Kamis, 07 Januari 2016

Taman Bumi Sukabumi

.: Selamat datang di kawasan Ciletuh Geopark :.

Teronggok di ujung selatan Pulau Jawa, Ciletuh Geopark seolah bergeming dengan ingar-bingar pariwisata. Lokasinya dibentengi dengan bukit-bukit tinggi yang dirimbuni dengan deretan air terjun dan sawah berundak. Potensinya cukup menarik untuk dikembangkan dan dijadikan andalan penarik wisatawan. Untuk menembusnya, diperlukan kesabaran ekstra karena jalurnya tidak mudah.

Saya melakukan lawatan ke Ciletuh Geopark di akhir musim kemarau. Bukan waktu yang tepat sebetulnya mengingat kawasan ini lebih menarik saat tebing-tebingnya dihiasi aliran air yang mengucur deras. Pepohonan meranggas. Tanahnya gersang layaknya di hutan kapur. Hujan sepertinya sudah lama tidak bertandang. Pagi yang syahdu baru saja lewat saat saya sampai di Pantai Palangpang, sebuah pantai sepi yang menghampar menghadap samudra Indonesia. Sulit membayangkan jika kawasan ini merupakan dasar samudra berjuta-juta tahun yang lampau.

.: Pantai Palangpang yang sepi :.

Ciletuh Geopark sebenarnya sudah mulai dikembangkan sebagai kawasan wisata. Hal ini terlihat dari banyaknya papan nama yang sudah terpasang sejak memasuki gerbang kecamatan Ciemas. Sebagai negara dengan koleksi situs warisan dunia terbanyak di wilayah Asia Tenggara, Indonesia hanya memiliki satu taman bumi yang diakui oleh Unesco, yaitu Gunung Batur di Bali. Terdorong untuk mengoleksi kawasan serupa, pemerintah mulai mendata tempat-tempat yang memiliki topografi unik dengan warisan geologis yang fenomenal untuk dikembangkan sebagai situs pariwisita berkelanjutan dalam jaringan taman bumi dunia.

Setelah Danau Toba yang digadang-gadang akan mengantongi predikat serupa, namun terkendala masalah lingkungan pada tahun 2015 lalu, pemerintah melalui Komite Nasional Indonesia untuk Unesco dan Kementerian ESDM mencoba untuk mengembangkan kawasan Ciletuh Geopark agar dinobatkan sebagai taman bumi berikutnya setelah Batur. 

.: Curug Cimarinjung yang kering kerontang :.

Tak ada hotel di Ciletuh. Sebagai gantinya, saya menginap di rumah warga. Layaknya rumah khas pedesaan, rumah warga Ciletuh memiliki halaman yang luas dengan pepohonan rindang. Dindingnya sudah bertembok bata. Setelah membersihkan diri dan sarapan, saya menuju Curug Cimarinjung. Lokasinya tak jauh dari homestay tempat saya menginap. Saat menuju penginapan dari pantai Palangpang pun sebenarnya saya sudah melihatnya.

Jalannya menuju Curug Cimarinjung masih berupa jalan tanah berbatu. Di kanan-kirinya dipagari dengan hamparan sawah menghijau. Saya mengetahui keberadaan curug ini dari program jalan-jalan yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta. Setelah memarkir kendaraan di warung, saya mengikuti jalan setapak. Dalam hati saya tertawa, curug ini seolah berada di halaman belakang rumah warga karena jalur masuknya serupa tanah tegalan yang dirimbuni pohon pisang.

.: Batu-batu cadas di Curug Cimarinjung :.

Aliran airnya kecil. Bebatuan cadas yang membangunnya seolah dipahat secara detil menjadi tebing-tebing yang berasal dari masa silam. Diterpa dengan sinar matahari Oktober yang terik, beberapa bagian batuan curug ini mengingatkan saya pada bebatuan di Grand Canyon, Amarika atau bebatuan di Mars.

Meski alirannya kecil, bagai tak mau rugi, saya menyempatkan diri untuk mandi sejenak dan mendinginkan diri dari udara kering kawasan pantai. Segar sekali rasanya.

.: Menikmati segarnya sisa-sisa aliran air Curug Cimarinjung :.

Berhubung siangnya tidak ada acara, saya leyeh-leyeh saja di penginapan sembari istirahat agar siap untuk menjelajah kawasan berikutnya. Awalnya saya berencana untuk naik ke Puncak Darma untuk menikmati momen matahari terbenam. Tapi, ternyata, tujuan sore itu adalah ke Curug Sodong. Memang, jika diperhatikan dari titik tengah Pantai Palangpang, betapa kawasan Ciletuh Geopark ini dipagari begitu banyak curug menawan. Selain Cimarinjung dan Sodong, ada curug Puncak Manik, Awang, Cikanteh, Codong Tengah, dan Ngalay.

Jika Curug Cimarinjung terlihat seperti di belakang rumah warga, Curug Sodong berada di ujung desa. Tersembunyi agak terpisah dari rumah warga, curug ini juga sepi tanpa pengunjung. Keadaannya sama saja. Kering dengan sedikit aliran air yang terlihat menetes, bukan mengucur.

.: Curug Sodong dan genangan air yang menunggu tetesan :.

Diterpa sinar matahari sore, guratan dinding pembentuknya terlihat sebagai bongkahan batu tua yang sudah eksis sejak era jurasik. Genangan air di bawahnya dihuni sekelompok biawak. Di kakinya, sebuah gua kecil terlihat menganga. Dalam keadaan normal, pesona curug ini terlihat bagai tirai yang menutupi mulut gua. Saat kering seperti ini, tirai tersebut seakan tersingkap dan seolah menegaskan bahwa inilah akibatnya jika hutan-hutan yang tumbuh di atas gunung tidak dirawat dengan bijak.

Berhubung hari sudah gelap, saya hanya sebentar saja berada di sini dan segera kembali ke penginapan untuk beristirahat. Keesokan paginya, saya sudah terjaga tengah malam demi mendaki Puncak Darma. Dari semua tempat di Ciletuh yang akan disambangi, mungkin inilah yang membuat saya paling semangat karena ada kegiatan pendakiannya. Kegiatan ini juga saya jadikan sebagai semacam pemanasan untuk mendaki Gunung Gede-Pangrango untuk kedua kalinya.

.: Pantai Palangpang dilihat dari Puncak Darma :.

Puncak Darma bertengger di ketinggian kurang lebih 230 mdpl. Bukan bukit yang tinggi sebetulnya tapi sanggup membuat orang yang tak terbiasa olahraga cukup ngos-ngosan. Jalurnya lumayan terjal. Posisinya berada tepat di atas Curug Cimarinjung. Jadi, jalan menuju puncak akan melewati sungai yang alirannya menjadi sumber air curug.

Suasananya masih sepi. Konon, saat akhir pekan tiba, puncak ini disesaki oleh muda-mudi. Ada satu tenda mungil tempat sekelompok pendaki sedang bermalam. Sebagaimana pemandangan yang sudah hampir jamak di semua gunung, di Puncak Darma juga terdapat sebuah kios kecil tempat berjualan mie seduh dan kopi susu.

.: Puncak Darma :.

Dari puncak inilah hampir seluruh kawasan Ciletuh Geopark tersaji di hadapan mata. Hamparan laut luas samudra Indonesia, tebing-tebing yang membingkai Ciletuh, dan gugusan rumah yang terhampar dipisahkan jalan aspal kecil yang meliuk-liuk laksana ular. Saya pikir-pikir, Puncak Darma sebenarnya cocok dinikmati saat senja, karena saat cuaca cerah, kita bisa langsung melihat momen matahari tenggelam di lautan. Sedangkan matahari terbit akan muncul dari balik bukit. Itupun sebenarnya sudah terlampau siang.

Selesai dari Puncak Darma, untuk menyingkat waktu, saya segera menuju Curug Awang. Mungkin, di cuaca Oktober yang masih mengusung musim kemarau, hanya curuh inilah yang debit airnya lumayan deras.

.: Curug Awang di kejauhan, dikungkung oleh hamparan sawah berundak :.

Lokasinya lebih dekat menuju jalan pulang ke Jakarta. Tapi untuk menuju ke lokasinya, jalur terjal dari tanah di selingkungan kebun kelapa harus ditembus. Posisinya memang agak jauh dari tempat parkir. Namun, jalan sempit untuk menjangkaunya sudah tertata rapi. Warung makan dan cemilan juga tersedia. Sebuah kamar mandi sederhana untuk berganti pakaian sudah dibangun. Dan, yang paling penting, mushola mungil telah berdiri tegak tak jauh dari warung. Meski dibilang masih sederhana, mungkin inilah objek wisata yang fasilitasnya lumayan lengkap.

.: Deretan terasering di kawasan Curug Awang :.

Sawah-sawah berundak tampak menghiasi lereng sungai. Suasananya mengingatkan saya pada pemandangan serupa di Ubud, Bali

Saya berjalan pelan sembari asyik mengambil gambar sampai melihat jalan menurun yang curam sekali. Jalan ini masih berupa tanah biasa. Tidak ada undak-undakan batu layaknya terasering. Sebagai pegangan, sebuah tali ditambatkan pada tongkat kayu.

.: Saat musim hujan, konon air terjun ini mirip Niagara :.

Sama seperti tebing-tebing yang membentuk Cimarinjung, Curug Awang juga dibangun dari gumpalan batu. Fasadnya berupa terjunan aliran sungai yang lebar. Batu-batu besar juga tampak terserak di dasarnya. Saat debit airnya banyak dan air mengalir deras, Curug Awang disebut-sebut sebagai Niagara mini di kawasan Sukabumi. Lagunanya cukup dalam. Hanya tersedia dua pelampung untuk pengunjung.

Sebagai penggemar wisata air terjun, tentu saya tak mau melewatkan kesempatan untuk menikmati kesegaran aliran airnya. Persis terletak di bawah alirannya, saya melihat air terjun ini memang tinggi sekali. Mungkin inilah yang membuatnya dijuluki Curug Awang, curug yang ketinggiannya seolah-olah berada di angkasa (awang-awang).

.: Pemandangan Kawasan Ciletuh Geopark dari Bukit Paninjauan :.

Saat akan pulang ke Jakarta, saya menyempatkan diri untuk mampir sejenak di Bukit Paninjauan. Pemandangannya serupa dengan Puncak Darma, namun dilihat dari sisi yang berbeda. Dari bukit ini, kita bisa melihat Pantai Palangpang yang dinaungi bukit yang Puncak Darma berada serta kawasan perumahan dengan hamparan sawah kering yang menunggu hujan.

Meski bukan seorang geolog, setelah menuntaskan perjalanan menjelajah Ciletuh Geopark saya jadi berpikir bahwa kawasan ini memang cocok dikembangkan sebagai taman bumi demi pariwisata berkelanjutan. Ada banyak potensi yang jika dikelola dengan baik akan membawa dampak yang signifikan bagi perkembangan daerah yang minim ditembus pembangunan. Saya hanya berharap, jika suatu saat kawasan ini ditetapkan sebagai taman bumi di bawah pengawasan Unesco layaknya Gunung Batur di Bali, masyarakatnya tetap bersahaja dan menerima pendatang layaknya warga biasa seperti yang saya rasakan saat ini. Sungguh, perjalanan jauh dari Jakarta menjadi sesuatu yang sepadan dengan pengalaman bertualang yang didapatkan. []

25 komentar:

  1. Wah seru nih, Mas. Aku orang Sukabumi lho.. *teruuuss??* Haha.. Baru tahu ttg Geopark ini. Bisa jadi referensi buat liburan ke Sukabumi. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, masa? Jadi kamu itu yang bener Bekasi, Jogja, atau Sukabumi? Hehehe. Sebenarnya udah lama infonya, cuma belum terlalu dikembangkan saja. Nanti bentar lagi juga jadi heits hehehe :)

      Hapus
  2. tunggu dulu bang.. jadi itu semuanya menjadi satu kesatuan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, satu 'ceruk' dengan banyak objek wisata yang bisa disambangi :)

      Hapus
  3. Sayang banget cimarinjung nya kering ... Pasti kamu kesana nya ngak baca bismillah deh bahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan gak baca bismillah, tapi karena tempat ini sudah pernah 'dinodai' dengan kehadiran Kak Cum dengan kolor warna-warninya itu. Akooh jadi syedih :'(

      Hapus
  4. Balasan
    1. Curugnya emang banyak banget. Kalau debit airnya deras, kayaknya jadi lebih cantik nih :)

      Hapus
  5. wuaaaa ... saya pengen banget kesini .. hanya masih wishlist aja .... kayaknya kalau kesini memang mesti musim hujan ya ... biar curug2-nya lebih fantastis ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, seru lho sepedahan di tempat ini.Objek wisatanya berdekatan. Cocok buat kegiatan sepeda gunung. Diagendakan saja :)

      Hapus
  6. Wahhh ... belum sempet ke siniii ... Di sini ternyata memang banyak curug ya. Dulu sempet ke pamerannya, dan kl ga salah banyak dipajang foto2 curug ... ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ayo segera cuz ke sana. Mumpung udah musim hujan nih, curugnya udah gak kering lagi :)

      Hapus
  7. Ini geopark yang lagi hits itu yah kakaknya? semoga ga jadi banyak orang2 rusuh aja yah :(( biar lingkungannya tetep kejaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha heits bangets setelah ada artis ibukota yang main-main di curugnya terus ditulis di blog hehehe. Iya, semoga dijauhkan dari jangkauan traveler alay yang sering ngerusak tempat wisata :'(

      Hapus
  8. Jadi, kapan balik lagi pas musim penghujan? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengennya sih gitu, tapi ke sananya agak nyiksa nih. Angkutannya lumayan susah dan ongkosnya juga lumayan hehehe :)

      Hapus
  9. Baru tahu ada geopark di sana. Kesannya masih alami sekali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, masih alami sekali. Aksesnya juga lumayan menguras tenaga dan biaya hehehe :)

      Hapus
  10. wah sayang amat debit airnya lg kecil..aku juga pling suka wisata air terjun, dan biasanya memang sengaja saat musim penghujan supaya airnya deras ;p.. tp sbnrnya beresiko juga krn justru di musim hujan tanahnya mudah longsor...

    tp kyknya air terjun pling bnyk memang kawasan jawa barat ya mas.. justru di sana aku blm bnyk explore, kecuali curug malela dan curug cikaso..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, udah ke Malela sama Cikaso ya kak? Ajib banget dah kedua curug itu. Cikaso bisa buat mandi-mandi, tapi kalau Malela agak buthek ya kak airnya hehehe :)

      Hapus
  11. Semakin hits aja nih taman ya *padahal belum pernah kesana* hiks *melengos

    BalasHapus
  12. baru tahu saya , di sukabumi ada geopark juga, wisata jambi juga ada geoparknya loh, geopark merangin, ayo dikunjungi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, ini kalau debit airnya banyak, pemandangannya lebih menarik. Wah, aku pengen banget nih ke Jambi. Pengen ke Candi Muaro Jambi. Mau jadi guide-nya? ;)

      Hapus
  13. Artikel yang sangat menarik :D

    http://clayton88.blogspot.com | http://kagumiterus.blogspot.com/ | http://pkcinema.com/
    http://informasiberitatop.blogspot.com | http://bit.ly/1sAwovI | http://bit.ly/1sUU8dl |
    http://bit.ly/1ZIdBJv http://bit.ly/1YjeNnK | http:/it.ly/1WKgJqp | http://bit.ly/1ZIehP9 |
    http://bit.ly/1sAwovI | http://bit.ly/1UobCKp | http://bit.ly/1S0ZSYr | http://bit.ly/1ZIehP9 |
    http://bit.ly/1UL7Ia5 | http://bit.ly/1WKgJqp | http://bit.ly/1YjeNnK

    BalasHapus