Minggu, 31 Juli 2016

Milo Jakarta International 10K 2016

.: Lari 10K Melintasi Kawasan Mega Kuningan, Jakarta :.

Rasa-rasanya, Jakarta sangat mudah menyandang predikat sebagai kota yang selalu dipuji dan dicaci. Betapa serapah begitu mudah terlontar di jalanannya yang sering dilabeli jahanam. Begitu pula, kota ini sangat dicintai lantaran menjadi rumah bagi wahana asyik untuk menghibur diri, melepas lelah, dan menimba ilmu. Sebagai seorang pejalan musiman dan penyuka olahraga lari, hampir satu dasawarsa saya hengkang dari pusat kota dan memilih tinggal di pinggiran Jakarta hanya untuk menemukan perasaan lebih tenang, menghirup udara lebih bersih, serta memperoleh kesempatan lari setiap hari tanpa gangguan lalu-lalang dan suara bising kendaraan.

Sesekali, saya masih menyempatkan diri lari di kawasan Monas, Gelora Bung Karno, atau jalan Sudirman-Thamrin saat hari bebas kendaraan bermotor untuk mengobati kerinduan atau 'membayar' janji berjumpa kawan. Saya hampir selalu absen ikut kompetisi lari di Jakarta karena peminatnya selalu membeludak. Belum lagi lintasan pikiran harus lari dengan interupsi laju kendaraan. Betapa tidak nyamannya.

Mungkin saya lagi semangat-semangatnya ikut kompetisi lari. Mungkin juga karena gara-gara koleksi medali. Saya jadi merasa seperti burung namdur, yang hobi mengumpulkan serpihan logam. Setelah menyelesaikan dua kompetisi lari di Bandung sebulan dan seminggu sebelumnya, saya akhirnya ikut juga Milo Jakarta International 10K.    

.: Kerumunan Peserta Milo Jakarta International 10 K :.

Konon, pesertanya hingga 15.000-an. Jumlah yang begitu superlatif untuk ukuran kompetisi lari 'santai' di ibukota. Mungkin karena tidak dipungut biaya, jadi banyak peminatnya. Dihelatnya pun sebagai salah satu acara untuk memeriahkan ulang tahun Jakarta yang ke-489. Berlokasi di jantung Jakarta yaitu di kawasan Rasuna Episentrum, Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan, saya pikir jalur larinya bakal agak 'runyam' karena harus melewati kompleks kedutaan dan jalan protokol.

Sebagaimana biasa, saya datang ke lokasi seorang diri. Hari masih gelap. Suasana relatif sunyi. Saya tidak tahu apakah ada kawan atau sahabat saya yang ikut acara ini. Pikiran saya hanya lari saja. Mumpung ada kesempatan libur. Tadinya saya mengira datang terlalu pagi. Ternyata di lokasi sudah banyak sekali peserta yang hadir. Beberapa sedang sarapan. Beberapa yang lain sedang melakukan pemanasan.

.: Stok Susu Milo untuk Energi Setiap Hari :.

Saya segera mencari tempat paling strategis agar bisa lari dengan leluasa duluan. Rasanya menyebalkan sekali kalau harus lari di belakang orang yang sedang berjalan merembet. Kaki yang tadinya sehat bisa tiba-tiba jadi kaku dan kram. Langit beranjak terang, membuka tabir kerumunan manusia yang berkumpul layaknya ingin demonstrasi. Pembawa acara memandu para peserta dan mengumumkan bahwa lari akan dimulai tepat pukul 6 pagi. Disiplin sekali rupanya panitia ini.

Saya sudah tenang mendapat posisi yang tidak terlalu jauh dari garis start. Tapi, mendadak panggilan alam tak bisa dihindari. Perut saya bergolak, keringat dingin mengucur, dan bagian belakang (punggung) kaus saya basah. Saya berpikir dalam hati, makan apa kemarin malam hingga membuat perut saya bergejolak. Memang, jika akan ikut lari atau melakukan kegiatan semacam presentasi, memimpin diskusi, atau mengajar pagi, saya kerap tidak sarapan. Hal itu saya lakukan karena seringnya sarapannya balik lagi saya muntahkan. Pagi itu pun, saya harus merelakan segelas susu milo yang minum, kembali saya muntahkan karena mual. Gara-gara harus menyelesaikan 'tugas', saya jadinya mendapat posisi awal yang agak jauh dari garis start.

.: Mimik Susu Dulu Gaes :.

Menyerah sebelum bertanding hanya patut disandang oleh mereka yang berjiwa pecundang. Itulah yang saya rasakan pagi itu. Melihat ribuan manusia dengan atribut kaos hijau membuat lutut saya lemas. Bagaimana tidak? Saya bukan pelari profesional. Saya hanyalah pelari hore saja. Menyenangi olahraga lari karena senang lelarian santai saja sejak sekolah. Olah fisik ini dilakukan rutin semata-mata untuk mengimbangi kegiatan saya naik gunung. Tidak lebih.

Makanya, begitu melihat ratusan peserta melesat bagaikan kijang lincah berloncatan saat pistol ditembakkan sebagai aba-aba mulai lari, mendadak rasa putus asa itu melanda. Apalagi, saya masih dalam posisi berjalan. Sementara itu, jalur lari tampak penuh peserta yang sudah lebih dulu melakukan 'tugasnya'. Saya mulai lari dengan kecepatan sedang. Saya pikir pace-nya antara 5'-6'. Setelah agak stabil dan jalur lari agak senggang, saya tambah kecepatan lari sambil melakukan 'manuver' mencari celah jalan yang tidak dipenuhi rentetan pelari.

: Pelari Pengejar Medali #eh :.

Tidak biasanya. Mungkin karena sudah mengamini sikap putus asa di awal, saya mulai menurunkan kecepatan dan (terpaksa) harus berjalan untuk istirahat bahkan sebelum mencapai jarak 4 km. Biasanya, saya istirahat dan jalan cepat setelah menempuh jarak 5 km. Memang, berlari bukan hanya soal lari saja. Berlari ternyata memerlukan niat yang kuat, kesabaran yang lebih, stamina yang prima, dan optimisme yang tinggi. Pada titik ini, saya seperti melesapkan keinginan untuk mengalungkan salah satu medali yang disediakan panitia kepada 2.000 pelari pertama yang menyentuh garis finish.

Lalu, saya merasa kedua ujung jari telunjuk kaki bergesekan dengan ujung sepatu. Rasanya perih sekali. Saya yakin berdarah. Hal ini bukan terjadi untuk pertama kalinya. Saya memilih untuk bertahan dan berlari. Tiba-tiba saya teringat dengan tulisan Haruki Murakami di bukunya What I Talk About When I Talk About Running. Dia bilang bahwa Pain is inevitable. Suffering is optional. Rasa sakit itu pasti, tapi untuk menderita itu sebuah pilihan. Saat memulai lari, saya sudah paham bahwa akan mengalami kelelahan dan mungkin rasa sakit seperti saat ini. Tapi, saya memilih untuk tetap bertahan.

Saya berlari dengan tenang sambil sesekali berjalan cepat jika sudah merasa lelah. Water station pertama saya lewati begitu saja. Sampai suatu ketika, ada petugas yang membagikan tali medali berwarna putih untuk check point. Dari situlah semangat saya bangkit. Saya pikir, jika masih mendapatkan tali medali putih tersebut, saya masih punya kesempatan untuk mendapatkan medali di garis finish nanti.

.: Finish Strong 10 K :.

Bagai mendapat suntikan semangat, teringat dengan tokoh Ali di dalam film Children of Heaven, saya berlari agak kencang, mengejar ketertinggalan dengan para pelari yang sebelumnya mendahului di garis start tadi. Di sisi jalan yang lain, tampak para pelari jempolan yang memang sudah langganan menjadi finisher pertama, sudah tinggal beberapa meter lagi mencapai garis finish.

Jalurnya lari kali ini secara umum sangat rapi. Jalurnya jelas. Tidak banyak belokan. Semua petugas berjaga sesuai dengan tugasnya. Saya tidak merasa terganggu sama sekali dengan lalu lalang kendaraan dan tidak perlu khawatir disenggol kendaraan saat melewati perempatan. Jadi, jalur larinya benar-benar steril dari kepentingan non-pelari. Water station ada di beberapa tempat. Fotografernya ada di banyak titik sehingga setiap peserta tidak perlu khawatir juga tidak mempunya dokumentasi. 

.: Pisang, Asupan Sehabis Lari. Yang bengkok biasanya lebih nikmat #eh :.

Satu jam lewat satu menit saya melewati garis finish. Bersyukur masih mendapatkan medali. Pandangan saya langsung goyang layaknya baru turun dari perahu sehabis sailing trip. Badan saya lemas. Mungkin akibat belum sarapan di pagi tadi. Saya langsung menerima dua botol air mineral dan dua buah pisang dari panitia sebagai asupan pengembali energi. Setidaknya, biar perut saya yang pagi tadi sudah 'dikuras' tidak benar-benar kosong.

Setelah makan minum sejenak dan stamina agak pulih, saya langsung ikut antrian untuk mendapatkan secangkir kecil milo dingin. Setelah itu, saya ikut berbaur dengan banyak komunitas lari yang saat itu turut memeriahkan perhelatan Milo Jakarta International 10K. Saya ikut prosesi pendinginan bersama komunitas Kaskus Runners, berfoto ramai dan seru bersama komunitas Indorunners Bandung, Serang Runners, Cilegon Runners, Bogor Runners, Cibubur Runners dan banyak lagi. Secara tidak sengaja, saya juga bertemu dengan beberapa teman kuliah yang sudah lama sekali tidak berjumpa.

.: Bersama Muhammad Assad, Penulis Buku Notes from Qatar :.

Di luar itu semua, saya senang bisa bertemu juga dengan penulis buku Notes from Qatar, Muhammad Assad. Saya tidak tahu apakah dia benar-benar ikut lari atau tidak. Yang jelas, beberapa kali ikut kompetisi lari seperti ini, banyak figur publik yang juga dikenal punya hobi lari tapi tidak benar-benar ikut berlari. Mereka ada di tempat tersebut 'hanya' untuk memeriahkan suasana saja. Padahal, akan lebih seru jika yang bersangkutan ikut lari juga, bukan hanya duduk tersenyum sembari menjadi 'pemandu sorak'.

.: Lumayan lah ya :) :.

Setelah beberapa bulan memilih untuk tidak lari di Jakarta, mungkin inilah kali pertama setelah banyak kesempatan saya kembali lari di kawasan ibukota. Dan untuk acara lari yang dihelat oleh Milo, yang meskipun sudah dimulai sejak 2004 silam, inilah pertama kalinya saya ikut kompetisi ini. Mungkin dahulu saya terlalu sibuk jalan-jalan sehingga tiap kali acara dihelat, tiap kali itu pula saya harus meninggalkan Jakarta karena suatu keperluan.

Mungkin bukan hadiah yang dikejar. Tapi, entah percaya atau tidak, setiap pelari hore seperti saya, paling tidak akan merasa senang saat ada sebentuk medali yang menggantung di leher, menjadikannya sedikit dari sejumlah pelari pertama yang jumlahnya ditentukan panitia, dapat sampai di garis finish mendahului peserta lainnya. Dan jujur, saya senang menjadi bagian dari salah satu pelari yang dapat mengoleksi medali tersebut. Mari (semangat) lari. []

10 komentar:

  1. Saya ikut Jitenk tahun lalu dan KAPOK. Medali diberikan hanya pada mereka yang finish di bawah 53 menit kalo ga salah,terus pesertanya kebanyakan, banyakan nabraknya daripada larinya hahaha. Anyway bagus lah tahun ini persediaan medalinya banyak.

    Tahun ini saya puasa race, mahal soalnya. Gak seperti tahun lalu saya ikut hampir 20 an race, baik road maupun trail.

    Terus lah sebarkan virus lari mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun ini sebenarnya ada batasan juga sih mas yaitu yang finish tepat 60 menit saja. Berhubung finisher yang sampai 60 menit masih kurang dan medali masih ada, makanya aku dapet medalinya. Pas banget lebih 1 menit aja.

      Tahun lalu gak ikut race-race begini karena lebih sering lari sendirian aja. Apalagi jadwalnya jalan-jalan hampir selalu ke luar daerah.

      Siap mas. Setiap habis lari biasanya langsung update status (baca: pamer) di medsos kok hehehe ;)

      Hapus
  2. baca postingan ini jadi kangen lelarian lagi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mas larinya. Meski sekarang udah punya istri dan gak perlu lari dari kenyataan, bisa lari bareng istrinya kan ya hehehe ;)

      Hapus
  3. wah seru dan rame banget ya milo 10K ini ..
    asyiknya kalau lomba lari itu dapet medali ... paling ngga jadi motivasi untuk bisa menyelesaikannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Apalagi kalau gak semua orang bisa dapet. Wuih, bisa gayak banget baginda hahaha :P

      Hapus
  4. Aku mau nyoba dan rutin lari dulu dengan bener, pingin juga kapan-kapan ikutan lari marathon kayak gini *liriklipatanlemak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha iya mas. Harus dimulai itu. Biar jadi good habit ya. Mending bayar asyik buat olahraga daripada bayar mahal buat berobat. Ya kan, ya kan ... ;)

      Hapus
  5. tahun depan bakalan ada lagi ga ya. mau nyoba ikutan marathon..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya bakal ada lagi. Cuma, denger-denger sih gak gratis lagi. Hiks. Tapi, kok ikutan marathon sih? Kan adanya cuma 10K aja. Mungkin maksudnya ikutan Jakarta Marathon kali ya? Cmiiw ;)

      Hapus