Minggu, 18 Agustus 2019

Nikmatnya Jalan-Jalan Sendiri

.: Menikmati suasana kawasan Kamondo Merdivenleri, Istanbul, Turki :.

Saat mengunggah foto perjalanan ke Turki beberapa bulan lalu, saya banyak sekali mendapatkan pertanyaan. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sering sekali dilontarkan. Tapi saya menjawabnya singkat saja atau sambil lalu. Pertanyaan yang paling sering ditanyakan tentu saja tentang mengapa kalau jalan-jalan selalu sendirian saja. Apa tidak takut? Nanti di tempat tujuan bagaimana? Menginapnya di mana? Makan apa? Menuju ke sananya piye? Aman tidak? Kalau diculik bagaimana? Nah, panjang kan? Lho, apanya? Ya pertanyaannya. 😜

Terus terang, saya sebenarnya juga tidak ada masalah saat harus jalan-jalan berombongan. Faktanya memang, sejauh ini, saya tidak pernah benar-benar jalan sendirian. Selalu ada teman pejalan lain yang sama juga sedang jalan-jalan.

Saya melakukan perjalanan karena memang ingin. Ada perjalanan yang memang saya rencanakan jauh-jauh hari. Ada kalanya keinginan untuk jalan-jalan itu dilakukan dengan impulsif. Artinya, saya hanya modal tiket pergi pulang saja, tanpa ada reservasi hotel dan akomodasi lain. Go show saja. Lihat nanti di sana bagaimana. Contohnya perjalanan ke Turki kala itu dan hampir semua perjalanan yang saya lakukan lainnya. Benar-benar go with the flow. Tidak banyak teman-teman dekat saya yang siap dengan model jalan-jalan begini.

Ada yang punya dana, tetapi cutinya cekak. Ada yang jatah cutinya longgar tapi sedang bokek. Ada yang harus bayar cicilan ini-itu. Ada yang anaknya sakit, mau sekolah, atau belum bayar uang les. Ada yang maunya hanya kalau ada tiket promo saja. Dan sebagainya. Menyatukan banyak keinginan dalam satu rencana yang sama terkadang memang banyak kendalanya. Bisa-bisa nanti malah saya tidak jadi jalan-jalan. Nah, itulah mungkin alasannya mengapa saya (kelihatannya) selalu jalan-jalan sendirian saja.  

.: Merasakan kelas bisnis dalam penerbangan dengan maskapai Air France - KLM :.

Kalau boleh jujur, seimpulsif apapun, saya tetap mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat jalan-jalan. Kemampuan ini sebenarnya akan terasah dengan sendirinya saat jam terbang jalan-jalannya sudah semakin bertambah. Hal minimal yang perlu disiapkan tentu saja uang secukupnya. Kalau ke luar negeri, paling tidak ya membawa cadangan mata uang USD selain mata uang negara yang ingin dikunjungi. Dokumen perjalanan sudah disiapkan dalam satu tempat sehingga ringkas dibawa ke mana saja setiap saat. Visa sudah disetujui oleh kedutaan negara yang mempunyai kewenangan memberi izin. Paling mudah memang yang bisa diajukan secara daring.

Pejalan saat ini sudah lebih mudah dan terbantukan dengan adanya banyak sekali aplikasi agen perjalanan daring. Jadi, soal penginapan dan akomodasi sebenarnya bisa dipersiapkan jauh-jauh hari. Terkadang, ada banyak promo yang ditawarkan oleh penyedia aplikasi tersebut. Untuk itu, sering-seringlah berselancar di dunia maya untuk mendapatkan info terkini. Saya lebih memilih fleksibel saja. Ada kalanya pesan lebih awal secara daring, tapi tak jarang juga saya go show pesan di tempat. 

.: Suasana Hening Saat Menginap di Presidential Suite Svarga Resort, Senggigi, Lombok :.

Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada masalah berarti. Semua ok-ok saja. Termasuk makanan dan bahasa. Saya memang pernah mengalami beberapa kejadian tidak mengenakkan dalam perjalanan. Pesawat ditunda keberangkatannya, pesawat beda jadwal terbang dengan yang tertera di situs pemesanan, gagang kamera patah, atau membayar lebih tarif hotel dari yang seharusnya. Buat saya, itulah bumbu dalam perjalanan. Makanya saya punya cerita. Dan dari hal-hal tersebut saya jadi belajar sesuatu dan tambah waspada.

Untuk menghemat biaya, saya selalu meminta diskon untuk semua akomodasi yang akan saya pakai. Hal itu dilakukan karena saya sadar diri bahwa uang yang saya bawa juga tidak banyak. Jika ada tiket terusan, saya biasanya membeli tiket jenis ini karena akan lebih murah hitung-hitungannya. Tiket terusan ini bisa berupa tiket bus, museum, dan lain-lain.  

Ke manapun saya pergi, jika ada angkutan umum menuju ke sana, saya akan naik angkutan umum saja. Jika bisa ditempuh dengan jalan kaki, ya saya memilih berjalan kaki. Berhubung jauh dari mana-mana dan apapun harus dilakukan secara mandiri, makanya tidak boleh manja dan selalu berusaha tepat waktu. Ada kalanya saya mencoba keberuntungan dengan hitchhike. Tapi tidak semua negara mengenal 'cara' ini. Jadi, jika tidak yakin dan khawatir akan keselamatan, sebaiknya tidak dilakukan.

.: Menikmati kopi hangat di Puncak Gunung Kelimutu, Ende, Flores, NTT :.

Saya juga kerap patungan untuk membayar akomodasi dengan teman-ketemu-di-jalan. Berjumpa di restorasi saat sarapan atau tidak sengaja bertemu di jalan, akhirnya membuka obrolan dan berlanjut jalan bareng. Sejauh ini saya memang berjumpa dengan pejalan yang pacenya tidak jauh berbeda. Artinya, kebanyakan pejalan yang pernah jalan bareng saya jalannya tidak buru-buru banget, masih muda (tenaga masih fit), dan gaya jalannya tidak kere-kere banget. Ini penting. Biar tidak timbul perasaan tidak enak hati, rikuh, dan (untuk saya) capek kalau lihat orang yang ngiritnya kebangetan. It's so last year-lah ya gaya jalan seperti itu.

Bergaulah dengan orang lokal. Jika terkendala masalah bahasa, mulai sekarang belajarlah bahasa lain selain bahasa Indonesia. Minimal bahasa Inggris. Bukan untuk apa-apa. Mengenali secara wajar kehidupan orang lokal itu menurut saya sungguh menarik. Semakin berkembangnya dunia turisme saat ini mendorong pemangku kepentingan membuat segala sesuatu secara artifisial. Semua dibuat instan. Yang penting ada dan tersedia saat ada turis yang datang. Meski umum terjadi, rasa-rasanya saya kurang puas menikmati situs turisme yang demikian.

Saya lebih senang bertandang ke suatu tempat yang apa adanya. Kalau memang indah dan menarik tempatnya ya memang secara alami indah dan menarik, bukan karena editan seperti di brosur pariwisata. Tempat-tempat seperti ini kerap akan mengundang lagi lebih banyak orang lagi untuk datang. Kalau benar-benar ramah penduduknya dan (mohon maaf) tidak rakus dalam mengambil keuntungan, tak jarang akan bersikap secara wajar, tersenyum dengan tulus, memberikan harga juga secara wajar, keramahan yang ditampilkan tidak dibuat-buat, dan seringnya akan meninggalkan pengalaman yang berkesan bagi kedua belah pihak.

.: Pemandangan di "Belakang Rumah Nenek", Cappadocia, Turki :.

Dalam melakukan perjalanan secara mandiri, kita boleh banget khawatir. Tapi jangan sering-sering. Tenang saja. Banyak orang baik di luar sana. Untuk itulah, saya selalu bilang ke diri sendiri dan kawan-kawan yang minta saran agar juga selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi. Mulailah menanam karma baik setiap hari, kepada semua makhluk. Saya pikir, segala amal kebaikan, pada akhirnya akan menuntun kita untuk dipertemukan juga dengan orang-orang yang jauh lebih baik lagi daripada kita. Bukan agar kita ditolong dalam perjalanan, tetapi lebih kepada sinyal agar kita mau mengambil pelajaran kehidupan dari mereka. Sesederhana apapun.

Hal-hal kecil semacam menunjukkan arah penginapan, museum, terminal, atm, ongkos yang harus dibayar dengan tarif wajar, makanan yang wajib dicicipi di suatu tempat, dan atraksi wisata yang perlu dilihat, informasi seperti ini sangat berarti diketahui oleh seorang pejalan untuk efisiensi mengingat waktu kunjungan ke suatu destinasi yang sangat singkat. 

.: Bersama kawan-ketemu-di-jalan di Goreme, Cappadocia, Turki :.

Nah, di luar itu semua, saya percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah seperti dirancang oleh Sang Khalik. Kapan kita ke mana dan berjumpa dengan siapa. Energi yang terpancar dari kita itulah bisa jadi yang akan menarik orang seperti apa yang akan kita temui nanti. Sejauh ini, saya bertemunya sih dengan orang-orang yang super seru, kocak, dan baik hati seperti dua orang yang mengantar saya ke terminal Goreme, Cappadocia saat saya akan bertolak ke Konya.

Saya juga percaya bahwa masih banyak orang baik di dunia ini. Makanya tidak khawatir saat harus berangkat jalan-jalan sendiri. Seperti dalam ungkapan, good friends are like stars, you don't always see them, but you know they always there ... to help you 😍. Jadi, kapan nih mulai (belajar) menikmati jalan-jalan sendiri? 😋 []

11 komentar:

  1. Aku pun percaya mas. Nggak ada yg kebetulan di dunia ini. Semua udah terrencana, apa yg kita tanam itu yg bakal kita nikmati. Duh jd kangen jalan2 sendiri ih..

    BalasHapus
  2. Keren nih perjalanannya mas... fotonya bagus-bagus..

    BalasHapus
  3. cuma mau bilang, pekarangan belakang rumah neneknya keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwooo, jadi kangen nongki-nongki ganteng di belakang rumah nenek kan hehehe :)

      Hapus
    2. Mau dong diajakin pesta di belakang rumah nenek. ada balon2 bagusnya gitu... Hehehehe

      Hapus
    3. Hahaha kuy, jangan sampai ketinggalan :P

      Hapus
  4. jujurnya, solo traveling itu bukan tipeku :D. emg dari dulu ga pernah suka sendirian. Tapikan ntr bisa ketemu temen baru di jalan? hmmm, aku jg bukan yg gampang lgs akrab ama org baru :D. butuh waktu hahahaha. makanya selama ini, aku jalan selalu ada temennya. kalo sampe g ada partner, aku bakalan pake tur. pokoknya jgn sendiri aja :D.

    Aku setuju, traveling yg irit banget itu so yesterday lah wkwkwkwk . yg begini ga bakal aku jadiin travelmate :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha banget mbak. Aku suka jalan sendiri itu biar gak ribet aja kok. Di sananya juga gak sendiri biasanya. Kecuali kalau berangkatnya sama teman akrab yang memang udah kenal luar dalam, baru deh cuz hehehe :)

      Agak rewel tentang ini ya salah satunya biar gak ribet juga masalah perduitan. Riweh kan kalau apa-apa harus nguirit terus. Backpacking sih ok aja, tapi ya jangan sampe kere-kere banget lah. Dah gak zamannya :P

      Hapus
  5. Wah kita sama mas,, sama2 pecinta solo traveling.. Tapi aku karena udah ada istri ya seringnya sama istri sekarang..

    emang enak sih kalau jalan sendiri itu kita bebas menentukan langkah kita. bisa tiba2 berganti haluan. bisa menentukan sendiri berapa lama di tempat A berapa lama di tempat B. Kalau lg pengen hemat ya hemat kalau lagi pengen hura hura ya hura hura tanpa ada pertimbangan ke teman jalan.

    Terus ketemu teman2 baru di perjalanan itu juga seru. Bercerita tentang pengalaman masing2..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus