Sabtu, 07 Januari 2017

17 Hal yang Sering Ditanyakan kepada adieDOES tentang Berlari

.: Berlari di Jalanan Jakarta Saat Car Free Day :.

Saya suka jalan-jalan. Saya lari secara rutin. Saya menyenangi fotografi. Di sela-sela waktu luang, saya masih menyempatkan diri untuk membaca (banyak) buku. Saya suka nonton film. Saya makan teratur mengikuti kaidah empat sehat lima sempurna. Saya senang icip-icip kopi. Hampir setiap waktu, saya juga aktif menyebarkan hal (yang menurut saya) positif di akun media sosial.

Di era media sosial seperti saat ini, di mana akses internet dapat dijangkau hampir semua orang, batasan jarak dan sekat seolah mengabur. Orang mudah terhubung satu sama lain di sudut bumi manapun. Efeknya, yang saya rasakan, orang jadi punya kecenderungan untuk mengetahui latar belakang orang lain (kepo).

Sebenarnya, apa yang saya tampilkan di media sosial tak jauh berbeda dengan keseharian. Kegiatan rutin, kesenangan-kesenangan kecil, hobi, maupun segala hal yang sedang atau sudah saya lakukan. Namun demikian, meski saya bukan selebritas, masih ada saja yang merasa perlu untuk mengonfirmasi ulang melalui kolom komentar, kotak pesan, pesan singkat, pesan singkat blackberry maupun whatsapp perihal sesuatu yang saya posting di media sosial, terutama soal lari. Daripada ribet menjawab satu persatu, berikut ini saya rangkum hal-hal yang sering ditanyakan perihal kegiatan lari yang saya lakukan. 

1. Sejak kapan sih suka lari?

.: Persiapan Gramedia Fun Run 2016 :.
Saya mulai lari sejak SD. Dulu lari keliling blok sekitar perumahan saja, lalu meningkat jaraknya menjadi keliling lapangan bola, lalu meningkat lagi menjadi sampai ke desa maupun batas kecamatan sebelah. Iya, saya lahir dan tumbuh menjadi remaja tampan di suatu desa di Jawa Timur sana.

Sejak kenal naik gunung, kegiatan lari saya lakukan sebagai penyeimbang agar tidak mudah ngos-ngosan saat melewati jalur menanjak di gunung.

Tahun 2012, saya masuk barak dan mulai dikenalkan dengan teknik berlari yang lebih baik. Saya wajib lari rutin setiap pagi, siang, dan sore hari. Hidup saat itu rasanya hanya untuk lari, makan, dan olah fisik saja. Setelah itu, saya rutin berlari hingga sekarang.

2. Biasanya suka lari di mana dan kapan?

Saya biasa lari di mana saja. Di dekat rumah, di stadion, lapangan bola, jalanan, dan tempat lari lainnya. Saat pergi ke luar kota, saya selalu menyempatkan diri untuk lari di sekitar hotel. Kalau ke Bali atau daerah yang punya garis pantai lumayan panjang, wajib banget untuk lari di pantai. Untuk hari-hari biasa, saya lari rutin setiap pagi sehabis subuh kecuali hari Senin dan Kamis. Larinya ringan saja sejauh tak lebih dari 8 km. Untuk akhir pekan, jaraknya menjadi agak jauh sedikit yaitu antara 10-21 km. Lokasi paling menyenangkan saat ini untuk lari di kawasan BSD City, Serpong. Jalanannya masih sepi kalau pagi, aspalnya bagus, dan mudah sekali menemukan minimart untuk beli minum.

3. Makan apa biar kuat lari?

.: Selamat Makan Indonesia :.
Tidak ada yang istimewa. Sama seperti orang pada umumya. Saya makan dua atau tiga kali sehari, sering ngemil gorengan atau cemilan lainnya, tapi paling suka makan sayur dan buah. Saya hampir tidak pernah makan mie instan lagi (kecuali saat mudik lebaran atau saat terpaksa waktu naik gunung ramai-ramai).

Saya juga menghindari makan daging (kambing dan sapi), namun sesekali masih icip-icip ayam goreng siap saji. Setiap hari harus ada tempe di menu, meski sepotong, atau dalam bentuk kering tempe. Pokoknya tempe. Tahu opsional aja. 

4. Masih minum susu atau minuman lain?

Susu apa dulu nih? #eh. Iya, saya minum susu. Susu cokelat saja. Bukan susu khusus untuk penambah massa otot atau penguat tulang. Bukan juga susu suplemen. Susu cokelat biasa. Kadang tambah madu (dari hutan pedalaman Badui). Saya juga penggemar kopi dan sudah melakukan ekspedisi keliling nusantara hanya untuk 'mengalami' 'sensasi menikmati secangkir kopi di tanah asalnya. Saya juga suka teh. Kalau sedang capai lari, saya biasa menghabiskan sore dengan menyeruput teh hangat. Nikmatnya tiada tara. 

5. Gue perhatikan, lo jarang pakai jersey (kaos) lari saat race? Kenapa?

.: Zumba di Gramedia Fun Run, BSD :.

Sebenarnya enggak juga. Saya lebih senang pakai kaos lari tanpa lengan (singlet). Selain lebih leluasa menggerakkan tangan dan tidak ribet saat diikatkan armband, kaos lari saya umumnya 'berani' dalam warna seperti warna stabillo. Bukan apa-apa, warna ngejreng akan lebih oke saat difoto. Bener kan? Tapi, saat perhelatan Mandiri Jakarta Marathon 2016, saya menggunakan kaos dari panitia kok. Itu karena kaosnya bagus dan modelnya singlet.

6. Pakai sepatu apa sih kalau lari?

Oke ngaku. Saya itu orangnya kampungan sekali kalau sudah urusan sepatu lari, gadget, dan sejenisnya. Makanya sering melongo kalau ada kerumunan atau grup yang membahas, bahkan sering berdebat tajam tentang keunggulan ini-itu berkaitan dengan sepatu lari. Jujur, saya dari dulu senang dengan sepatu merek Eagle. Murah meriah. Sampai di barak pun, jatah sepatu lari yang dibagikan komandan juga itu mereknya. Setelah beberapa sepatu saya jebol karena sering dipakai naik gunung dan main lumpur, lebaran tahun lalu saya dibelikan sepatu oleh ayah dengan syarat harus lari dari depan rumah sampai alun-alun yang mana jaraknya kurang lebih 15 km. Beres. Saya pun dapat sepatu Cosmic Conae buatan Brazil dan Diadora. Yang penting nyaman di kaki. Kalau nyaman kan jadi sayang. :'( #jleb #abaikan

7. Pilih mana, lari di jalanan atau trail?

.: Ungaran Trail Ultra 2016 :.
Kalau pilih dua-duanya boleh kan?

Seneng aja gitu. Untuk long run, lari di jalanan sungguh nyaman sekali. Jalur di Jakarta, Bandung, dan BSD cukup menyenangkan untuk itu. Aspalnya halus, jalannya lumayan rata, dan kendaraan yang melintas bisa diatur.

Untuk trail, karena dasarnya saya suka naik gunung, lari trail itu sungguh menantang. Biasanya gendong ransel berkilo-kilo, kalau lari trail bisa dengan leluasa ugal-ugalan, bahkan bisa 'bebas' tidak pakai kaos segala. Mainkaaan!

8. Itu yang motoin lo siapa sih kalau lari?

Untuk acara race yang panitianya bonafit dan banyak sponsornya, ada fotografer resmi yang memotret semua peserta. Kita tinggal memasukkan nomor BIB (nomor dada) dalam aplikasi di internet dan voila ... foto-foto selama race langsung terunggah di laman facebook. Ada juga fotografer dari komunitas yang dengan baik hati membagi foto-foto selama race berlangsung di laman grup mereka di facebook. Tanpa harus diminta pun, mereka dengan senang hati fotonya disimpan. Kalau larinya jauh dari mana-mana dan tidak ada fotografer resmi, saya sih sering minta tolong orang yang ada di dekat situ untuk membantu mengambilkan gambarnya sekadar buat dokumentasi pribadi saja sih. Intinya, mulailah menanam 'karma' yang baik. Insyaa Allah, akan ada banyak orang yang akan menolong dalam segala situasi

9. Kenapa fotonya selalu shirtless dan posisinya dari belakang?

Enggak selalu kok. Tapi kalau disuruh milih, lari gak pakai kaos itu lebih nyaman lho. Berhubung saat lari itu terjadi banyak pembakaran kalori, tubuh jadi panas. Makanya lebih asyik kalau lari gak pakai kaos. Tapi, saya tetap lihat tempat juga kok, demi menjaga sopan santun berbusana. Berbahagialah sebagai laki-laki, kita bisa leluasa dan cuek, kalau kepanasan bisa tanpa rikuh lepas kaos. Asal tulang iga gak kelihatan aja sih. Saya juga sering kok foto pakai kaos. Dari depan pula diambil gambarnya. Yang pasti, dari depan atau belakang, orangnya tetap tampan tiada tara sebagaimana biasanya.

.: Running Under The Rain :.

10. Race paling menyenangkan apaan ya?

Maybank Bali Marathon. Sepertinya semua akan banyak yang setuju. Mungkin karena tempatnya ada di Bali, race-nya rapi, penduduknya sadar akan ada acara dan tidak nyelonong di jalanan sepanjang jalur lari. Sepanjang jalan pun hiburannya banyak sekali. Harganya murah pula. Sudah gitu, kaos dan medalinya unik. Sungguh khas Bali. Setelah lari pun, peserta bisa main sejenak di Bali Safari and Marine Park yang lokasinya bersebelahan dengan venue lari. Acara ini sudah menjadi semacam lebarannya para pelari di Indonesia. Semua berkumpul, bereuni, dan bersuka cita lari bersama-sama tanpa sibuk bertanya tentang agama (penting!), pekerjaan, dan segala hal yang tidak menarik untuk dibahas. Saking berkesannya acara ini, setiap tahun banyak sekali yang susah move on dari acara ini meski sudah ada beberapa race yang diikuti. Termasuk saya.

11. Race yang pantang untuk dilewatkan apaan dong?

.: Ice Pool yang Ngangenin :.
Maybank Bali Marathon tak perlu dibahas lagi lah ya. Selain itu, Pocari Run, Mandiri Jakarta Marathon, Borobudur Marathon, Milo International 10K, dan 2XU Compressport Run merupakan salah lima race di Indonesia yang pantang untuk dilewatkan. Ada banyak lagi sih race kecil-kecil di Jakarta dan sekitarnya. Tapi, kalau tak punya banyak waktu atau tinggalnya jauh di luar Jakarta, acara yang saya sebutkan di atas layak dibela-belain untuk hadir.

Alasannya? Di luar acara larinya yang memang seru, acara ini pantang dilewatkan karena kaos, medali, dan refreshmennya bagus banget. Berhubung acaranya lumayan banyak peminatnya, (selain Milo 10K) semua race tersebut selalu menyediakan ice pool untuk melemaskan otot-otot kaki. Saya selalu menyempatkan diri untuk sejenak merendam kaki di air es sekolam ini sambil leyeh-leyeh sejenak. Setelah setengah jam 'nongkrong' di sini, rasanya kaki sudah enteng lagi dan siap diajak melata di mal pada siang atau malam harinya.

Di luar itu semua, kalau acaranya lumayan 'besar' seperti ini dan difavoritkan hampir semua pelari, saya pikir momen ini cocok digunakan untuk 'reuni' run dengan kawan-kawan lari baik dari komunitas sendiri yang tersebar di seluruh penjuru nusantara maupun dari komunitas lari yang lain. Intinya, senang deh ketemu dengan banyak orang yang mempunyai semangat yang sama untuk berlari. Jadi, ketemu di mana lagi kita? Hehehe ;)

12. Gile, tiap akhir pekan ikut race. Duitnya banyak dong ya?

.: Baper Seperlunya, Galau Secukupnya, Lari Sekuat Tenaga :.

Enggak juga. Saya ikut race karena sedang ada waktu luang dan rezeki saja. Mungkin karena load kerjaan saya sedang tinggi-tingginya, saya perlu refreshing sejenak dari kepenatan pikiran. Dulu sih biasanya saya kerap terbang atau jalan ke luar kota untuk piknik. Setelah ikut lari, dihitung-hitung lebih murah ikut race lari daripada jalan-jalan. Makanya memilih ikut lari saja. Selain lebih hemat, lebih sehat, juga tak mengurangi kesenangan untuk bisa bahagia. Benar, kan?

13. Lari melulu, lari dari kenyataan ya?

Sebentar. Sebenarnya saya agak malas menjawab pertanyaan ini. Maksudnya, saya mengerti kalau niatnya untuk bercanda. Hanya saja, tidak masuk saja dalam logika berpikir saya. Lucu juga enggak, enggak lucu juga enggak. Jadi saya bingung kalau ada yang berkomentar demikian.

.: Borobudur Marathon 2016 :.

Mungkin agak membantu dengan sedikit penjelasan ini. Film (anak-anak) favorit saya adalah Children of Heaven karya Majid Majidi. Buku memoar yang saya suka selain Catatan Seorang Demonstrannya Soe Hok Gie adalah What I Talk About When I Talk About Running karya Haruki Murakami. Kedua kisah, baik di film maupun memoarnya Murakami sama-sama bercerita tentang lari. Mereka suka lari karena memperjuangkan sesuatu. Tokoh Ali di film Children of Heaven berlari demi mendapatkan sepasang sepatu. Sepatunya sendiri sudah tidak layak pakai dan itupun harus dipakai secara bergantian dengan sang adik untuk bersekolah. Sedangkan Murakami berlari untuk mengukur sejauh mana kemampuan dirinya, mendorongnya senantiasa berlatih agar tetap bugar di usia yang tak lagi muda untuk bisa terus konsisten menulis.

Dulu, sebelum kenal dengan orang-orang dan komunitas lari, saya lari sendiri saja. Setelah kenal 'dunia' komunitas lari dengan orang-orangnya yang heits itu, saya jadi tahu dunia baru yang ternyata menyenangkan juga untuk diikuti. Selain lari untuk mendapatkan kesenangan, banyak sekali pelari yang saya kenal, ternyata berhati mulia. Mereka lari bukan hanya untuk ikut race secara umum, tetapi ada yang berlari dengan misi sosial.

.: Musi Run 2017, Palembang :.

Jenisnya pun macam-macam. Ada yang berlari untuk menggalang dana bagi penderita kanker, untuk anak-anak kurang mampu yang mengidap penyakit tertentu, membantu anak-anak di suatu daerah untuk bisa terus sekolah, membantu mahasiswa kurang mampu agar bisa melanjutkan kuliah, dan masih banyak lagi. Dan mereka berlari tanpa pamrih hanya untuk 'bersenang-senang' sekaligus membantu orang lain. Jadi, di balik ingar-bingar dunia lari yang kelihatannya hedon itu, banyak sekali lho hal-hal menghangatkan hati yang pantang juga untuk tidak turut ambil bagian di dalamnya.

Makanya, kalau ada orang yang dengan entengnya ngomong, "Lari mulu sih, lari dari kenyataan ya?", pengen gitu tak krues lambene. Jelas tho saiki. :'(

14. Lari melulu, jadi kapan nih kawin, eh, menikah maksudnya?

Berhubung masih sering disangka Anak sekolah bro, liburnya akhir pekan ajuah. Jadi, insyaa Allah kalau enggak hari Sabtu, ya hari Minggu. Ok, pertanyaan selanjutnya. :P

15. Gue baru mau ikutan lari ini, biar tidak ngos-ngosan harus bagaimana ya? Bagi tipsnya dong.

Sebagaimana olahraga atau hobi lainnya, segalanya berawal dari pemula. Yang namanya pemula, alangkah baiknya tidak melakukan sesuatu sebagaimana orang yang sudah sering melakukan sesuatu yang ingin kita lakukan. Misal, saat baru belajar menulis, mungkin hasil tulisan kita tidak sebaik orang lain yang sudah lebih dahulu berkecimpung dalam dunia tulis-menulis. Begitu juga dengan berlari. Jika Anda melihat ada seorang kawan yang mengunggah foto kegiatan larinya berikut kecepatan dan jarak tempuhnya, sebaiknya sih selow saja. Ingat, itu kawan Anda, bukan Anda!

Lari saja sesuai dengan kemampuan tubuh. Masing-masing orang tentu berbeda. Awalnya dulu saya 'hanya' kuat lari sejauh 1.5 km saja. Itupun saya kira sudah jauh sekali. Lalu nambah jarak menjadi 2.5 km, namun di km 1.5 sudah ngos-ngosan. Sampai suatu ketika, saya bertemu dengan kawan yang biasa berlari dan diberi saran untuk lari stabil. Maksudnya, lari saja pelan-pelan, jika sudah mendapat 'ritme'nya dan kita nyaman di kecepatan tersebut, stabilkan terus sampai dengan jarak tertentu yang ditargetkan hari itu. 

.: Jakarta Campus Run 2017 :.

Misalkan, niat lari 5 km. Setelah melakukan pemanasan cukup, mulai saja lari dengan kecepatan biasa saja (easy run). Untuk pemula, bolehlah 6-8 km/jam (atau sesuai kemampuan masing-masing). Setelah dirasa nyaman dengan kecepatan tersebut, distabilkan, tidak berhenti sampai jarak tertentu (contoh: lari 5 km terus dan berhenti 15 detik di km 2.5 lalu lanjut lari lagi sampai jarak 5 km).

Setelah dapat menyelesaikan 'PR' tersebut, lakukan repetisi di hari yang berbeda (atau di jalur yang berbeda juga) biar tidak bosan dan kegiatan lari memberi kesan 'penasaran' untuk melakukan lari berikutnya. Begitu seterusnya. Jika sudah terbiasa, mulai ditambah lagi jarak yang ditempuh.

.: Oom Telolet Oom :.

Kalau merasa lari sendirian begitu 'garing', bisa banget kok cari alun-alun di kota tempat Anda tinggal. Kalau di Jakarta sih, ya tinggal lari saat Car Free Day. Banyak sekali komunitas lari di sana. Tinggal gabung saja. Biasanya, komunitas-komunitas ini ada pelatihnya. Atau paling tidak, ada 'ketua' yang memimpin latihan lari. Menu-menu latihannya bisa diikuti, dipelajari, lalu dipraktekkan di tempat Anda nyaman berlarinya.

Intinya, berlari itu membutuhkan konsistensi. Dan untuk mendapatkan hasil terbaik, entah itu capaian waktu atau target-target pribadi lainnya, banyak sekali faktor yang menyertainya. Dalam hal ini, disiplin adalah kunci. Karena latihan yang baik tidak pernah membohongi hasil. Buktikan saja sendiri. Mari lari. :)

16. Gue kan pelari 'keong', bagaimana sih biar larinya kencang?

Haduh. Saya tidak percaya. Sejauh yang saya alami, setiap orang yang saya kenal atau baru saya kenal dan bilang kalau dirinya pelari 'keong' lah, newbe lah, begitu di race tingkahnya ugal-ugalan. Larinya benar-benar kencang kayak orang kesetanan. Tapi kalau kenal pelari jujur, baik hati, tidak sombong, dan memang benar larinya timik-timik, saya pun dengan senang hati langsung ngoceh ngalor-ngidul seperti jawaban no. 15 di atas. Jadi, kapan nih mau saya pacarin pacerin?

.: Hit The Road. Mandiri Jakarta Marathon 2016 :.

17. Lo kan suka jalan-jalan, sekarang lari juga. Jadi, pilih jalan-jalan atau lari nih jadinya?

Pilih dua-duanya dong. Kan memang sudah dilakukan berbarengan sejak lama. Lari itu olahraga yang santai. Tidak memerlukan alat macam-macam. Saya sendiri hampir selalu menyempatkan diri untuk melipir dari penginapan di pagi hari untuk berlari. Apalagi kalau menginapnya di pinggir pantai. Wah, pantang sekali dilewatkan kesempatan jogging pagi menyusuri ombak di pantai.

Kalau dahulu, lari hanya untuk kegiatan selingan saat liburan, sekarang, dalam beberapa kali kesempatan (mungkin) malah menjadi agenda utama. Jalan-jalan ke tempat wisatanya agak dikurangi agar stamina saat lari tetap stabil. 

.: Mau lari atau leyeh-leyeh? Please, tentukan sikap! :.

Tapi, saya masih sering kok jalan-jalan tanpa ada kegiatan lari sekalipun. Isinya hanya leyeh-leyeh, makan, berenang, makan lagi, lalu leyeh-leyeh lagi. Bahagianya hidup ini kalau bisa melakukan hal-hal menyenangkan sembari leyeh-leyeh tanpa khawatir dengan segala tagihan yang harus dibayar.

Nah, itulah hal-hal yang sering ditanyakan seputar lari kepada saya. Mungkin masih ada beberapa pertanyaan lain seputar lari yang ditanyakan dan akan saya jawab melalui postingan lain atau melalui unggahan foto di media sosial. Intinya, saya hanya ingin berbagi pengalaman dan kesan bahwa lari itu kegiatan yang menyenangkan. Tidak perlu dibuat pusing atau diperumit menjadi kompleks. Tidak perlu banyak drama atau dikaitkan dengan hal-hal lain yang tidak perlu. Mari lari sesuai dengan kemampuan, bahagia saat melakukannya tanpa ada paksaan, dan bersenang-senanglah saat berlari bersama dalam suatu race dengan banyak sekali kawan lari yang asyik, baik dunia maya maupun di alam nyata. Jadi, jangan terlalu banyak alasan untuk segera mulai berlari. [] #AyoMlayu 

25 komentar:

  1. Kayaknya memang Maybank itu paling favorit ya. Temanku juga bilang demikian. Kalau dia lagi lari di kota, aku sering buntutin di belakang naik sepeda :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah bener banget mz, banyak yang gak bisa move on habis ikut Maybank Bali Marathon mah. Lari sambil liburan soalnya hehehe :)

      Hapus
  2. mas kenapa tubuhku yg gendut ini gak bisa diajak lari? (baca males) xixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. Mungkin niatnya saja yang kurang kuat. Bismillah dulu makanya :)

      *pecut* :P

      Hapus
  3. Tulisannya panjang dan seru!

    Aku mau bilang apa ya tadi? Oiya. Aku bersyukur punya banyak temen yang mendukung dan menyemangatiku untuk terus berlatih. Dulu sumpah gak kebayang akan bisa lari. Setelah Airforce Run, aku bilang ke temen2 grup , "udah ah. Udah 2 kali race. Aku ga mau ikut race lagi. Udah cukup. Yg penting udah pernah dan udah tau rasanya" :)))

    Makasih ya Die. Kamu yg pertama kali ngomporin untuk nyoba ikut 10K. Dulu mana berani aku ngebayangin lari 10K. Mustahal banget. Lha lari 300 meter aja udah harus berenti kok. Hahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha simbok idolaqoe. Semangat terus pokoknya. Sekarang maenannya udah trail. Ugal-ugalan itu mah namanya wkwkwk ;)

      Hapus
  4. Lari mulu sih, lari dari kenyataan ya?
    Sinih krues kalo berani, hahahahaha...

    Btw aku salut ama kamu. Banget. Ikutan lari di Batam ato Bintan donk.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener ya, krues beneran lho .... pake bibir tapi #eh :P

      *dipenthung*

      Iya tuh, nyesel banget gak ikut Barelang. Hiks :'(

      Hapus
    2. Krues beneran niih.. *sodorin Danan buat ngerues.. hahahaha

      Hapus
    3. Kenapa harus Mz Danan yang disodorin coba :'(


      Maunya kan dikrues emak-emak. #eh

      Hapus
  5. Ternyata nggak semua pertanyaan ini aku tanyakan ya dulu hahaha. No.14 jawabannya bikin pingin lempar pempek lol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahaha lunas ya mz pokoknya janji aku dulu. Terjawab kan ya ;)

      Hapus
  6. pernah bayangin lari sambil bawa lemak 50 kg di perut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ebuset, itu lemak apa abege? 15 kg lagi aja udah sama ama berat badan gw. Hahahaha. Apapun lah, tetap semangat lari ya mz :)

      Hapus
  7. Pertanyaan nomor 13 emang ngeselin. Padahal kan cuma berpindah dari kenyataan A ke kenyataan B. :D

    Satu lagi, aku sering ketemu sama rombongan pelari di jalanan. Umumnya mereka lari melawan arus. Kenapa gitu ya? Bukannya itu mengganggu arus lalu-lintas ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, masa? Tegur saja mz. Sebenarnya ganggu banget sih kalau larinya lawan arus. Tapi kalau larinya masih di trotoar ya gpp. Kalau di jalanan sebaiknya ditegur saja :)

      Hapus
  8. pantesan kalau lari kereeen, ternyata sudah lari sejak kecil. lha saya baru berniat ingin rajin lari sejak september 2014 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halaaaah, lari dari kecil itu lari-larian aja mz. Ikut race resmi yang ada medalinya ya baru di 2016 kok. Gara-garanya pas mau liburan ke Bandung kok ya nemu pengumuman ada lari 10K. Eh, setelah itu kok ya ketagihan hehehe :)

      Hapus
  9. Untuk menjawab pertanyaan no 13, saya sudah pernah bikin khusus postingannya mas http://www.cipusuaib.id/2015/02/belajar-berlari-dari-kenyataan.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, terima kasih mz Cipu. Semoga makin hits dan rutin larinya. Spartaaan :)

      Hapus
  10. Mas, saya punya satu pertanyaan lagi: kapan daftar jadi stuntman film laga hollywood? :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha gak kepikiran ke situ ah. Mau jalan-jalan sama lari-lari happy aja :)

      Hapus
  11. Lha yo, pas dirimu dolan pertamakali ndik omahku kae khan muni males melu event race race-an. EEEEEH NDILALAh saiki malah ketagihan trus medalimu luwih akeh dibanding aku. WOOOOO

    eh tapi jik menang aku ding. Jumlah sepatuku luwih akeh. Lalalaalalalala

    HAHAHAHA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hauahahaha tempat racenya deket banget ama rumah. Harganya pun mureee. Jadi pantang untuk dilewatkan hehehe :)

      Iya nih, sepatu lariku masih dikit. Sepatu 'gaya'nya aja yang banyak. Duh :'(

      Hapus