Sabtu, 07 Maret 2020

Menziarahi Yohanes

.: Selamat Datang di Reruntuhan Gereja St. John 🍁 :.

Langit masih gelap saat bus yang saya tumpangi berhenti di Izmir Otogar. Saya terbangun dengan geragapan. Maklum, saya hanya sempat memajamkan mata sejenak. Angin dingin menembus kulit saya yang sudah dibebat tiga lapis kain. Benar-benar membuat gigil.

Saya pun langsung menuju bagian informasi, menanyakan apakah operator bus ini menyediakan suttle gratis menuju Selcuk, tujuan saya berikutnya. Jawabannya nihil. Saya hanya dijawab dengan kalimat singkat sambil ditunjukkan arah menuju terminal utama.

"Servis otobΕ±sΕ± yok. Orada", katanya.

Dibekap suhu 6⁰C, saya melangkah gontai menuju terminal utama untuk mencari angkutan menuju Selcuk. Setelah bertanya ke bagian informasi terminal, saya diantarkan ke sebuah peron tempat menunggu dolmus (semacam angkot di Turki) jurusan Selcuk. Berhubung masih gelap dan adzan Subuh juga belum berkumandang, saya harus rela menunggu selama 45 menit sampai dolmus pertama jurusan Selcuk beroperasi. 

Hanya ada dua penumpang saja dari terminal. Saya dan seorang bapak paruh baya. Sepertinya penduduk lokal. Dolmus berangkat dalam tenang. Meski begitu, saya tidak serta merta bisa melanjutkan tidur. Padahal mata seperti diganduli barbel.

Sebenarnya, Selcuk bisa ditempuh selama 45 menit saja dari Izmir Otogar. Namun, seperti halnya angkot di kita yang doyan ngetem, dolmus pun juga akan berhenti di beberapa titik untuk mengangkut penumpang. Kebanyakan penumpangnya merupakan komuter yang bekerja pergi-pulang Izmir-Selcuk. Jadi, di dalam dolmus yang kecil itu, saya bagaikan gembel dekil di antara penumpang yang rapi jali. 

.: Reruntuhan gereja dengan latar Benteng Ayasoluk :.

Saat dolmus memasuki wilayah Selcuk, hal pertama yang mencuri perhatian saya adalah sebuah benteng yang berdiri kokoh di atas bukit. Posisinya ada di sebelah kiri jalan. Saya bisa melihatnya dengan jelas. Fasadnya persis seperti benteng-benteng tua dalam kisah King Arthur. Dalam hati saya berpikir, saya harus mampir ke benteng itu nanti. Tak tahunya, Selcuk Otogar memang tak jauh dari situ.

Berhubung masih pagi dan saya pikir terlalu dini untuk bisa check in ke penginapan, saya pun jalan kaki menuju ke arah benteng. Matahari sudah merekah dan jalanan mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan. Saya menjadi pengunjung pertama kompleks reruntuhan benteng ini.

Maksud hati mengunjungi benteng, ternyata reruntuhan ini dulunya merupakan sebuah kompleks gereja. Gerbangnya megah sekali, persis seperti gerbang kompleks perumahan di sekitaran Jakarta yang mengadopsi arsitektur Romawi.

.: Pilar-Pilar Gereja St. John πŸ‚ :.

Pada abad ke-5 Masehi, Kaisar Justinan yang berkuasa saat itu, selain membangun Hagia Sophia di Istanbul juga memerintahkan untuk membangun Saint John Basilika di Selcuk. Lokasi ini konon dipercaya sebagai tempat John The Apostole (Rasul Yohanes), salah satu dari 12 rasul Yesus disemayamkan. Sang Kaisar menggagas pembangunan gereja ini sebagai bentuk penghormatan kepada sosok Yohanes yang dianggap suci dalam ajaran Kristiani.

Kisah yang dipercaya, Rasul Yohanes datang dua kali ke Efesus (nama wilayah Selcuk kala itu). Pertama di tahun 37-48 Masehi yaitu saat mengantar Bunda Maria selepas Yesus wafat. Yang kedua di tahun 95 Masehi yaitu saat Sang Rasul merasa sudah saatnya untuk menuliskan Injil atas ajaran Yesus yang diamanahkan kepadanya. Yohanes memilih bukit Ayasoluk ini sebagai tempatnya untuk 'mengasingkan diri' hingga akhir hayatnya. 

Kaisar Yustinian membangun Saint John Basilika menggunakan bahan dari reruntuhan kota kuno Efesus dan Kuil Artemis. Balok-balok batunya terlihat rapi sekali pahatannya. Beberapa dinding dan pilarnya masih berdiri tegak, menguarkan sisa-sisa kejayaan masa silam.

Saya berjalan menuju arah benteng sesuai tujuan semula. Di bawah sebuah pohon rindang, dibekap oleh puing reruntuhan gereja, tampak sebuah maket replika yang menggambarkan bagaimana megahnya Saint John Basilika kala itu.

.: Bagian Dalam Benteng Ayasoluk :.

Berhubung masih pagi, saya lagi-lagi menjadi pengunjung pertama Benteng Ayasoluk ini. Seorang petugas bergegas membukakan gerbang saat melihat saya datang. Saya merasa seperti seorang pangeran saja. Berharap melihat hal-hal megah di dalam benteng, saya hanya menyaksikan reruntuhan batu saja di dalamnya. Dinding benteng ini memang terawat sangat baik, namun di dalamnya hanya berisi bongkahan batu yang berserakan. Harapan untuk melihat kastil dengan aula megah dan singgasana kerajaan ala kisah King Arthur menguap sudah.

Saya menuju ke arah barat benteng. Tempat ini sungguh hening sekali. Angin berhembus tipis. Burung gereja berkicau mengepakkan sayapnya. Jauh di atas sana, seekor elang melayang ringan mengintai mangsa. Matahari perlahan minyibak Kota Selcuk yang terlihat lamat-lamat di kejauhan. Menguapkan embun yang membekap seluruh kota dengan suasana sejuk yang menenteramkan jiwa.

.: Kota Selcuk dilihat dari Atas Benteng Ayasoluk :.

Berhubung sendirian, saya tidak berlama-lama berada di dalam benteng. Saya berjalan kembali ke arah reruntuhan gereja dan memutar rute untuk melihat sisi lain kompleks ini. Bongkahan batu yang terlihat seperti bekas dinding dan patahan pilar dijajar dengan rapi memagari sebuah taman berumput hijau. Sebuah pohon yang mengingatkan saya pada Dedalu Perkasa dalam kisah Harry Potter dan Tahanan Azkaban menjadi episentrum taman hijau tersebut. Ranting-rantingnya yang menjentik gersang siap menyambut musim semi yang hangat.

Sampai detik itu, saya masih takjub dan bersyukur, belum ada pengunjung selain saya. Kompleks ini benar-benar seperti sebuah reruntuhan yang dilupakan seperti dulu pernah terjadi di abad ke-18.

.: Reruntuhan Saint John Basilica :.

Saya kembali melalui reruntuhan yang dulunya merupakan aula utama basilika. Sebelumnya, saya melewatkan jalur ini dan mencoba mencari detil lain yang mungkin luput saya amati. Saya membayangkan, jika gereja ini masih terawat hingga sekarang sebagaimana Hagia Sophia, tentu akan menjadi salah satu gereja megah yang ramai dikunjungi jemaat. Pilarnya menjulang. Ada bagian lengkungan pada dinding yang menjadi pemisah antarruang dalam gereja.

Saya melangkah masuk ke area dalam reruntuhan tersebut. Tepat di tengah reruntuhan, menghampar dalam lapisan marmer putih, dengan empat pilar bulat bercokol di setiap sudutnya yang mungkin dulunya merupakan penyangga atap, sebuah nisan sederhana disematkan sebagai penanda keberadaan Rasul Yohanes disemayamkan.

Terus terang, sebagai muslim saya agak bingung bagaimana harus 'bersikap'. Saya hanya hening sesaat, memerhatikan nisan tersebut dalam diam, dan memusatkan pikiran untuk mengingat Allah sembari menunduk hormat kepada orang yang disemayamkan di makam ini yang dipercaya merupakan orang suci yang dekat sekali dengan Yesus, sang Almasih dalam ajaran Islam.

.: Nisan Makam St. John (Rasul Yohanes) :.

Saya akhirnya mengucap pamit dalam hati dan meninggalkan makam sama heningnya saat saya datang. Dalam perjalanan ke arah pintu keluar, banyak pertanyaan berkecamuk dalam hati saya. Jika makam tersebut dipercaya sebagai makam Rasul Yohanes, kok jarang sekali orang berziarah ke makam ini? Kok tidak ada karangan bunga? Apakah itu benar makam Rasul Yohanes? Bukankah makam orang suci selalu ramai diziarahi?

Mungkin saya tidak tahu. Atau mungkin memang keberadaan makam Rasul Yohanes tersebut dilupakan sebagaimana keberadaan gereja megah yang pernah bercokol di atasnya. Saat saya melangkah keluar dari gerbang, sederet pertanyaan tersebut perlahan menguap sejenak seperti kabut, digantikan dengan keceriaan yang merekah untuk mengunjungi tempat lainnya yang menyimpan sejarah masa lalu dalam pelukan Kota Selcuk yang sejuk. []

26 komentar:

  1. Tak kira reruntuhan td tuh sampah yg berserakan mas. Tak zoom baru ngeh ternyata beneran reruntuhan bangunan. Wqwqwq
    Ikut bayangin juga, seandainya gereja ini masih ada bakal megah bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sayang sekali beberapa bangunan dari zaman dulu banget, yang mungkin ada di dalam kitab suci agama Katholik, wujudnya hanya berupa reruntuhan saja. Nanti ada kisah menarik lainnya :)

      Hapus
  2. Ini kalau orang suka motret bakal jadi tempat yang menyenangkan mas. Selain bangunan-banguan yang tua dan reruntuhan, itu pohon meranggas epik banget mas. Bagus diabadikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget. Beberapa spot memang photogenic. Sayang sekali aku gak mahir motret. Ini asal jepret saja sebagai dokumentasi. Udaranya sejuk, langitnya cerah, dan mataharinya juga mendukung banget. Komposisi yang pas buat bikin foto yang tampak dramatis hehehe :)

      Hapus
    2. Meski mas bilang tidak mahir, hasilnya bagus-bagus kok mas. Tidak miring dan komposisinya pas. Tidak sabar menunggu tulisan lanjutannya hahahahha. Karena ini menurutku kontennya agak beda dengan tulisan-tuliasn orang ke Turki

      Hapus
    3. Terima kasih ya. Lagi nyari waktu lagi buat nulis cerita selanjutnya. Pengen sih kayak dirimu yang punya stok postingan terjadwal gitu. Nanti aku latihan dulu ya biar terbiasa bikin postingan terjadwal begitu hehehe :)

      Hapus
  3. Dahulu Turki bagian dari kerajaan Romawi makanya banyak peninggalan agama Kristen ya sebelum ditaklukkan oleh kerajaan Utsmani.

    Naik dolmus enak tidak bang, apakah lebih nyaman angkot di Jakarta.

    Wah, enak juga tuh jadi pangeran bang, begitu datang langsung dibukakan gerbang, top pokoknya lah 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dolmus itu kalau di kita seperti angkot. Bayarnya langsung ke supir. Suka ngetem juga atau jemput penumpang. Tapi memang bentukannya seperti mobil-mobil travel jurusan Jakarta-Bandung gitu. Tempat duduknya nyaman dan ber-AC :)

      Hapus
  4. Zonk banget tuh, dari luar bentengnya megah dan terawat, eh.. sampe dalam cuma batu aja. πŸ˜‚

    Tapi kisah sejarahnya keren sih, beberapa sudutnya juga photogenic banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe tapi dinding bentengnya masih kokoh seperti sedia kala kok. Jadi gak zonk banget. Apalagi bisa gak sengaja ziarah ke makam yang dipercaya sebagai Yohanes :)

      Hapus
  5. Melihat reruntuhan-reruntuhan begini--atau nisan atau memoriam--selalu bikin saya tertegun, Mas Adi. Bergidik sendiri membayangkan betapa rapuhnya zaman dan betapa dunia itu terus berubah.

    Keren banget ini postingannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Segala yang di dunia ini fana bro. Terima kasih :)

      Hapus
  6. historical buildings yang luar biasa ….

    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Pak. Kisah-kisah perjalanan selalu menarik untuk diikuti. Semoga memberi manfaat :)

      Hapus
  7. Yohanes adalah salah satu rasul utama, disebut-sebut sebagai rasul yang paling disayangi Yesus. Saat berziarah ke tempat agama lain, bersikap aja like you're one of them mas, sama seperti saat aku ke masjid atau ke kuil Buddha.

    Harus kaya ya buat ziarah sebagai orang Kristen. Di Vatikan ada Basilika Santo Petrus, di Turki ada Basilika Santo Yohanes :D

    Mungkin sepi karena memang kesukaan kami berziarah nggak seperti umat muslim, mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, di situ aku sendiri soalnya. Belum ada pengunjung lain.

      Sebagai orang awam dalam hal ini, aku memang agak dilema dalam menyikapi hal-hal seperti ini. Di sisi yang satu, ada ketentuan agama yang berusaha aku penuhi, cuman aku belum tahu, dalam ajaran Islam, 'posisi' seperti Rasul Yohanes ini bagaimana. Itu yang aku belum paham.

      Hapus
  8. Kayaknya sih yg suka ziarah itu memang cendrung muslim :). Tapi aku pribadi suka visit ke berbagai makam orang2 yg terkenal, baik itu muslim ato bukan. Kdg itu bagus untuk kita selalu mengingat kematian :D. Supaya ga abai semasa hidup.

    Tp sayang tempatnya td g ada guide ya mas. Aku berharap ada yg ceritain secara detil ttg sejarah tempatnya supaya bisa LBH paham

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin sebenarnya ada guide ya, tapi saya aja yang gak tahu sepertinya. Lagian saya menjadi pengunjung pertama hari itu. Belum banyak petugas yang datang selain petugas jaga loket dan pemeriksaan. Bahkan pas di dalam pun cuma saya thok lho itu hehehe. Agak deg-deg ser jadinya :)

      Hapus
  9. peninggalan sejarah itu penting sekali ya mas agar pengetahuan tetap terjaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Sebenarnya di kita juga banyak kok peninggalan sejarah dari zaman dahulu. Ada yang terawat baik, ada juga yang rusak parah. Jadi tanggung jawab kita bersama sih untuk menjaga kelestariannya :)

      Hapus
  10. sayang sekali ya gereja itu tinggal reruntuhan saja.. padahal kalau dilihat dari reruntuhannya, bakalan epic cakep bgt kayanya kalau masih utuh..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget. Ini salah satu gereja ikonik di Turki macam Hagia Sophia kalau masih eksis sampai sekarang. Yah, tapi waktu berkata lain. Gerejanya tinggal puing

      Hapus
  11. wih keren foto peninggalan sejarah nya mas. mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangunan-bangunan kuno kerap membawa pesan dan fasad yang mengagumkan bagi generasi kekinian.

      Hapus
  12. Menarik sekali, Mas ceritanya. Kadang kalau dalam posisi seperti Mas Adie, ketika sudah merasa bingung, saya memilih untuk menghormati keadaan yang ada, atau sejarah yang tertulis seperti itu yang diyakini.

    Terlepas dari itu, tetap saja kawasan yang Mas kunjungi mengagumkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, kadang kita bingung kalau melakukan sesuatu yang belum nyampe ilmunya. Akhirnya ya memilih laku hening dalam 'penghormatan' aja yang paling aman hehehe.

      Hapus