Rabu, 17 Juni 2015

Tur Literatur: Menjejak Latar Sebuah Cerita

.: Buku-Buku yang Menginspirasi Perjalanan :.

Dari tangan-tangan kreatif para perangkai cerita, imajinasi menyublim menjadi kisah-kisah yang menginspirasi. Berawal dari ide yang bermukim di kepala ditambah dengan sejumput kenangan akan masa silam, cerita-cerita yang menarik biasanya lahir dari dongeng yang dikisahkan dari mulut ke mulut. Saat kemudian kisah tersebut berubah wujud dalam bentuk bahasa biner, dengan pangsa khayalak penikmat cerita yang kian bertambah dan beragam, inspirasi untuk mendatangi sebuah nagari baru yang menjadi latar sebuah cerita bisa terbit karena penghayatan yang dalam dari kegiatan pembacaan yang intim.

Gejala tersebut bermula dari rasa penasaran atas beragam tanda tanya. Benarkah kisah tersebut nyata? Para penjelajah Barat berbondong-bondong datang ke nusantara karena terdorong untuk menemukan dunia baru di luar daerahnya. Awalnya, mereka hanya berbekal rumor dan keyakinan tentang adanya wilayah yang 'menjanjikan' sebagaimana disebutkan dalam kitab suci. Euforia itu berlanjut hingga era milenium. Bedanya, saat ini 'kitab' panduannya berupa buku-buku sejenis Lonely Planet dan catatan perjalanan yang tersebar di dunia maya.

.: Menggalau di Maninjau :.
Selain catatan perjalanan, sastra juga punya andil yang signifikan dalam menggerakkan orang untuk menjelajah suatu tempat. Saat roman Siti Nurbaya terbit, banyak orang penasaran dengan tokoh tersebut hingga sampai ada yang berniat sekali untuk menemukan makamnya.

Tak begitu penasaran dengan kisah kawin paksa yang jauh berbeda eranya, saya menyambangi Ranah Minang salah satunya karena terpikat dengan deskripsi lanskap Maninjau dalam novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi. Maninjau adalah sebuah kampung kecil di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kampung ini sepi dan tenang. Vegetasinya berupa lanskap persawahan, kebun kelapa, dan hutan-hutan kecil di atas bukit.

Rumah penduduknya tidak melulu berupa rumah adat Gadang dengan atap bagonjong (atap tradisional Minangkabau yang mirip tanduk kerbau) yang khas, tetapi rumah-rumah biasa dengan atap genteng dan sirap. Beberapa rumah saya yakin merupakan peninggalan pemerintah kolonial dengan arsitektur Melayu Minang yang bangunan utamanya berbentuk segi enam dengan jendela-jendela kisi. Beberapa rumah punya 'pantai' sendiri karena bagian belakangnya berbatasan langsung dengan Danau Maninjau. Sungguh, sesuatu yang menyenangkan bisa melewatkan pagi yang sunyi ditemani secangkir kopi.

.: Mengenakan Ulos di Museum Batak :.
Tiga bulan setelah 'merantau' ke Maninjau, berkat tiket promo saya menengok danau legendaris di tanah Batak, Danau Toba. Banyak sekali yang melatari keinginan saya untuk bertandang ke tempat ini. Selain lirik lagu Julius Sitanggang, lukisan danau di mata uang kertas pecahan seribu rupiah, teman-teman kuliah yang banyak dari Batak, juga karena membaca sebuah buku yang ditulis oleh Mja. Nashir berjudul Berkelana dengan Sandra Menyusuri Ulos Batak.

Buku ini saya dapat melalui tautan di Facebook yang mengulas tentang Ulos Batak. Karena menyukai kain tradisional Indonesia, saya tertarik dengan buku ini. Saya agak sedikit 'malu' sebenarnya dengan banyaknya orang asing yang menyukai kebudayaan Indonesia, sementara saya yang lahir dan tinggal di sini malah tidak tahu dan bahkan tidak kenal dengan budaya masyarakat Indonesia yang sungguh heterogen ini.

Untuk 'mengobati' rasa malu tersebut, berhubung waktu kunjungan yang singkat, saya menyempatkan diri untuk menyambangi huta (kampung atau desa) Sialagan untuk melihat proses membuat ulos Batak dan ke Museum Batak di Tomok untuk melihat koleksi kain ulos. Motifnya unik. Saya suka kain-kain tradisional semacam ulos, kain sarung, dan tenun ikat karena bahannya sangat alami serta menggunakan pewarna dari alam juga. Yang belum kesampaian, Bu Sandra Niessen dalam buku ini sudah keliling Tanah Batak untuk meneliti ulos-ulos yang dibuat di setiap huta. Namun demikian, setidaknya saya sudah menghirup udara segar di bukit-bukit hijau yang mulai gundul di pinggir Danau Toba. Pikiran saya tiba-tiba melayang ringan. Mata saya sedikit terpejam dan mendadak sebuah kedamaian menyergap.  

.: Lokasi Syuting Film Laskar Pelangi :.
Saat mata kembali membuka, pikiran saya kembali ke bumi. Lalu sejenak mengalir kepada kenangan akan awal mula cerita perjalanan saya menjelajahi nusantara kembali bergulir. Semua bermula dari kisah murid-murid Ibu Muslimah di SD Muhammadiyah Gantong, Belitong.

Dalam pikiran anak-anak yang dididik dalam kurikulum Orde Baru, saya mengenal Belitong hanya sebatas sebagai pulau penghasil timah. Fakta tersebut hampir selalu ditanyakan dalam ujian dan wajib dihafal anak sekolahan. Begitu novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata terbit, pemahaman dan pandangan banyak orang, termasuk saya, agak sedikit terbuka bahwa selama bertahun-tahun, Belitong menyembunyikan identitasnya sebagai pulau cantik dengan pantai berpasir putih dan batu-batu granit berukuran superlatif.

Saya datang ke sini, saat Museum Kata belum dibangun, desa sastra Gantong masih dalam konsep, dan Laskar Pelangi belum dijadikan nama festival. Di antara banyak sudut Belitong yang menarik untuk disambangi, atmosfir euforia cerita dalam buku seakan menyublim dalam celah-celah di antara bebatuan. Bermain pasir pantai dan main petak umpet di antara bebatuan seharian dan mencicipi gangan ikan kuah kuning merupakan beberapa hal yang dapat dilakukan di tanah yang kaya timah ini. Setelah itu, saya tak lupa menyempatkan diri untuk menyambangi replika sekolah miring dan makan martabak Bangka (hok lo pan). Sungguh, saya baru benar-benar merasa bahwa sebuah buku mampu mendorong keinginan untuk mendatangi suatu tempat yang menjadi latar dalam cerita setelah membaca novel Laskar Pelangi, berikut cerita-cerita lanjutannya.

.: Finding Innerpeace in Uluwatu Temple, Bali :.

Buku lain yang sungguh membuat penasaran untuk mendatangi suatu tempat di Indonesia adalah Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert. Konon sang penulis menemukan kedamaian dan cintanya di Pulau Dewata. Saya sendiri yang sebelumnya belum pernah ke Bali merasa tertarik untuk menyambanginya. Bali bagi saya mungkin sebuah pulau yang sudah sangat turistik sekali, makanya tidak menjadi prioritas. Jadi, saat mendengar ada turis asing yang merasa damai dan nyaman saat berada di Bali, saya pikir sudah bukan hal baru.

Desa Ubud memang indah. Sawahnya tertata rapi. Makanannya jelas juara sekali. Tapi, jika yang ditawarkan adalah sawah dan sajian penggugah selera, sebagai orang Indonesia, saya bisa mendapatkannya dengan mudah di 'belakang' rumah sendiri. Yang justru menarik bagi saya adalah orang-orangnya. Menemukan orang-orang dengan keramahan tulus di episentrum keriuhan turis asing sungguh menenteramkan hati dan pikiran. Hal itulah salah satu yang membuat saya masih setia menyukai Bali di tengah gempuran komersialisasi yang terus berlangsung hingga saat ini.

Selain itu, desa Ubud yang digadang-gadang sebagai desa 'dunia' di mana sering didaulat sebagai tempat untuk merayakan kedamaian, ternyata punya segenap perayaan meriah yang sayang untuk dilewatkan. Salah satunya adalah festival sastra Ubud Writers and Readers Festival tempat di mana penulis bertemu dengan pembacanya. Untuk hal inilah, sebuah tur literatur benar-benar menemukan rumahnya di Indonesia selain juga di Belitong dan Makassar.

.: Taman Nasional Tanjung Puting :.
Selesai dengan sawah yang unik dan pantai yang cantik, saya memantabkan niat menembus lebatnya hutan Kalimantan setelah selesai membaca Supernova, Episode: Partikel. Buku tersebut mengisahkan tentang petualangan Zarah saat tinggal di Camp Leaky, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Saya sendiri sudah tahu perihal Tanjung Puting jauh sebelum buku tersebut terbit. Gara-garanya, dari dulu saya tertarik untuk melihat orangutan di habitatnya langsung, bukan yang dikerangkeng di kebun binatang.

Seperti halnya Zarah di Partikel, saya juga naik kelotok dari pelabuhan Kumai, menyusuri sungai sekoyer, dan trekking masuk ke dalam hutan hingga akhirnya dapat menemui sekawanan orangutan. Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting memang semi-liar. Maksudnya, pihak taman nasional masih menyediakan makanan bagi mereka. Jadi, jika berkunjung ke mari dan ternyata tidak bertemu dengan orangutan, bisa jadi itu merupakan pertanda baik karena makanan di dalam hutan melimpah sehingga para orangutan itu tidak memerlukan makanan yang disediakan oleh petugas taman nasional.

Yang membuat seru, dalam perjalanan menuju tempat pemberian makan orangutan, saya bertemu dengan banyak sekali hewan liar lainya yaitu buaya sinyong supit, buaya muara, burung rangkong, bubud, dan sindang lawe. Saya juga sempat melihat tetumbuhan langka seperti anggrek hitam, anggrek bulu, aneka jamur hutan, dan tumbuhan merambat yang unik-unik.

Setelah menginjak tanah Sumatera, menyusuri tanah Jawa, Bali, dan Sumbawa, serta menembus hutan Kalimantan, saya tergoda untuk merambah Sulawesi. Ada satu buku cerita menarik yang mungkin banyak orang belum tahu.

.: Tana Toraja :.

Judulnya Landorundun karya Rampa Maega. Kisah ini diangkat dari dongeng lokal Toraja. Tokoh utamanya mirip dengan Rapunzel. Saya berangkat ke sana dengan niatan untuk bersua dengan sang penulis. Pucuk dicinta, ternyata ulamnya masih di Jawa. Saya urung bertemu dengan kak Rampa.

Saya memutari Toraja untuk melihat budaya masyarakatnya saja. Saat pagi masih terlalu muda, saya main ke Pasa' Bolu untuk melihat kerbau dan babi yang biasa digunakan untuk upacara adat. Mengikuti saran dari penduduk setempat, saya berkesempatan mengikuti prosesi Rambu Solo' di suatu desa. Selama di Toraja, saya juga tak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata 'umum' di Tana Toraja seperti Kete Kesu, Kambira, Lemo, dan Londa. Selain itu, saya juga bertamu ke beberapa desa dan tempat-tempat non-turis hanya untuk mengobati rasa penasaran dan mengetahui kisah-kisah lokal, yang seringnya, hanya berupa dongeng yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Sepulang dari Toraja, saya menyadari satu hal. Ada banyak kisah menarik di setiap tempat di penjuru nusantara. Dongeng-dongeng, cerita rakyat, dan mitos daerah setempat bisa menjelma menjadi ide sebuah cerita yang menarik. Dan betapa sastra muncul menganeka warna dan menyublim menjadi magnet yang menarik bagi mereka yang peka untuk menitinya. Mengamati ratusan koleksi buku yang tersimpan di perpustakaan pribadi di rumah, saya menerka dalam hati, buku apalagi yang akhirnya sanggup mendorong saya untuk menyusuri latar dalam cerita di sebuah buku. Saya tak berani menjawabnya. Saya pikir, pembacaan saya belum sepenuhnya selesai. [] 

6 komentar:

  1. Jika saja ditulis dengan bahasa yang lebih santai, mungkin akan lebih menarik untuk khalayak blog. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih masukannya mbak, minal aidin wal faidzin ;)

      Hapus
  2. Salut, bener-bener pecinta sastra dan traveling nih masnya. Tulisannya juga bagus hehe
    Ane juga suka sastra, cuman kayanya belom pernah ngeliat tempatnya langsung yg kaya dideskripsikan, keterbatasan biaya juga si hahah
    Salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, terima kasih apresiasinya mas. Nabung dulu, siapa tahu kalau tabungannya sudah cukup, bisa punya kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menjadi latar cerita dari buku yang dibaca. Salam kenal juga mas :)

      Hapus
  3. memang betul kata orang2 ... banyak membaca banyak pengetahuan dan memiliki wawasan yang luas ... dan bisa memberikan inspirasi ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan pernah berhenti membaca bro. Salam ;)

      Hapus