Sabtu, 07 November 2015

Memo dari Moyo

.: Welcome to Moyo Island, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat :.

Mengapung di mulut Teluk Saleh, Pulau Moyo seakan menghadirkan banyak pertanyaan bagi para pejalan. Keberadaannya di jalur pelayaran antara Lombok dan Taman Nasional Komodo membuatnya populer dan menjadi buah bibir. Tersohor sebagai pulau yang menyembunyikan penginapan mahal rupanya tak menyurutkan niat para pejalan dengan dana terbatas untuk menyambanginya. Satu dari sekian banyak gosip yang banyak dibahas, di antara ribuan pulau cantik yang dikoleksi nusantara, mengapa Moyo yang justru dipilih oleh Adrian Zecha untuk mengerek salah satu properti bisnisnya dalam jaringan resort Aman?

Rasa penasaran tersebut semakin bertambah saat gelombang informasi tentang betapa banyaknya tokoh populer dari mancanegara yang berbondong-bondong menginvasi pulau kecil ini untuk sejenak menghabiskan waktu liburannya. Apa yang sebenarnya mereka cari jauh-jauh ke pulau terpencil dengan akses terbatas dan jauh dari bandara ini?   

.: Pantai Pulau Moyo di Pagi Hari :.
Saya berangkat ke Moyo dari Pelabuhan Khayangan di Lombok Timur saat matahari hampir tenggelam. Bermalam di Gili Bola, perahu yang saya tumpangi mendarat di pantai Pulau Moyo saat pagi baru saja dimulai. 

"Sarapan dulu sebelum kita berangkat trekking ke tengah hutan.", kata Adi, ABK yang namanya mirip dengan saya, mengumumkan jadwal hari itu sembari menyodorkan sepiring pancake pisang yang sudah kering dan segelas teh hangat.

Diombang-ambing ombak dan disuguhi sarapan serupa cemilan membuat saya malas beranjak dari geladak. Hujan semalam seakan mengonfirmasi kemalasan tersebut. Tapi, berhubung diliputi rasa penasaran untuk mendapatkan jawaban atas rumor yang beredar di antara para pejalan tentang keeksotisan pulau ini, saya segera menghabiskan jatah sarapan dan meloncat ke atas kano menuju pantai.

"Sangat aneh mendapati ada orang Indonesia tidak bisa berenang." sindir Husby, turis asal Perancis dalam rombongan tur yang saya ikuti.

Saya hanya tersenyum. Bukan untuk pertama kalinya saya mendapat cibiran seperti itu dari turis mancanegara. Lahir dan besar di gunung membuat saya lebih terlatih memanjat lanskap perbukitan daripada mengayuhkan kaki di kedalaman.  

.: Sungai Kecil Aliran Air Terjun Tak Bernama :.

Mendarat di pantainya yang berbatu, rombongan kapal kami terlihat seperti pencuri yang mengendap-endap melewati pintu belakang. Melalui teluknya yang tenang, Moyo seakan menengadahkan tangan, menyambut setiap pendatang. Hutan lebat dengan alas dedaunan basah menjadi sajian berikutnya. Setelah mendapatkan pengarahan singkat, setiap orang tampak saling menunggu untuk menjadi orang pertama yang menembus hutan. Rimbunnya pepohonan seakan menyelimuti pulau ini dengan segalau kemisteriusannya. Saya kembali terhenyak. Apa yang sebenarnya ditawarkan pulau ini sehingga orang seperti berlomba-lomba untuk menjejaknya? 

.: Melintasi Sungai Kecil :.
Menaungi wilayah seluas separuh kota Jakarta, Pulau Moyo merupakan kawasan yang ditetapkan sebagai cagar alam. Selain manusia, pulau ini menjadi habitat bagi sekawanan kelelawar, babi hutan, rusa, sapi, kerbau, dan ular.

"Dua bulan lalu, di bawah bonggol itu terdapat seekor anakonda yang sedang tidur nyenyak saat saya melintas.", Adi menjelaskan dengan suara datar dan disambut dengan serentetan gerakan merembet ke barisan oleh para peserta tur.

Untungnya, tak satupun ular melintas saat kami bertandang. Alih-alih melihat binatang buas berseliweran, saya justru dikagetkan dengan keberadaan sapi dan kerbau yang tampak seperti monster di tengah hutan: berbadan tambun, kelihatan gelap, dan sosoknya muncul secara tiba-tiba. Membuat siapa saja yang tak sengaja menantapnya seolah-olah seperti sedang berhadapan dengan hantu.

"Masyarakat Pulau Moyo dan sekitarnya kerap menggembalakan ternak mereka di hutan, menandai tubuh gembalaannya dengan kode tertentu, dan meninggalkannya di hutan. Mereka akan mengambil hewan gembalaannya beberapa hari sekali.", kata Adi sembari membantu para peserta tur melintasi jalur licin.

.: Aliran Sungai di Dalam Hutan :.
Di sisi lain pulau, tenda-tenda putih Amanwana seakan menjadi anomali atas segala sesuatu yang bercokol di atas pulau ini. Penginapan mewah yang kerap menjadi oase bagi selebritas dan tokoh dunia ini menawarkan privasi yang berfusi dengan kenyamanan nan menenangkan.

Menghadap laut pirus berarus teduh, para tamu resort seakan mendapat komplimen berupa kegiatan safari alam di tempat mereka bersemayam. Rusa-rusa yang lugu tak jarang bermain-main di sekitar tenda saban sore. Begitu malam menguasai waktu, orkestrasi tonggeret dan fauna gelap gulita seakan merajai suasana. Segala keberisikan yang menggema lembut di telinga tersebut ditutup dengan tingkah polah monyet hutan yang menyapa di pagi hari.

Sinyal seluler raib. Ingar bingar manusia steril dari kawasan resort. Apa yang dibutuhkan orang saat merasakan fitrah pertamanya hidup sebagai manusia yang bersinergi dengan alam kembali menyatu? Mungkin inilah daya tarik utama mengapa banyak orang ingin menyambanginya. Saya berasumsi dalam hati sembari bersabar menunggu, kejutan apa lagi yang akan disuguhkan oleh buritan Moyo ini. Konon, berdasarkan rumor yang beredar sebelum saya bergabung dalam tur sailing trip ini, Moyo menyimpan sejumlah air terjun yang menyejukkan mata.

Selain Mata Jitu dan Diwu Mbai, ada satu air terjun cantik yang kerap dijadikan tempat mandi air tawar terakhir bagi mereka yang ikut sailing trip dari Lombok menuju Labuan Bajo. Sepanjang jalur pelayaran, sumber air tawar akan sulit untuk ditemui. Untuk itu, banyak orang pantang melewatkan 'ritual' mandi di air terjun ini. Termasuk para peserta trip dalam rombongan ini. 

.: Air Terjun Pulau Moyo :.

Untuk ukuran Indonesia yang dianugerahi berbagai macam air terjun, tampilan air terjun ini tampak bersahaja. Meski sudah memasuki musim penghujan, debit air masih dikategorikan kecil. Alirannya tidak mengucur, tapi merembet mengikuti relief dinding batu. Saya berusaha memanjat di cerukan paling tinggi untuk mendapatkan kesegaran paripurna tanpa saringan dari manusia yang bertengger di atasnya. Begitu pula peserta tur yang lain. Namun, karena ceruk yang ada jumlahnya terbatas, setiap orang berusaha rendah hati untuk tetap tenang sembari intens menikmati kesegaran air terjun serupa air soda. Dari kejauhan, formasi ini akan terlihat sebagaimana lukisan bidadari khayangan yang sedang mandi dalam dongeng Jaka Tarub. Sungguh lucu sekali mengingat kemarin sore kita juga berangkat dari Khayangan, Lombok Timur. 

.: Berebut Mandi di Air Terjun :.
Tak ada kekhawatiran akan gangguan ular atau binatang liar lainnya. Sapi dan kerbau gembalaan berada jauh di dalam hutan. Beberapa ekor kupu-kupu terbang rendah seperti hendak mengajak bercengkerama. Kadal air berlari menjauh, menghindar dari kerumunan. Gerumbul semak dan pepohonan seakan berkelindan menjadi tudung yang menyembunyikan air terjun dan pengunjungnya dari gerimis ringan yang membasahi.

Moyo mungkin bukan pulau megah dengan ingar bingar fasilitas mewah. Justru kebersahajaannya inilah yang menjadi daya tarik mengapa banyak orang rela datang jauh-jauh dari seluruh penjuru bumi hanya untuk menyepi.

Melewati kembali jalur tanah yang dialasi dedaunan basah, saya dan rombongan meninggalkan kawasan air terjun dengan perasaan yang lebih ringan dari saat kedatangan. Memandang laut lepas perairan teluk Saleh yang tenang, saya begitu bersemangat untuk menyambangi tanah pengharapan. Di kejauhan, di bawah bayang-bayang kaki Gunung Tambora, Pulau Satonda menggoda dengan segala segala kemisteriusannya. Tak sabar rasanya untuk segera menjejaknya. []  

14 komentar:

  1. Wah mantap Die! Ada air terjun yang ngumpet di tengah hutan di tengah pulau pula. Si anankonda ya mandi di sana nggak ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Air terjunnya sebenarnya ada yang lebih mantab lagi. Ini alhamdulillah gak ketemu ular pas ke sana. Amit-amit lah ya ;)

      Hapus
  2. Hahaha..your are lucky tidak ketemu sama anakonda..

    BalasHapus
  3. Hahaha..your are lucky tidak ketemu sama anakonda..

    BalasHapus
  4. Kalo di teluk saleh, mesti pake peci sarung baju koko yaa biar terlihat sholeh gitu yaaa ??????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Yang jelas harus tutup aurat. Jadi, paha sama dadamu yang seksi menggemaskan itu harus dibungkus sama sarung dan baju koko biar kelihatan asli sholehnya hehehe. Tapi, denger selentingan dari beberapa blogger heits ibukota, Mas Cum ini rajin sekali puasa ya. Berarti udah sholeh dari sononya. Bener-bener gak salah milih temen nih gw hehehe *salaman* ;)

      Hapus
  5. Balasan
    1. Gak perlu ngiri mbak, datangi saja tempatnya hehehe :)

      Hapus
  6. resort super duper mahal ini bikin penasaran ...
    koq ..tidak ada foto2 resort-nya ...#PenontonKecewa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, saya gak bawa kamera pas lewat tenda-tenda resort itu. Maaf ya. Mungkin tahun depan ada kesempatan nginep di salah satu tenda itu hehehe :) *kodebanget*

      Hapus
  7. Oh moyo cuman gini doang ???
    gw kok ngak minat kalo ngak nginep di amanwana nya #Totok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yakin? Kamu bisa menggelinjang hore ditemani hewan-hewan liar lho di sini. Masa sih kamu gak mau dicakar macan gitu wkwkwk :)))

      Hapus