Jumat, 17 Juli 2015

Mudik Asyik: Jalan Panjang Menuju Kampung Halaman

.: Antrian Kendaraan Pemudik di Tol Cikopo - Palimanan, Jawa Barat :.

Sebagai seorang perantau, mudik lebaran adalah sebuah ritual yang pantang untuk dilewatkan. Meski saya juga kerap mengambil kesempatan libur akhir pekan atau saat libur 'hari kecepit' untuk mudik, rasa-rasanya hanya pulang saat libur lebaran yang mempunyai euforia dan perjuangan saat melakukannya. Pasalnya, pada saat itulah hampir semua orang juga berbondong-bondong menginfasi kampung halamannya masing-masing untuk bertemu dengan para keluarganya.

Dan entah mengapa, rasa-rasanya tahun ini saya begitu bersemangat untuk segera mudik. Mungkin karena iming-iming bapak yang mengatakan kalau ada banyak 'kejutan' di rumah, saya pun rela begadang semalaman untuk mendapatkan tiket mudik kereta. Saya sengaja tidak belik beli tiket mudik karena tahun ini, saya menerima ajakan dua orang sahabat yang ingin kembali merasakan sensasi mudik naik mobil sebagaimana pernah saya lakukan beberapa tahun silam. Ditambah romantisme kenangan menonton film 3 Hari untuk Selamanya, rasa-rasanya saya begitu tidak sabar menantikan saat itu tiba.

.: Menonton Lalu Lalang Kendaraan di Jalan Tol :.
Tol Cikopo - Palimanan yang Legendaris

Senandung lagu Pulang yang dinyanyikan oleh grup musik Float mengalun merdu di telinga, mengantar keberangkatan saya meninggalkan Jakarta yang sungguh lengang siang itu. Bayangkan, ini adalah hari terakhir masuk kerja sebelum semua orang cuti libur lebaran. Tak ingin kena macet seperti mudik beberapa tahun sebelumnya, saya sengaja curi start dengan berangkat tepat jam 12 siang.

Jalan tol siang itu sungguh bersahabat. Mungkin banyak orang memilih mudik setelah jam kantor usai. Saya sendiri sudah cuti sejak tanggal 15 Juli 2015. Kaca mobil sengaja kita buka. Udara sejuk membelai wajah. Kaki saya angkat di dashboard. Saya sengaja pakai topi rimba. Spidometer bergeser sangat lambat. Kita sepakat untuk melalui jalanan sepanjang jalur mudik ini sesantai-santainya dengan patokan: sebelum sholat Ied sudah sampai di rumah masing-masing.

Tapi karena jalanan mulus dan lancar, Jakarta - Cikampek cukup jalan santai satu setengah jam saja. Setelah itu, dilema melanda antara pilihan akan lewat tol atau jalan konvensional saja. Tapi berhubung jalan tol baru ini hits sekali, rasa-rasanya setiap pemudik yang biasa lewat jalur pantura setidaknya merasakan lewat jalan tol ini sekali dalam seumur hidupnya. Saya pun memilih lewat jalan tol.

Sebagaimana sudah diberitakan, jalan tol ini benar-benar baru. Aspalnya masih mulus. Kanan kirinya masih hutan atau sawah. Konon kalau malam masih suka ada babi hutan yang melintas. Area peristirahatan ada empat. Tapi, semuanya masih kelihatan seperti barak darurat. Bangunan permanen pendukungnya masih sedikit. Untuk mengakomodasi kebutuhan pemudik, didirikanlah tenda-tenda darurat. Yang menarik, selain kendaraan para pemudik, tol ini juga menjadi tontonan penduduk yang tinggal di dekat jalan tol. Selain bentuk awan yang berubah-ubah, semua kelihatan lancar dan monoton. Sampai 30 km menjelang pintu keluar, macet kendaraan mengular bagai tanpa harapan.

.: Mampir Sejenak di Nasi Jamblang Mang Dul, Cirebon :.
Jalan Jajan di Cirebon

Empat jam parkir di tol itu sungguh keterlaluan. Magrib sudah lewat. Tanda-tanda keberadaan warung makan masih jauh. Untung ada waze. Mengikuti panduan waze, saya masuk gang, jalan tikus, sawah, kompleks perumahan, hanya untuk bisa keluar dari tol menuju jalur konvensional pantura. Pikiran kita bertiga kebetulan sama: wajib mampir Cirebon dan makan nasi Jamblang Mang Dul dulu sebelum melanjutkan perjalanan.  

Ternyata aplikasi yang saya install beberapa bulan silam itu sangat membantu. Panduannya rinci sampai ukuran km dan berapa lama waktu tempuhnya. Setidaknya, begitu memasuki kota Cirebon, kita berpendapat bahwa jalur yang ditempuh ini sudah benar.

Cirebon di malam hari menarik juga. Jalanan tetap ramai walau sholat tarawih sudah dimulai. Tujuan pertama kami adalah nasi Jamblang Mang Dul yang lokasinya tepat di tengah kota. Parkiran lumayan ramai. Tapi antrian di dalam warung masih terbilang wajar. Saya yang kelaparan malam itu langsung pesan nasi dua porsi berikut aneka lauk-pauk yang bisa dipilih sambil tunjuk.

.: Aneka Lauk Nasi Jamblang :.

Namanya juga lapar, apa saja langsung disikat. Tak peduli soal rasa, semua yang halal langsung masuk saja dalam kunyahan. Malam itu saya nambah satu porsi lagi. Alasan pembenarannya, nanti kalau sudah di jalan bakalan susah cari makan. Biar tidak repot makan sahurnya. Maklum, kami berangkat mudik pas H-2 lebaran. Jadi masih tersisa satu hari lagi puasa saat di jalan.
Tepat jam sembilan malam, saya keluar dari Cirebon dengan rasa kenyang dan kantuk tak tertahankan.

.: Keluar Masuk Gerbang Kota Sepanjang Pantura :.
Suka Duka di Pantura

Malam semakin larut. Badan semakin lelah. Jalan semakin ramai. Motor semakin merajalela di jalanan. Untung truk ekspedisi sudah dilarang melintas jalur mudik. Bayangkan, mata sudah lima watt semua, tapi konsentrasi dituntut untuk selalu prima. Yang membuat kami bertiga selalu semangat adalah melihat dan melintasi gapura selamat datang dan selamat jalan yang ada di gerbang suatu kota. Semua tampak berjalan lancar sampai tiba di daerah Brebes.

Tulisan "Selamat Datang di Kabupaten Brebes" tak ubahnya seperti sebuah ungkapan selamat datang pada kemacetan. Entah mengapa daerah ini macetnya keterlaluan. Sepanjang saya mudik lewat jalur Pantura selama ini, melintasi Brebes saat mudik 2015 adalah yang paling memaksa untuk belajar kesabaran. Mobil benar-benar parkir di jalanan. Aplikasi di waze tak lagi membantu. Semua jalur merah membara artinya memang macet semacet-macetnya.

Mungkin orang sama-sama berpikir untuk kembali ke jalur konvensional Pantura setelah mengetahui tol Palimanan macet juga. Secara teori-teorian, saya jadi teringat teori biogenesis-nya Aristoteles yang penelitiannya menggunakan media botol dengan leher angsa. Nah, kota Brebes ini ibarat leher angsa tadi. Arus kendaraan dari segala penjuru baik dari arah tol, jalur konvensional Pantura, dan jalan tikus sekitar Brebes, bertemu di satu jalan yang membelah kota Brebes. Itulah mungkin alasan yang paling logis, mengapa setiap tahun, kota kecil ini macetnya amit-amit. Dem. Bayangkan, dua jam untuk bergerak 2 km itu sungguh rekor. Saya berada di jalanan Brebes selama 12 jam. Dari yang semula tertarik melihat deretan toko yang menjual telur asin, foto-foto, sampai eneg sendiri dan ketiduran. Ternyata, selain Jakarta, kabupaten Brebes memang memaksa pelintasnya harus tua di jalan saat lebaran.  

Begitu melihat tulisan "Selamat Jalan", hati dan semangat rasanya terbit kembali layaknya mendengar adzan magrib. Padahal subuh baru berlalu tiga jam yang lalu. Perjalanan masih panjang. Gapura-gapura selamat datang dan selamat jalan yang melintang masih banyak yang harus dilintasi. Semangat harus tetap disemai hingga tiba di kampung halaman.

Leyeh-Leyeh di Alas Roban 

Terkungkung di jalanan Brebes selama 12 membuat saya merasa santai melintasi Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Batang. Antrian kendaraan mungkin sudah sedikit terurai. Saya bisa menikmati semilir angin, melihat pantai di sisi kiri, perumahan dan warung di sisi kanan, melewati International Batik Centre Pekalongan, dan deretan stasiun serta bangunan tua di masing-masing kota. Terbayang betapa sentralnya peran kota-kota pesisir ini dari zaman penjajahan hingga sekarang. Sampai akhirnya, rasa lelah itu melanda. Saya dan kedua sahabat memilih untuk rehat sejenak di Alas Roban, Kabupaten Batang.

.: Leyeh-Leyeh Dulu Alas Roban :.

Perjalanan selanjutnya jalanan sungguh lengang. Tak perlu buru-buru apalagi jalan kebut-kebutan. Lama tidak melintas, saya sungguh kagum dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi pada banyak daerah yang saya lewati. Tol lingkar luar Semarang pun sekarang sudah beroperasi. Saya juga tidak perlu lewat Solo lagi karena jalan alternatif dari Boyolali hingga Sragen aspalnya sudah mulus. Jika saja hari masih terang, saya akan menahbiskan jalur ini sebagai jalur paling menyenangkan sepanjang jalanan mudik kali ini. Sawah, gunung, hutan, rumah penduduk yang jarang, dan sungai seolah memahat kawasan ini menjadi daerah yang asri nan hijau. Berbahagialah orang-orang yang lahir dan mendapat berkah penghidupan di kawasan ini.

.: Semangat Mudik Demi Berkumpul dengan Sanak Keluarga :.
Home Sweet Home

Segala serapah dan pikiran negatif sepanjang perjalanan mudik kali ini tiba-tiba hapus begitu saja saat saya melihat sebuah keluarga kecil yang mudik dengan sepeda motor dari balik jendela mobil. Entah mereka berasal dari daerah mana, yang jelas, demi memerhatikan semangat dan kebersahajaannya menempuh jarak jauh hanya untuk mudik menuju kampung halamannya. Pemandangan ini sukses membuat saya menerbitkan setitik haru di ujung mata seolah menjadi pengingat untuk selalu bersyukur dan terus bersyukur.

Perjalanan selanjutnya jadi terasa lebih ringan dan mudah dilalui. Saya masih menyempatkan diri makan nasi pecel di Madiun, berkendara malam-malam menembus hutan Saradan, minta dijemput oleh bapak di terminal, dan berpisah sejenak dengan kedua sahabat saya. Tiga puluh enam tepat terhitung sejak saya berangkat dari Jakarta hingga masuk rumah di Nganjuk. Tak ada yang lebih membuat damai di hati selain bisa selamat di perjalanan hingga bisa sampai rumah untuk menyaksikan kejutan berupa sambutan tempat tidur baru, sebuah lemari buku, dan senyum hangat ibu. []

16 komentar:

  1. Cerita mudikmu menarik Die. XD

    Emang bener itu keputusan untuk keluar dari tol Cipali dan balik ke jalur konvensional Pantura. Temenku yang mudik dari Jakarta ke Batang aja berangkat subuh baru sampai di rumah jam 3 pagi.

    Perkara Brebes sih ya agak repot. Sebelum dibikin semacam ringroad lebar yang membuat pelancong nggak mesti masuk kota kayaknya ya bakal macet terus sepanjang musim mudik.

    BTW, itu kolase foto2 gapuranya menarik. Kok kebetulan pas kamu nggak kebagian jatah nyetir Die? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beuuh, Brebes emang bener-bener bikin mbrebes mili macetnya. Ampun deh pokoknya. Itu gapura sengaja aku potret pake kamera hape aja, gak semua juga sih yang dipotret, seingetnya aja atau pas aku lagi gak tidur hehehe. Nyetir? Juragan kok nyetir hahaha :D *tutup muka*

      Hapus
  2. Waduh, mudik jalur darat, nyetir sendiri beneran pernuh perjuangan gitu :O makanya, tiket kereta langsung ludes~ perjuangan mudik pake mobil beneran ribet kek gitu :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dinikmati saja bro hehehe. Namanya juga sudah diniatkan dari awal. Tiap kali mudik pasti ada cerita yang berbeda :)

      Hapus
  3. NASI JAMBLANGGGG!
    GAK SANTE INIIIII
    mauuuuuuu
    hahahahhahahahhahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha maaf ya mas ganggu konsentrasinya belajar. Bukan maksud kok wkwkwk. ;)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Nasi Jamblangnya aja nih yang menggoda? Kalau aku menggoda banget gak? :')))

      #abaikan :P

      Hapus
  5. Sega jamblang nya ....bikin ngilerrrr..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha semua pada ngiler sama Nasi Jamblang. Monggo langsung ke Cirebon aja biar puas hahaha :)

      Hapus
  6. Balasan
    1. Gondang mas. Nganjuk ke utara, arah Bojonegoro ;)

      Hapus