Sabtu, 29 Februari 2020

Menjejak Konya dalam Sekejap Mata

.: Menara-Menara Mini di Museum Mevlana 🌿🍁:.

Traveling tanpa rencana perjalanan yang jelas memang penuh tantangan. Saya sadar dengan konsekuensinya. Saya harus disiplin, cermat dalam mengatur waktu serta biaya, dan bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Hal seperti ini sudah saya perhitungkan sejak mendarat di Istanbul dalam rangkaian #TurkeyTrip ini. 

Saat kembali ke Göreme Otogar dari Uchisar Castle, saya segera menuju agen tiket untuk menuju kota berikutnya. Saya dihadapkan pada dua pilihan: Selcuk atau Konya. Selcuk sudah lama ada dalam bucket list kunjungan saya karena adanya kota kuno Ephesus dan situs sejarah lainnya. Sementara itu, saya baru mendengar kota Konya pada hari terakhir di Göreme dalam sebuah obrolan ringan di ruang resepsionis penginapan.

Tapi, entah mengapa, saya seperti harus mampir ke kota ini, meski sejenak. Ditempuh dalam waktu sekitar empat jam dari Göreme, saya sadar diri bahwa mungkin tak banyak yang akan saya lihat. Saya sampai di terminal Konya saat matahari sudah condong ke barat. Sebelum keluar terminal, saya segera memesan tiket tujuan Izmir agar dapat melanjutkan perjalanan menuju Selcuk besok pagi.

Sungguh perjalanan yang penuh perjudian dengan waktu dan keefektifan dalam menikmati ritme perjalanan itu sendiri. Beruntung, saya mendapatkan bantuan yang banyak sekali dari penduduk lokal. Saya diberikan diskon khusus untuk tiket bus, diantarkan oleh orang yang sama sekali tidak kenal ke tempat pemberhentian dolmus menuju Museum Mevlana, dan 'dititipkan' oleh orang tersebut kepada Pak Supir dolmus agar yang bersangkutan menurunkan saya tepat di depan museum dengan tarif dolmus sama dengan orang lokal.

Meski begitu, saya dengan jahilnya bertanya ke beberapa orang yang berbeda hanya untuk mendengarkan mereka ngomong "Mevlana" dengan dialek lokal mereka yang khas. 😋

.: Menjejak Konya  🍂 :.

Konya disebut-sebut sebagai salah satu kota tertua di dunia. Kota ini eksis sejak zaman perunggu akhir yaitu sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Menjadi penghuni awal kota yang sekarang menjadi kota terbesar di Central Anatolia ini, kaum Hittites menyebutnya dengan Kuwanna. Sejak saat itu, Konya secara bergantian dikuasai oleh bangsa Persia, Iskanderum (pengikut Iskandar Agung), Romawi, Byzantium, Seljuk, dan Turki Ustmani.

Kota ini mengalamai masa keemasannya saat dikuasi oleh Bani Seljuk. Saat itu, Konya dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Maka tak ayal, saat ini banyak sekali peninggalan bangunan kuno berarsitektur Seljuk yang masih terawat dengan baik.
    
Dolmus yang saya tumpangi berhenti di seberang masjid Selemiye. Seteleh mengucapkan terima kasih kepada Pak Supir dan para penumpang yang sudah membantu, saya segera menuju pelataran masjid yang berbagi ruang dengan Museum Mevlana.

.: Masjid Selimiye, Ikon Kota Konya :.

Seperti dugaan saya, museum sudah tutup. Saya menyempatkan diri untuk salat Asar terlebih dahulu. Tempat wudhu masjid di Turki kebanyakan tempatnya agak terpisah dengan bangunan masjid. Tempat wudhu masjid Selemiye ini terletak di seberang pintu masuk. Isinya berupa pancuran saja. Tidak ada toilet. Jika ingin ke toilet sebelum wudhu, maka pengunjung bisa menggunakan toilet museum yang letaknya agak memutar dari lokasi tempat wudhu.

Inilah salah satu 'keunikan' hampir seluruh masjid di Turki. Rata-rata pengunjung masjid berasal dari lingkungan sekitar. Mereka datang ke masjid sudah dalam keadaan berwudhu. Pendatang yang akan salat biasanya akan sedikit kesulitan menemukan toilet. Apalagi kalau panggilan alam sudah mendesak. Saya pernah sampai harus minta izin untuk menggunakan toilet di sebuah toko dekat masjid gara-gara ini. 

Masjid Selemiye dibangun tahun 1558 oleh Sultan Selim II. Kubahnya besar sekali, diapit dengan dua menara yang tinggi menjulang. Fasadnya mirip sekali dengan bangunan Museum Mevlana di sebelahnya. Interiornya dihiasi dengan lukisan kaligrafi yang memanjakan mata. Selesai salat, saya pun berkeliling lingkungan masjid dan sedikit menengok bagian dalam museum dari celah-celah dinding. 

.: Trem di Kota Konya :.

Bangunan Museum Mevlana ini awalnya merupakan asrama untuk para pengikut Tarekat Mevlevi. Didirikan oleh Jalaludin Rumi pada abad ke-13. Selain sebagai museum, halaman bangunan ini juga dijejali dengan makam. Bahkan, ada satu makam yang sengaja tidak dipindahkan lokasinya dari trotoar di samping museum. Saya akhirnya tersadar mengapa ada dorongan begitu kuat untuk sejenak bertandang ke Konya. Itu karena Rumi. Nama ini terngiang-ngiang di kepala karena ingat saya pernah melihat orang menari berputar seperti sedang trans.

Nah, saya baru tahu tarian itu bernama darwis (whirling dervishes). Tarian ini merupakan salah satu ritual dalam Tarekat Mevlevi di mana orang yang sedang menari dan trans, dalam gerakan memutar badan secara cepat dalam satu poros, konon akan merasakan pengalaman spiritual dengan klimaks. 

Tarekat Mevlevi dibubarkan oleh Kemal Ataturk pada Desember 1925 dan tarian darwis yang merupakan sebuah ritual, saat ini seperti 'hanya' menjadi sebuah atraksi wisata saja. Mengetahui hal ini, saya jadi teringat dengan tari-tari tradisional di Bali yang beberapa dikemas dan dipersingkat durasinya 'hanya' untuk atraksi wisata.  

.: Gang di Konya :.

Saya menyeberang jalan, melintasi jalur trem, menuju ke sebuah kampung kecil di sekitar masjid. Kampungnya rapi sekali. Toko-toko berderet dibelah dengan jalanan berlapis cobblestone. Mereka menjual aneka kebutuhan pokok, permen, buah-buahan, manisan, rempah, baklava, cokelat, aneka keramik, dan kerajinan. 

Para penduduk setempat dan pemilik toko memerhatikan langkah saya. Mungkin karena penampilan saya agak berbeda. Beberapa yang kelewat ramah akan menyapa dengan, "Hello Malaysia."

Saya pun iseng dan menjawab balik, "Merhaba, Endonezya'dan geliyorum." 

Di luar dugaan, mereka pada langsung tertarik dan mendatangi saya untuk mengajak ngobrol lebih lanjut. Berhubung nerocosnya dalam bahasa Turki, sementara bahasa Turki saya masih terbatas, maka kalau bingung, saya akan mengucap kalimat andalan, "Türkçe konuşamıyorum." 😜

Tapi yang tidak ketinggalan adalah banyak yang minta foto. Entah mengapa, rasanya memang banyak orang Turki yang ngefans dengan orang Indonesia. Saya pun dengan senang hati berfoto bersama mereka.

.: Tumpukan Kenari di Salah Satu Kedai Rempah di Konya :.

Hari sudah beranjak sore namun langit masih cerah. Bendera Turki melambai-lambai di tengah jalan. Saya pun melanjutkan perjalanan ke sudut lain di kawasan ikonis Konya

Ada beberapa masjid yang berdekatan dengan masjid Selemiye, di antaranya yaitu Iplikci dan Alaedin. Keadaannya sama. Saya agak kesulitan menemukan tempat wudhu dan tidak melihat adanya toilet. Konsep masjid di sini sepertinya memang murni sebagai tempat ibadah saja. Sedang masalah taharah atau bersuci bisa dilakukan di rumah. 

Selain itu, yang harus diwaspadai oleh pengunjung adalah keberadaan pengemis. Kebanyakan masih anak-anak dan sejauh yang saya temui, seringnya imigran dari negara konflik. Turki memang agak 'terbuka' memberikan suaka bagi mereka yang negerinya sedang konflik. 

Saya sampai terkaget-kaget waktu pertama kali tahu beberapa orang yang menjadi pengemis itu merupakan imigran. Anehnya, mereka bisa beberapa bahasa dan sudah 'terlatih' untuk menjadi pengemis. Dan seperti pepatah ada gula ada semut, begitu satu diberi, maka setelah itu rombongannya akan datang dari arah tak terduga untuk meminta 'jatah' dengan jumlah yang sama. Sungguh tidak membuat nyaman untuk turis dengan dana terbatas seperti saya. 

Saya perhatikan, orang lokalnya malah cenderung cuek karena mereka sudah paham keseharian di Konya.

.: Bendera Negara Turki yang Berkibar di Salah Satu Jalan Menuju Masjid Selemiye :.

Saya melanjutkan perjalanan mengelilingi kota selepas salat Magrib. Saya susuri saja jalanan mengikuti jalur trem menuju Alaedin Hill. Jika capek atau tidak tahu mau ngapain lagi, saya tinggal naik trem untuk kembali menuju Konya Otogar.

Saya melewati sebuah bangunan bercahaya redup. Bercat cokelat gelap, fasad gedung ini tampak kaku. Saya seperti sedang berada di Kantor Polisi Rusia. Ternyata gedung ini kantor Gubernur Konya. Pantas saja punya tanah yang agak lapang dan ada tiang bendera. Seorang penjaga mempersilakan saya memotret gedung ini dari kejauhan karena sudah tutup. Jika ingin berkunjung, saya dipersilakan untuk kembali keesokan harinya.  

Berhubung hari semakin gelap, saya segera bergegas untuk menuju Alaedin Hill. Saya mampir sejenak ke toko olahraga untuk melihatan sepatu lari dan beberapa kaos. Tapi ternyata produknya tidak jauh berbeda dengan yang dijual di Jakarta. Yang membuat saya harus benar-benar mengakhiri perjalanan saya di Konya adalah hujan deras yang datang tiba-tiba. Saya harus merelakan untuk tidak jadi ke Alaedin Hill dan cukup melihatnya sekilas saja nanti dari dalam trem.

.: Kantor Gubernur Konya :.

Saya membeli Konya card seharga 5 TL untuk bisa naik trem. Terus terang, saat berada di dalam trem, saya sempat kangen dengan rumah. Saat suasana hujan deras begini, rasanya nikmat sekali kalau berdiam diri di rumah sambil makan mie kuah hangat. Sementara saat ini, saya sendirian dan kedinginan, berada ribuan kilometer dari kasur hangat di rumah, berusaha melanjutkan perjalanan ini hingga selesai. 

Pikiran terakhir yang menenangkan sekaligus melecutkan semangat adalah bahwa keesokan harinya saya akan menjelajahi tempat yang lebih kuno lagi dalam peradaban dan termaktub dalam kisah-kisah para Nabi. Saya pun meninggalkan Konya dengan dada menghangat sambil memandangi bayangan muka diri yang sedang tersenyum melalui pantulan kaca trem. []  

26 komentar:

  1. Ternyata kenari banyak juga yaa mas Di Turki..Dan sepertinya mendominisasi nih buah kenari.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu salah satu aja kok. Bukan toko yang populer, tapi memang menjual aneka rempah. Sepertinya sih lengkap :)

      Hapus
  2. Konya agak lengang ya, santuy mungkin idup di sini. Turki mungkin juga terpaksa terbuka memberikan suaka. Lah negaranya langsung berbatasan dengan negara konflik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas balik dari Turki aku buka peta di majalah pesawat. Ternyata deket banget sama Syiria dan Iraq. Pantesan banyak orang Indonesia yang mau gabung ISIS 'transitnya' dari Turki.

      Di Cappadocia pun ada temen dari Gazianteb yang ngundang main ke rumahnya. Pas buka peta lagi, ternyata Gazianteb itu daerah perbatasan Turki-Syiria hehehe. Untung deg-degannya pas udah di Indonesia :)

      Hapus
    2. Hahahahha, tidak terbayang kalau tahu bahwa daerah tersebut adalah perbatasan pas di sana. Mungkin lebih memacu adrenalin

      Hapus
    3. Ho? Emang udah pernah ke sana juga kah?

      Hapus
  3. Kotanya bersih dan rapi yah... juga penuh bangunan2 bersejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali. Konya ini kota paling modern di seantero Anatolia Tengah. Bentuk tremnya pun sudah modern, macam di Istanbul. Tapi, kota sendiri memang 'kalem' sih :)

      Hapus
    2. Saya pernah ke Istanbul, lalu lintasnya yah lumayan padat juga

      Hapus
    3. Kalau Istanbul kan memang bekas ibukota ya, jadi infrastruktur dan semuanya memang sudah memadai. Bahkan seringnya, penerbangan internasional dari dan ke Turki lebih banyak yang ke Istanbul daripada Ankara. Cmiiw. Nanti akan ada tulisan juga deh tentang Istanbul. :)

      Hapus
  4. Perjalanan tanpa rencana emang terkadang menyenangkan, apalagi kalau punya waktu banyak dan fleksibel..

    masjid2nya berarti lebih ramah di Indo ya masalah tempat wudhu dan toilet..

    Kalau keluar negeri tu kendaraan umum yg bikin penasaran ya trem ini.. kalau MRT, LRT dan sejenisnya nggak tertarik bahkan sebelum ada di Indonesia.. Tapi trem ini unik, bikin penasaran..

    Wah, ternyata ada juga orang luar negeri yg pgn berfoto sama turis dari Indonesia,, jadi pgn ke Turki juga, pgn ngerasain atmosfer itu, pgn ngerasain kek bule2 yg dimintain foto bareng kalau dtg ke Indo hahaha..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu. Prinsipnya sih emang masjid dan segala fasilitas umum yang ada itu ditujukan buat penduduk, bukan buat pendatang. Jadi kalau ukurannya lebih ramah mana, mungkin sebagai orang Indonesia, kita akan selalu menganggap bahwa apa yang menjadi keseharian kita itulah yang paling baik, paling pas, dan paling membuat nyaman karena memang ditujukan buat kita. Itulah pentingnya traveling, salah satunya adalah menyelami budaya lain. :)

      Hapus
  5. Balasan
    1. Saya belum merasakan suasana paginya seperti apa di Konya ini. Tapi pas sore sih lumayan rame. :)

      Hapus
  6. Baru tau ternyata konsep masjid di turki murni untuk ibadahnya saja ya,cukup berbeda dengan yang di sini yang biasanya juga sepaket ada temoat untuk toilet dan bersucinya juga
    Btw saya liat kenari jadi teringat kenari yg selalu diperebutkan tupai tokoh disney yaitu chip n dale

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepengetahuan saya begitu ya. Soalnya beberapa kali mau salat di mesjid, di beberapa kota di Turki, kok ya selalu kesulitan untuk nyari toilet ini.

      Hapus
  7. Baca ini aku pun langsung kaya diingatkan dengan sejarah, lha bagaimana tidak. Konya menjadi kota teruah di dunia dari jaman perunggu, wauw kan?

    Sama dnegan Mbak Nita, aku mikir itu kenari ingetin aku sama Film Disney tapi ALadien hahahaha.

    Begitu lihat Kenari langsung kebayang aladien di karpet terbang walaupun setting beda untuk aladien hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu film favoritku. Nonton film ini terus saat penerbangan dari Jakarta-Muscat-Istanbul-Muscat-Jakarta. Selain juga Crazy Rich Asian hehehe :)

      Btw, di Konya ini ada juga tempat yang namanya Alaaedin. Jadi inget film itu lagi :)

      Hapus
  8. Keren banget mas, bisa ngunjungi kota-kota kuno seperti itu.
    Jadi iri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga suatu saat bisa berkunjung juga ke Turki ya mz. Aamiin :)

      Hapus
  9. Seru juga bisa berpergian tanpa jadwal yang lebih fleksibel. Tiba-tiba mengunjungi sebuah tempat yang tidak ada di agenda perjalanan.

    Tidak hanya kota tua, ternyata Konya memiliki keterikatan dengan Rumi. Bahkan tariannya juga sangat terkenal hingga saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengennya punya waktu dan duit yang lebih longgar lagi buat jalan-jalan hehehe. Tapi apapun tetap disyukuri. Dah sampe sini pun :)

      Hapus
  10. Baru denger kalau konya itu ada di turki, baru banget denger dari sini. Sempet nyari di pencarian google ternyata tempatnya bagus bagus banget, apalagi transportasinya keren abis. Jadi bikin kangen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, kalau kangen itu bukannya harusnya udah pernah ya? Kan baru denger nih katanya setelah baca tulisan ini hehehe :)

      Hapus
  11. Waaah mas perjalanan kilat banget ke Konya, tapi saya yakin nggak ada penyesalan setelah lihat langsung kotanya. Saya yang cuma lihat fotonya saja suka, soalnya saya memang paling hobi lihat kota :D

    By the way, masnya sama kayak saya, kalau hujan yang diingat pasti mie kuah hangat, jangan lupa cabe rawit dan telur rebusnya ahahahaha :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha tipe orang Indonesia banget. Mungkin karena sebagian besar dari kita pernah merasakan nikmatnya makan indomie rebus waktu kecil. Tos dulu lah ya hehehe :)

      Hapus