Kamis, 03 Januari 2019

Berlabuh di Labuan Bajo

.: Gugusan pulau di Labuan Bajo :.

"Saatnya berkemas. Sesaat lagi kita akan sampai di Labuan Bajo dan berakhir sudah pelayaran kita kali ini. Terima kasih atas kerja samanya. Semoga berkesan. Sampai jumpa lagi di lain waktu", kata Pak Seba, nahkoda kami, mengakhiri narasinya, sesaat sebelum perahu melempar sauh di dermaga.

Perasaan saya tiba-tiba sedih ketika menyadari bahwa sailing trip yang saya ikuti akhirnya berakhir. Itu artinya, saya harus berpisah dengan rombongan kecil ini. Meski hanya melalui kebersamaan selama kurang dari sepekan, hidup 'bersama' dengan orang-orang asing dari beragam latar belakang dalam semesta kapal kayu berukuran mini sanggup menyeret perasaan melankolis dari masing-masing diri kami.

Seketika kenangan sepanjang perjalanan berkelebat layaknya rol film yang diputar ulang: bahagianya memulai perjalanan dengan menyinggahi pulau-pulau kecil di Selat Alas, menjelajah hutan Pulau Moyo yang asri, menyelami keheningan Pulau Satonda yang misterius, mendaki bukit Gili Lawa yang memesona, menyapa ora di Pulau Komodo dan Rinca, dan serunya singgah sejenak di Pulau Kelor.

Kami semua bersalaman dan berpelukan. Suasananya mendadak hangat. Ada rasa haru di dalamnya. Tapi, tak ada yang benar-benar jujur menampakkannya dalam obrolan. Setelah bertukar kontak dan mengikrarkan janji temu, kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lalu, suasana kembali hening. Hanya mesin perahu dan deburan ombak yang memecah kesenyapan. Semua mata mengarahkan pandangan ke tempat yang sama: Labuan Bajo.

Dari kejauhan, kota ini tak ubahnya seperti Santorini dalam wujud yang lebih 'hijau'. Bukit-bukitnya dijejali dengan resort dan segala macam penginapan. Di kakinya berkerumun kapal-kapal kayu yang merangsek berimpitan. Saya mendarat di berandanya saat matahari sudah menyingsing. Saya langsung terkejut saat ada taksi yang menawarkan diri untuk menjemput. Taksi? Sebenarnya yang datang adalah angkot. Tapi bapak supir kekeuh bilang kalau itu taksi.

"Dari pihak hotel adik", katanya, dengan logat Indonesia timur yang kental. Saya pun segera melompat ke dalam dan menurunkan tas pinggang.

.: Labuan Bajo dilihat dari arah laut :.

Sungguh, meski sebenarnya biasa saja, tapi ini kali kedua saya merasa jumawa di hadapan para bule dalam rombongan setelah dengan borjunya mentraktir minum saat bermalam di Pulau Kalong sebelum menyapa kawanan komodo. Ternyata hanya saya dan dua kawan dari Jakarta saja yang dijemput. Rombongan bule itu harus berjalan kaki menuju kota dan memilih penginapannya sendiri. Taksi, eh angkot berjalan menyusuri jalan protokol Labuan Bajo yang beraspal lumayan. Alunan musik jedag-jedug mengiringi sepanjang jalan. Konon, inilah salah satu hal paling khas jika berkunjung ke bagian timur nusantara. 

Sejak Taman Nasional Komodo dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia, wajah Labuan Bajo tak lagi sama. Banyak hotel dan restoran mengerek benderanya di sini. Agen pariwisata, pusat pelatihan selam, dan toko cendera mata menjamur di sepanjang jalan. ATM, salon, masjid, dan bank pun ada. Pemerintah membangun infrastruktur (jalan, bandara, pelabuhan, dan lain-lain) serta menjadikannya salah satu prioritas pembangunan. Dan Labuan Bajo, menyublim dari kampung persinggahan nelayan Bajo yang sederhana menjadi gerbang utama untuk menyambangi satwa purba peninggalan masa silam dan tumbuh menjadi kota paling bersinar di Pulau Flores.

Sebagaimana pepatah, ada gula ada semut, migrasi dan miksasi yang telah berlangsung lama pun kian menampakkan wujudnya. Hingga lambat laun, semakin ke sini, saya seperti merasakan warna Kuta atau Gili Trawangan dalam wujud yang lebih baru. Pemandangan seliweran antara orang lokal dengan bule di jalanan sepertinya merupakan hal jamak yang mudah ditemui sehari-hari.  

Angkot yang saya tumpangi sampai di penginapan. Tak ingin memiliki ekspektasi yang berlebihan tentang akomodasi yang disediakan (mengingat apa yang mereka sebut taksi adalah angkot), saya langsung saja check in. Dan benar saja, apa yang mereka sebut sebagai hotel tak lain adalah sebuah losmen sederhana dengan fasilitas yang juga sangat sederhana, sampai-sampai air yang mengalir dari kran kecil sekali. Parahnya, pintu kamar mandi tidak bisa dikunci.

.: Turis asing sedang menyusuri Jalan Soekarno-Hatta, Labuan Bajo :.

Tak ingin berpolemik, pikiran kami saat itu hanya satu: mandi. Hampir seminggu terombang-ambing di laut dan mandi seperlunya saat snorkeling, mandi air tawar adalah kemewahan paripurna. Saya melangkah ke kamar mandi dengan usaha keras. Rasanya dunia bergoyang saat saya kembali menjejak tanah. Sampai kamar mandi pun saya menjerit histeris hingga kedua sahabat saya perlu bergegas untuk memastikan saya tidak apa-apa. Sungguh drama.

Saya melihat bayangan di cermin sebagai sosok yang sama sekali berbeda. Kucel, dekil, dan berantakan sekali. Persis tokoh Pit Hitam dalam dongeng Santa Claus. Ingin rasanya segera keramas. Saya pikir, air buangan yang dipakai habis mandi melunturkan tampang dekil yang menempel di tubuh. Namun, setelah saya cek berkali-kali dan memastikan kulit muka dan tubuh sudah bersih, saya baru sadar bahwa air tanah di penginapan ini memang keruh. Duh. 😞

.: Angkot menjadi salah satu sarana transportasi keliling kota :.

Sore menjelang dan kami semua kelaparan. Setelah sempat tertidur sejenak, berdasarkan informasi dari resepsionis, kami segera meluncur naik ojek menuju Paradise Cafe and Resto. Konon, tempat ini paling happening untuk menikmati matahari terbenam di Labuan Bajo. Lokasinya memang menyempil sendiri di atas bukit pinggir pantai. Mungkin karena cafenya gemar memutar musik disko saat malam menjelang, lokasi yang agak terpisah dari pemukiman penduduk membuatnya lebih leluasa untuk melepas 'penat'. Tapi bukan itu yang kami cari.

Pengalaman minum es teh ditemani cemilan ringan dengan pemandangan semburat matahari sore yang kekuningan sungguh spektakuler. Ombak bergerak perlahan. Angin bertiup sepoi, menerbangkan beberapa ekor elang yang melintas memburu mangsa. Ratusan, atau mungkin ribuan burung camar, sang kukila samudera, berkesiur malang melintang di antara kerumunan phinisi yang membuang sauh. Sungguh pemandangan yang menyejukkan dan membuat tenang pikiran. Dan sanggup menggeser sejenak sejumput ingatan kalau kami sedang lapar, tentu saja. 

.: Ikan segar tangkapan nelayan :.

Sebelum langit benar-benar gelap, kami segera melangkah turun menuju kerumunan kota kembali untuk mencari warung makan. Kendala paling utama kalau ke Paradise Cafe and Resto naik ojek begini adalah harus rela jalan kaki untuk turun ke arah pantai. Ojek tidak ada yang mangkal. Angkot tidak lewat. Jadi, sobat misqueen harus sabar dan kuat jiwa raga. Apalagi kalau pulang hingga larut malam dan dalam keadaan tipsy. 😋

Ada beragam restoran yang dapat dipilih untuk memuaskan hasrat kuliner di Labuan Bajo: Gardena, The Lounge, dan beberapa nama restoran yang dimiliki oleh bule. Setelah beberapa hari dijejali makanan menu bule yang, menurut kami enak-tapi-kurang-gizi, selama berlayar, kami ingin kembali ke 'selera asal.' Akhirnya pilihan jatuh ke restoran Artomoro, warung makan sederhana yang menjual aneka makanan laut. Saya lihat, ikan-ikannya masih segar.

"Tangkapan tadi siang, kakak", kata pramusajinya. Saya pun memesan sepiring besar nasi, ikan kerapu yang dibakar dan diberi bumbu kecap, lengkap dengan sambal dan lalapan, serta segelas besar es teh. Sungguh kenikmatan hakiki yang tiada duanya. Saya kembali ke penginapan dengan sempoyongan dan mata yang seperti diganduli batu karena mengantuk dan kenyang. Esok harinya, saya harus rela melewatkan momen matahari terbit karena ketiduran lagi setelah subuh. 

.: Phinisi yang sedang melempar sauh :.

Tapi tak jadi soal. Setidaknya, saya tidak terlambat menuju pelabuhan. Perjalanan kali ini memang sungguh ekonomis. Sailing trip dari Mataram menuju Labuan Bajo, lalu kembali ke Mataram lagi lewat darat dengan menumpang bus dan pilihan akomodasi yang juga paling ekonomis: menginap di losmen serta ke mana-mana naik ojek atau angkutan umum. Jiwa muda dan tidak manja menjadi kesepakatan masing-masing dari kami sebagai syarat dasar untuk akhirnya berani jalan-jalan bersama.

Saya sendiri tidak tahu, kapan akan jalan-jalan bersama seperti ini lagi. Bagi saya, selama ada waktu, dana, dan tenaga, rasa-rasanya sangat sulit untuk menolak setiap ajakan untuk menjelajah dan mengenal setiap jengkal nusantara dengan segala keanekaragamannya. Dan setidaknya, perjalanan kali ini sanggup mengajarkan secuil pengalaman berharga dalam usaha mengenal lebih dekat bangsa yang (katanya) ber-Bhinneka Tunggal Ika ini. []  

14 komentar:

  1. duh jadi gak sabar nanti buat ke sana....

    BalasHapus
  2. Pengen banget kesana, temen ada yang baru dari sana, pulang-pulang bawa racun foto hahaha..jadi pengen kesana juga. Betewe angkot disana ga jauh beda ama di bogor yah, sound system nya jedag jedug. Hahaha

    BalasHapus
  3. saya kira penting, menceritakan kesan pertemuan dengan orang-orang setempat, membandingkan keramahannya atau gambaran bagaimana para cewek abg melirik dan tersenyum. hihihi

    BalasHapus
  4. Sebetulnya suatu ironi atau malah menguntungkan ya adanya banyak bermunculan fasilitas akomodasi dan layanan publik lainnya disana ..., yang dikhawtirkan jika jumlah pembangunannya tidak dibatasi malah hanya bikin rusak pemandangan alaminya saat dulu dinobatkan sebagai tujuh keajaiban alam dunia.

    BalasHapus
  5. hahahah jadi inget punya perjalanan yang belum ditulis ,dua tahun lalu LOB lombok labuan bajo. pengalaman yang indah karena kena badai dan gua satu2nya wisatawan lokal. lalu pas sampai labuan bajo banjir, untung penginapan aku di bukit dengan view indah tapi cari makan susah haru berkilometer

    BalasHapus
  6. Aku belum pernah sih ikutan trip gitu, tapi kok aku bisa merasakan tiba-tiba berpisah padahal baru aja kenal. Apalagi ada yang diincer gitu kan? Eh nggak gitu ya?

    Ngeliat ikannya seger-seger banget. Untuk seporsi nasi, ikan kerapu, dan es teh harus ditebus berapa rupiah, Mas?

    Aku masih belum berani ngetrip gitu, masih ngumpulin duit dulu lah. Setidaknya meskipun ngeteng sudah ada persiapan. :D

    BalasHapus
  7. Tahun kemarin ada ajakan ke sana, hanya suruh bayar tiket transportasi PP saja, tapi batal kuambil karena kantor sedang sibuk. Semoga tahun ini bisa menginjakkan kaki di sana.

    BalasHapus
  8. Aku salah fokus sama foto iwak-iwak iku, mentolo tak goreng trus tak sambel tomat, dipangan karo sego angetttt. duh nikmaaaaaat haha

    BalasHapus
  9. Ahaha ketawa pas baca drama ketemu air tawar dan kaget melihat bayangan hitam di cermin :p

    Iya "Santorini" versi hijau, sedihnya kok bukit-bukit dikeruk, dibangun penginapan, sampai-sampai sejengkal melangkah bangunann terus :(

    BalasHapus
  10. Baca tulisan ini nostalgia banget bang. Duuh jadi kangen, pen kesana lagi. Keep posting yg bermanfaat kek Gini ya hehhe. Btw, Labuan Bajo sekarang Mahal katanya ya ?, Apalagi buat bule 😁

    BalasHapus
  11. Labuan Bajo dan sekitarnya sepertinya bakalan jadi kayak BAli kedua ya ... alam dan komodo-nya menjadi magnet wisatawan datang kesini ... mudah2-an dikelola dengan baik dan sustainable .. jadi waktu nanti saya bisa kesana tempatnya masih asri dan bersih :)

    BalasHapus
  12. Saya curiga sama angkot yang disebut taksi, di dalemnya ada musik jedug jedeg berasa dugem di tengah jalan kayak angkot dugem di Kuta itu.

    BalasHapus
  13. Dan angkot model tersebut telah merakyat di hati masyarakat kita, nggak kaya doi, merakyat di hati orang kaya doang hehe

    BalasHapus