Rabu, 10 Juni 2015

Foto Bareng Bule

.: Santai Sejenak di Gili Laba, Taman Nasional Komodo, NTT :.

Apa menarik coba foto bareng bule? Dulu, waktu masih SMP, teman-teman saya tamasya ke Jogja, mengunjungi Borobudur, Keraton Jogja, Prambanan, dan begitu sudah masuk sekolah lagi dibawalah beberapa foto kenangannya bersama para bule. Waktu SMU antusiasme teman-teman saya kelihatan lebih 'brutal' lagi. Mereka niat banget ikut tur ke Bali dan begitu sudah masuk sekolah lagi, dengan bangganya bilang, "Ini lho foto-fotoku bareng bule'.

Lah, apa menariknya coba? Dulu waktu masih sekolah, keinginan untuk kenal bule hampir-hampir tidak ada. Lagian, urgensinya tidak ada. Mungkin juga karena dulu belum bisa bahasa Inggris. Di sisi lain saya dikasih tahu beberapa teman kalau bule itu bau. Begitu sudah 'menjajah' Jakarta dan mulai menginvasi beberapa mal, mulailah saya sedikit banyak tahu beberapa macam bule, dari bule ganteng sampai bule cantik, dari yang kaya sampai yang kere, dari yang pebisnis sampai yang turis, semua ada dan tumplek blek di Jakarta. Saya pikir, teman-teman yang bule hunter bisa ngiler foto dengan mereka.

.: Bersama Bule Tante-Tante di Tanjung Puting :.
Tetangga saya di kampung tidak mau ketinggalan. Saat tahu saya diterima sekolah di Jakarta, ketika mengantar ke stasiun hampir semuanya berpesan untuk tidak lupa berfoto di Monas dan foto bareng bule. Saya kembali bertanya-tanya, apa istimewanya sih foto bareng bule?

Mungkin, bagi sebagian orang, bule itu menarik perhatian karena terlihat 'berbeda' dari manusia kebanyakan yang biasa  mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Perawakan, warna kulit, bahasa, dan gaya berpakaian terlihat berbeda.

Dan yang lebih parah, semua bule mereka sebut sebagai wong londo (orang Belanda). Suatu ketika saya sampai tertawa terpingkal-pingkal saat ayah saya bertanya, "Le, temenmu itu londo mana? Londo Inggris apa londo Amerika?"

Dalam benak banyak orang Indonesia, efek kolonialisme yang didengungkan dalam diktat buku-buku sejarah anak sekolahan dan insepsi produk luar negeri yang kian masif, sedikit banyak berimbas pada pola sikap mereka pada segala sesuatu yang berkonotasi 'asing'. Maksudnya, entah mengapa, seolah menjadi tamplate umum pemikiran bahwa segala manusia yang berasal dari luar negeri itu bule. Semua bule itu dianggap sebagai orang Belanda. Semua orang Belanda itu putih. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan bule itu selalu bagus dan jaminan mutu.

Kekaguman yang berlebihan seperti ini merupakan bibit-bibit yang menumbuhkan jiwa inferior. Seolah segala sesuatu yang berhubungan dengan bule selalu lebih bagus. Bagi saya pribadi sih, tentu, sebagai pengampu pikiran yang merupakan produk dari buku-buku sejarah dan informasi yang berlebihan dari media massa serta para teman pemuja bule, awalnya saya merasa inferior juga saat pertama kali berhadapan dengan bule. Padahal sebenarnya sih biasa saja.

.: Pengunjungnya Bule Semua di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng :.

Tapi, lambat laun perasaan tersebut berkurang seiring dengan berjalannya waktu dan semakin intensnya saya berhadapan dengan bule. Saya jadi tahu bahwa tidak semua bule itu pintar. Tidak semua bule itu ramah. Tidak semua bule itu kaya. Mereka adalah manusia biasa seperti layaknya kita manusia Indonesia. Dan satu hal yang paling penting, tidak semua bule bisa bicara bahasa Inggris. Camkan itu.

.: Bareng Bule Polandia :.
Dulu, awal-awal pertemuan saya dengan bule, hasrat untuk berbicara dengan bahasa Inggris jauh lebih besar daripada keinginan untuk sekadar, misalnya, berfoto bersama. Mungkin karena didorong keinginan untuk menguasai bahasa Inggris lebih baik lagi, setiap kali bertemu dengan bule inginnya praktek percakapan. Ada yang merespon dengan hangat, ada pula yang menolak.

Kelompok yang terakhir, terbagi lagi menjadi kelompok bule yang memang sengak dari sononya, dan satu lagi adalah kelompok bule yang memang tidak bisa atau tidak mau bicara dengan bahasa Inggris karena bahasa nasional negerinya dianggap lebih bagus dan lebih mudah digunakan. Misalnya bule Perancis, bule Jerman, dan bule Rusia. Di antara ketiga jenis bule tersebut, kalaupun mereka berbicara dengan bahasa Inggris, yang paling saya mengerti sampai saat ini adalah ocehan bule Jerman. Kalau ngobrol dengan bule Perancis atau bule Rusia, saya sampai harus mendekatkan telinga sampai harus sering sekali bilang "maaf, kurang jelas", padahal memang tidak mengerti saja logat mereka.

Ada kejadian lucu terkait obrolan dengan bule Jerman. Suatu ketika saya kedatangan tamu seorang presiden direktur sebuah perusahaan multanasional yang baru buka kantor di Indonesia. Sesuai dengan sopan santun, si bule tersebut istilahnya ingin 'permisi' dengan penanggung jawab yang punya otoritas meliputi tempat kegiatan usaha si bule tadi. Saat di kantor, saya baru sadar kalau si bule tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak paham bahasa Jerman. Yang terjadi selanjutnya adalah komunikasi dua arah dengan bahasa Inggris patah-patah ditambah sedikit bahasa isyarat.

.: Lunch Bareng Bule (keminggris) :.
Satu lagi hal penting yang harus dimengerti para bule hunter seperti teman SMP saya dulu, bahwa bule itu paham sekali kalau kalian belum lancar ngomong dan masih dalam proses belajar bahasa Inggris. Jadi biasa saja, tak perlu terlalu keminggris dengan bule.

Setelah beberapa kali jalan bareng bule, saya jadi belajar banyak tentang mereka. Bule memang biasanya bau karena mereka jarang sekali mandi. Itu mungkin pengaruh dari musim di negerinya yang membuat orang tidak mandi tidak terlalu bau.

Yang saya sukai dari mereka adalah sikap cueknya. Saya menyebutnya sebagai sikap demokratis yang benar-benar menghormati keleluasaan hak dan kewajiban orang lain. Efeknya, tingkat kekepoan bule tidak semencolok orang Indonesia. Dari obrolan ringan, kalau topiknya menarik, bisa berlanjut ngobrol terus atau kalau akhirnya berpisah, obrolan tersebut tetap berlanjut melalui media sosial. Tanpa perlu basa-basi dan tetap menghormati privasi masing-masing. Dari situ saya jadi belajar untuk tidak menjadi orang yang selalu kepo dan merasa perlu mengetahui segala urusan pribadi orang lain.

Hal-hal yang akhirnya membuat saya berpikir ulang untuk paham bahwa ada beberapa hal yang menjadi batas bagi orang lain untuk mengetahui segala sesuatu yang sifatnya pribadi. Dulunya saya cuek saja bertanya tentang usia, agama, dan apakah sudah menikah atau belum. Belakangan saya baru tahu kalau menanyakan hal tersebut, untuk beberapa bule dianggap tidak sopan. Satu lagi pelajaran cross culture understanding waktu SMA yang saya kira, tidak semua orang Indonesia akan lulus ketika dihadapkan pada masalah yang sama. Ketika pemahaman ini saya praktekkan kepada beberapa orang Indonesia, pemahaman serupa sangat tergantung pada lingkungan di mana orang tersebut tinggal.

.: Bareng Bule Inggris. Miss you Em & Jo :.
Apalagi kalau dihadapkan pada perbedaan prinsip yang sangat nyata semisal kumpul kebo dan atheis. Waktu saya bilang kalau beberapa teman bule saya ada yang kumpul kebo dan atheis, saya langsung dinasehati panjang lebar oleh orang tua tentang bahaya pergaulan bebas dan etika moral. Duh, rasanya seperti dituduh sebagai masyarakat yang tidak Pancasilais. Panjang ceritanya kalau dijelaskan. Bisa menjadi debat kusir yang berkepanjangan. Alhasil, cukup didiamkan saja maka lambat laun hal tersebut akan terlupakan begitu saja.

Setelah sekian lama bergaul dan kenal bule, banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan, terutama masalah toleransi dan menghormati kebebasan orang lain. Yang sampai saat ini masih belum mendapat jawaban pasti, mengapa foto bareng bule itu dianggap sebagai sesuatu yang menarik dan berharga, padahal rasanya juga biasa saja. Apakah Anda termasuk orang yang suka dan ingin sekali foto dan punya teman bule? Tidak usah malu-malu. Ayo ngaku saja. []

26 komentar:

  1. Kalau menurut saya Die, jaman dulu kan bule itu indentik sama "londo" alias Belanda alias penjajah. Mereka kan punya kuasa atas pribumi. Bisa dibilang mereka itu golongan ningrat sementara pribumi hanya rakyat jelata. Dan sekeras apapun usaha pribumi kan nggak bisa menyaingi "kasta" si londo. Jadinya, pribumi bisa sejajar dengan londo (dalam hal ini foto) adalah suatu kebanggaan yang secara nggak sadar masih terpatri di benak masyarakat kita, karena masih ada anggapan bule itu sesuatu yang "istimewa".

    Sekian dan sorry klo ngawur, hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe bisa jadi. Tapi, kenapa gak bisa move on ya? Maksudnya, bule itu ya manusia biasa gitu lho. Masih gak ngerti aku kalau ada orang yang kekeuh sumekeh pengen foto sama bule cuma karena kebuleannya :'(

      Hapus
  2. Bangsa kita banyak yang ngerasa inferior sama orang asing (bule) itu bener karena efek kolonialisasi yang ratusan tahun deh. Padahal berdasar pengalaman kerja bareng bule di kantor lama, masalah skil dan segala macamnya nggak beda jauh. Kalau masalah foto sama bule, kalau sama bule cewek yang cakep ya doyan aja dulu, siapa tau bisa kenal sekalian :P Tapi seringnya foto kalau emang udah kenal, enggak asal cari terus ajak foto gitu~ hahaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. La ini setuju aku. Gak semua bule skill dan segala macamnya unggul. Bahkan orang Indonesia pun banyak yang lebih bagus. Soal persepsi aja sebenernya yang perlu dibentuk biar gak selalu merasa inferior. Ih, males banget juga kalau orang kita rasanya mengistimewakan bule gitu, apalagi kalau lagi di restoran. Secara, pesennya banyakan kita, duitnya banyak kita pula hahaha :D #travelercongkak

      Hapus
  3. Mungkin karena secara fisikli mereka beda dengan kita, dari mata, kulit, rambut jadi bawaannya bangga gitu foto sama mereka. Xixixii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Isssssh masa sih. Walaupun beda, kok menurutku biasa aja ya hahaha :P

      *bebas kok* ;)

      Hapus
  4. bule tuh emang garagara identik tinggi putih mancung pirang dan matanya warna warni alami tanpa softlens .. udah itu doang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, di matanya bule itu sering ada pelangi gitu maksudnya? Kamu nyebutin ciri-cirinya bule atau mendeskripsikan diriku nih? #eh :P

      Hapus
  5. Kalau aku, masih lebih "heboh" kalau ketemu orang Jepang & Korea. Soalnya suka banget sama dorama dari dua negara ini.
    Walaupun ga ngajak foto, setidaknya aku pasti nyempet2in merhatiin mereka ngomong (padahal banyak ga ngertinya, hihiihihihihi)

    Kalau ketemu bule, sekarang sih sudah biasa aja. Baru ngajakin foto bareng klo dia travelmateku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku punya pengalaman gak asyik sama bule korea. Habisnya mereka jorok síh. Ngabisin air toilet gak ditutup krannya. Lagian gak ngerti juga sih kedua bahasa itu (jepang dan korea).

      Semua yang aku ajak foto itu akhirnya jadi teman akrab sampai sekarang, walaupun intensitasnya cuma cuap-cuap di medsos doang sih. Habisnya, setelah masa cuti mereka selesai, akhirnya pada balik ke negaranya masing. Hehehe :)))

      Hapus
  6. Bergaul dg siapapun baik bule maupun org dari bangsa sendiri, ya ambil yg baiknya saja. Klo menurut saya salah satu khasnya bule adalah terus terang, sedangkan bangsa kita jarang bisa terus terang klo ujungnya bisa bikin sakit hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik bu guru. Terima kasih nasehatnya hehehe :)))

      Hapus
  7. hehehe, dulu aku juga gitu, lama2 jadi biasa. Dulu kagum banget sama bule2 tapi sekarang juga biasa2 aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya. Mbak Donna udah sering gaul sama bule sih ya soalnya :))

      Hapus
  8. Kalau akoh lebih suka foto ama artis bule hahaha *ya iyalah siapa sih yang ngga mau foto ama kim kadarsih*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha subhanallah, bukannya lo senengnya selfie sama artes heits Cumilebay yang semlohay itu ya wkwkwk *dibekep kancut* :P

      Hapus
  9. Bener banget tuh Mas Adie. bule francis dan bule rusia memang ngak ngerti bahasa inggris. bahasa inggrisnya kayak kita juga. sama sama minim vocab dan sama-sama diealek lokal..xixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha suka gak ngerti sih kalau mereka ngomong. Mungkin juga karena aku yang agak dudul aja :'(

      Hapus
  10. hahaha aku emang dasarnya ga terlalu suka difoto sih kakk, jadi agak kecil kemungkinan ngajak bule foto bareng :))

    tapi bener tuh masalah bule ga jago bahasa inggris, apalagi yang suka mampir ke Asean kan lebih sering turis Eropa yaah, yang rata-rata bahasa Inggris bukan bahasa utama mereka, jadi kadang mereka juga bingung sama apa yg gue omongin
    *gue sampe bingung, ini gue yang odong, ada dia yg ga ngarti* hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha pernah juga ngerasa seperti itu. Yang nyebelin itu justru orang Indonesia yang sok keminggris, pakai acara ngritik2 segala kalau ngomong Inggris gak boleh dengan logat Jawa. Ya menurut loooo, kita lahir di menong :'(

      Hapus
  11. bule? aku pengen foto bareng sama bule :D
    minal aidzin wal faidzin mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan-jalanlah sesering mungkin di tempat wisata yang banyak bulenya, lalu minta foto bareng hehehe.

      maaf lahir batin juga :)

      Hapus
  12. Hahah kmaren pas ke Borobudur liat orang Indo lumayan banyak minta foto sama bule.

    VONNYDU

    BalasHapus