Selasa, 11 Agustus 2015

Polemik Pejalan: 100% Cinta Indonesia

.: Lanskap Alam Indonesia Timur yang Memesona :.

Traveling memang sedang booming. Industri ini dicatat terus tumbuh dan berkontribusi secara signifikan dalam menyokong perekonomian suatu negara. Dunia tambah riuh dan dipenuhi dengan istilah-istilah traveling yang lebih 'keren' dan mutakhir. Makna piknik pun kian bergeser. Banyak orang mulai terjangkiti virus jalan-jalan. Orang mulai berpikir bagaimana mengumpulkan uang dan merencanakan sebuah perjalanan. Mereka mulai sadar bahwa jalan-jalan sekarang menjadi semacam gaya hidup.

Banyak orang mulai sibuk mendiskusikannya, membanding-bandingkan yang dilakukannya, membuat sebuah parameter tertentu tentang konsep perjalanan, menentukan indikator 'keberhasilan' sebuah perjalanan baik dengan angka-angka maupun menerjemahkannya dengan bahasa filosofis (yang terkadang malah sulit dimengerti) sehingga konsep jalan-jalan menjadi tak lagi sesederhana pergi ke suatu tempat dan menikmatinya.

Sebagai ekses dari preferensi yang berbeda, bentuk kegaduhan tersebut merembet juga pada perdebatan tak berujung pada polemik tentang konsep cinta pada negara terkait kegiatan jalan-jalan yang dilakukan. Ada pejalan yang berpedoman untuk jalan-jalan keliling Indonesia terlebih dahulu sebelum menjejakkan kaki ke negeri orang. Sebagian pejalan merasakan pengalaman bahwa dengan bepergian keluar negeri, rasa cinta akan Indonesia bisa tumbuh karena dianggap dapat menjadikan pelajaran serta pembanding untuk menghargai dan bangga akan negara sendiri.

.: Ekspedisi Indonesia di Laut Sumbawa :.
Saya pikir, jalan-jalan itu sangat personal. Setiap orang akan mengalami dan merasakan pengalaman yang berbeda-beda. Pun jika orang tersebut jalan-jalan secara komunal. Tak dapat dipungkiri, gairah untuk mengunjungi tempat-tempat di seluruh dunia sedang melanda banyak kalangan. Semakin tersedianya akses dan akomodasi murah menjadi salah satu katalisnya. Namun yang perlu disadari, jalan-jalan saat ini juga menjadi semacam ajang 'perlombaan' untuk banyak-banyakan mengunjungi suatu tempat dan murah-murahan mencapainya.

Memang hal itu tidak salah. Tapi, terkait dengan saling klaim tentang konsep nasionalisme yang direduksi oleh beberapa pejalan, akan lebih baik jika diuraikan terlebih dahulu akar yang mendasari penilaian yang berbeda tersebut.

Saya yakin harusnya setiap pejalan sudah paham bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Konon, jika dihitung-hitung, dengan mengoleksi 13.466 pulau tersebut, dibutuhkan waktu sekitar 36 tahun untuk mampir sehari satu pulau untuk menjelajahi semua pulau di Indonesia. Dari sini, saya pikir sangat konyol kalau harus memaksakan diri menunggu 36 tahun untuk sekadar ingin menjejakkan kaki di negeri orang hanya untuk dianggap sebagai seorang nasionalis. Pertanyaan yang selanjutnya muncul, betapa banyaknya orang Indonesia yang mempunyai kemungkinan dicap tidak nasionalis hanya karena hidup di perbatasan, sementara kebutuhan hidupnya akan lebih efisien jika harus disokong dari negera tetangga. Apakah juga, misalnya, orang Batam harus liburan dahulu ke Jakarta yang tiketnya bisa sangat mahal bila dibandingkan dengan menyeberang beberapa menit ke Singapura atau Johor Bahru, untuk bisa mendapatkan cap sebagai seorang yang cinta tanah air?

.: Topeng Kayu: Cenderamata Khas Indonesia :.
Seharusnya, dengan banyaknya jalan-jalan yang dilakukan, pikiran juga semakin terbuka. Namanya juga sebuah kebutuhan, setiap pejalan pasti berpikir logis dalam menentukan destinasi liburan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Orang memilih jalan-jalan ke luar negeri karena banyak alasan. Bisa karena gengsi, harga tiket untuk menjelajah Indonesia yang relatif mahal, dan infrastruktur yang belum bagus terutama di wilayah Indonesia timur.

Yang suka jalan-jalan di negeri sendiri pun bisa berdalih bahwa hal-hal tersebut sebenarnya bisa diatasi jika banyak orang berbondong-bondong menikmati keindahan Indonesia. Dengan banyaknya permintaan tiket pesawat di titik-titik destinasi populer nusantara, otomatis persaingan akan terjadi sehingga dimungkinkan harganya juga semakin terjangkau. Hal inilah yang seharusnya dilihat dan dijadikan peluang oleh pemerintah untuk memeratakan perekonomian di daerah.

Selama ini fokus pemerintah sepertinya pada bagaimana mendatangkan turis asing yang jumlahnya tak beranjak dari sekitar angka 7 juta sampai dengan 9 juta orang pertahun karena berkaca pada capaian yang diperoleh negeri tetangga. Sepertinya, pemerintah lupa bahwa penduduknya yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa ini justru dibidik oleh pasar asing untuk mendatangi negara mereka. Bukankah dengan memaksimalkan jumlah turis domestik untuk berlibur di negeri sendiri, selain meningkatkan perekonomian daerah, pemerintah juga semakin mendorong warganya untuk mengenali negerinya sendiri secara langsung, bukan dari 'dongeng' di buku-buku pelajaran sekolah atau tayangan televisi.

.: Belanja Produksi dalam Negeri :.

Di dunia jalan-jalan saat ini, ketiga pendapat di atas belum sepenuhnya terhubung dan mendapatkan kanal komunikasi yang baik. Tapi saya yakin, setiap pejalan dan pemerintah sekalipun, punya konstruksi berpikir sendiri tentang bagaimana berkontribusi dalam memajukan pariwisita dan ekonomi Indonesia. Bukankah hal itu juga merupakan wujud nyata dari rasa nasionalisme itu sendiri. Jadi, meski pada dasarnya semua cinta Indonesia, tapi yang selama ini terlihat adalah nasionalisme dari kacamata masing-masing. Daripada energi dan pikiran habis untuk berdebat tanpa menghasilkan wujud nyata, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk berkontribusi memajukan potensi dalam negeri sesuai dengan skala dan kemampuannya masing-masing.

.: Patung Budha Lara Blanya: Suvenir Antik Khas Indonesia :.
Yang suka jalan-jalan di dalam negeri, ada baiknya untuk konsisten dengan pendapatnya. Meski jalan-jalan dengan gaya apapun, sebaiknya selalu setia menggunakan barang produksi dalam negeri, menginap hanya di tempat penginapan warga lokal, membeli cenderamata khas daerah dengan harga penawaran yang wajar, dan tak lupa menginformasikan hal-hal positif selama penjelajahannya di negeri sendiri tersebut melalui media apapun seperti blog, media sosial, ataupun ditulis di media cetak sehingga bisa diperhitungkan juga sebagai bagian dari promosi wisata dalam negeri sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab moral akan prinsip yang selama ini diyakini. 

Berdasarkan pengamatan saya, mereka yang sering jalan-jalan ke luar negeri biasanya juga menyempatkan jalan-jalan di Indonesia sebagai jeda atau selingan saat tidak jalan-jalan ke luar negeri. Dengan membeli cenderamata sederhana, mengambil gambar-gambar indah di titik-titik destinasi wisata, serta menggali sekelumit informasi yang agak detil tentang suatu daerah Indonesia bisa dijadikan sebagai modal untuk menjadi 'duta' dalam mempromosikan Indonesia kepada orang asing yang ditemui. Pengalaman saya, sampai saat ini tak ada turis yang bilang bahwa Indonesia itu jelek. Dengan 'promosi terselubung' melalui obrolan ringan di hostel atau sepanjang perjalanan, memberikan kartu pos atau foto tentang keindahan alam Indonesia, saya yakin hal-hal kecil seperti ini patut diapresiasi sebagai bentuk kontribusi untuk memajukan pariwisata dalam negeri.

.: Cinta Tanah Air Sejak dari Alam Pikiran :.
Yang tak kalah penting adalah peran serta pemerintah. Melihat potensi di depan mata, sebaiknya arah kebijakan yang diambil tentu saja yang mendorong pada kemandirian dalam negeri. Dengan menbangun infrastruktur yang merata serta insentif pada beberapa bidang potensial yang mendatangkan kemakmuran masyarakat secara berkelanjutan saya pikir layak untuk segera dijadikan nyata.

Jika ketiga konstruksi berpikir tersebut telah berjalan dan menemukan kanalnya dengan tepat, saya yakin, gesekan dan perbedaan pendapat yang selama ini bertumpu pada hal-hal sepele terkait jalan-jalan dan nasionalisme perlahan-lahan dapat direduksi, jika dibilang tidak dapat dihilangkan. Karena sebenarnya, nasionalisme itu tumbuh sejak dalam alam pikiran, bukan lahir karena perdebatan atau sebuah paksaan. []

PS: Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia.

18 komentar:

  1. Saya menganggap traveling itu sebagai proses belajar, mendalami ilmu yang didapat selama perjalanan. Saat pertama/awal orang mengenal traveling, terkadang muncul sikap arogan lalu membandingkan diri dengan yang lain. Saat selanjutnya lebih dari 2-3 kali traveling, terkadang muncul sikap bijak dan lebih dewasa; terkadang mengubah karakter. Saat selanjutnya sudah sangat sering traveling, biasanya lebih sadar jika kehidupan itu begitu luas dan kompleks, membuat kita tidak ada apa-apanya, kecil.

    Ada ilmu padi di sini, tentu bagi yang mau belajar menjadi sebenar-benarnya pejalan. Betul kata Agustinus Wibowo, jika pejalan itu terobsesi dengan kata "jauh". Dan ia membuktikan sejauh dan sebanyak ia keliling dunia, tetap saja tak mampu berbuat apa-apa kala ibundanya yang jauh lebih bijak telah tiada.

    Lalu nasionalisme itu harus ada, hanya saja tidak ada korelasi dengan harus ke luar negeri lah, harus di dalam negeri lah. Nasionalisme itu harus ada di setiap apapun, melakukan yang terbaik dalam setiap apapun. Nice post, Mas Adi! Kontemplatif, semoga yang berwenang mampu memberikan yang terbaik untuk bangsa, begitupun pula rakyatnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. WOW Rifky, well said. Aku jadi terharu baca komenmu. Merasa dihargai benar saat menulis postingan di blog ini. Terima kasih ya atas apresiasinya. Semoga dirimu tetap menjadi pejalan yang rendah hati dan selalu semangat menyebarkan berita positif tentang Indonesia ;)

      Hapus
    2. Ah, saya suka berdiskusi Mas. Saya percaya kita sama-sama peduli (sangat) dengan bangsa ini. Kita bareng-bareng semangat berbuat kebaikan dengan cara yang sama ataupun cara masing-masing dengan tujuan yang sama *tos* :))

      Hapus
    3. Siaaap! Itulah sebenarnya yang sedang terjadi. Saya yakin semuanya punya semangat cinta tanah air. Hanya saja disalurkan melalui cara-cara yang berbeda saja. Memang perlu sedikit kedewasaan dan keterbukaan pikiran saat membahasnya. ;)

      Hapus
  2. Duh mas aku kok merasa merinding ya baca postingannya... Sudah itu saja komentarnya... ntar kalau diskusi panjang aku malah kelihatan begonya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha semoga bisa jadi bahan renungan ya mas bro :)

      Hapus
  3. Kalau ngeliat bule yg lagi traveling, khususnya yg kelas backpacker, pasti mereka suka bawa catatan gitu. Poin yg bisa saya ambil sih, jalan-jalan bukan sebagai wadah buat eksistensi aja, tapi lebih ke esensinya. Mereka ngasih kritik sosial, tapi tetap secara ga langsung sebagai promosi wisata juga.

    Bener banget tuh argumennya kalau sekarang jalan-jalan lebih dipake sebagai 'perlombaan' semata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap. Saya juga suka bawa catatan kecil kok sebagai pengingat atau mencatat informasi penting selama perjalanan. Btw, terima kasih apresiasinya. Salam ;)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Masukkan aku menjadi anggota grupies Cumilebay mz, biar bisa halan-halan hore bareng Mz Cumi yang heits itu ;))

      Hapus
  5. tiap daerah memiliki keunikan masing2 .. tiap orang memiliki preferensi dan minat yang berbeda ...ya ...
    tapi Indonesia yang luas dan inah ini ga ada habisnya untuk di explore ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak ada kata yang lebih tepat untuk menjelaskannya lebih gamblang lagi. Saya setuju mas. Mari kita jaga dan lestarikan alam Indonesia :)

      Hapus
  6. setuju, pemerintah memang hanya fokus untuk menarik minat turis datang ke indonesia, sedangkan masyarakat indonesia ditarik minatnya untuk mengunjungi negara luar. padahal indonesia udah terbukti menang telak pesona alamnya sama negara manapun#100% cintaindonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya, mari selain sesekali main ke luar negeri, jelahahi dan kenali negeri sendiri. Indonesia itu indahnya keterlaluan kok. Serius :)

      Hapus
  7. alasanku lbh srg ke LN drpd keliling Indonesia ya krn pertama harga tiket lbh murah... Kedua, krn Indonesia negara kepulauan dan iklimnya cendrung panas, smentara aku ga suka traveling ke pantai dan ga kuat kena panas, itulah kenapa aku lbh senang ke negara2 lain saat winter :D.. Apapunlah, ttp kok mas ga ngurangin rasa cinta ke negara sendiri ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha selow aja mbak. Sebenarnya, itu tipikal orang Indonesia lho. Takut hitam hehehe. Tapi, sah-sah saja kok. Kan liburan itu hak semua orang. Soal pengalamannya seperti apa, itu kan personal banget. Jadi, menjadi merdeka atas keputusan sendiri itu menyenangkan sekali kok, apalagi merdeka dalam jalan-jalan hehehe :)

      Hapus
  8. Artikelnya kereeennn.. traveling mmg personal, makanya saya plg bete ngeliat debat soal gaya traveling. Ada yg melabeli dirinya traveler dan merendahkan turis yg katanya cm yg penting udh foto2 "Been there, done that" aja. Pdhl ya tiap org kan berbeda tujuan dan cara memaknai perjalanannya. Ga semua org jalan2 utk "mencari makna hidup".
    Buat saya hidup terlalu pendek utk stuck di 1 tempat, makanya kl ada kesempatan jalan2 ke mana aja saya senang. Cm sepertinya sya msh manja nih, jd lbh sering jalan2 di kota aja yg nyaman. Apalagi saya mmg senengnya museum, taman hiburan, dan atraksi2 kota lainnya. Ah, tp biarlah.. kan traveling bkn perlombaan
    Jadi panjang komennya hehe sekali lg artikelnya kerenn!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha terima kasih apresiasinya. Traveling itu emang personal kok. Jadi, sepanjang bisa dipertanggungjawabkan, ya suka-suka kita aja mau ke mana :)

      Hapus