Rabu, 20 Februari 2019

Bangkok Berlari: Amazing Thailand Marathon Bangkok 2019

.: Stadion Rajamanggala, Bangkok :.

Sebagai pelari rekreasional, kita sering tidak tahu diri. Bilang kapok tidak ingin lari maraton lagi, tapi dengan bandelnya tetap saja mendaftar ajang lari maraton lainnya saat pendaftaran dibuka. Seperti yang saya alami. Setelah dihajar dengan panasnya rute Standard Chartered Singapore Marathon 2018 pada Desember silam dengan bonus kaki kram hingga dua kali, saya sudah bilang ke diri sendiri untuk tidak lagi mendaftar ajang maraton hingga enam bulan berikutnya.

Namun apa pasal, berkawan dengan orang-orang Thailand yang negerinya mengoleksi ratusan race lari saban tahun membuat saya ingin menambah koleksi pengalaman lari di negara ini. Niat awalnya memang ingin ikut ajang lari maraton seri Standard Chartered di berbagai negara. Setelah Kuala Lumpur dan Singapura, tujuan berikutnya adalah Bangkok. Ternyata, kalau tidak salah informasi, Standard Chartered Bangkok Marathon berevolusi menjadi Amazing Thailand Marathon Bangkok. Ajang yang menurut saya menarik untuk diikuti.  

Namun, entah mengapa, kedatangan saya ke Bangkok hampir selalu diwarnai hal yang kurang menyenangkan. Terakhir kali ke Bangkok tahun 2017 lalu, kamera saya jatuh dan gagang lensanya patah. Padahal saya masih harus melakukan perjalanan keliling Asia Tenggara hingga seminggu kemudian. Untung masih bisa direkatkan dengan selotip dan aman hingga saya kembali ke Jakarta.

Kali ini, saya dibuat galau antara ingin berangkat tapi juga ada niat untuk mengurungkannya karena Bangkok sedang dilanda polusi yang parah. Berita di media dan update status kawan-kawan Thailand semakin membuat saya tambah jiper. Semua orang menghindari keluar rumah. Anak sekolah sampai diliburkan. Jika ada yang terpaksa keluar rumah, fotonya selalu mengenakan masker. Duh 😕 

.: Polusi di Langit Bangkok 😷 :.

Berhubung tiket pesawat dan hotel sudah dibayar, akhirnya gambling saja berangkat di H-2. Toh, kalau saja acara ini batal, saya akan melipir ke wilayah utara untuk menjelajah candi di Ayutthaya. Saya jadi teringat ajang Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon 2015 yang batal gara-gara asap kebakaran hutan Sumatra.

Dan benar saja, begitu pesawat akan mendarat, langit Bangkok siang itu sungguh muram. Bukan karena sedang mendung akan hujan, tapi karena kepulan debu tebal akibat polusi. Konon, Bangkok sedang giat-giatnya membangun infrastruktur. Polusi tersebut muncul selain dari asap kendaraan bermotor, juga berasal dari 'limbah' pembangunan. Seperti halnya Jakarta dan Ho Chi Minh, Bangkok juga sedang membangun proyek MRT. Saya pikir, Jakarta sudah paling parah polusinya. Merasakan hal ini, Jakarta tampak seperti kota yang baik-baik saja.  

Saya mengambil paket lomba di hari yang sama. Bangkok memang panas. Ditambah polusi yang menggejala, ingin rasanya tetap berada di ruangan berpendingin. Hampir semua orang yang saya temui menggunakan masker. Saya cuek saja, tapi tetap menggunakan buff untuk sekadar berjaga-jaga. 

.: Pengambilan Nomor BIB di Makkasan Airport Link Station :.

Lokasi pengambilan paket lomba ada di stasiun MRT Makkasan. Tempatnya lumayan lega. Antriannya tertib dan mengalir, meski mengular. Para sukarelawan yang membantu proses pengambilan paket lomba bertindak dengan cekatan. Meski beberapa tidak bisa bahasa Inggris, tapi mereka dengan segera memanggilkan rekannya yang lebih cakap demi segera bisa memberikan informasi kepada para peserta. Sungguh efisien sekali. Tak sampai sepuluh menit, saya sudah selesai mengambil paket lomba.  

Setelah itu, saya menuju hotel dan mendekam di dalam kamar hingga malam menjelang. Keesokan harinya, saya menyempatkan diri untuk berlari di stadion milik semacam Kementerian Pemuda dan Olahraga Thailand di dekat Stadion Rajamanggala untuk aklimatisasi dengan kondisi udara Bangkok. Beberapa surel dikirim secara periodik oleh panitia untuk memberitahukan tentang kondisi udara ini dan keberlangsungan ajang maraton esok hari.

Memang masih terasa ada polusi yang membuat napas kurang nyaman. Namun intensitasnya sedikit berkurang dibandingkan dengan saat saya mendarat kemarin. Otorisas Thailand pun melalui surel memastikan akan tetap menyelenggarakan ajang maraton karena kondisi udara sudah relatif kondusif. Dengan start pukul 03.00 pagi dan cut off time tujuh jam, panitia berasumsi kondisi udara akan cukup bersahabat dengan catatan, semua peserta akan langsung dievakuasi di km 21, dikembalikan ke masing-masing tempat berangkat, dan membatalkan acara jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan termasuk perubahan kondisi udara yang terjadi tiba-tiba. Sungguh, menurut saya, ini merupakan ajang maraton paling serius yang pernah saya ikuti selama ini. 😂

.: Mulai lari sesuai dengan antrian :.

Saya memasuki stadion Rajamanggala dengan perasaan berdebar. Ini stadion paling megah di Bangkok. Konstruksinya tebal dan kokoh. Saya merasa, bangunan-bangunan di Bangkok ini konstruksinya hampir selalu dapat dikonotasikan dengan besar dan tebal untuk diasosiasikan dengan sesuatu yang kokoh dan kuat. Jembatan, jalan tol, stadion, semuanya seperti gumpalan semen yang ukurannya tebal. Saya harus berbangga Indonesia memiliki stadion utama Gelora Bung Karno, Simpang Susun Senayan, dan jalan layang untuk LRT yang desainnya begitu kokoh namun estetikanya terlihat lebih ramping dan efisien. 

Saya melihat sekeliling. Satu persatu para pelari mulai memasuki area start sesuai dengan prediksi catatan waktu finishnya. Senang rasanya bisa berjumpa dengan beberapa kawan Thailand di sini meski hanya bertukar sapa. Saya juga berjumpa dengan beberapa orang Indonesia, baik yang khusus datang untuk ikut acara ini, maupun yang domisilinya memang di Bangkok. Masing-masing sudah sibuk dengan gerakan pemanasan.

Sebenarnya, di sinilah saya mulai bisa mengamati salah satu sisi kejujuran dan sportivitas dari pelari maraton. Sebagian pelari memang berusaha untuk mendapatkan catatan waktu terbaiknya di ajang maraton berikutnya. Sebagian lainnya, berusaha selalu mengambil start lebih awal, bahkan paling depan, dengan cara menginput catatan waktu yang jauh dari kenyataan (tidak sebenarnya), baik dari capaian waktu pada ajang maraton sebelumnya, maupun ekspektasi catatan waktu yang akan berlangsung.   

.: Lari Tengah Malam di Kawasan Dusit :.

Teriakan MC mengembalikan konsentrasi saya pada maraton yang akan saya lakukan. Setelah serangkaian acara seremonial, lagu kebangsaan Thailand berkumandang menandai akan segera dimulainya ajang ini. Kategori maraton penuh (FM) akan mulai secara serentak dengan kategori setengah maraton (HM). Saat terompet panitia menjerit-jerit, bagai peluru dilontarkan pelatuk, para pelari mulai melesat meninggalkan garis start

Saya berlari dengan tenang. Beberapa pelari yang saya kenal sudah melaju di depan. Target saya kali ini memang tidak muluk. Mengingat kondisi udara Bangkok yang belum terlalu stabil. Saya tidak ingin tiba-tiba tersedak kesulitan napas hanya gara-gara ingin mendapat rekor pribadi berlari di tengah kondisi yang belum kondusif seperti ini. Meski cuaca cerah dan tidak selembab di Singapura, beberapa pelari melipir ke pinggir jalan untuk buang air kecil. Nah, di sinilah perbedaannya. Entah saya yang terlalu fokus berlari atau apa, yang jelas, saya tidak melihat ada toilet portable di km awal. Saya baru melihat toilet darurat itu di jarak yang sudah relatif jauh di atas jalan tol.

.: Stabil Tampan Meski Jalur Tanjakan :.

Karena lewat jalan tol, boleh dibilang, jalurnya sungguh rapi. Meski ada cerita hoaks yang sampai di telinga saya bahwa jalurnya datar saja, beberapa tanjakan dapat saya lalui dengan aman. Water station tersedia di setiap jarak dua kilometer. Pilihannya lumayan beragam: air mineral dan isotonik, dingin dan biasa. Saya mengguyur kepala di beberapa km yang dirasa saat ubun-ubun mulai berasap. Sungguh menyegarkan dan memberi semangat baru.

Langkah saya lumayan stabil. Sampai dengan km 30, langkah kaki masih stabil di pace 5:30 hingga 5:40 sehingga saya optimis dapat mencapai garis finish paling tidak dengan catatan waktu 3:55. Sampai kemudian saya menyadari dan tiba-tiba merasa bosan sehingga keluar pikiran halusinasi yang mengatakan bahwa jalan tol ini sepertinya tidak berujung. Saya mendadak merasakan kram di bagian paha kanan. Setelah bersabar dan akhirnya melewati titik balik paling ujung jalan tol yang dijadikan jalur lari, saya melipir ke water station km 31.

.: Cheers 😉 :.

Sebuah keputusan yang kurang bijak. Alih-alih melanjutkan lari, saya malah berhenti. Ada banyak menu di water station ini yang pantang untuk dilewatkan. Selain air mineral dan isotonik, ada menu buah-buahan, donat Thailand, kismis, es potong, dan lain-lain. Sungguh biadab menggoda sekali. Saya terpaksa mengambil menu yang bisa diambil, mengunyah apapun yang sempat dikunyah, dan minum secukupnya layaknya orang yang belum ketemu air di tengah Sahara.

Bagi sebagian pelari, konsep yang baru saja dengan brutal saya lakukan adalah salah satu bentuk aktualisasi dalam menikmati ajang maraton. Apapun namanya, setidaknya untuk beberapa saat, saya jadi agak melupakan sedang mengalami kram. Kaki saya paksa untuk melangkah. Jangkauannya jadi lebih pendek. Sungguh bahaya. Tak lama kemudian, pacer sub empat jam melenggang dengan ringan seraya memberi semangat dalam bahasa Thai.  

.: Keep Running at King Rama VIII Bridge :.

Meski yakin kalau catatan waktu akan meleset dari target acuan yang sudah ditetapkan sebelumnya, saya masih optimis untuk mendapatkan catatan personal di ajang ini. Setidaknya, saya sudah menyelesaikan tiga puluh kilometer dalam waktu kurang dari tiga jam. Sungguh capaian yang patut saya syukuri dan tingkatkan.

Sorakan para penyemangat mengikuti derap langkah kaki saya. Matahari perlahan merekah di ufuk timur. Saya mulai melihat dengan jelas siluet gedung-gedung pencakar langit Bangkok. Berhubung jalurnya bersisian, saya juga kerap memerhatikan rombongan pelari yang mulai tertatih-tatih meniti langkah di jalur yang sudah saya lalui. Saya mulai mengguyur kembali ubun-ubun dengan air dingin. Hal yang saya inginkan selanjutnya adalah mempunyai foto sedang berlari melintasi jembatan ikonik Raja Rama VIII. Jembatan ini pernah saya lihat dari ketinggian Kuil Golden Mount tahun 2017 silam dan baru kesampaian melintasinya dua tahun berselang di ajang maraton ini.

.: Menyapa Netijen dan Baladiva Cabang Bangkok di Finish Line :.

Saya memelankan langkah. Tiba-tiba, dari arah belakang terdengar ucapan penyemangat dari pelari yang sudah senior agar saya tidak lantas menyerah dan segera menyelesaikan ajang ini.

"Come on, come on. You can do it. Three kilometres more", begitu katanya.

Padahal yang saya lakukan hanyalah upaya sederhana agar tertangkap kamera tanpa ada 'iklan' yang mengganggu.

Saya hanya menimpalinya dengan, "You can go first. Thanks." 😓

Setelah dirasa dapat gambar yang diinginkan, saya pun mulai melaju mengejar ketinggalan dengan pelari senior tadi. Semampu saya. Sekuat kaki sanggup melangkah. 

Meski baru pukul tujuh pagi, sinar matahari mulai menyengat. Saya tidak tahu apa rasanya kalau finish lebih siang lagi. Saya sudah sampai pada tikungan Monumen Demokrasi, deretan sorakan kembali merekah dan hidup. Mengikuti ritme, semangat saya mulai berkobar kembali. Saya lari stabil dengan derap yang semakin ringan karena terdorong untuk segera menyelesaikan jarak 42,192 kilometer ini. Detak jantung saya masih stabil. Saya merasa aman. 

.: The Result. Not Bad at All :.

Saat memasuki garis finish, saya tak lagi merasakan haru biru penuh drama seperti setahun silam saat saya menyelesaikan perlombaan maraton penuh pertama kali dalam hidup di ajang Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon 2018. Tapi kali ini, ada perasaan senang yang menjalar di dalam tubuh. Saya berhasil mendapatkan catatan waktu yang lebih baik daripada ajang maraton penuh sebelumnya. Mungkin saya belum berhasil finish dengan catatan waktu 3:55. Mungkin saya terlalu ambisius menetapkan target pribadi.

Segala bentuk evaluasi segera berkelebat dalam pikiran saya. Tapi saya berusaha menikmati euforia ini. Meski tak sehidup energi yang terpancar dari gelora semangat penduduk Borobudur, tapi ajang Amazing Thailand Marathon Bangkok 2019 begitu memberikan kesan yang mendalam. Saya sampai tidak dapat move on hingga postingan ini selesai ditulis. Sungguh, saya pikir, tagline The Unforgettable Marathon bukan isapan jempol semata. Terima kasih Thailand untuk satu lagi pengalaman berlari yang tak akan pernah saya lupakan dalam hidup. āļ‚āļ­āļšāļ„ุāļ“. []

16 komentar:

  1. Welok mas hahahhhahaha
    Jos tenan konsisten mlayu. Aku jadi kepikiran kudu bisa konsisten nyepeda :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha siap. Mari kita konsisten olahraga dan terus bergerak, menggeluti cabang olahraga yang kita suka :)

      Hapus
  2. Salut sih sama orang2 yang hobi lari macam mas.. Aku olahraga paling males tu lari sama renang haha.. soalnya bener2 cardio banget,, capek luar biasa..

    untung polusinya berkurang di hari H ya..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya. Alhamdulillah berkah banget. Akhirnya kesampaian ikut maraton di Bangkok :)

      Hapus
  3. Wisss ncen idolaquuuuuuuuuuu ogggg.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha thank you kakak lambe peceren Baladiva Cabang Jombang :*

      Hapus
  4. Kece tenan mas...skali2 ajak aku mas...ajak aku mas... ojo lali yo mas...ajak aku mas

    BalasHapus
  5. mantep banget.. marathonnya di luar negeri.. itu rutenya full di tol kah? kalau yang bisa tanpa singgungan dengan pengguna jalan memang bisa sih.. sayangnya di indonesia, apalagi jakarta tolnya rame, kalo ditutup arteri macet banget.. kalau yang menarik sih PSBM yang katanya rutenya lewat pasoepati.. sayangnya mahal HTM nya meski ada yang lebih mahal.. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mostly di jalan tol sih. Lewat jalan umum juga. Tapi kesadaran masyarakatnya emang sudah terbangun. Jadi, begitu ada acara maraton begini, pengguna jalan mau dialihkan dengan tertib. Jalurnya nyaman banget buat lari soalnya steril.

      Saya juga join PSBM kok. Kalau ikut, siapa tau bisa jumpa di sana :)

      Hapus
  6. Sungguh biadab memang ketika pas Marathon ada godaan makanan selain minuman yang disediakan panitia. uwowowoo, ada donut, kismis dan es potong. nyomot es potong dulu baru lanjut. salut pingin ikutan maratahin sunia kayak gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, itu karena makanannya memang uenak banget saat saya emang lapar. Jadi klop banget situasinya :)

      Hapus
  7. Makanan pinggir jalan Thailand emang menggoda ya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Tapi kalau yang haram-haram teteup gak berani nyicip :P

      *anak sholeh*

      Hapus