Minggu, 23 Juni 2019

Cinta Mati dengan KFC

.: Kedai KFC di Mal Yayasan, Bandar Sri Begawan :.

Warning!: Tulisan ini tidak disponsori oleh KFC. 😞

Sejauh ini, saya belum pernah sampai ribet harus menyiapkan menu dari rumah saat akan jalan-jalan. Sebisa mungkin, saya selalu menyempatkan diri untuk mencicipi menu lokal. Namun, saya tetap membawa kopi sachet, minuman sereal, dan biskuit untuk jaga-jaga jika daerah yang akan dikunjungi, saya perkirakan agak susah untuk mendapatkan makanan halal.

Saya masih ingat saat jalan-jalan ke Tana Toraja. Berhubung tidak tahu tempat dan tidak pakai jasa tur guide, saya hanya makan seadanya saja bekal dari Makassar. Perut rasanya lapar sekali. Tapi saya tahan karena tidak mau mencicip menu berbahan babi. Begitu kembali lagi ke Makassar keesokan harinya, tempat pertama yang saya tuju adalah kedai KFC di dekat lapangan Karebosi. Saya pesan menu komplet dan superbesar karena kelaparan yang luar biasa.

Kalau di Indonesia, menu KFC favorit saya adalah Paket Super Besar berisi nasi, dua potong ayam, dan soft drink. Selain itu, saya juga suka dengan menu yakiniku, kentang goreng, dan mocca float. Berhubung selalu lapar, saya masih nambah saos dan sambal sebagai pelengkap. Sedapnya. 😋

.: Menu Favorit :.

Entah mengapa, hanya dua menu itu saja yang hampir selalu saya pesan. Bukan menu yang lain. Saya sesekali saja memesan oriental bento. Itupun bisa dihitung dengan jari. Saya memesannya kalau perut sudah kenyang atau tidak terlalu lapar, tetapi mulut ingin mengunyah nasi. Begitu juga dengan paket winger. Pesan hanya sesekali saja. Terus terang, saya belum pernah sama sekali mencicipi cream soup dan perkedel made in KFC. Apalagi burger dan twister. Entah mengapa, menurut saya, produk serupa dari brand lain lebih spesial rasanya dan cocok untuk lidah saya.

Tak hanya di Indonesia, KFC sudah menjadi semacam penyelamat hidup saya saat jalan-jalan di luar negeri. Untuk Asia Tenggara, hanya separuhnya jumlah negara saja mungkin yang menu KFC-nya tidak dapat saya cicipi. November tahun lalu saya tidak jadi ke Myanmar karena ada tugas mendadak dari kantor. Jadi, mencoba KFC di Myanmar terpaksa harus ditunda. Laos, Vientnam, Thailand, dan Filipina, semua sepakat kalau produk KFC negaranya tidak halal. Saya pun memilih menu lain sebagai gantinya. Dari keempat negara tersebut, hanya di Thailand saya paling mudah mendapatkan menu lezat dan halal pengganti KFC.

.: Sarapan dulu gaes. Biar strong 💪💪💪 :.

Rumor yang beredar di antara para pejalan pun terkadang lucu-lucu terkait ketidakhalalan menu KFC di negara-negara tersebut. Entah benar atau tidak, jika menjadi rumor yang penuh simpang siur, saya lebih baik memilih menghindarinya. Ayam di Vietnam katanya hanya dicekik, bukan disembelih. Waduh, mendengarnya saja saya sudah tidak nafsu makan. Saya pernah googling dulu saat akan ke Bangkok. Niat hati sudah tenang ada KFC yang buka gerai di dekat hotel. Begitu saya mau pesan, pramusajinya langsung bilang, "No no no, no halal, no halal." Begitu katanya, sambil dilanjutkan ngoceh dengan bahasa Thai yang tidak saya mengerti.

Berhubung mencari makanan rumahan di Singapura relatif mudah, saya juga tidak begitu sering makan di KFC Singapura. Apalagi harganya lumayan mahal jika dibandingan dengan menu makanan warung biasa. Yang paling bikin kaget justru saat saya jalan-jalan ke Kamboja. Negeri Khmer yang mayoritas warganya beragama budha ini justru menyediakan menu KFC dengan logo halal di pintu masuknya. Saya yang sudah khawatir tentang menu makanan selama di Kamboja langsung merasa betah saja saat tahu KFCnya punya label halal. Konon, label halal itu melekat karena menggunakan licensi dari Malaysia.

.: Tanda Halal di Kedai KFC Phnom Penh, Kamboja :.

Saking laparnya habis jalan-jalan keliling kompleks Angkor Wat seharian, saya sampai memborong tiga paket nasi semacam yakiniku. Lebih senang lagi, di sini menunya disajikan dengan piring keramik, bukan kertas karton. Sendok garpunya juga menggunakan sendok garpu dari stainless steel. Nasinya wangi seperti nasi lemak. Ayamnya gurih sekali dengan potongan-potongan bentuk dadu yang renyah. Dan yang unik, baru di Kamboja saya makan KFC ada acarnya. Hahaha. Selera saya tidak ada masalah ternyata dengan lidah lokal. Sebagai pejalan yang mengedepankan konsep 'hijau', saya pikir penyajian KFC di Kamboja lah yang paling ramah lingkungan di Asia Tenggara. Mungkin saya hanya tidak suka saja dengan penggunaan sedotan. Selebihnya, semua enak sekali.

Malam berikutnya, saya pesan  menu serupa untuk dibawa ke penginapan. Nasi ayamnya saya habiskan sendiri karena, entah mengapa, saya selalu kelaparan. Untuk soft drinknya saya bagi dengan resepsionis penginapan karena terlalu banyak. 

.: Menu KFC di Kamboja. Ada Acarnya 😁 :.

Untuk menu sarapan, menurut saya menu KFC di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam yang paling uenak. Berhubung keluar hotel sejak pagi dan tidak sempat sarapan, saya melipir ke mal berupa ruko bernama Yayasan. Iya, nama malnya memang begitu. Bentuknya kompleks ruko. Mungkin karena hari Jumat, jadinya baru ramai setelah salat Jumat.

Menunya berupa nasi lemak, ayam goreng renyah, kentang goreng, dan sambal. Sambalnya inilah juaranya. Saya sampai membersihkan sambalnya hingga olesan terakhir karena saking uenaknya. Pramusajinya sampai bengong sekaligus tersanjung saat saya bilang sambalnya enak.

"Itu sambalnya dikasih ikan bilih," promosinya.

Sebenarnya, saya ingin membeli lagi paket ini untuk dibawa ke hotel. Tapi sayangnya, menu yang saya makan tadi merupakan porsi terakhir yang tersisa. Menu tersebut baru ada lagi besok pagi, yang mana saya sudah harus ke bandara. Ah selalu menyebalkan. 😓

.: Menu KFC di Kuala Lumpur :.

Tapi, rasa sebal tersebut tak lama berganti setelah saya mampir ke Kuala Lumpur sebelum kembali ke Jakarta. Sebagai negara lain di Asia Tenggara yang paling sering saya sambangi, saya cukup mahfum dengan menu makanan Malaysia yang tidak sepenuhnya cocok dengan lidah. Mie goreng tak ada rasa. Nasi goreng gerobak keliling di kompleks rumah saya juga lebih nendang daripada nasi goreng sebuah kedai di Kuala Lumpur. Sayur kebanyakan rasanya aneh. Paling pol gulai ikan dan kari yang santannya bikin eneg.

Kalau sudah begitu, KFC adalah pelarian terbaik. Mengingat informasi bahwa KFC di Kamboja dan Brunei menggunakan licensi dari Malaysia, saya berekspektasi bahwa menu di sini harusnya lebih uenak. Namun ternyata, selera itu tergantung lidah lokal. Menunya sih menurut saya enak, tapi hanya twister yang jadi favorit saya. Potongan daging ayamnya tebal dan kriuk. Untuk menu sarapan dan paket super besar, semuanya hampir sama dengan yang dijual di Jakarta. Kedai KFC favorit saya kalau ke Kuala Lumpur ada di dekat Masjid Jamek. Saya biasanya memilih duduk di lantai dua. Kalau cuma ingin makan, saya memilih tempat duduk di meja sudut yang menghadap ke luar. Pemandangannya lumayan OK yaitu berupa lalu lalang jalan raya dan LRT. Kalau lagi nongkrong daripada bete di hotel, saya memilih duduk di meja tengah. Sambil makan, sambil memerhatikan orang ngobrol dan bergosip. #eh 😜

.: Makan malam sembari nguping 😋 :.

Pemandangan yang lebih OK saya nikmati di sebuah kedai KFC di Istanbul. Kedainya menghadap Selat Bosporus dan bisa melihat stasiun kereta api Sirkici yang jadi latar film The Murder on The Orient Express. Kedai lainnya ada di bandara internasional Muscat, Oman. Pemandangannya berupa lalu lalang pesawat berbadan jumbo. Keren banget. Yang bikin sedih cuma satu: kursnya real Oman sungguh membuat rupiah suram sekali.

Tapi berita bahagianya, saya beruntung menjadi seorang yang terpilih dari kegiatan survey daring di internet tentang jalan-jalan. Sebagai rewardnya, saya dikirimi voucher KFC senilai 500 ribu rupiah yang bisa dipakai kapan saja. Semesta sepertinya mengerti kalau saya suka makan KFC. Waaah, senangnya. Memang kalau udah rezeki tidak akan ke mana kan? Makin cinta mati deh ini makan KFC. Berangkaaat. 😋  []

16 komentar:

  1. Tos dulu bang. Ku juga suka kfc.. Nggak tahu kenapa bikin nagih aja. Btw mau dong voucher kfcnya.. Wkwkweh itu baru pernah liat kfc nyediain acar.. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha KFC dengan acar sepertinya cuma eksis di Kamboja. Semacam kearifan lokal :)

      Hapus
  2. Kalau main ke mana-mana dan disitu ada KFC, mending ke sana. Terkait harga, biasanya tidak terlalu jauh, dan lebih aman bagi pendatang ahahahha

    BalasHapus
  3. Kalau saya malah doyan sekali sama paket Winger, soalnya murah sih. Tapi memang KFC ini jagonya ayam, paling mantep dan worthed harganya, hehehe. *Bukan promosi

    -Fajarwalker.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah lama gak beli winger. Tetap favorit itu yakiniku nasi atau paket super besar. :P


      *krauk*

      Hapus
  4. ini sepertinya tulisan versi kfc dari tulisan mbak T soal mcD ya mas hihihi. dulu aku suka bgt sm kfc, terutama ayam ori/krispi sm saus tomatnya

    djangki.wordpress.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, ada ya tulisan tentang McD? Kok aku lupa. Ini sebenarnya lebih ke tulisan yang kepikiran pas lihat folder foto kok isinya KFC dari beberapa negara, plus dapat kiriman voucher dari orang baik hati di luar sana hehehe. ;)

      Kalau ada yang mau kirim sesuatu, boleh banget lho netizen. Kontak via email saja ke adieriyanto@yahoo.com.

      Terima kasih :)

      Hapus
  5. Saya juga sering memilih KFC kalau sedang ke luar negeri, meski tetap mencari resto2 halal yang bisa dijajal hehehehe. Nice share

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilihan terakhir yang paling 'aman' sepertinya. Hahaha. Dan biasanya sih, rasanya memang ada standar, maksudnya, satu sama lain sepertinya tidak banyak beda. Tapi ada yang bilang, KFC di Rusia rasanya hambar. Jadi pengen nyoba :)

      Hapus
  6. sama! aku lebih suka ayam kfc untuk rasa bumbunya daripada fastfood yang lain

    BalasHapus
  7. tossslaaah akupun slalu coba kfc di negara2 yg aku datangin :p. Yg vietnam aku suka krn ayamnya enak, daaan disajiknan pake piring bagus plus pisau garpu beneran, bukan plastik! manila unik, krn pake saus jamur. tp ayamnya biasa aja.

    yg paling aku benci rasa kfc di beijing. aduuuh itu ayam kyk bukan ayam. kyk karet ato apalaaah. ga enaak bgt pokoknya. -_-. jd khusus kfc china, aku g akan coba lg sih :p

    fav lainnya, kfc malaysia, tapiiii hanya utk cheesy wedgesnya thok! hahahahah. ga akan ada yg ngalahin rasa cheesy wedges mereka :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. OMG, KFC Vientnam, Manila, dan Beijing gak makan karena gak ada label halalnya. Hehehe.

      Setuju, KFC Malaysia memang salah satu yang paling endeus rasanya. Suka banget :)

      Hapus
  8. Waw ada juga akhirnya yg bikin tulisan ini hahahaha. Aku pun punya banyak stok foto KFC karena selalu coba itu ayam kalau lagi traveling dan selalu makan menu yg sama: original chicken paha atas dengan kentang goreng. Surprisingly, karena sudah chain ya rasanya tak jauh beda, kecuali menu menu kearifan lokal. Yg beda dari kualitas ayamnya, ada yg padat, ada yg gampang 'lepas', ada yg lebih lembut kulitnya kayak di Inggris.

    Aku dan kamu, kita semua cinta KFC ❤️❤️

    BalasHapus