Kamis, 22 November 2012

Senam Jantung Menuju Bandara

butuh perjuangan naik pesawat ini ;'(
Tiga hari sebelum keberangkatan, saya mendapat pesan pendek dari maskapai penerbangan yang memberitahukan bahwa pesawat yang akan saya tumpangi bakal terlambat 15 menit dari jadwal seharusnya karena masalah teknis. Bagi saya ini tidak masalah, toh saya tidak buru-buru, dan salut pada maskapai tersebut yang sudah sibuk memberi tahu. Jadi, seperti kebiasaan yang sudah-sudah, karena terbang malam, saya masih bisa gowes bareng orang tua sembari sarapan dan makan-makan sampai siang. Barang-barang yang akan saya bawa pun sudah ditata dari kemarin, jadi tinggal mandi dan berangkat.

Asumsi saya, dengan waktu ke terminal bus setengah jam, menuju Surabaya maksimal 3 jam, dan ke bandara setengah jam, masih ada waktu untuk duduk-duduk ganteng di bandara menunggu boarding, jika saya keluar dari rumah pukul 1 siang. Hehehe, ribet banget ya bo' kalau rumah jauh dari bandara. Itung-itungan saya itu sesaat buyar ketika masuk terminal Nganjuk pukul 2 siang. Saya lupa kalau hari ini adalah hari terakhir liburan panjang akhir pekan dan liburan haji. Calon penumpang sudah tumpah ruah sementara bus dari Solo sudah penuh semua dan hanya sanggup memasukkan satu dua penumpang lagi. Duh, mampus deh. Bisa-bisa telah nih saya? Akhirnya, berbekal sedikit kenekatan dan tambahan jurus muka melas, saya berhasil diangkut salah satu bus dan berdiri tepat di samping pintu. Gak apa-apa deh, yang penting sampai Surabaya sebelum jam 6 sore.

Cobaan pertama datang. Demi apa coba di Kertosono semua kendaraan parkir di jalanan gak gerak-gerak. Ternyata ada lampu merah yang durasi antara nyala lampu merah dan lampu hijaunya jomplang banget. Padahal di situ ada polisi yang mengatur lalu lintas dan jalur yang lampu hijaunya lama, macetnya tidak terlalu panjang. Duh, minta dicipok ini polisinya. ;'(

Setelah lampu merah terlewati, kemacetan kembali terjadi di atas jembatan yang jaraknya sekitar 100 meter dari lampu merah tadi. Yailah. Semua penumpang pada kasak-kusuk sambil berdoa supaya segera keluar dari jembatan gantung yang dari tadi memantul-mantul kelebihan beban. Jam di atas kepala Pak Supir sudah menunjukkan pukul 3 sore. Berarti jalur Nganjuk-Kertosono yang seharusnya cuma 20 menit jadi 1 jam. Mana supirnya alim banget lagi. Ada kalanya saya kangen naik bus Sumber Kencono yang (katanya) supirnya sering ugal-ugalan. *keluh*

sandal (putus) vs sepatu OK, hiks ;'(
Jalanan agak lengang setelah simpang empat menuju Kediri di Kertosono membuat saya agak lega. Tak ada kemacetan berarti dan antrian mengular di jalanan meski lalu lintas tetap ramai. Baru ketika masuk kota Jombang, Pak Polisi jalan raya bikin gara-gara lagi dengan menutup jalur menuju terminal dan semua kendaraan dialihkan ke arah Ploso yang jalannya blusak-blusuk kampung.Wah, mau pingsan rasanya. Tapi untungnya ada bantuan datang. Ada satu anggota TNI yang bersedia 'membuka pintu' menuju terminal asal dia bisa diangkut. Tanpa pikir panjang, Pak Supir meminta keneknya membukakan pintu.

Bus kembali jalan dan berkomitmen tidak akan lagi menaikkan penumpang kecuali cewek cantik. Uhuk. Saya agak kasihan juga sih melihat penumpang yang membeludak di terminal gara-gara bus dari barat selalu penuh. Tapi, mau gimana lagi coba? Bus ini kembali tersendat saat berada di biang kemacetan kota Jombang: Peterongan, yang memang sedang ada pembangunan jalan layang sehingga jalannya jadi kecil dan tidak memungkinkan untuk mendahului. Di sinilah saya tua di jalan selama 1 jam di jalan sepanjang 2 km. Sigh.

Tepat pukul 5 sore, bus baru masuk terminal Mojokerto. Pikiran saya langsung berputar tepat 1 jam sebelum batas akhir saya seharusnya check in. 15 menit kemudian, saya cek pesan singkat dari maskapai yang saya terima 3 hari lalu dan membolak-balik lembar tiket. Saya coba telpon costumer servise di situ, tapi gak nyambung dan ada suara, "maaf, nomor telepon yang Anda panggil tidak terdaftar." What? Ini nomor kontak resmi di tiket dan di webnya lho. Ya sutralah, saya coba ubek-ubek webnya sampai kemudian nemu nomor kontak lain dan diangkat. Setelah pencet ini pencet itu sesuai instruksi operator, ditanya nama, kode booking, dan nomor e-ticket, baru ditanya perlunya apa. Saya jelaskan dengan sabar bahwa kalau bisa saya mohon dialihkan ke penerbangan terakhir karena kena macet di jalan.

alhamdulillah, gak jadi hangus deh tiket ini ;D
Si mas customer servise-nya bilang bisa tapi seharusnya dilakukan 4 jam sebelum keberangkatan. Kalau 1 jam sebelum terbang harus konfirmasi ke maskapai yang ada di bandara. Ya udah, saya minta nomor kontak maskapai yang ada di bandara Juanda. Tapi puluhan kali saya telpon, gak diangkat-angkat. Duh. Mungkin memang jamnya sibuk, pikir saya tetap berusaha berpikir positif. Pukul 17.30 WIB dan masih di wilayah Mojokerto mendekati Sidoarjo, jalanan tersendat gara-gara banyak pengendara motor yang pada balik ke Surabaya. Saya baru sadar, kalau air minum saya habis dan handuk kecil basah oleh keringat saking panasnya bus ini meski ACnya kencang.

Saya coba kontak kantor maskapai yang di Jakarta lagi karena yang di Surabaya gak diangkat-angkat. Kembali alur itu berjalan lagi: pencet ini itu, ditanya nama, kode booking, dan nomor e-ticket, baru ditanya keperluan karena mas-mas customer servicenya beda. Saya jelaskan dari awal lagi dan saya mohon dibantu bagaimana caranya agar mengontak petugas yang di bandara Juanda agar mengalihkan saya pada penerbangan paling malam karena nomor kontak yang dikasih tadi tidak nyambung. Si mas customer servisenya bilang dengan jawaban yang sama seperti operator sebelumnya ditambah jawaban yang bikin dengkul lemes: penerbangan paling malam dan penerbangan pagi hari berikutnya sudah penuh dipesan. Deg. Dengkul saya benar-benar lemes dan saya baru sadar bahwa sandal jepit saya putus. Aaaggghhh.

Pikiran saya kembali berputar dan tetap optimis harus sampai ke bandara dulu baru lihat entar gimana selanjutnya. Kalau sampai bandara ternyata pesawatnya sudah terbang duluan ke Jakarta, saya akan menginap di Surabaya entah di tempat sepupu atau di penginapan dekat bandara. Saya akan menelepon teman kantor untuk menghandle kerjaan dan menguruskan cuti. Saya akan kembali pulang ke rumah dan 'liburan' lagi selama 3 hari ke depan. Duh, ribet bener deh. ;(

Eh, karena kebingungan telpon sana-sini, ternyata penumpang lain yang dari tadi nguping pada kasak-kusuk dan menasehati saya untuk berangkat lebih pagi. Iya, saya ngaku ceroboh dan alpha memerhitungkan macet akibat arus balik kendaraan dan tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. Jam 6 kurang 15 menit bisa-bisanya bus keparat ini berhenti di pom bensin gara-gara ada yang kebelet pipis. Begitu jalan sebentar, saat menurunkan penumpang, saya melihat ada taksi yang lagi parkir di tepi jalan. Saya memutuskan untuk turun dan naik taksi. Saya pikir, ada taksi lagi nongkrong berarti sudah mulai masuk kota.

Begitu saya samperi, taksi tersebut kosong melompong ditinggal sopirnya. Saya tengok sana-sini sambil menyeret sandal yang putus, saya datangi warung kopi dekat situ kali-kali aja sopirnya lagi ngopi. Eh beneran. Begitu lihat saya tergopoh-gopoh nyari taksi, Pak Sopir taksi lari ke taksinya sambil bawa gelas kopinya. Kalau ingin ini saya jadi geli sendiri hehehe.

Pukul 18.05 WIb saat seharusnya sudah terakhir check in di bandara, saya baru masuk taksi. Saya bilang ke Pak Supirnya kalau saya sudah telat check in, pokoknya bagaimana caranya bisa sampai bandara dalam 15 menit. "OK mas, akan saya coba," kata Pak Supir tak kalah optimis. Mungkin ini taksi paling ugal-ugalan malam itu gara-gara permintaan saya. Gila, alarm mobilnya sampai menjerit-jerit terus gara-gara melaju di atas rata-rata. Sementara saya pegangan erat sambil tak henti-hentinya komat-kamit baca doa. Please, semoga masih bisa check in. Semoga saya tidak harus terpaksa memakai jatah cuti tahunan yang berharga untuk masalah beginian.

saya, di antrian terakhir, makanya bisa motret ini :P
Tepat pukul 18.22 WIB, setelah bayar taksinya, saya banting pintu dan lari. Terus balik lagi ke taksinya yang disambut heran sopirnya. Hahaha. Saya cuma mau tahu namanya siapa dan mengucapkan terima kasih. Itu saja. Kemudian, bagai suster ngesot dengan kaki terseret, saya lari ke counter maskapai dan langsung disuruh masuk. Pemeriksaan X-ray mulus dan parahnya antrian check in-nya masih panjang. Karena gak maju-maju, saya tanya pengantri di depan saya terbangnya jam berapa. Begitu tahu kalau terbangnya masih 2 jam lagi, saya permisi agar bisa check in duluan karena setengah jam lagi pesawat saya terbang.

Begitu dibolehin, ternyata saya salah tempat mengantri. Duh, dodol. Ada counter khusus yang disediakan untuk orang-orang telat kayak saya yang dipanggil-panggil dengan "Jakarta Jakarta terbang jam 7" kayak kenek metromini. Saya langsung serahkan tiketnya dan bayar airport tax dengan perasaan agak lega. Saya kembali lari ke ruang tunggu yang ternyata sudah tidak ada antrian masuk. Saya disuruh tenang oleh petugas X-ray di ruang tunggu karena 15 menit lagi baru boarding. Alhamdulillah Tuhan. Saya masih sempat ke toilet dan sholat.

Saya menjadi orang terakhir yang masuk pesawat dengan ratusan pasang mata memandang ada penumpang aneh dan kucel dengan langkah terseret yang memasuki pesawat mereka yang mewah. Perasaan saya kembali campur aduk begitu menyadari kalau dapat kursi di dekat pintu darurat. Seumur-umur, baru kali ini saya duduk di barisan itu. Saat ada instruksi dari pramugaranya saja saya sudah langsung parno. Duh. Tapi, untung semua baik-baik saja.
cukuplah ini mengganjal perut keroncongan
Penerbangan malam ini lancar dan menyenangkan. Selama perjalanan saya puas makan, minum, nonton film, baca majalah, dan lupa kalau beberapa jam sebelumnya bersibaku dengan waktu mengejar pesawat ini. Begitu melongok ke bawah, saya sadar benar akan satu hal. Penumpang yang duduk di sebalah kiri saya adalah seorang pengusaha dengan setelan rapi dan sibuk main game di tabletnya. Sementara penumpang di sebelah kanan saya adalah pegawai kantoran dengan dandanan gaul dan modis sedang nikmat membaca buku.

Saya memang kelihatan kucel malam itu. Pikiran terakhir dan menenangkan sebelum akhirnya mendarat di Jakarta adalah meski kucel dan pakai sandal jepit putus dengan langkah terseret, toh kita sama-sama duduk di kabin kelas ekonomi. Saya kembali tersenyum lebar dan mantab menuju terminal bandara sambil berujar dalam hati: Selamat datang (kembali) Jakarta. Fiuh. ;)

10 komentar:

  1. Gila mas. Saya bacanya jadi ikut tegang juga. Kaya baca novel thriller. Hahaha.

    Btw, salam kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha terima kasih Mas Ipung, salam kenal juga ;)

      Hapus
  2. Hahahaa seruuu.. Untung ga ketinggalan pesawat.
    Aku bbrp kali juga nyaris telat, gara2 kemacetan yg suka tiba2 menggila di bandara soetta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duuuh, amit-amit ya, jangan sampai ketinggalan pesawat. Beli tiketnya aja penuh perjuangan hehehe. Iya jalan ke bandara Soetta suka ada cobaan, kemarin pada banyak yang marah-marah di terminal 1 gara-gara gak boleh check in. Ternyata, maskapai emang tidak menoleransi kalau tiba-tiba di jalan tol ada kecelakaan. *keluh* ;'(

      Hapus
  3. dandanan full dr rumah langsung luntur ya hehehe ...

    BalasHapus
  4. saya kapok, pernah hampir ketinggalan sekali di juanda. akhirnya lari tunggang langgang sampe boarding. *gara - gara bus yang saya tumpangi pake acara macet dijalan sih -,-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, Fahmi tinggal di mana sih? Kok sering banget cerita-cerita tentang Juanda :)

      Hapus
  5. Hahaha... ikut merasakan ketegangannya. Amit-amit jabang babi dah ketinggalan pesawat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha iya e mas, ini udah deg-degan banget. Tapi untungnya naik Garuda, jadi aman lah :)

      Hapus