Jumat, 30 November 2012

Bergaya di Bandara

Bergaya di Bandara Internasional Hasanuddin, Makassar
Berfoto dengan latar belakang landmark suatu tempat seolah menjadi penanda wajib bahwa seseorang sudah pernah berkunjung ke daerah tersebut. Saat jalan-jalan, saya sering mengamati tingkah orang-orang yang sedang diambil gambarnya. Dengan berbagai gaya dan pose, mereka berekspresi sebaik dan semenarik mungkin untuk mendapatkan foto yang indah. Belakangan, setelah sering bepergian dengan pesawat terbang, saya pikir bandara merupakan sasaran pertama yang menjadi objek latar belakang foto diri saat jalan-jalan.

Awalnya saya hanya berniat untuk mengambil foto diri sesaat setelah pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, Sumatera Barat. Seperti kebiasaan yang sudah diketahui teman-teman jalan, saya selalu meminta difoto dengan latar belakang bangunan atau tulisan di bandara yang menunjukkan bahwa saya sedang berada di daerah tersebut. Setelah cekrak-cekrek dan bergegas masuk ke dalam bandara, ternyata sebagian besar orang yang sepesawat dengan saya masih sibuk berfoto seperti yang baru saja saya lakukan. Kalau begini, saya jadi tak perlu merasa bersalah untuk berfoto narsis karena terbukti benar teori yang sering saya katakan kepada teman-teman: setiap orang pada dasarnya punya 'jiwa' narsis, hanya porsinya saja yang berbeda-beda. *ngeles kayak bajaj* :P

@ Bandara Internasional Minangkabau, Padang
Bandara lain yang sering dijadikan sasaran sebagai latar belakang foto narsis adalah Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh), bandara Komodo (Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur), Bandara Internasional Polonia (Medan), Bandara Internasional Hasanuddin (Makassar), dan beberapa bandara lain di Indonesia. Mungkin karena arsitektur bandara-bandara tersebut unik mengikuti adat daerah setempat sehingga kelihatan khas atau bahkan modern banget, yang tidak setiap hari bisa dijumpai oleh pungunjung asal Jakarta sehingga orang merasa perlu untuk mengabadikan diri dengan latar belakang bangunan bandara.

Buktinya, saya tak pernah melihat ada orang foto-foto dengan latar belakang papan nama bangunan Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta. Mungkin bangunan bandara Soekarno-Hatta konsepnya sudah modern yang 'keunikannya' sering dijumpai di mana-mana di Jakarta. Selain itu karena merupakan bandara internasional di mana areanya sangat luas, tulisan Bandara Soekarno Hatta terletak agak jauh dari tempat para penumpang turun dari pesawat sehingga membuat males untuk foto-foto. Saya sendiri yang biasanya 'mewajibkan' diri untuk foto-foto, cukup puas berfoto dengan latar belakang pesawat terbang. Dan biasanya, saya milih berfoto di depan pesawat maskapai penerbangan yang terkenal. Cakep banget deh rasanya. Hehehe.  

@ Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh

@ Bandara Internasional Polonia, Medan

@ Bandara Internasional Lombok, Mataram

@ Bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan (Belitong)

Tulisan "Soekarno-Hatta"-nya jauh dari tempat turun sih ;'(

Pengalaman narsis paling berkesan (dan paling memalukan) saya alami di Bandara Internasional Juanda, Surabaya saat akan trip sendirian sembari menghadiri acara pernikahan saudara. Begitu turun dari pesawat, saya langsung sibuk mengambil posisi berfoto dengan latar belakang bangunan bandara berarsitektur Joglo Jawa Timur tersebut. Dan inilah yang paling menyebalkan kalau jalan-jalan sendiri: gak ada yang bisa dimintain motret dengan gaya agak gila. Duh.

Ada pelangi di Bandara Internasional Juanda, Surabaya :P
Celingak-celinguk sana-sini akhirnya saya menemukan 'papan' pembatas parkir pesawat. Kamera saya setting selftime mode, baru kemudian saya bergaya. Sekali, dua kali, tiga kali jepretan akhirnya dapat foto yang pas. Sampai jepretan kelima masih tenang aman sentosa. Saat mau mengambil jepretan ketujuh, tiba-tiba datang mbak-mbak cantik berseragam yang teriak-teriak memanggil saya. Ternyata itu petugas bandara yang mengatur keluar masuknya penumpang dari dan ke pesawat. Dan ternyata, penumpang tujuan Jakarta yang akan naik pesawat yang barusan saya naiki belum bisa boarding karena ada satu penumpang yang belum masuk gedung bandara.

Saya yang baru menyadari bahwa area bandara sudah sepi penumpang segera lari gubrak-gabruk menuju gedung bandara. Sepanjang lorong menuju pintu keluar, bulir-bulir keringat dingin mulai mengucur. Ratusan pasang mata menatap saya dengan sebal dari viewing gallery gara-gara harus menunggu sedikit lebih lama untuk bisa naik ke pesawat. Peace ah. Tak lama setelah sampai di pintu keluar dengan aman, pintu yang barusan saya lewati segera menutup dengan kencangnya. Wuih leganya. :)   

6 komentar:

  1. Btw, tulisanmu kok (maaf) sedikit mencontek gaya Trinity ya :) Membuat sebuah rangkaian peristiwa dari berbagai tempat hehe ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah, masa sih? Tapi kalau gaya menulis kan gak apa-apa kalau toh mirip, asal tidak menjiplak tulisannya. Dia emang penulis keren kok, salah satu 'guru'ku juga hehehe :D

      Hapus
  2. ternyata ada temen juga yang seneng narsis dan excited di bandara :P

    BalasHapus
  3. Dan biasanya, saya milih berfoto di depan pesawat maskapai penerbangan yang terkenal. Cakep banget deh rasanya. Hehehe. <- Kasihan banget sih ngerasa cakepnya kalo pas foto di depan pesawat. Kalo pas enggak foto gak cakep kan ya? *eh* :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakakak, eh itu kan jaman-jaman diriku masih nista dulu pas baru awal-awal naik pesawat wkwkwk sialun :'(

      Hapus