Kamis, 25 Mei 2017

Rimba Raya di Jantung Kota

.: Kebun Raya Bogor dalam Usia 200 Tahun :.

Di antara pekak knalpot angkot yang membelah jalanan yang mengepungnya, Kebun Raya Bogor laksana situs suci yang bergeming. Lokasinya merupakan episentrum penjuru kota. Dihuni pohon-pohon sepuh yang melewati beragam zaman, keberadaannya senantiasa menghadirkan keteduhan bagi manusia-manusia yang hidupnya penat di lingkungan belantara beton sembari dicekik asap polusi.

Saya datang saat liburan akhir pekan baru saja dimulai. Jalanan masih sepi. Suasananya begitu hening, bertolak belakang dengan jalanan yang baru saja saya lalui. Namun begitu, baliho dan spanduk yang bertebaran di segala penjuru sungguh mengganggu. Representasinya sangat semarak. Khas Indonesia. Memang, Kebun Raya Bogor sedang merayakan 200 tahun hari jadinya.

Diresmikan tanggal 18 Mei 1817 oleh Gubernur Jenderal Philip van der Capellen, Kebun Raya Bogor lahir dari buah ketekunan botanikus Belanda bernama Caspar Georg Carl Reindwardt dalam mengumpulkan dan merawat tetumbuhan. Misi utama Reindward datang ke Jawadwipa tahun 1815 atas titah Raja Willem I adalah untuk mengidentifikasi potensi kekayaan hayati tanah Jawa terutama yang mempunyai nilai komoditas guna menambah pundi-pundi kas negeri kincir.    

Menemukan tempat menyenangkan untuk 'berkebun' di lokasi yang tak jauh dari Batavia (nama Jakarta tempo dulu), bukit kecil di halaman belakang kediaman Gubernur Jenderal segera saja disulap oleh Reindwardt menjadi semacam lahan uji coba bagi beragam tanaman sebelum dikembangbiakkan secara massal di seluruh penjuru nusantara.

Saya memasuki areal kebun dengan perasaan takjub. Padahal, ini bukan kunjungan saya yang pertama. Entah sudah berapa kali saya menyambangi kebun botani tertua di kawasan Asia Tenggara ini. Mungkin karena saya datang dengan perasaan dan tujuan yang lebih longgar. Semacam tidak ada beban. Di banyak kunjungan sebelumnya, saya datang dengan kewajiban untuk mencatat ini dan itu sebagai bagian dari tugas sekolah. Di kesempatan lain, saya melawat di Kebun Raya Bogor karena acara piknik keluarga yang membosankan atau tugas kantor yang mewajibkan saya untuk memakai seragam rapi dan ketat. Namun, kali ini, saya ingin menggenapi perasaan-perasaan ganjil yang pernah saya alami saat berkunjung di tampat teduh ini, sembari menyambangi titik-titik yang belum saya datangi dalam kunjungan sebelumnya.

.: Monumen Lady Raffles :.

Sebuah monumen putih laksana nisan yang dikungkung altar mungil menyambut saya. Tengara cantik tersebut dibangun untuk mengingat kepergian Olivia Mariamne Raffles, istri Thomas Stamford Raffles yang mangkat akibat serangan malaria. Jasadnya dikebumikan di kompleks pemakaman Kebon Jahe Kober (sekarang Museum Taman Prasasti), Jakarta. Saya mengingat nisannya berbentuk kombinasi Lingga Yoni dari batu kali. Sungguh Jawa sekali.

Selesai dengan monumen Lady Raffles, saya melanjutkan perjalanan menuju halaman belakang Istana Bogor melewati Jalan Kenari II. Tak banyak yang menganggapnya berarti. Tapi jalan ini sungguh mengobati keinginan untuk menyambangi negeri cantik di timur nusantara yang urung saya jejak. Apa pasal? Sesuai dengan namanya, jalan ini dipagari dengan pohon kenari yang berasal dari Maluku. Usianya sudah ratusan tahun sehingga memberi kesan, seperti ada pilar-pilar hijau yang menjulang menembus langit. Sungguh rimbun sekali.   

.: Jalan Kenari II yang Dipagari Pepohonan Jangkung :.

Ada bangku-bangku kecil untuk duduk bersantai. Namun, saat musim hujan, tempat ini begitu rawan. Dengan usia yang sudah terbilang uzur, pohon-pohon kenari bisa saja tiba-tiba rapuh diterjang badai. Seperti pernah terjadi tahun 2006 silam. Angin ribut setidaknya menumbangkan 210 pohon termasuk pohon kenari. Sedihnya, dari jumlah tersebut, 20 jenis pohon harus dihapus dari daftar koleksi karena merupakan pohon terakhir yang dimiliki kebun raya.

Saya sampai di halaman rumput, tepat di seberang halaman belakang Istana Bogor. Saya duduk sejenak sembari mengistirahatkan kaki. Tak seperti biasanya, istana ini sepi. Pak Jokowi sepertinya sedang tidak ada agenda untuk melewatkan akhir pekannya di Kota Hujan. Namun, anggota paspampres tetap hilir mudik berpatroli, tetap setia waspada menjaga keamanan simbol negara.

.: Monumen Reinwardt di Sebarang Istana Bogor :.

Saya menyadari satu hal. Tak jauh dari tempat saya duduk menikmati suasana istana, ada banyak tengara yang bercokol di sana. Sebuah monumen untuk menghormati pendiri kebun raya dibangun oleh LIPI dan Kedutaan Besar Jerman. Di seberangnya, sebuat taman ditata dengan begitu rapi dengan sebuah tugu obelisk tertancap di tengahnya untuk menghormati Johannes Elias Teijsmann. Rentang waktu 200 tahun bukan waktu yang pendek dan Kebun Raya Bogor telah melahirkan tokoh-tokoh yang kerap kita dengar namanya bergaung di diktat pelajaran biologi di sekolah. 

Bukan itu saja, keberadaan kebun ini juga merupakan oase pertama yang mengenalkan penduduk nusantara dengan berbagai macam tumbuhan komoditi yang kelak melahirkan jutawan dan menjadi tempat menggantungkan hidup. Sebut saja kelapa sawit. Sawit pertama ditanam di Kebun Raya Bogor tahun 1864. Tembakau, jagung, dan kopi diboyong ke Indonesia tahun 1869. Dan karet berkenalan dengan tanah pasundan tahun 1876 sebagai tanaman koleksi pemberian Kebun Raya Kew, Inggris. Jika dipikir-pikir, banyak sekali bisnis tanaman komoditas tersebut berutang budi dari eksistensi Kebun Raya Bogor.

.: Pohon Leci - Pohon Tertua di Kebun Raya Bogor :.

Saya berjalan perlahan meninggalkan Taman Teijsmann menuju sisi lain kebun raya. Sebenarnya, saya mencari petugas kebun yang sedang patroli untuk bertanya tentang pohon tertua koleksi kebun raya. Namun nihil. Saya pun iseng bertanya kepada tukang foto keliling. Saya pikir, mereka mungkin sedikit lebih mengerti tentang keberadaan pohon tertentu lokasinya di mana.

"Pohon paling tua di kebun raya itu pohon leci. Lokasinya di seberang kolam. Masnya jalan lurus saja dari sini mengikuti bibir kolam, nanti posisinya ada di sebelah kiri.", terang sang juru foto keliling memberi petunjuk.

Mengikuti petuahnya, saya pun dengan mudah menemukan pohon paling senior di seantero kebun raya. Ukurannya jelas bukan yang terbesar tapi melihat gurat di batangnya mengisyaratkan bahwa pohon tersebut sudah merekam begitu banyak kejadian di kebun ini. Ditanam tahun 1823, bibitnya diimpor dari negeri Tiongkok. Akarnya menjalar diselimuti lumut tipis. Saya baru tahu dari keterangan di papan informasi bahwa pohon leci ini sudah tidak bisa berbuah lagi karena sudah sangat tua. Saya pikir, sebuah tanaman akan terus bisa berbuah selama terjadi penyerbukan yang sempurna. Mungkin, ada banyak hal yang masih harus saya pelajari lebih lanjut tentang kehidupan tumbuhan.

.: Pohon Jodoh. Aww :.

Selain keberadaan pohon leci, saya datang kembali ke Kebun Raya Bogor demi menyambangi pohon jodoh. Julukan tersebut disematkan kepada dua buah pohon berbeda spesies yang tumbuh berdampingan. Ukurannya gigantis dan kebetulan berbeda warna kulit. Pohon meranti (Shore leprosula) yang berwarna kehitaman ini berasal dari hutan Sumatra, Indonesia. Sedangkan beringin putih (Ficus albipila king) yang berwarna lebih terang berasal dari Thailand. Keduanya mulai menjadi anggota keluarga besar kebun raya sejak tahun 1866. Namun demikian, saya tidak tahu sejak kapan kedua pohon tersebut disebut sebagai pohon jodoh.

Seingat saya, demi mendukung mitos tersebut, dahulu ada bangku kayu yang dipasang tepat di antara kedua pohon tersebut. Mungkin agar bisa digunakan oleh pasangan muda-mudi untuk duduk berdua. Saya tak tahu juga alasannya apa, bangku tersebut saat ini sudah lenyap. Semoga saja alasan penghilangan bangku tersebut didasarkan pada hal-hal yang rasional terkait dengan keamanan pengunjung jika bercengkerama di bawah pohon saat musim hujan, bukan karena alasan mitos.

Hal-hal tersebut memang laku 'dijual' kepada masyarakat kita yang memang suka dengan kisah legenda urban. Bagai yin dan yang, jika ada pohon jodoh, maka ada pula jembatan yang menyebabkan putus cinta. Jembatan gantung berwarna merah ini membelah sungai Ciliwung. Kapasitasnya tak lebih dari bobot sepuluh manusia dewasa. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan jembatan ini. Namun mitos yang mengakar kuat di masyarakat menyebutkan bahwa jika berpacaran dengan berfoto di atas jembatan ini bisa mengakibatkan putus cinta.

.: Jembatan Gantung yang Membelah Ciliwung :.

Liburan singkat ke Kebun Raya Bogor kali ini memang sungguh menarik. Ada banyak hal yang belum saya ketahui sebelumnya baik tentang pengetahuan botani, maupun tentang mitos-mitos yang melingkupinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya melihat pohon pala dan kayu manis yang pohonnya menancap langsung di tanah, bukan di pot-pot kecil wadah tanaman hias. Dua komoditas rempah tersebut kerap saya cium aromanya di wadah bumbu dapur milik ibu.  

Selain itu, saya mendapat kesempatan untuk memanen buah kakao. Ada dua buah kakao masak yang siap petik. Bersama pengunjung lain dari Jepang, saya ikut mencicipi buah yang menjadi bahan baku cokelat itu. Rasanya lumayan manis, menghapus pemahaman saya selama ini kalau buah kakao itu pahit/asam. 

Yang tak kalah penting dari semuanya, Kebun Raya Bogor mengoleksi bunga bangkai. Kebetulan memang sedang tidak mekar.  Pemahaman salah kaprah kerap terjadi di antara orang awam tentang bunga bangkai ini. Banyak yang menyebutkan bahwa Rafflesia arnoldii sebagai bungai bangkai. Puspa langka dengan bentuk lebar seperti wajan penggorengan berwarna cokelat kemerahan ini memang berbau busuk, tapi memang tumbuhan parasit. Hidupnya tergantung pada tumbuhan inang yang merambat. Sedangkan bunga bangkai (Amorphophallus titanum) memiliki daun dan batang. Tingginya bisa mencapai 4 meter layaknya contong es krip gigantis.

.: Akar Merambat Pohon Beringin :.

Berhubung hari sudah sore, saya melewatkan untuk mengunjungi rumah anggrek dan Taman Meksiko dan memilih untuk duduk santai menikmati suasana sore di taman berumput. Taman luas berumput pendek ini sering dijadikan lokasi untuk orkes dangdut maupun kegiatan komunal lainnya. Jalan panjang di depannya yang dibelah taman bunga cantik dinamai Jalan Astrid untuk mengabadikan nama Putri Astrid Sofia Lovisa Thyra dan Pangeran Leopold dari Belgia yang pernah berbulan madu di kebun ini tahun 1928.

.: Santai Ceria di Taman Beruput Hijau :.

Sembari membaca buku dan memerhatikan suasana sekitar, saya jadi membandingkan dengan kebun raya serupa di tempat lain. Jika dibandingkan dengan Kebun Raya Purwodadi, Kebun Raya Bogor jelas lebih lengkap dan lebih rimbun. Itupun masih unggul karena memang induk segala induk kebun raya di nusantara memang Kebun Raya Bogor. Namun, jika dibandingkan dengan Kebun Raya Singapura (Singapore Botanical Garden), walau sebenarnya lebih lengkap kebun raya ini, harus diakui bahwa Singapura lebih baik dalam merawat 'aset'nya sehingga membuatnya layak diganjar mengisi daftar elit Warisan Dunia Unesco, bersanding dengan negara-negara dengan peradaban tua. 

Dengan banyaknya koleksi yang dimiliki dan penambahan area yang semakin luas, ternyata membuat Kebun Raya Bogor seperti 'keluar' dari konsep awalnya sebagai kebun botani yang digunakan untuk tujuan penelitian. Tumbuhan yang berjejalan juga membuatnya kelihatan seperti 'tanah tegalan' bagi Istana Bogor. Sampah bertebaran di sudut-sudut kebun, terutama yang habis digunakan untuk ruang piknik keluarga. Jalanan di dalam kebun kerap dilewati mobil roda empat yang membuat tidak nyaman bagi pejalan kaki (seperti saya) atau para pesepeda.

Saya tidak tahu siapa yang memulainya. Tapi, regulasi seperti ini kelihatannya tidak berpihak bagi kelestarian Kebun Raya Bogor sesuai kitah semula sebagai wahana penelitian dan tempat rekreasi. Saya pikir, bukan rekreasi massal seperti ini yang dimaksud, tapi lebih kepada rekreasi yang mampu merejuvenasi diri dengan pengunjung yang terbatas.

.: Lokasi Favorit Liburan Keluarga :.

Saya kembali menghikmati suasana Kebun Raya Bogor keesokan harinya. Bergabung dengan banyak kawan pelari, dalam rangka memperingati 200 tahun Kebun Raya Bogor, saya mengitari kompleks taman botani seluas 87 hektar ini sejauh kurang lebih 21 kilometer sejak matahari belum terbit dan jalur sepanjang kebun masih steril dari pengunjung. Suasana seperti inilah yang mungkin sedikit menyenangkan. Ketika matahari mulai menampakkan dirinya, satu persatu penghuni kebun raya turut meramaikan suasana. Udara yang sejuk menyebar ke segala penjuru. Burung kutilang terbang bebas, berloncatan dari satu ranting ke dahan pohon seolah ikut merayakan hari baru.

Dengan kontur tanah yang naik turun, jalur lari di dalam Kebun Raya Bogor cocok untuk latihan lari trail. Rutenya terdiri dari jalanan beraspal mulus, jalur batu semacam makadam, dan jalur batu kerikir. Kesemuanya dipagari dengan pohon-pohon gigantis yang berdiri menjulang. Jadi, meskipun terik, suasana teduh tetap terasa. Kecuali di beberapa tempat seperti rute yang melewati lapangan rumput dengan kolam teratai raksasa yang memang alpha dari pepohonan rindang.

.: KRB 200 Ultra Marathon 2017 :.

Setelah memasuki garis finish, saya kembali tepekur. 200 tahun bukan rentang masa yang pendek untuk merefleksikan diri. Banyak hal besar dan menyejarah yang terjadi di kebun raya ini. Ada banyak potensi dan sumber daya yang menjadi harta karun bangsa Indonesia di masa mendatang. Seperti tak bosan-bosannya saya sampaikan, bukan hanya di kalangan pecinta alam, tetapi juga kepada mereka yang kerap melabeli diri sebagai turis dan sebutan sejenisnya, maupun masyarakat awam untuk senantiasa menjaga lingkungan demi kesehatan dan kesejahteraan bersama. 

Seperti lagu lama yang terus diputar ulang, bahwa memastikan suatu tempat keadaannya sama bersihnya (atau malah lebih bersih) setelah kunjungan kita, adalah langkah minimal yang wajib kita ambil. Tidak berkepentingan terhadap sesuatu yang memang bukan kepentingan kita juga mutlak dilakukan. Misalnya, dengan menahan diri untuk tidak jahil: memetik daun, buah, atau biji tanpa seizin petugas atau bahkan (yang saya tak habis pikir tapi nyatanya ada) mengambil pelat besi penanda pohon. Jika untuk hal-hal yang sepertinya tak berharga saja kita kerap abai, bagaimana mungkin bisa memastikan pengunjung dapat memasuki kebun anggrek yang koleksinya luar biasa indah dan luar biasa langka tanpa takut koleksi tersebut raib dicuri atau ludes tersentuh ulah pengunjung?   

.: Berlari Memperingati 200 Tahun Kebun Raya Bogor. Foto oleh Vidya Leilya :.

Maka dari itu, banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pengampu kepentingan kebun raya. Menumbuhkan semangat untuk memiliki dan menjaga kelestarian memang sudah saatnya ditumbuhkan dengan perlahan kepada semua pengunjung dengan membatasi jumlahnya, melakukan kontrol aktivitas yang dilakukan dalam area kebun, mereduksi kegiatan yang melibatan dentuman pengeras suara, dan menggalakkan kegiatan partisipatif terkait pengembangan ilmu pengetahuan di bidang botani. Mungkin, banyak tantangannya, tapi bukan saja karena absennya Kebun Raya Bogor dari daftar elit Warisan Dunia Unesco yang menjadi alasan utamanya, tapi lebih kepada usaha berkelanjutan untuk mengembalikan posisi kebun raya seperti tujuan awalnya didirikan oleh Reindwardt 200 tahun silam. Usaha yang belum terlambat memang jika saja segera dimulai. []

6 komentar:

  1. Aku sudah dua kali mengunjungi Kebun Raya Bogor tapi belum pernah menuliskannya sekalipun bahkan memajang fotonya di medsos.. setelah aku pikir-pikir ternyata emang gak punya fotonya hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang motret mas Bex bakal keceh kayaknya fotonya. Wajib diulang mz :)

      Hapus
  2. Dulu waktu mampir ke Bogor cuma nyari oleh oleh aja, kok nggak inget ya ada kebun raya Bogor ini..#nyesel
    Semoga ntar ada kesempatan lagi balik kesini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kebalik nih. Saya malah belum sempet mampir buat nyari oleh-oleh. Kayaknya nanti mau diagendakan balik lagi khusus untuk icip-icip kulinernya ;)

      Hapus
  3. Kebun Raya Bogor dan sekitarannya semakin cantik, Mas Adie. AKu semakin Bangga jadi warga Bogor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, harusnya kita ketemuan nih pas aku di Bogor. Semoga bisa diagendakan nih mz :)

      Hapus