Minggu, 24 Maret 2019

Saya dan (Budhe) Trinity, The Naked Traveler

.: From Nobody to Somebody. Happy Travels 💋 :.

The world is a book, and those who do not travel, read only a page. -- Saint Augustine. 🌲

Saat membaca curhat Trinity di laman blognya ini, saya sedang berada di luar negeri dan sedang disibukkan dengan latihan intensif untuk mengikuti kompetisi lari maraton penuh di Bali bulan berikutnya. Jadi, saya tak sempat menuliskan kesan saya akan buku-buku seri The Naked Traveler (TNT) kala itu.

Terus terang, saya beli buku TNT 1 dan 2 karena memerlukan bahan bacaan mengisi waktu luang saat akan liburan ke Bali tahun 2010 silam. Kala itu belum kenal sama sekali dengan sosok Trinity. Meski terhibur saat membacanya, saya baru benar-benar merasa terinspirasi untuk terus melanjutkan kebiasaan jalan-jalan justru setelah membaca buku TNT 2. Mungkin terdengar lebay kalau dibilang sampai mengubah hidup. Saya lebih suka mengatakan bahwa beberapa prioritas dalam hidup saya agak bergeser setelah membaca buku tersebut.

Mungkin dari semua buku TNT yang sudah diterbitkan, bagi saya buku inilah yang paling memancarkan energi kreatif seorang Trinity yang kelak menjadi heroin bagi pejalan lain khususnya di Indonesia. Ditulisnya saat belum terkenal-terkenal banget, bahasanya masih enerjik dan 'liar', jumlah negara yang dikunjungi juga belum sebanyak sekarang, dan statusnya masih mbak-mbak kantoran. Situasi inilah yang melatarbelakangi mengapa tulisan-tulisannya seolah begitu 'dekat' dengan keadaan sebagian besar pembaca kala itu yang juga traveler paruh waktu: masih galau memikirkan jumlah hari cuti, tabungan, pesan tiket, perasaan campur aduk menuju destinasi baru, dan segala tetek-bengek perihal liburan.

.: With Kesayangan Ring Setengah 😍 :.

Kalau dipikir-pikir, tak pernah terbayangkan sebelumnya jika di masa yang akan datang, saya akhirnya berkesempatan untuk berkelana keliling dunia. Meski kelihatannya kebetulan, semuanya seperti sudah ditata mengalir saja mengikuti keinginan dan kesempatan yang datang. Saya baru menyadari belakangan bahwa pola jalan-jalan saya ternyata tak beda jauh seperti pola yang tertulis dalam buku TNT 2 juga. 

Semua tentu ada permulaannya. Setelah 'uang jajan' distop oleh orang tua sejak sebulan sebelum diwisuda, saya sudah mulai memikirkan bagaimana caranya hidup di ibukota secara mandiri. Saya bekerja, menabung, dan menahan diri untuk tidak beli ini-itu yang tidak perlu hanya demi bisa jalan-jalan. Awalnya memang berat. Tapi, entah mengapa, dulu saya lebih stres tidak bisa ke mana-mana daripada memikirkan belum punya barang-barang semisal gawai dan semacamnya.

Saya jalan-jalan ke tempat yang dekat dengan Jakarta. Lalu pindah provinsi yang berdekatkan, lama-lama hampir semua provinsi di Indonesia sudah dijelajahi. Yang membuat saya mengamini bahwa ternyata Indonesia itu luas sekali baru saya sadari setelah ikut komodo sailing trip.

.: 'Boat Cruise' from Lombok to Labuan Bajo :.

Perjalanannya dimulai dari Senggigi, Lombok dan kembali ke Lombok lagi setelah sampai Labuan Bajo, Flores. Highlight perjalanan ini memang bertemu dengan sang naga purba komodo di Taman Nasional Komodo. Namun dalam perjalanannya, saya mampir-mampir dulu di gili yang ada di Selat Alas, menjelajah hutan untuk menikmati dinginnya air terjun di Pulau Moyo, sampai deg-degan melihat batu pengharapan yang digantung di dahan pohon pinggir danau air asin Pulau Satonda.

Saya mengawali penjelajahan di Taman Nasional Komodo dengan mendaki bukit agak curam di Gili Laba, dilanjutkan dengan melacak keberadaan komodo di Pulau Komodo dan Rinca, bermalam di sarang kelelawar, berenang ceria di Pantai Pink, dilengkapi dengan main air di Pulau Kelor, sebelum akhirnya mendarat dengan kulit gosong mahal di Labuan Bajo, Flores. Sungguh, perjalanan satu minggu mengarungi laut membuat saya sejenak melupakan nama-nama hari. Saya melihat banyak sekali jenis ikan, mulai ikan terbang hingga lumba-lumba, fenomena alam yang terjadi di lautan, hingga hal-hal di luar kuasa manusia yang membuat saya selalu ingat akan kebesaran Tuhan. 

.: Dangerously Beautiful. Komodo National Park, East Nusa Tenggara :.

Kisah-kisah unik sepanjang perjalanan tersebut selain membawa kenangan tak terlupakan, juga merupakan cerita-cerita paling menarik untuk diceritakan kembali kepada orang lain, terutama kepada anggota keluarga. Sejak memutuskan kuliah dan bekerja di ibukota, saya hampir selalu absen dalam setiap agenda keluarga karena seringnya 'menghilang' saat acara-acara keluarga sedang berlangsung. Beberapa tante saya menyebutnya sebagai 'hilang dari radar'. Imbasnya, setiap pulang kampung, saya selalu ditagih untuk bercerita tentang ke mana saja saat menghilang selama ini.

Masih terinspirasi dari buku TNT 2, saya akhirnya memberanikan diri untuk jalan-jalan ke luar negeri. Meski belum semua provinsi di Indonesia saya sambangi, saya pikir akan sangat buang-buang energi kalau saya mendebat pendapat beberapa netijen yang kekeuh harus khatam jalan-jalan di Indonesia dulu baru ke luar negeri. Mau menunggu sampai kapan?

Tentu, saya memulainya dari negara yang dekat dengan Indonesia dan dapat ditempuh dengan biaya terjangkau. Singapura dan Malaysia pastilah menjadi urutan perdana. Apalagi sekarang saya sering ikut lari maraton. Kedua negara tersebut, bersama Thailand, menjadi negara di Asia Tenggara yang paling sering saya sambangi. Karena sering bolak-balik dan punya banyak kawan di negara-negara tersebut, rasa-rasanya saat ini jadi semacam pergi ke provinsi lain di Indonesia, tidak serasa sedang jalan-jalan ke luar negeri.

.: Finding Innerpeace at Tha Phromph Temple, Siem Riep, Cambodia :.

Favorit saya tentu saja Kamboja. Negara kismin ini menurut saya unik. Banyak candinya, jadi mirip sekali dengan Jawa. Meski sedikit belagu, warganya lebih suka transaksi dengan USD daripada Riel Cambodia, tapi biaya hidup relatif terjangkau. Apa-apa serba satu dolar. Air putih satu dolar. Buah potong satu dolar. Dan yang paling asyik, meski mayoritas pemeluk Budha, tapi KFC punya sertifikat halal di negara ini. Sedap.

Menjelajah candi-candinya, saya seakan diseret ke dalam labirin waktu ke masa candi-candi tersebut hidup dan dihidupi oleh raja-raja yang membangunnya. Saya memilih tur mandiri demi menyelami setiap detil relief yang ada di candi, melacak keberadaan relief unik yang sudah pernah saya baca sebelumnya di suatu buku, dan secara tak sengaja 'menemukan' spot-spot candi yang tidak pernah diulas oleh kebanyakan blogger atau pejalan yang saya kenal. Rasanya seperti menemukan harta karun yang tidak perlu digali.

Favorit kedua saya adalah Filipina. Negara ini sepertinya juga semacam provinsi lain di Indonesia. Bangunan heritagenya banyak sekali dan sangat terawat. Yang saya suka dari Filipina salah satunya adalah tak ada bangunan gereja yang jelek. Jika di Indonesia, kita dapat dengan mudah melihat masjid, di Filipina bangunan gerejanya sungguh menjamur. Fasadnya selalu punya ciri khas yang sama: kokoh, terawat, dan berusia tua. Salut untuk masyarakat Filipina yang sanggup merawat warisan masa lalu sebagai kewajiban komunal.

.: A Gloomy Afternoon at Vigan Old Town, Filipina :.

Saya juga suka dengan bagaimana pemerintah Filipina menghormati jasa pahlawannya, termasuk presiden yang pernah menjabat dengan menjadikan rumah masa lalunya sebagai museum. Bahkan, saya sempat blusukan ke istana presiden segala. Sungguh sebuah kesempatan langka yang menyenangkan.

Alasan suka dengan Kamboja dan Filipina selain negaranya 'cantik' dan orang-orangnya yang ramah luar biasa, juga karena sering dianggap sebagai penduduk lokal. Saya sering sekali diajak ngobrol dengan bahasa setempat. Dituduh sombong juga karena sering pakai bahasa Inggris daripada bahasa nasional. Begitu saya bilang kalau berasal dari Indonesia, responnya secara spontan hampir selalu sama. "Ooo, Indonesia. You looks guapo." 😊

Bagi saya, hal itu sekadar buat lucu-lucuan dan bumbu dalam perjalanan itu sendiri. Perjalanan, apapun namanya, memang penuh tantangan dan membawa kenangan personal. Untuk merangkai semua itu memang perlu proses. Tapi, ketika kesempatan datang, yang diperlukan sebetulnya adalah sedikit nyali untuk mengeksekusinya. Pengalaman itu dapat dirasakan tapi tidak kelihatan wujudnya. Nah, kebanyakan orang Indonesia, cenderung agak susah membelanjakan sesuatu yang tidak kelihatan wujudnya, tetapi dalam hati menginginkan sesuatu yang dirasakan oleh orang lain.

Sama seperti kisah-kisah perjalanan Trinity yang harus ditunggu dulu setiap tahun, saya mulai teracuni untuk minimal mendatangi satu negara atau tempat baru setiap tahun. Apalagi saat budhe ini baru balik keliling dunia selama setahun, saya langsung menodongnya untuk menandatangani buku TNT edisi bahasa Inggris untuk mengobati rasa rindu akibat jeda terbitnya buku baru yang agak panjang.

.: Trinity Round The World and Me :.

Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita juga tidak (benar-benar) tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat lain meski sudah ada media sosial, tanpa benar-benar melihat dan mengalami sendiri sesuatu. Dengan jalan-jalan keliling Indonesia, selain menyadari bahwa Indonesia itu luas juga jadi tahu bahwa betapa pentingnya sarana dan prasarana dibangun secara merata di seluruh penjuru negeri. Bukan hanya untuk mengurangi ketimpangan yang ada, tetapi juga melancarkan konektivitas antar daerah sehingga mendorong terawatnya jiwa persatuan bangsa.

Setali tiga uang, kita juga perlu sesekali jalan-jalan ke luar negeri biar tahu kalau di luar sana ada negara yang jauh lebih maju, lebih rapi, lebih tertib dan teratur dibandingkan Indonesia sehingga bisa dijadikan pijakan pola berpikir bagaimana Indonesia bisa menjadi salah satu negara maju tersebut di kemudian hari. Pergi ke negara yang lebih kismin dari Indonesia juga perlu agar kita tidak menjadi bangsa pengeluh yang malas untuk bersyukur.

.: Ke mana lagi ya enaknya? 😜 :.

Intinya, perjalanan akan mendorong kita untuk berpikiran terbuka terhadap perbedaan jika kita mau membuka mata dan hati. Perjalanan tak jarang juga menyeret kita untuk menemukan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan seperti naik pesawat dengan tipe yang kita idam-idamkan (dalam kasus saya naik Boeing 747-400 dan 797-9 Dreamliner), bertemu dengan teman perjalanan di negara tujuan, atau di-up grade tempat duduknya ke kelas bisnis, padahal belinya tiket ekonomi.

Akhir kata, saya jadi berpikir bahwa mungkin, kesenangan-'keribetan' ini merupakan konsekuensi logis dari pilihan hidup yang saya jalani selama ini. Menjadi pejalan mandiri memang tidak selamanya mendatangkan kenyamanan, tapi dipastikan menambah koleksi bermacam pengalaman. Dan melalui kisah perjalanannya, (budhe) Trinity punya 'saham' untuk setiap keberanian dan kenekatan saya dalam merangkai pengalaman melalui jalan-jalan mandiri. Jadi, jalan-jalan ke mana lagi ya enaknya tahun ini? []

19 komentar:

  1. Aduh, bacanya sampe merinding! Terima kasih ya!

    BalasHapus
  2. Mbak T adalah inspiratorku juga. Gak nyangka sedikit demi sedikit mulai mengikuti jejaknya sebagai tukang jalan-jalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, semua mulai teracuni untuk jalan-jalan secara mandiri :)

      Hapus
  3. Wah, udah lama sekali gak mampir kesini. Apa kabar mas? wow, dikomen sama mbak Trinity :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, kabar baik. Saya juga jarang ngeblog kok. Sesekali saja. :)

      Hapus
  4. mantap nih. KFC halal di kamboja jadi sesuatu banget yah.

    Eh salam kenal hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang. Ada licensi halal dari Malaysia sepertinya. Jadi, aman lah kalau misal tidak cocok dengan selera lokal :)

      Hapus
  5. Seneng banget bacanya. Aku pun selalu suka baca cerita Mba Trinity. Dia mengajak orang untuk benar-benar eksplorasi kearifan lokal, terus gak yang turis turis banget gitu lhooo. Perjalanannya jadi jauh lebih seruuu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Semua sepertinya punya pengalaman personal yang menyenangkan tentang betapa bermaknanya jalan-jalan secara mandiri. Mungkin, sebagiannya karena terinspirasi dari kenekatan akibat baca kisahnya mbak T. Happy traveling :)

      Hapus
  6. Balasan
    1. Hehehe iya. Ini juga lagi mengumpulkan semangat buat rajin ngeblog lagi. Hiks :'(

      Hapus
  7. mas, aku rutin traveling selama ini, itu karena mba TRINITY ;p. awalnya aku di ajak suami ke BUlgaria ketemu ortunya yg sedang jd diplomat di sana. blm nikah tuh... pulang dr sana, aku ke gramedia dan beli TNT2. di situlah pikiran kyk terbuka gitu aja, dan aku lgs mutusin tahun2 berikutnya aku harus nambah 1 negara setiap thn. Minimal 1 lah. ga kebayang siih segitu gedenya pengaruh trinity dlm penglamanku jalan2. bahkan yaaaa, aku sampe ngikutin pengalaman mba T dlm mencoba wahana2 ekstrem. mba T naik reverse g mac bungy di singpaur, aku datangin dan coba. Mba T bungy jumping di macau, aku ikutin terjun juga hahahahha... ini yg blm aku coba bungy di new zealand nih... pokoknya mba T nyobain apa, aku hrs rasain hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwooo. Heroin for Indonesian travelers dong berarti. Aku belum cukup nyali mbak buat terjun dari Macau Tower. Tinggi banget hahaha :P

      Hapus
  8. aku juga lagi ngumpulin spirit buat nulis mas, mumpung sekarang di kp2kp, kalo di kpp..jangankan buat nulis, buat BW aja mustahil mas :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah senangnya. Manfaatkan banget itu kalau ada kesempatan buat nulis. Aku juga nyuri-nyuri waktu kalau lagi ada kesempatan nulis :)

      Hapus
  9. kalau saya sih sama kaya netijen, ingin mengkhatamkan seluruh provinsi di indo dulu sebelum keluar negeri.. tahun ini baru 26 provinsi,, sebenernya pgn ngejar 8 lagi (kalimantan belum semua).. tapi istri udah merengek2 pgn keluar negeri akhirnya luluh juga.. bulan februari udh beli tiket pp ke malaysia eh paspornya blm jadi wkwkwk.. yaudah nunggu lahiran dan bayi agak gedean baru mulai petualangan di ASEAN..

    btw, sama seperti kebanyakan kita, saya pun traveler paruh waktu dan malah saya jadikan tagline blog ahaha..

    klo buku trinity, sejauh ini baru baca 2..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, keren dong udah 26 provinsi. Aku belum lagi nih main-main ke provinsi baru lagi. Pengen ke Maluku Utara gitu sebenernya.

      Tapi nanti aja deh. Sekarang pesawat lagi mahal yang domestik. Jalan-jalannya ke luar negeri dulu aja yang lebih murah hehehe :)

      Hapus
  10. Siap mas Ignotus, makasih... kapan2 kita mitap yuk :) belum pernah berhasil nih rencana mitapnya hehehe...

    BalasHapus