Rabu, 31 Mei 2017

Menikmati Istana Bogor dari Dua Sisi

.: Istana Bogor dari Gerbang Utama :.

Istana putih itu masih tegak berdiri seperti sedia kala. Sepi. Pagarnya angkuh memenjarakan dengan aman ratusan rusa tutul yang berkeliaran di halamannya. Pohon-pohon yang menaunginya terlihat semakin tua, semakin rindang, dan kelihatan 'wingit'. Rumputnya terjaga rapi. Dan ajaibnya, selalu bersih dari daun yang berguguran. Saya kembali menyapa istana sunyi ini. Kali ini tanpa seragam. Hanya dengan baju kasual. Tapi, sesuai dengan protokoler istana, tetap rapi dan bersepatu.

Langit tampak sedikit muram. Awan kelabu menggantung syahdu. Hujan seperti tak pernah ingin berpisah dengan kota ini. Ada semacam perasaan tenang saat memasuki gerbang istana kepresidenan termegah dan terluas di Indonesia ini. Meski sudah hafal dengan ruangan-ruangannya (tulisan tentang sejarah Istana Bogor bisa dibaca di sini), sebagai orang yang tidak setiap hari berada di istana, rasanya tetap saja ada sudut-sudut yang menarik untuk diamati dan 'dinikmati'.

.: Kebun Raya Bogor dilihat dari Beranda Belakang Istana Bogor :.

Entah mengapa, saya berusaha untuk menempatkan indera perasa saya pada perasaan sebagaimana pertama kali datang ke istana ini. Dengan begitu, saya berusaha membuat setiap kunjungan yang saya lakukan selalu meninggalkan makna. Awalnya memang tidak ada agenda khusus. Saya datang ke Bogor dalam rangka mengikuti acara lari memperingati 200 tahun Kebun Raya Bogor.

Begitu melewati Gereja Zebaoth, tiba-tiba saya kepikiran untuk 'mampir' sebentar di Istana Bogor. Seumur-umur memang belum pernah saya datang ke Istana Bogor melalui gerbang utama. Pintu itu hanya terbuka saat acara resmi kenegaraan dihelat. Sebagai orang biasa, saya masuk melalui pintu belakang. Selain lebih 'aman' dan tidak terlihat, memang seperti itulah etikanya.

Kebun Raya Bogor terlihat ramai oleh pengunjung. Banyak dari mereka yang melihat ke arah istana, seperti berharap bisa punya kesempatan untuk masuk ke dalam, minimal di area halaman istana. Saya jadi ingat suatu hal. Suatu ketika teman saya pernah bertanya (lebih tepatnya mengajukan permintaan), "Lo ke Istana Bogor ya? Ikutan dong kalau ke sana lagi."

.: Berteduh di Bawah Pohon :.

Terus terang saya agak bingung menjawabnya. Istana bukan 'tempat wisata'. Meski sesekali ada acara open house untuk masyarakat umum, itupun tetap harus mendaftar dahulu, dan kuota pesertanya (biasanya) dibatasi. Semua dilakukan demi menjaga agar istana tetap terjaga, baik keamanan maupun 'kelestariannya'. Hal itu dilakukan karena banyak sekali benda atau barang berharga yang dipajang di istana. Kesemuanya bernilai sejarah.

Saya sendiri datang ke Istana Bogor karena ada 'tugas'. Itupun seringnya ada izin atau surat pengantar terlebih dahulu yang membuat saya bisa bebas melenggang masuk. Nah, jika untuk masuk saja, saya harus punya 'izin' khusus, bagaimana mungkin saya bisa membawa serta orang lain yang tidak ada kepentingan apapun untuk bertandang. Kebayang bagaimana tampang teman saya saat diberondong provost penjaga dengan pertanyaan, "Kepentingannya apa sodara?". Ewwh. *tutup muka*

Melihat kenyataan tersebut, saya jadi kepikiran sesuatu yang lain yaitu menikmati Istana Bogor melalui kacamata orang yang belum kesampaian untuk memasuki istana ini. Saya berjalan keluar, melangkah menuju kawasan Kebun Raya Bogor. Kebun botani tertua dan terlengkap di kawasan Asia Tenggara ini sedang merayakan hari jadinya. Saya turut bergumul dengan kerumunan pengunjung yang melakukan swafoto dengan latar Istana Bogor. Saya duduk sejenak dan mengambil sebuah buku yang belum selesai dibaca.

.: Menghabiskan sore membaca buku di Kebun Raya Bogor :.

Saya baru menyadari satu hal. Ternyata istana ini memang terlihat indah saat dinikmati dari arah saya duduk. Pantulan bayangan yang ditampilkan oleh kolam teratai begitu memesona. Meminjam istilah populer saat ini, tampilannya instagramable. Saya sampai berhenti sejenak dari kegiatan membaca dan mengambil gambar Istana Bogor dari sudut tempat monumen Reinwardt berada.

Tampak di seberang sana, patung Endang Terate sedang duduk manja setia menjadi penjaga kolam teratai. Patung ini sudah lama saya kenal sejak kunjungan saya yang pertama ke kebun raya lebih dari satu dekade silam. Ternyata, masih ada banyak lagi patung-patung yang ditempatkan di halaman belakang Istana Bogor ini. Yang saya kenali tentu saja adalah patung The Hand of God yang merupakan reproduksi dari Swedia. Dua patung lainnya saya tidak tahu patung apa dan karya siapa. Yang jelas, kedua patung tersebut sama-sama telanjang.

.: Patung The Hand of God dan patung lain di halaman belakang Istana Bogor :.

Sependek ingatan saya, sepertinya tak ada juga orang atau petugas istana yang wara-wiri di kawasan patung ini kecuali petugas kebersihan istana. Begitu juga rusa-rusanya. Saya juga tak pernah melihat ada rusa tutul di halaman belakang Istana Bogor. Sekalinya saya melihat rusa ada di beranda belakang istana adalah rusa mungil yang mengikuti langkah saya saat pertama kali memasuki kawasan steril ini.

Saya kemudian melangkah keluar dari kawasan Kebun Raya Bogor menuju trotoar di halaman depan istana. Tempat ini merupakan wahana bermain mengasyikkan bagi anak-anak untuk memberi makan rusa. Hari itu sepertinya tidak terlalu banyak pengunjungnya. Mungkin karena sebagian besar sedang mengikuti keriuhan di dalam kebun raya atau ikut pagelaran budaya di halaman Balai Kota.

.: Rusa-rusa yang lucu sedang leyeh-leyeh di bawah pohon rindang :.

Tampak terlihat beberapa ibu sedang menjajakan potongan wortel muda untuk makan rusa. Rusa-rusa ini kelihatan 'jinak' dan bersahabat. Mereka didatangkan dari perbatasan India-Nepal saat Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles menempati istana ini. Awalnya hanya enam pasang saja. Namun sekarang, jumlahnya sudah membeludak sampai-sampai, beberapa ekor sudah 'diungsikan' ke beberapa tempat seperti di Taman Monumen Nasional (Monas), Taman Candi Prambanan, Istana Tampak Siring (Bali), Kantor Badan Intelejen Negara, dan beberapa kantor gubernur dengan tujuan utama tetap mengutamakan upaya konservasi satwa.

Beberapa tempat koloni pemindahan rusa-rusa tutul ini sudah pernah saya kunjungi. Kesemuanya terawat baik. Tapi jika diminta membandingkan, rusa-rusa di halaman Istana Bogor ini sepertinya lebih lincah dan bebas bergerak. Mungkin karena 'rumahnya' berupa halaman luas sehingga kelihatan tidak terasa ada pagar pembatas. Berbeda dengan rusa-rusa tutul di lokasi lain yang meskipun bisa bergerak bebas namun ditempatkan di lokasi yang berupa 'kerangkeng' kawat besi.  

.: Ruang Panca Negara :.

Hari beranjak sore. Awan gelap masih menggelayut. Untung seharian tidak hujan. Jadi hawanya terasa sejuk. Tidak terik dan pengap. Saya kembali lagi ke Istana Bogor, menuntaskan 'misi' untuk menikmati suasana bagian dalam istana. Hampir semua ruangan utama Istana Bogor ini memerlukan penerangan. Hanya sedikit sekali yang dapat mengandalkan cahaya dari luar. Jika listrik padam, dipastikan akan gelap gulita. Saya tidak bisa membayangkan betapa kelihatan seram sekali jika berada di dalam istana ini seorang diri saat malam tiba dalam keadaan listrik padam.  

Kandelar-kandelar mulai dinyalakan. Dahulu, mungkin berupa lilin-lilin putih. Saat ini, semua sudah diganti dengan lampu-lampu kristal yang indah. Saya menyusuri ruangan-ruangan yang sudah sering saya sambangi. Deretan mata dari lukisan-lukisan yang menggantung di dinding membuntuti langkah saya. Sampai saat ini, saya masih terpukau dengan lukisan Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari karya Basoeki Abdoellah dan Perkawinan Adat Rusia karya pelukis Rusia, Konstantin Egrovick Makowsky. Dan keinginan saya yang belum tercapai sampai sekarang adalah membaca-baca buku yang dipajang di rak ruang kerja presiden.

.: Memandang Gerbang Utama Istana dari Serambi Depan :.

Ruangan-ruangan lain saya lewati saja karena sudah terlampau sering saya sambangi dan (menurut saya) tidak terlalu menarik dilihat saat gelap. Patung-patung artistik pun saya abaikan karena bentuknya dalam gelap sungguh mampu membangkitkan bulu kuduk berdiri. Ruang Garuda jelas tampak seperti aula sepi tanpa pergelaran dan saya sedang tidak minat untuk menengok muka sendiri di depan cermin kembar raksasa yang sering disebut sebagai Kaca Seribu. Saya menuju serambi depan. Jika di pagi tadi saya memandang Istana Bogor tepat dari arah gerbang utama, kali ini saya memandang gerbang utama dari serambi depan. Jika diperhatikan memang jauh sekali. Gerbangnya kelihatan kecil sekali. Rusa-rusanya pun tak lagi begitu jelas kelihatan. Mungkin karena sudah sore juga. 

Ada rumor yang saya dengar dari dulu. Konon, jika dirunut ke utara, posisi saya berdiri ini sejajar dengan posisi jika saya berdiri tepat di depan Ruang Kredensial Istana Merdeka di Jakarta. Tak jelas apakah rumor ini tepat. Jika benar adanya, sungguh, teknologi zaman lampau sudah begitu majunya, hingga bisa memperkirakan posisi strategis suatu tempat dengan tepat.

.: Bukan Penjaga Istana Bogor :.

Malam menggelayut pelan. Langit masih bersemu kelabu. Saya teringat masih harus mengambil perlengkapan lari untuk esok harinya. Setelah melakukan perjalanan nostalgia 'menikmati' Istana Bogor dari dua sisi, saya jadi kembali bertanya-tanya, apa yang sebenarnya orang paling inginkan jika diberikan kesempatan untuk masuk ke Istana Bogor. Yang jelas, beberapa kali bertandang di sanggraloka ini, saya tak pernah benar-benar merasa bosan. []

5 komentar:

  1. Sepi banget mas :-)
    Buat jogging enak itu hehehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau tidak ada acara, istana memang sepi. Kalau jogging sih lebih asyik di kawasan Kebun Raya Bogor. Jalur dan udaranya asyik ;)

      Hapus
  2. pernah sekali masuk istana bogor, banyak lukisan bagus di dalamnya, Mas Adie.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali. Lukisannya memang juara. Begitu juga benda-benda seni lainnya :)

      Hapus
  3. pengen masuk .. ya emang perlu izin khusus sih .. ktp saya ga berlaku disini :D ... paling2 saya lihat dari luar pagar atau dari seberang danau lihat sisi belakang istana .. sudah cukuplah

    BalasHapus