Sabtu, 16 Juni 2018

Lebaran di Negeri Jiran

.: Selamat Hari Raya Idulfitri 1439 Hijriah :.

Langit gelap bertabur bintang. Gema takbir berkumandang. Jalanan cukup lengang. Masjid-masjid tampak mulai bersiap untuk hajatan esok hari. Lebaran telah datang. Untuk kali pertama saya berlebaran di negeri orang. Bukan karena alasan menghindari sesuatu, tapi lebih karena berburu pengalaman baru. Semesta mendukung dengan mengirimkan tanda berupa tiket promo pergi pulang dengan harga terjangkau. Sungguh kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.   

Memang, idealnya lebaran digunakan untuk berkumpul bersama keluarga di rumah. Berhubung liburnya lumayan panjang, saya memanfaatkannya dengan liburan juga. Bosan kan di rumah tidak melakukan apa-apa selain bengong membaca buku dan menghabiskan cemilan saja. Melipirlah saya ke negeri tetangga. Selain akses yang mudah dan suasananya juga tidak berbeda jauh dengan di tanah air, biaya hidupnya juga murah.

Sejak waktu tempuh ke Bandung selalu molor dari tiga jam, Kuala Lumpur seakan menjelma 'rumah' kedua bagi saya. Ini bukan kunjungan pertama. Saya sudah hampir hafal sudut-sudutnya. Jadi, saya akan membuat kunjungan singkat ini senyaman mungkin untuk 'me time'.

Pagi harinya, saya berusaha untuk bangun lebih awal agar bisa ikut salat subuh di masjid. Inginnya sih salat subuh di Masjid Negara, semacam masjid Istiqlal di Jakarta. Tapi berhubung jauh dari hotel, saya memilih subuh ke Masjid Jamek saja. Masjid ini merupakan masjid tertua di Kuala Lumpur. Dibangun tahun 1909 oleh para pedagang India. Lokasinya strategis yaitu tepat di pertemuan Sungai Klang dan Gombak. Posisi yang ditahbiskan sebagai posisi titik 0 km Kuala Lumpur. Sebagai pemburu lokasi titik 0, tentu saya senang sekali dengan remah informasi seperti ini.

.: Khotbah Ied :.

Setelah subuh, saya bercakap sebentar dengan pedagang peci di pelataran masjid. Asalnya dari Medan, Sumatra Utara. Saya lupa menanyakan namanya. Saya bertanya tentang waktu pelaksanaan salat Id.

"Salat Id di Kuala Lumpur mulainya jam delapan pagi.", katanya.

Mengikuti informasi dari Pak Pedagang Peci, saya pun kembali ke hotel untuk nonton tv sembari menikmati cemilan kue kering yang saya bawa dari Jakarta sebelum kembali lagi ke masjid untuk salat Id. Saya sengaja datang lebih awal agar bisa masuk di ruangan utama masjid, bukan di pelatarannya. Khotbahnya menggunakan bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Arab. Sama seperti di Indonesia, setelah salat selesai ada acara salam-salaman. Tampaknya imamnya merupakan ulama yang sangat dihormati. Saya menunggu sampai yang bersangkutan selesai menyalami semua jemaah dan meninggalkan mimbar sebelum mengambil gambar. Ukuran masjid ini sebenarnya tidak besar, tapi kombinasi arsitektur Mughal dan Moor yang berkelindan mengguratkan keindahan dari zaman lampau.  

.: Anak soleh sudah insyaf. Maaf lahir batin ya 🙏:.

Jauh dari rumah, saya berusaha membuat suasana lebaran di rumah terasa hadir juga di negeri orang. Sebenarnya saya ingin ikut acara silaturahmi di KBRI sembari mencicip makanan yang disediakan kedutaan. Tapi kok malas sekali jalan ke sananya. Apalagi 'cuma' mau mencari makanan gratisan. Kalau kawan-kawan saya yang julid itu tahu, pasti akan langsung menghunus lidah dengan mengucap, "Jangan kayak orang susah!". Saya pun masuk ke kedai mamak dan memesan .... nasi goreng. Minumnya teh tarik panas. Paling pas untuk menimbun tenaga buat jalan-jalan.

Jujur saja, meski saya pemakan segala, tapi saya belum menemukan nasi goreng enak di Malaysia. Bahkan, dibandingkan dengan nasi goreng abang-abang yang biasa lewat di depan rumah, nasi goreng di Malaysia masih kalah jauh. Tapi, berhubung yang masuk selera saya pagi itu hanya nasi goreng, sepiring ukuran besar pun tandas juga.

.: Selamat makan semuanya :.

Lalu, ngapain saja di Kuala Lumpur saat lebaran begini? Berhubung lebarannya jatuh pada hari Jumat, saya memilih untuk main tidak jauh dari hotel. Jujur saja, saya belum pernah secara khusus berjalan-jalan dengan intens keliling kawasan Masjid Jamek. Selama ini, saya memilih menginap di kawasan ini karena lokasinya dekat dengan masjid dan aksesnya mudah ke mana-mana.

Saya mengawalinya dari lokasi titik 0 km Kuala Lumpur. Sepertinya tak banyak yang tahu posisinya sampai suatu ketika dipasang tanda titik 0. Tak ada tugu atau patok batu. Hanya plang biasa saja. Namun, lokasi ini selalu ramai. Pemandangannya memang unik dan, meminjam kata yang sedang hangat zaman ini, instagramable. Sebuah masjid kuno yang dikurung oleh bangunan modern pencakar langit dan dihimpit dua sungai. Di jam-jam tertentu, ada atraksi air mancur dari pinggiran sungai tersebut yang memberikan sensasi seolah masjid dan bangunan di sekitarnya berada di atas awan. 

.: Titik Nol Km Kuala Lumpur :.

Sungainya kecil saja sebenarnya. Saya tak tahu kondisinya jika debit airnya melimpah. Apakah kawasan ini juga langganan banjir? Tapi saya belum pernah dengar berita kawasan Masjid Jamek kebanjiran. Sungguh, tak dapat dipungkiri, saya kagum dengan kebersihan kawasan ini. Tak ada bangunan kumuh dan sungainya tak ada sampah. Saya juga tidak melihat ada orang membuat sampah sembarangan di sekitaran tempat ini. Saya jadi berharap bahwa tak lama lagi kawasan kota tua Jakarta juga punya sungai yang bersih dan bagus buat foto-foto seperti ini. 

Berusaha mengejar kesempatan berfoto di tempat mainstream, saya menuju ke Kuala Lumpur City Gallery. Di depan gedungnya terdapat tulisan I💓KL. Saya ingin norak-norakan berfoto juga di situ. Dalam keadaan hari libur biasa, untuk berfoto di tulisan begini saja harus antri panjang. Berhubung libur lebaran tidak banyak yang jalan-jalan, saya tak perlu antri panjang untuk mendapat giliran berfoto.

.: Yes, I 💓 Kuala Lumpur :.

Kuala Lumpur City Gallery merupakan museum sekaligus pusat informasi yang isinya tentang sejarah Kuala Lumpur sejak penjajahan Inggris hingga sekarang. Ada banyak foto lama yang dipajang berupa gambaran peristiwa penting yang terjadi kota ini. Dari informasi yang disajikan, saya jadi tahu bahwa ternyata Kuala Lumpur juga pernah dilanda banjir sekitar tahun 1970-an. Ini menunjukkan bahwa sistem drainase kota ini sudah jauh lebih baik dan modern. Salah satunya seperti yang saya lihat di kawasan titik 0 km tadi. Tak jauh dari Kuala Lumpur City Gallery terdapat Museum Tekstil dan Perpustakaan Kuala Lumpur. Sayang sekali, keduanya tutup. Padahal saya ingin sekali melihat koleksi perpustakaannya.

Melipir agak jauh karena harus mengambil air minum dulu di hotel, saya menuju ke MUD di Panggung Bandaraya setelahnya. Ini semacam Gedung Kesenian kalau di Jakarta. Ada penampilan teater yang berkisah tentang budaya dan sejarah kota serta transformasinya dari sebuah kota tambang timah yang bersahaja menjadi kota metropolitan. Sayang sekali, pertunjukannya baru ada di sore hari. Jadi, saya melewatkannya saja karena ada agenda lain.

.: Gedung Pertunjukan Mud Panggung Bandaraya :.

Berbagi lahan dengan Panggung Bandaraya, terdapat gedung kantor Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia. Gedungnya bagus sekali. Terdapat banyak pilar yang membentuk relung seperti di masjid. Fasadnya mengingatkan saya pada Lawang Sewu di Semarang. Saya hanya menyaksikannya dari arah jembatan yang menghubungkan halamannya dengan halaman masjid Jamek.

Berhubung hari sudah agak siang, saya mempercepat langkah menuju Gedung Abdul Samad. Gedung ini dulunya semacam Balai Kota atau Pusat Pemerintahan Kolonial Inggris. Dibangun tahun 1897. Menara-menaranya tinggi seperti kubah masjid. Di menaranya yang paling tinggi terdapat jam sebagai penanda waktu. Jika tak ingat sedang ada di Kuala Lumpur, saya merasa sedang berada di India saat berada di kawasan gedung ini. Mengamati fasad bangunan yang terlihat serupa, saya baru sadar, ternyata arsitek Masjid Jamek, Museum Tekstil, dan Gedung Abdul Samad adalah orang yang sama yaitu Arthur Benison Hubback. Detail karyanya sungguh rapi dan mengundang decak kagum. 

.: Gedung Abdul Samad :.

Lazimnya sebuah gedung pemerintahan, di depannya terdapat lapangan luas tempat segala sesuatu yang berhubungan dengan rakyat. Lapangan di depan Gedung Abdul Samad ini bernama Dataran Merdeka. Tempat ini menjadi semacam episentum berdirinya negara Malaysia. Lapangan luas berumput hijau ini dulunya menjadi tempat olahraga kriket untuk kalangan kolonial Inggris dengan nama The Selangor Club Padang. Lokasinya menjadi heroik tatkala terjadi penurunan bendara Inggris dan diganti dengan pengibaran bendera kebangsaan Malaysia tepat tengah malam tanggal 31 Agustus 1957. Sebagai bangsa Indonesia, kejadian heroik seperti ini mengingatkan saya pada kejadian serupa yang terjadi di Hotel Yamato Surabaya pada tahun 1945.

Sejak kejadian tersebut, tempat ini secara ajek menjadi lokasi Upacara Peringatan Kemerdekaan Malaysia. Di salah satu sisinya terdapat tiang bendera tertinggi di dunia yaitu 97 meter. Yang saya ingat, sebagai pelari maraton, Dataran Merdeka merupakan tempat yang paling bersejarah dalam kegiatan lari yang saya geluti. Di sinilah untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mulai berlari di kategori maraton penuh sejauh 42,195 km pada bulan April lalu. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan.

Berhubung hari sudah terik, saya kembali ke hotel untuk bersiap salat Jumat. Saya pikir, saya hanya berputar di situ-situ saja. Ternyata cukup membuat kaki gempor juga.

.: Melipir sejenak Batu Cave :.

Berhubung memang tak ada agenda pasti, setelah salat Jumat saya meluncur ke Batu Caves. Hari sudah agak sore karena salat Jumat di Kuala Lumpur ternyata dimulai jam satu siang. Sudah lama sekali mendengar nama Batu Caves tapi belum sempat saja untuk main ke sini. Bersama dengan seorang kawan pejalan dari Polandia, saya menuju ke Batu Caves dengan naik kereta komuter.

Lokasinya agak jauh di luar kota. Tak ada tiket masuk untuk menuju ke dalam gua. Ada tiga gua dengan kuil-kuil sebagai tempat pemujaan. Karena tempatnya berupa kawasan perbukitan kapur dengan hutan-hutan kecil yang terjaga, saya disambut oleh sekawanan monyet liar. Sontak saya memegang erat topi dan kamera. Maklum, kejadian seperti ini lazim terjadi seperti halnya saat saya berkunjung ke pura Uluwatu di Bali.

Ada juga burung merak dan ratusan burung merpati. Sebuah patung Dewa Murugan setinggi 42,7 meter menjadi penjaga mulut gua. Saya harus meniti 272 anak tangga untuk sampai di mulut gua. Drama terjadi. Mendadak hujan turun deras sekali. Seperti air bah yang ditumpahkan dari langit. Untung saya membawa payung. Jadi aman untuk naik ke atas.

Di dalam gua hawanya sembab dan bau kotoran kelelawar. Ada beberapa altar pemujaan. Beberapa tampak sedang direnovasi dan juga dibangun beberapa altar baru. Tak lebih dari setengah jam saya berada di gua. Setelah hujan reda, saya segera keluar untuk kembali ke hotel.

.: Sore yang syahdu :.

Rasa-rasanya lebaran hari pertama cukup melelahkan. Sesampai di hotel, saya leyeh-leyeh sejenak untuk kemudian berenang. Baru saya sadar, harusnya libur lebaran cukup dihabiskan dengan leyeh-leyeh manja saja di kolam renang dan di kamar, bukan keluyuran di jalanan. Tapi berhubung saya orangnya gampang bosan, leyeh-leyeh di kolam renang hotel cukup dijadikan kegiatan selingan saja saat berlibur di kota metropolitan. Selamat lebaran. Mohon maaf lahir batin semuanya. []

24 komentar:

  1. Bisa ya lebaran jauh dari keluarga.. Kalau saya begitu mah pulang2 digorok wkwk..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa banget kok mz. Dicoba saja. Tapi jangan lama-lama hehehe :)

      Hapus
  2. Wah, keren sekali bisa ngerasain Idul Fitri di negara orang.
    Kalau saia mah dijamin gak bakal bisa, klw dapat cuti saat lebaran hukumnya wajib pulang kampung!

    Ada tradisi yg unik gak di Malaysia saat lebaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Hal yang sangat lazim di Indonesia. Saya juga pulang kampung kok. Tapi ada kalanya pengen jalan-jalan kan di luar kebiasaan yang ada.

      Sama seperti di Jakarta. Lebaran berlalu begitu saja. Tak ada hal unik. Mungkin berbeda kisahnya kalau masuk ke wilayah yang lebih 'daerah' lagi. Maklum, metropolitan hehehe :P

      Hapus
  3. sudah beberapa kali berkesempatan ke KL cuma belum pernah engeh dimana lokasi titik O-nya mas.
    lokasinya berdekatan dengan Masjid Jamek-kah, mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Dekat tempat mimbar imam salat. Di situ ada pertemuan dua sungai. Nah, di ujung 'lembah' yang deket mimbar imam salat itulah posisinya. Tapi kalau mau foto yang ada penanda tulisan 0 miles-nya ya di jembatan tempat gw mengambil gambar di atas. Ada kok penandanya :)

      Hapus
  4. Waduh,, Aku malah lebaran kudu di kampung kata ortu, karena pulkamnya hanya sekali setahun.

    Lebaran di negara tetangga keren juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jamak kok bagi orang Indonesia. Take your time ;)

      Hapus
  5. Pngnya diriku lebaran dinegi jiran... pasti suasananya beda banget... mudah2an lain waktu bisa mampir kesana ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga segera kesampaian ya. Menurutku sih, lebih syahdu di Indonesia suasananya ;)

      Hapus
  6. Sesekali merayakan hari raya diluar kebiasaan ngumpul bareng keluarga .. terasa unik dan berbeda kesannya ya.
    Kapan-kapan aku juga mau nyobain akh 😁 ..., ngikutin mas Adie 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha cuz lah. Kalau bisa ke negara yang benar-benar beda budayanya. Biar lebih terasa bedanya :)

      Hapus
  7. Keren tulisannya. Tapi titik 0 itu sepertinya susah ditemukan ya? Harus jalan sambil tunduk ke bawah untuk lihat yang mana titik 0-nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang sudah ada penandanya di tempat saya mengambil gambar ini. Pelan-pelan saja jalannya biar 'nemu' penandanya :)

      Hapus
  8. Masya Allah.. keren mas..
    dimanapun lebaranya tetep Idul Fitri hari raya umat muslim :)
    Taqobalallahu Minna Waminkum, Minal Aidzin Wal Faidzin ya mas :)

    BalasHapus
  9. mungkin saya kurang tertarik berlebaran diluar rumah.. :)
    tapi saya sangat tertarik dengan kolam renangnya.. hehe

    kakve-santi(dot)blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe hotel favorit itu kalau main ke KL. Harganya terjangkau, lokasi strategis, dan lumayan fotogenik untuk diambil gambarnya ;)

      Hapus
  10. masyaallah tempatnya tertata rapih dan bersih mantap nih buat lokasi liburan hehe
    semoga bisa jalan jalan ke sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya, Kualalumpur memang kotanya lumayan rapi. Masyarakatnya juga peduli terhadap kelestarian lingkungan. Kita perlu belajar tentang hal ini :)

      Hapus
  11. Bersih banget kotanya. Suasananya sangat melayu sekali. Pengalaman yang menarik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Tata kotanya memang OK sekali. Pemerintah dan warganya juga bisa merawatnya dengan baik :)

      Hapus
  12. Aku tuh dulu 4 thn selalu lebaran di Penang, ga prnh mudik krn kampusku yg swasta, libur lamanya cendrung pas natal doang. Kalo lebaran dia libur cuma pas tgl merah :). Jd percuma mudik.

    Asik kok liburan di sana. Kadang aku ikutan temenku yg muslin supaya bisa ngerasain lebaran yg sbnrnya, apalagi krn aku kos ama keluarga china yg ga merayakan lebaran.

    Eh kalo nasi goreng di malaysia, jgn sama kedai mamak ato india mas. Rasanya memabg aneh. Dulu nasi goreng fav ku, ada dijual di kampus, yg masak chef china. Tp halal kok, krn pihak kampus tahu students nya ga semua non muslim. Pernah sih ngerasain yg masak org melayu, enak, tp ttp lbh enak kalo yg masak china :D. Bukan rasis ya, kenyataannya aja memang gitu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well noted mbak Fanny. Belum pernah main di area kampus di KL atau seantero Malaysia. Semoga suatu saat bisa melipir ke situ. Penang juga salah satu favoritku itu. Nanti segera aku tulis hehehe :)

      Hapus