Kamis, 09 April 2015

Balada Bantimurung

.: Welcome to The Kingdom of Butterfly, Bantimurung National Park :.

Tersembunyi di sela-sela karst Maros yang menghijau, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tidak serta merta sulit ditembus. Letaknya tak begitu jauh dari bandara internasional Hasanuddin, Makassar. Dengan berkendara mobil selama kurang lebih 60 menit, pengunjung akan disambut oleh patung kupu-kupu dan seekor monyet. Keduanya berukuran superlatif.

Kehadiran kupu-kupu raksasa di pintu gerbang seolah menegaskan bahwa area ini merupakan kerajaan kupu-kupu. Konon, dahulu jenisnya sampai ratusan spesies. Alfred Russel Wallace, sang naturalis Inggris pernah menghabiskan waktunya di tempat ini pada kurun waktu 1856 hingga 1857. Namun, dari 107 spesies yang didata pada tahun 1990-an, saat ini tempat ini hanya disemayami sekitar 89 spesies saja. Jumlahnya terus menyusut seiring dengan semakin ramainya wilayah yang menjadi habitatnya.  

.: Kupu-Kupu yang Sudah Diawetkan dengan Air Keras :.
Dari jauh kelihatan rimbun bukit menghijau. Pohon-pohon tinggi menjulang. Suasana tampak teduh. Di sepanjang jalan menuju loket masuk, tampak kios-kios berjejer dengan rapi. Selain menjual makanan dan oleh-oleh, hal yang cukup mencengangkan di sini adalah keberadaan suvenir-suvenir cantik berpigura kaca. Isinya berupa kupu-kupu yang telah diawetkan.

Aturan awalnya sebenarnya sangat tegas. Kupu-kupu yang boleh diawetkan hanyalah spesimen yang telah mati. Namun, demi melihat beragam kupu-kupu membatu dan menjelma menjadi gantungan kunci, hiasan dinding, dan beragam pernik yang menggoda, saya sedikit sangsi bahwa semua kupu-kupu yang dijual sebagai suvenir ini merupakan mayat kupu-kupu yang 'legal'.  Memang, hanya empat spesies kupu-kupu di taman nasional ini yang dilindungi oleh undang-undang, yaitu Troides helena, Troides haliphron, Troides hypolitus, dan Chetosia myrina. Tapi, bukankah mengawetkan makhluk hidup yang bernyawa dengan mengakhiri kesempatan hidupnya tampak sebagai suatu tindakan yang tidak wajar? Saya berasumsi, takdir kupu-kupu di tempat ini sepertinya hanya ditentukan oleh para predator pemangsanya dan 'kreativitas' manusia.

Papilio blumei, kupu-kupu berwarna kombinasi hitam dan biru yang dijadikan ikon di pintu gerbang tampak mencolok terkungkung dalam beberapa pigura kaca. Saya tak mendapati jenis kupu-kupu ini saat menyambangi wahana penangkarannya. Mungkin saya sedang kurang beruntung siang itu.

.: Museum Kupu-Kupu (eks Tempat Penangkaran) :.
Dituntun oleh rasa penasaran, saya menuju museum kupu-kupu. Museum ini berupa rumah biasa. Bangunannya mirip ruang serba guna sekolah. Jendelanya terbuat dari kaca. Sayang sekali, mungkin karena jarang dikunjungi, museum ini ditutup meski waktunya liburan panjang akhir pekan. Dari celah salah satu jendela kaca, saya mencoba mengintip dalamnya. Isinya berupa lemari kaca, meja pajang, dan laci-laci berkaca yang di dalamnya terisi spesimen kupu-kupu dalam berbagai ukuran. Sepertinya menarik sekali jika punya kesempatan masuk ke dalamnya.

Karena museum tutup, saya istirahat sejenak di samping bangunan museum. Menurut informasi dari salah satu petugas taman nasional, di samping bangunan ini dulunya merupakan tempat penangkaran kupu-kupu. Ada banyak sekali pepohonan dan tanaman bunga. Dibentengi juga oleh dinding-dinding bukit karst, tempat ini sebelumnya dinaungi jaring raksasa untuk mencegah kupu-kupu yang ditangkar terbang terlalu jauh. Tapi, entah bagaimana kejadiannya, jaring-jaring tersebut banyak yang robek sehingga kupu-kupu yang dulunya mendiami tempat penangkaran ini jadi terbang bebas ke segala arah.

Selain sebagai wahana penangkaran kupu-kupu, Bantimurung juga menyimpan air terjun beraliran deras. Air terjun Bantimurung seolah menjadi episentrum bagi pengunjung yang menyambangi kawasan ini. Airnya jernih. Udaranya sejuk karena dibentengi dengan pepohonan rimbun. Lagunanya tidak dalam sehingga sanggup memancing siapa saja untuk sejenak merasakan kesegarannya.

.: Menikmati Kesegaran Air Terjun Bantimurung :.

Pantang melewatkan kesempatan mandi di air terjun, saya segera bergabung dengan sekelompok pengunjung yang sudah datang lebih dulu. Dihalau dengan bebatuan raksasa, aliran airnya yang merambat terasa deras mengucur ke bawah karena kemiringannya yang cukup curam. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para remaja dan anak-anak untuk bermain perosotan dengan ban dalam mobil. Menyaksikan kecerian sederhana ini, saya pikir air terjun Bantimurung tak ubahnya seperti air terjun Sedudo di Nganjuk, tempat berlibur murah meriah bagi warga kota di sekitarnya.

Setelah merasa segar kembali setelah kegerahan udara Makassar sepagian, saya beranjak menuju hulu sungai aliran air terjun Bantimurung. Melalui jalan setapak, di bagian hulu terdapat hutan rimbun, gua-gua tua yang dihuni kelelawar, makam kuno yang dikeramatkan, dan sebuah telaga. Disebutnya telaga tapi airnya mengalir. Kelihatannya seperti sebuah kedung dalam istilah bahasa Jawa, tapi airnya bening bergradasi hijau toska dan putih jernih. Penduduk setempat menyebutnya Telaga Kassi Kebo.

.: Trekking di Kawasan Karst Taman Nasional Bantimurung :.
Telaga ini berair tenang, tapi dilarang keras merenanginya.

"Jangan mandi di situ. Kelihatannya saja airnya tenang, tapi arus bawahnya kencang sekali." Begitu kata petugas jagawana yang melintas, memberi pesan peringatan.

Menurut informasi, tahun 2009 silam, pernah kejadian ada 2 orang meninggal karena terjebak arus yang berputar tadi. Suatu bentuk petaka yang tersembunyi dari keunikan dan keindahan semesta.

Banyak orang menghubung-hubungkannya dengan dunia astral kasat mata. Tapi saya pikir, alam punya caranya sendiri untuk menyesuaikan harmoni dalam dirinya. Seperti hanya taman nasional ini. Dulu, mungkin sebutan sebagai kerajaan kupu-kupu sangat tepat disematkan pada kawasan ini. Namun saat ini, kerajaan tersebut sepertinya sedang terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang berusaha mencari identitasnya kembali. Kupu-kupu datang dan pergi mengikuti siklus 'reinkarnasi' dalam dirinya sembari dibayang-bayangi kuasa takdir untuk menjadi bangkai atau membatu dalam sebuah bingkai. []

13 komentar:

  1. kalau on the spot, masih banyak gak ditemui kupu-kupu yang bagus2? Sayang ya kalau lama kelamaan kupu-kupu yang bagus-bagus itu punah. Lalu cuma bisa dilihat di museum. Hiks....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin aku lagi kurang beruntung atau memang lagi bukan 'musimnya' karena lagi musim penghujan. Cuma lihat kupu-kupu gajah sama beberapa kupu-kupu kecil berwarna kuning semua dan hitam semua. Katanya, kupu-kupu spesies endemik yang dilindungi itu yang cantik-cantik. Bener banget, sayang kalau suatu saat cuma bisa dilihat di museum saja :)

      Hapus
  2. Aku belum pernah kesini, tapi kasihan liat kupu - kupunya di awetkan pake air keras gini :| Padahal kan bisa lebih cakep lagi kalau diliatnya pas masih hidup dan bergerak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah gak enaknya. Kadang-kadang manusia itu pengen punya ini-itu, termasuk 'mengoleksi' makhluk hidup. Apa-apa dijadikan suvenir, padahal itu bagian dari hewan yang dilindungi.

      Ayo, segera dijadwalkan ke sini. Jangan nunggu sampai dibayari kak :D *laludigampar*

      Hapus
  3. Kamu harus nya berkancut kalo mandi di air terjun, bukan malah pake kolor gitu. Jadi kurang seksih kan ???????????????????????????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... mas toro emang #racunkancut

      Hapus
    2. Hahahaha aku gak cukup pede kalau pakai kancut doang di tempat umum. Meski begitu, tubuhku udah seksi dan hot kok dari sononya hahaha :P

      Hapus
  4. Wih seru main di air terjunnya..


    Mampir-mampirlah ke blog ala-ala gue di www.travellingaddict.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget kalau mandi di air terjun :)

      Hapus
  5. Duh aku ke Bantimurung gak nemu seekor pun kupu kupu terbang, adanya yg diawetkan T__T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh kan bener. Mungkin lagi gak musimnya. Sebenarnya masih ada tapi jenis dan jumlahnya semakin menyusut. Banyak yang dikeringkan dan dijadikan suvenir :'(

      Hapus
  6. itu gerbang Kupu-Kupunya sekarang sayap kiri bawahnya rusak, mas :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, masa? Wah, aku beruntung dong pas ke sana pas semuanya masih utuh. Ketemu kupu-kupu aslinya juga yang masih beterbangan, cuma tinggal dikit banget sih :'(

      Hapus