorkeling. Padahal, sembari kepala melihat-lihat panorama dasar laut, hasrat untuk buang air kecil tersalurkan dengan maksimal tanpa seorang pun yang menyadarinya.

Tapi saya perhatikan, meski air lautnya bening dan visibility-nya bagus, vegetasi di bawah Pulau Tegal ini menurut saya biasa saja. Paling tidak, jika dibandingkan dengan spot snorkeling serupa yang ada di Selat Sunda, karang, ikan, dan anemon laut yang dapat dinikmati di pulau-pulau kawasan Ujung Kulon menurut saya jauh lebih kaya dan beragam. Saya tidak bertemu dengan banyak ikan warna-warni berseliweran, tidak disapa ikan badut yang fenomenal, dan bahkan bintang laut yang biasa saya temukan di gundukan pasir di kawasan Ujung Kulon, tidak saya temukan di sini.

.: Panorama Bawah Laut Teluk Lampung :.

Meski begitu, saya menemukan karang meja yang sehat dan lumayan besar di Pulau Tegal ini. Bentuknya sekilas seperti gundukan kol yang sangat besar. Selain itu, karang-karang yang bentuknya mirip daun cemara juga terhampar sangat banyak. Tapi yang saya tidak habis pikir, kok ikan-ikan yang berseliweran sedikit sekali? Padahal, jika diperhatikan, dengan jarak antar pulau yang berdekatan dan arus laut yang sedikit kencang, seharusnya tempat ini sangat ideal sebagai area ikan-ikan bercengkerama.

Beberapa teman sempat melihat ular laut. Yang lain lagi mengaku berjumpa ikan badut. Kesimpulan sederhana yang terlintas di kepala, mungkin saya salah mengambil spot snorkeling. Atau mungkin karena kena flu jadi tidak terlalu asyik dan fokus memerhatikan semua kawasan. Hal serupa saya alami saat berada di spot snorkeling di Pulau Kelagian bersaudara yaitu Kelagian Kecil dan Kelagian Besar.

.: Bersama Dayang-Dayang Teluk Lampung di Pulau Gosong :.
Saya sangat menikmati main air saat perahu berhenti di sebuah pasir timbul dengan dermaga dan restoran apung di atasnya. Pasir timbul ini akan terlihat seperti pulau kecil saat air laut surut, persis seperti pulau gosong yang biasa dipakai sebagai latar iklan rokok. Dan saat air pasang, restoran apung di atasnya akan kelihatan seperti jermal di tengah laut.

Secara kualitas, tempat ini paling juara. Di sekelilingnya dibentengi bukit-bukit mini yang menonjol dari serakan pulau-pulau. Dasarnya berupa pasir putih halus yang terasa lembut saat diinjak. Dan airnya merupakan kombinasi dari gradasi warna hijau toska, biru, dan bening jernih yang memungkinkan untuk melihat ikan-ikan kecil berenang cepat hilir mudik serta media paling memuaskan untuk main ciprat-cipratan air ala film India. Senang rasanya bisa berlama-lama di tempat seperti ini.

Puas main air, saatnya makan siang di Pulau Pahawang Kecil. Sesuai janji, Usman sudah siap dengan menu makan siang sederhana dan kelapa muda. Kombinasi perut lapar dan rasa lelah main air langsung sirna meski dengan menu seadanya. Sembari menikmati kelapa muda, saya perhatikan panorama pulau ini sungguh tenang meneduhkan. Pantas saja, sebuah villa milik seorang warga negara Perancis dengan fasad bangunan Joglo bercokol di sisi bagian selatan. Ombak di sekitar pulau juga relatif tenang sehingga tak heran jika ada serombongan keluarga yang mengajak anak kecil main air laut agak ke tengah. Yang membuat saya kagum, pulau tak berpenghuni ini hanya berjarak beberapa meter dari pulau kembarannya, Pahawang Besar, dan dipisahkan selat sempit berair dangkal sehingga dimungkinkan menyeberang dengan berjalan kaki.

.: Terapung di Perairan Pulau Pahawang Kecil :.

Meski demikian, saat mampir ke Pahawang Besar, perahu harus berputar dahulu ke sisi di baliknya untuk mencari dermaga yang agak dalam. Di pulau yang dihuni sekitar seribu jiwa ini, saya bertandang ke rumah salah seorang warga, sepertinya rumah milik keluarga atau saudaranya si Usman. Niat awalnya hanya mampir sejenak untuk numpang ke kamar mandi. Tapi demi melihat ada orang Jakarta yang bertandang, si pemilik rumah rupanya merasa perlu untuk bersibuk ria memberikan kenyamanan kepada tamu. Sepiring gorengan serta beberapa gelas kopi dan teh disajikan di bawah pohon waru. 

Saya rasa, duduk-duduk santai menjelang sore sembari menikmati goreng pisang dan kopi hitam panas sepertinya cara paling asyik untuk menikmati suasana kepulauan dengan perairan tenang seperti ini. Saya sejenak lupa kalau ini masih merupakan bagian dari kawasan Bandar Lampung. Tapi suasananya seakan seperti sebuah tempat di antah-berantah: minim fasilitas dan jauh dari mana-mana. 
Saya kemudian sampai pada satu pemikiran untuk merevisi pemahaman bahwa Lampung tidak hanya identik dengan gajah, tetapi seharusnya juga pulau-pulau cantik dengan pantai indah yang memanjakan mata. Di sisi lain, meski mendapatkan sedikit pencerahan secara eksplisit tentang mengapa Lampung menjadi tuan rumah program TIME selama dua tahun berturut-turut, disandingkan dengan kenyataan akan keadaan Pulau Pahawang Besar, sebuah pertanyaan muncul di kepala. Untuk siapa sebenarnya program TIME itu dilangsungkan di Lampung mengingat akses dan infrastruktur menuju tempat wisata andalannya terkesan sangat tidak memadai?

.: Heaven on Earth? No, This is Pahawang :.
Jika memang program tersebut untuk 'menjual' pariwisata Lampung, bukankah sembari diperkenalkan kepada pasar, ada baiknya akses menuju daerah yang 'dijual' tersebut diperbaiki sehingga memudahkan calon penikmatnya. Jika program tersebut, yang diklaim telah membukukan transaksi sekian juta dolar Amerika di antara peserta yang hadir, sangat penting untuk dihitung ulang, berapa dolar dari angka pembukuan tersebut yang merupakan angka penjualan atas destinasi wisata yang ada di Lampung? Jika nilai jutaan dolar tersebut hanya merupakan nilai pembukuan atas destinasi wisata di seluruh penjuru nusantara, yang sebagian besar operatornya dikelola juga oleh jaringan modal kolosal milik asing, apa bedanya dengan acara serupa yang diadakan di Jakarta Convention Centre?

Lho, kok pembahasannya jadi serius. Padahal saya datang ke Pahawang niatnya untuk leyeh-leyeh saja. Mungkin karena seharian sudah menikmati keindahan alam yang belum banyak dikelola sehingga masih alami, pikiran saya jadi santai sehingga bisa mikir macam-macam lagi. Tapi setidaknya, jika punya kesempatan lagi untuk bertandang ke Lampung, saya sudah punya sederet daftar lokasi menarik yang sayang untuk tidak disambangi. Paling tidak, selain pantai dan pulau-pulau yang belum sempat saya datangi kali ini, saya tetap merasa perlu untuk mengunjungi sekolah gajah di Waikambas. Saya tak sabar untuk menunggu kesempatan itu tiba.

22 komentar:

  1. Ya allah manusia ganteng posenya membahanan pingin di kepruk botol yaaa ahahaha.

    Eh gw blm kesampean ke pulau tegal tp sempet nginep di villa kudus pahawang lho #pamer

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha percaya banget lah anak bupati gresik pasti bisa kalau cuma nginap di villa kudus pahawang. Pasti dengan foto-foto tidak senonoh yang bahaya buat perkembangan jiwa anak-anak lugu kayak gw wkwkwk :P

      Hapus
  2. Hmmm, mungkin akses jalan yang tidak memadai dan bahkan makanan yang ala kadarnya itulah yang dilirik oleh TIME untuk bisa "dijual". Kalau misalnya akses jalannya bagus, banyak orang yang lantas berkunjung ke sana, bisa jadi Pahawang bukan lagi potongan surga di muka bumi. Betul begitu kan? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha tapi lho, masa mau jualan barang bagus, calon pembelinya disuruh bersusah-susah. Saya pikir esensinya memang mau 'menjual' pariwisata Lampung, makanya jadi tuan rumah. Tapi, seperti lagu lama penataan infrastruktur di Indonesia, lagi-lagi dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk pembangunan jalan dan jembatan biasanya gak jadi-jadi atau hasilnya jelek karena dananya diembat. Saya menunggu-nunggu gebrakan gubernur yang katanya termuda di Indonesia itu semoga bisa menata Lampung lebih baik lagi :)

      Hapus
  3. air launtnya jernih sekali, saya walaupun demam pasti tetap akan nyemplung juga jika melihat aur laut yang jernih dengan gradasi hijau toska...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini di perairan Teluk Lampung yang notabene merupakan Indonesia Barat saja air lautnya kayak gini, gimana yang di Indonesia Timur sana ya? Aaaaaak gak sabar main ke Ternate-Tidore :)

      Hapus
  4. aku da lama pgn bgt ke lampung... Tapi suami yg slalu nunda2 mulu dgn alasan, "mw liat apaan si di Lampung? Ga ada apa2nya"

    Yaelahhh, bilang aja males nyupir ke sana ;p ..Ntr ah, aku paksa jg nih spy mw kesana dianya ... Cakep2 mas fotonya... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh itu cukup beralasan lho. Di Lampung mungkin spot wisatanya ada di luar kota semua dan rata-rata memang jalan ke sananya itu rusak berat. Jadi kalau memang ada rencana ke Lampung, sebaiknya bawa partner nyopir juga biar bisa gantian hehehe :)

      Hapus
  5. belum kesampean nin ke Pahawang, udah banyak banget yang ngeracunin *nabung pelan-pelan deh*

    bulan depan Belitung duluuu *lari lari kecil diantara batu besar*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whohohoho rusuuuuh *mupeng ke Belitung lagi* :'(

      Hapus
  6. selalu senang membaca catatan perjalananmu di.. serasa ikut jalan sendiri, :D

    BalasHapus
  7. Dan rencana ke lampung pun berkali - kali masih gagal :| cekep uy, pengen kesana. Kayaknya langsung berangkat aja, gak pake direncanain :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha when you go, you go. Keep on treveling dude, segera cap cuuuz lah ke Lampung :)

      Hapus
  8. Balasan
    1. Hahahaha segera booking tiket buat pulang kampung mas. Jangan ditahan-tahan wkwkwk :D

      Hapus
  9. Masih bersih ya pantainya... sayang udah tercemar dengan foto narsisnya yang eksis dimana-mana hahaha...
    Suk pas ke Lampung sempetin ke sini ahh ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersih banget. Puaslah pokoknya mau nyebur-nyebur di sini. Dan kalau ada tempat yang apik begini terlalu sayang kalau gak ada sesi foto-foto eksklusif. You know exactly what I mean :D

      Hapus
  10. aku pikir itu teluk yang ada di lampung eh tau2nya namanya teluk lampung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teluk Lampung, aku lihat di peta sih gitu. Tempatnya OK banget buat leyeh-leyeh :)

      Hapus