Rabu, 03 Oktober 2018

Menjejak Kisah Crazy Rich Asians

.: Welcome to Singapore :.

Rasa-rasanya, dulu, tak ada alasan untuk mengunjungi Singapura karena pengaruh film yang telah ditonton. Alasan pergi ke Singapura bagi sebagian besar orang Indonesia tak pernah jauh dari mencoba paspor baru dan merasakan pengalaman pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Nah, setelah film Crazy Rich Asians beredar di bioskop, saya seperti menemukan alasan baru untuk pergi ke Singapura demi menjejak kembali tempat-tempat yang dijadikan latar pengambilan gambar film tersebut. Setidaknya, saya tidak merasa perlu ikut arus jika suatu saat ada travel agent yang menawarkan paket tur bertajuk napak tilas kisah film Crazy Rich Asians.

Meski sudah pernah mengunjungi hampir semua lokasi syuting film tersebut, saya hanya memfokuskan pada Singapura saja. Entah mengapa, negara kecil ini seakan sanggup mendongkrak popularitas seseorang di media sosial. Padahal kan ya biasa saja. Mungkin karena Singapura terkenal mahal, bahkan paling mahal di antara semua ibukota negara di Asia Tenggara, sehingga orang akan berasumsi bahwa yang bisa merasakan suasana negara kota ini, lengkap dengan fasilitas terbaiknya ialah orang-orang spesial. Sekali lagi, menurut saya sih, biasa saja.   

.: Nick Young on Bussiness Class :.

Berhubung suka dengan kisah di film Crazy Rich Asians itu, sampai-sampai saya mengidentikkan pengalaman berkunjung kali ini dengan fragmen kisah yang ada di film. Saya berusaha menjejak tempat dan suasana yang ada di film dengan beberapa detil penyesuaian agar kenyamanan jalan-jalan tidak begitu terganggu.

Tentu, saya tidak terbang di kelas eksekutif dengan kursi yang bisa menjeplak menjadi tempat tidur seperti yang dilakukan oleh Nicholas Young. Cukuplah kelas bisnis yang sudah lumayan nyaman dan longgar. Yang penting, saya bebas nonton film, makan, dan membaca buku sepanjang perjalanan. Tiba di bandara Changi yang modern dan nyaman, saya sengaja berlama-lama sebelum melewati antrian imigrasi. Baru sadar, bandara ini ternyata memang luas sekali. Saya biasanya sambil lalu saja. Tidak pernah memerhatikan detil dengan lebih jeli. Pantas saja, Rachel Chu takjub dengan keberadaan bandara ini.

Berhubung sudah pernah naik MRT dan sedang tidak ingin naik bus, dengan borjunya saya naik taksi. Ternyata tidak terlalu mahal juga. Supirnya orang India. Untung orangnya tidak cerewet. Jalanan sedang tidak macet pula. Dari bandara menuju hotel hanya ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit. Sungguh efisien dan menyenangkan tentu saja. 

.: Taxy to Hotel :.

Berhubung kehadirannya belum mendapat restu dari Eleanor Young, Rachel Chu dan Nick Young menginap di hotel. Dalam film, mereka menginap di Hotel Raffles Singapura. Hotel ini dibangun tahun 1887 oleh pengusaha hotel Armenia yaitu Sarkies Brothers. Hotelnya megah sekali. Berhubung saat ini ditutup total untuk program restorasi dan baru dibuka kembali tahun 2019 nanti, maka keputusan untuk menginap di The Fullerton Hotel sungguh pilihan tepat. 

Alasannya, hotel ini tak kalah mewah dibandingkan dengan The Raffles Hotel, langganan bagi tamu negara dan para pembalap F1, serta dekat dengan area yang relatif 'hijau' di Singapura. Bagi saya, area tempat ini sungguh cocok sekali untuk lari. Di sepanjang area ini terdapat jogging track yang rapi dan bebas kendaraan bermotor. Lokasinya tepat di seberang patung Merlion yang ikonis itu. Jadi, kalau pagi bisa banget menyaksikan matahari terbit sembari berfoto dengan latar patung Merlion tanpa merasa terganggu dengan kerumunan pengunjung.

.: Good place to stay while you are in Singapore :.

Berhubung Singapura itu dekat sekali dengan garis khatulistiwa, maka tak heran jika banyak yang mengonfirmasi bahwa cuacanya cenderung panas dan sanggup mengucurkan keringat bagi siapa saja yang berani menantang terik. Siang hari inginnya hanya tidur santai saja di kamar dan menikmati AC (seperti kata aunty Neenaah) atau leyeh-leyeh di kolam renang. Tapi berhubung banyak janji, waktu kunjungan yang singkat, dan banyak ini-itu yang harus dilakukan, saya memilih jalan-jalan dan makan-makan saja.

Di film, lokasi makan-makan Nick dan Colin ada di Newton Food Centre. Pusat kuliner Singapura ini dibuka pertama kali tahun 1971 dan terus dipromosikan sebagai salah satu tempat wajib kunjung oleh Singapore Tourism Board. Dialog yang saya ingat banget di tempat ini adalah saat Nick memesan satay dengan bahasa Indonesia. "Sate dua puluh. Sepulah ayam, sepuluh daging." Saya jadi ingin makan satay juga.

.: Chinese Architecture on the building at Chinatown :.

Tapi bagi saya, petualangan lidah di Singapura tidak dapat dirangkum hanya dengan mengunjungi Newton Food Centre saja. Didukung dengan wilayah yang 'hanya' seluas Jakarta, makan-makan di Singapura seharusnya dapat dijadikan semacam agenda tur kuliner dalam sehari, mulai sarapan hingga makan malam.

Untuk sarapan, favorit saya tentu melayang pada selembar roti bakar renyah dengan olesan selai wangi racikan kedai Heap Seng Leong. Pilihan lainnya yang tak kalah menggoda tentu saja menggigit beberapa kerat roti bakar dan telur setengah matang bumbu merica di Ya Kun Kaya Toast. Meski di Jakarta ada, rasanya lebih afdal kalau sempat mencicipi langsung di negara asalnya.

.: Ah Ma's dumpling. So yummy :.

Untuk makan siang, menu-menu autentik dari Singapura pantang untuk dilewatkan. Meski jaraknya agak jauh dari hotel, tapi rasanya sungguh menggoda iman. Srilangkan Chilli Crab dan Laksa, dua menu andalan Singapura yang aromanya melayang-layang di seluruh penjuru kota serta sanggup menggiring siapa saja untuk sejenak melupakan keruwetan hidup dan duduk tenang membersihkan bumbu yang menempel di tangan hingga jilatan terakhir. Keduanya bisa ditemukan di sebuah kedai yang bercokol di kawasan Katong.

Untuk makan malam, cukup lah ya di kedai makanan kaki lima pinggir kali Singapura yang menjajakan banyak pilihan itu.Tapi, entah mengapa, adegan membuat dumpling atau pangsit di rumah keluarga Young mendorong saya untuk mencicipi aneka dimsum malam itu.

.: A lazy time at Esplanade Park :.

Di sela-sela jadwal makan yang padat, tentu bisa banget disisipkan kegiatan leyeh-leyeh sambil menenangkan diri. Bukankah itu esensi dari semua kegiatan jalan-jalan ini yaitu mendapatkan ketenangan diri. Favorit saya adalah duduk-duduk di taman rumput sekitar Asian Civilisation Museum yang banyak terdapat bola-bola atom gigantis dan di Esplanade Park pinggir Sungai Singapura. Saya baru mengamati kembali bahwa tempat saya duduk di pinggir sungai juga merupakan latar tempat syuting film Crazy Rich Asians pada adegan Rachel Chu bertemu kembali Nick Young setelah 'tragedi' dalam pesta pernikahan Colin dan Araminta beberapa hari sebelumnya. 

Pagi berikutnya setelah rangkaian pesta kuliner dan jalan-jalan hedon selesai, saya menyempatkan diri untuk membakar segala 'racun' yang masuk ke tubuh dengan berlari di kawasan Esplanade, Marina Bay Sands, dan di Garden by The Bay. Sebenarnya saya ingin sekali lari pagi di The Doom National Stadium dan di Singapore Botanical Garden. Tapi siang harinya, saya harus menghadiri acara ijab kabul kawan dari Singapura yang akan menikah. Jadi niat itu diurungkan dan akan diganti saat kunjungan ke Singapura berikutnya. #kode

.: Chasing Rachel Chu at Garden by The Bay :.

Saat akhir pekan, saya biasa berlari sejauh minimal sepuluh kilometer. Tapi karena ada acara pernikahan yang harus saya hadiri dan saya tidak ingin terlambat saat momen sakral itu berlangsung, maka tak sampai sepuluh kilometer, saya sudahi lari kali ini. Itulah mengapa saya berusaha menikmati setiap detik kunjungan ini. Hal itu karena potongan fragmen yang saya alami, mirip sekali dengan kisah yang ada di film Crazy Rich Asians: datang ke Singapura untuk kondangan, yang dibumbui dengan kisah petualangan kuliner, menyaksikan benturan budaya, dan kisah cinta. Sayangnya, cuma hal terakhir saja yang belum saya alami dalam kunjungan kali ini. #eaaa

But, the show must go on. Jika di film, pernikahan Colin dan Araminta mengambil tempat di CHIJMES (Covent of the Holy Infant Jesus Middle Education School), yaitu gedung sekolah menengah yang ada di Jalan Victoria, maka pernikahan yang saya hadiri berlangsung di Masjid Sultan yang ada di kawasan Bugis.

.: The Wedding :.

Terus terang, baru kali ini saya menghadiri acara pernikahan di luar negeri. Acaranya sederhana, tapi sungguh khidmat sekali. Tamu yang hadir hanya terdiri dari keluarga dekat dan kolega yang jumlahnya terbatas. Hal ini menguatkan stigma yang beberapa kali diulang dan ditegaskan dalam film, bahwa keluarga adalah yang utama bagi orang Asia. Jadi, beranda masjid yang tidak terlalu luas itu pun tidak sampai berjubel. Mungkin, konsep pernikahan seperti ini yang cocok buat saya jika kelak menikah: undangan terbatas, makanannya banyak serta enak, dan semua bersuka cita dalam kemeriahan yang bersahaja.

Saya baru sadar juga, ternyata ijab kabul pasangan pengantin di Singapura tidak dilakukan di dalam ruangan utama masjid, melainkan hanya di beranda saja. Penggunaan pengeras suara pun minim sekali, sehingga suasananya sungguh tenang dan damai. Jadi, pengunjung masjid tetap dapat melaksanakan ibadah tanpa harus diinterupsi dengan 'kehebohan' di luar.

.: The Best Man on Sultan Said Wedding :.

Setelah acara ijab kabul selesai, semua kembali ke tempat masing-masing dan bersiap ke acara resepsi pernikahan pada malam harinya. Resepsinya berlangsung di gedung, bukan di taman terbuka Garden by The Bay. Saya tidak ikut keriaan tersebut dan memilih main sendiri di Malay Heritage Centre untuk menyaksikan serangkaian acara budaya Melayu Singapura.

Sungguh, sulit rasanya menemukan budaya asli Singapura yang benar-benar Singapura. Beberapa tarian dan hal-hal yang berlabel budaya Singapura sepertinya merupakan adopsi budaya dari dua negara tetangganya yang mempunyai kultur historis panjang yaitu Indonesia dan Malaysia. Tari-tarian yang ditampilkan dan kostum yang dikenakan oleh penarinya tak jauh berbeda dengan gerakan tari dari Kepulauan Riau atau masyarakat Melayu Malaysia. Agar tidak merasa gegar budaya dan superior, saya berdamai dengan diri, ikut berbaur menari serta berjoget, dan berfoto bersama dengan para penari. Sungguh malam yang panjang, melelahkan, dan penuh memori yang menyenangkan.

.: Bersama Para Penari Melayu Singapura :.

Hari terakhir sebelum kembali ke Jakarta saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar Marina Bay Sands dan Garden by The Bay seorang diri. Bukan apa-apa, saya hanya ingin kembali merenung dan berandai-andai bagaimana rasanya menjadi salah satu orang paling kaya di Asia, memiliki properti di kawasan paling elit di Singapura, dan bisa jalan-jalan ke mana saja. Sungguh sebuah pengalaman ngayal babu yang melambungkan angan.

Tapi di luar itu, saya juga teringat obrolan Michelle Yeoh saat promo film Crazy Rich Asians, bahwa tidak semua orang kaya itu bahagia karena uangnya. Kata-katanya yang paling saya ingat sampai saya simpan di catatan personal adalah "it's not about how much money you have, it's about how much you know to appreciate what you have." Nancep banget dalam benak saya.

.: Happy Ending at Marina Bay Sands :.

Walaupun begitu, saya yang murahan ini tetap saja mempunyai pemahaman sendiri bahwa memang tak segalanya bisa dibeli dengan uang, tapi kalau sedang sedih dan ditambah tidak pegang uang, sedihnya bisa berlipat-lipat juga. Makanya, apapun alasannya, uang tetap penting untuk melanjutkan hidup. Bukan untuk terobsesi menjadi orang paling kaya di Asia seperti di film, tapi paling tidak punya pengalaman mencicipi secuil kehidupan orang paling kaya di Asia. Bukankah itu juga merupakan bentuk wujud kesyukuran sederhana? Di luar itu semua, mari kita aamiin-kan dulu lah siapa tahu beneran kesampaian menjadi orang paling kaya di Asia.Tak ada yang tahu bukan apa yang akan terjadi di masa depan. []

31 komentar:

  1. Wuih jalan-jalan mewah ini yah biar meresapi tiap adegan di crazy rich asian.. Aku belum nonton filmnya, apalagi mas adi banyak mention tentang pemeran dan adegannya di tiap lokasi, kayaknya mesti nonton nih. Abis aku agak ga tertarik nonton drama cuma baca di blog mu kayaknya lokasi shooting nya oke juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha film paling heits bulan ini. Saya udah nonton sampai 5 kali lho. Biar tau detilnya ini ambil gambarnya di mana gitu hehehe. Enjoy :)

      Hapus
  2. Sampae segitunya ya dalam meresapi flimnya,, apalgai sampai nonton 5 kali, aku mah malah gak nonton, cuma ikut sobat misqin doang di twitter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha udah nunggu lama soalnya. Sampai pas lihat posternya waktu di LN pengen cepat-cepat balik biar bisa nonton di bioskop :)

      Hapus
  3. Salah satu film favorit saya karena menampilkan keindahan Singapura. :D
    Belum pernah kesana, dan baru tau panasnya Singapura mungkin sama kayak Jakarta kali ya, hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main-mainlah ke sana. Biar bisa ngerasain sendiri hehehe ;)

      Hapus
  4. Itulah hebatnya kekuatan film ternama ya ..., lokasinya mampu menarik wisatawan pengin liburan ke lokasi shootingnya.

    Coba seandainya Indonesia perijinan shooting buat perfilman luar negeri sekelas Hollywood itu mudah ..., pastinya Indonesia jadi makin banyak lagi dikunjungi wisatawan mancanegara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, justru saya malah gak setuju. Indonesia sepertinya belum siap untuk menghadapi mass tourism. Bisa rusak nanti keindahan alam yang selama ini 'tersembunyi'. Hehehe :)

      Hapus
  5. Belum pernah nonton Crazy Rich Asians. :((

    Tapi tempatnya benar-benar bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, gak tau ya, mungkin udah turun layar kayaknya sekarang. Yah, sayang sekali. Baca bukunya dulu aja mungkin :)

      Hapus
  6. saya jadi sedih baca tulisan ini, tentu karena lagi tak punya uang dan pengin jalan-jalan ke Singapura hik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha menabunglah dari sekarang. Mungkin terdengar klise, tapi itulah yang saya lakukan biar bisa tetap jalan-jalan :)

      Hapus
  7. Kemakan film ya judulnya. Etapi ngiler banget Naik pesawat bisnis Gue hahahah. Pernah ke Sing tapi backpackeran aja sih 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sama seperti ketika nonton Laskar Pelangi atau AADC, pengen banget main ke lokasi syutingnya hehehe :)

      Hapus
  8. film popular memang ngefek ya ...seperti AADC di jogja, mungkin bisa ditiru untuk daerah2 lain di indonesia jika ingin terekpose ke publik dan menarik wisatawan millenial datang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, mungkin kalau untuk Indonesia, saya kok kurang setuju kalau suatu daerah dijadikan tujuan mass tourism. Seringnya jadi rusak. Beda kulturnya dengan Singapore yang masyarakatnya lebih taat aturan dan hukum dilaksanakan dengan tegas. Jadi negaranya memang sudah teratur dari sononya hehehe :)

      Hapus
  9. Baru tau kl ijabqobul di singapura dilakukan diberanda masjid, kl di tempatku kebanyakan dilakukan di dalam masjid dong. Ya meski sama2 menggunakan pengeras suara yg tidak terlalu tinggi ah ya singapuraa, jd kangen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mungkin ini pas kebetulan ada di beranda aja ya. Saya tidak tahu sih kebiasaan umumnya bagaimana. Tapi setuju kalau diadakan cukup di beranda masjid saja. Biar tidak mengganggu yang sedang beribadah. :)

      Hapus
  10. tulisan tentang berlari udah belum mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum nulis lagi nih. Lagi ngumpulin foto dulu. Mungkin bulan depan baru akan nulis tentang lari lagi :)

      Hapus
  11. tipis mas,, hampir mirip.. tapi bener, tinggal kisah cintanya aja nih :D

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
  12. Diantara semuanya, newton food centre itu yg harus banget aku datangin kalo ke singapur lg mas :p. Hahaa aku mah lbh tertarik ama kulinernya drpd yg lain2.. Kalo baca buku Novel CRA itu, pas yg bagian kuliner sukses bikin aku pgn terbang ke sing :p. Selama ini ga prnh scara khusus eksplor singapur. Kalo ksana cm utk puas2in main wahana ekstreme tok trus pulang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha bener banget. Pas bagian kuliner Kevin Kwan jago deskripsikan makanan Singapore dan bagaimana Singaporean berdebat hebat soal satai mana yang lebih autentik dan enak, kuah laksa yang gurih, dan lain-lain. Suka banget :)

      Hapus
  13. Gua kapan bisa keluar negeri yah ? Baru keluar rumah sebentar aja di tanyain macam2 sama nyokap hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau alasan itu, coba pelan-pelan jangan selalu membuat khawatir orang tua saat jauh dari mereka. Termasuk di antaranya, tidak merepotkan masalah keuangan. Ini tentu bisa banget diatasi. Walaupun terdengar klise, menabung adalah langkah paling rasional yang dapat dilakukan supaya mimpi-mimpi mengunjungi tempat yang jauh itu menjadi nyata. Good luck ya :)

      Hapus
  14. Alam, kota, sejarah, makanan, orang,....... Saya lebih suka yg banyak sejarahnya, tempat2 gedung yg punya nilai sejarah....singapur punya semua...hehehehe......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Melaka dan Penang lebih banyak lho mz. Nanti segera aku tulis ah :)

      Hapus
  15. mantapp tenan mas ulusanya, yok kapan2 ikut event lari di singapura yok

    BalasHapus
  16. Setelah kunjungan tahun 2009 ke Singapura, aku belum kesampaian ke sana lagi. Hmmm karena gak ada alasan yang kuat aja sih tepatnya. Paling kalau ke sana pengen lihat Garden by The Bay atau pengen eksplor kampong-kampong yang masih tersisa. Aku ingat pas ke sana itu Marina Bay Sands sedang dibangun, bahkan struktur kapalnya masih setengah jadi.

    Ulasan pengalaman menginap di Fullerton nya dong Die.

    BalasHapus
  17. konon katanya, masyarakat malaysia kesal karena cuma singappore yang disebut2 padahal lokasi syutingnya (rumah ah ma) aitu di malaysia. Hihi

    BalasHapus