Kamis, 16 April 2015

Asa Asia Afrika

.: Gedung Merdeka, Bandung :.

Bandung kembali bersolek. Ruas-ruas jalan dibersihkan. Baliho selamat datang dibentangkan. Wajah kota dipoles sedemikian rupa sehingga nampak lebih menawan. 60 tahun berlalu sejak bangsa Indonesia menjadi tuan rumah hajatan dunia yang tak akan pernah terulang. Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung tanggal 18 - 24 April 1955, akan diperingati dan diikuti jejaknya minggu ini dalam upaya merumuskan kembali peta baru dalam menghadapi tantangan dunia yang terus berubah. 

Berupaya menumbuhkan semangat yang sama, segala sesuatu terkait dengan peristiwa bersejarah tersebut berusaha direkronstruksikan ulang. Historical walk, di mana sebanyak 22 pemimpin dunia akan melakukan kegiatan jalan kaki dari hotel Savoy Homann ke Gedung Merdeka sebagai tempat berlangsungnya acara puncak peringatan Konferensi Asia Afrika.

.: Museum Konferensi Asia Afrika :.
Dari banyak gedung bersejarah di Bandung, sepertinya hanya Gedung Merdeka yang punya banyak cerita terkait sepak terjang keberadaan negeri ini. Dibangun tahun 1895 berkat rancangan Prof. C. P. Wolf Schoemaker dan Van Galen, properti sepuh yang dulu bernama Societet Concordia ini awalnya merupakan gedung pertemuan yang dikhususkan untuk orang-orang Belanda. Di aulanya yang luas sering dilangsungkan acara pertunjukan kesenian dan pesta dansa-dansi. Posisinya tak berbeda jauh dengan gedung Societeit Harmonie yang sudah disulap menjadi tempat parkir gedung Sekretariat Negara di Jakarta.

Setelah ditinggalkan Belanda, fungsinya berubah-ubah sesuai dengan pemerintahan yang mendudukinya. Saat Jepang berkuasa, tempat ini dijadikan pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan untuk melakukan propaganda. Setelah Jepang menyingkir, gedung ini menjelma menjadi tempat pertemuan negara Pasundan sejak tahun 1947. Tahun 1955 digunakan sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika. Yang tidak banyak orang Indonesia sendiri tahu, gedung Merdeka pernah digunakan sebagai Gedung Badan Perancang Nasional dan Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) sebelum gedung MPR di Senayan dibangun. Yang agak membuat dahi berkernyit, sejak tahun 1969 gedung ini pernah terbengkalai dan hanya digunakan sebagai tempat pertunjukan kesenian dan resepsi pernikahan sehingga sempat dijuluki gedung  China Kawin.

Tapi, jika kita lihat dari informasi yang ada di Museum Konferensi Asia Afrika, berpusat dari gedung inilah babak baru beberapa hal yang mengubah dunia berawal. Setelah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955, banyak sekali negara-negara baru bermunculan dari wilayah yang dulunya merupakan negara jajahan. Semangat anti kolonialisme mulai menguat di banyak tempat. Negara-negara yang termasuk dalam kelompok dunia ketiga mulai unjuk gigi dalam peta percaturan politik dunia di bawah bayang-bayang ancaman Perang Dingin. Pertemuan tersebut juga menjadi pendorong terjadinya Gerakan Non-Blok.

.: Gedung Merdeka di Jalan Asia-Afrika, Bandung :.
  
Bagi Indonesia, segala sesuatu yang terjadi di gedung ini juga merupakan titik balik dalam upaya membangun negara agar sejajar dengan negara-negara maju di dunia. Setidaknya, euforia peringatan Konferensi Asia Afrika ke-50 tahun 2005 mendorong dibangunnya jalan tol Jakarta-Bandung. Efeknya yang paling nyata, jarak tempuh kedua kota tersebut dapat disunat hingga hanya menjadi sekitar 2 jam-an saja lewat jalan darat.

Dan pada tahun ini, bertepatan dengan peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika, banyak agenda sedang dirumuskan. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah gagasan Indonesia untuk mendorong adanya pengakuan kemerdekaan negara Palestina. Selain itu, pernak-pernik yang baru saya tahu tahun ini karena selalu absen dari catatan buku-buku sejarah di sekolah, selain kelima tokoh perdana menteri pemrakarsa konferensi, ada satu tokoh yang berusaha diingatkan kembali di benak anak muda lintas zaman ini.

.: Taman Baca Museum Asia Afrika :.
Tokoh tersebut adalah Zhou Enlai. Pada peringatan tahun ini, akan dipajang foto-foto yang merupakan kopi foto asli kegiatan konferensi Asia Afrika yang dihadiri oleh Zhou Enlai dan istrinya. Deng Yingchao. Foto-foto tersebut sebelumnya disimpan di Memorial Hall Zhou Enlai and Deng Yingchao di Tianjin, Tiongkok. Karena keterbatasan waktu, tak banyak yang saya lihat selama persiapan konferensi ini berlangsung.

Namun begitu, saya menyempatkan diri mencari informasi di perpustakan museum dan mendapati banyak sekali informasi yang mungkin agak luput disampaikan oleh para guru sejarah di bangku sekolah. Saya hanya berharap, segala sesuatu yang dirumuskan dalam peringatan konferensi tahun ini tidak hanya berhenti sebagai asa semata. Seperti halnya nama yang disematkan oleh Presiden Soekarno pada gedung ini dan semangat yang tertuang pada alinea pertama pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Palestina akan menjadi negara baru yang diakui kemerdekaannya serta negara-negara di Asia Afrika semakin diperhitungkan dalam kancah dunia. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar