Rabu, 30 Desember 2015

Saba Sade

.: Selamat Datang di Desa Sade :.

Bukan untuk pertama kalinya saya bertandang ke desa ini. Teronggok tak begitu jauh dari Bandara Internasional Lombok, Desa Sade bertengger sebagai destinasi populer yang wajib dikunjungi. Lokasinya berada di kawasan Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Masyarakatnya masih setia memegang teguh tradisi. Disesaki dengan rumah-rumah adat khas Sasak yang berderet rapi dengan atap alang-alang kering, desa Sade seolah ingin menegaskan diri sebagai primadona desa adat di seantero pulau. Saya bertandang ke desa ini saat sore datang menjelang.

Langit cerah. Matahari bersinar hangat. Seisi desa seperti sedang tumpah ruah. Maklum, saya datang saat akhir pekan. Di parkiran, banyak bus dan kendaraan pribadi berjejalan, berbagi tempat dan berderet-deret hingga memakan badan jalan. Pemandangan yang jamak terjadi di desa Sade saat musim liburan.

"Selamat sore. Selamat datang di desa Sade. Perkenalkan, nama saya Wahid. Saya akan memandu Anda sekalian berkeliling desa." sapa salah seorang pemandu.

.: Seorang Pemandu Sedang Memberikan Penjelasan kepada Para Turis Asing :.

"Silakan menunggu sebentar di berugaq, kalau ada yang mau ke kamar kecil, lokasinya ada di sana. Sepuluh menit lagi akan kita mulai turnya keliling desa." lanjutnya dengan keramahan khas seorang pemandu wisata.

Saya melangkah ke berugaq untuk melemaskan kaki sejenak. Di bagian depan desa ini terdapat dua berugaq besar yaitu sekenem (berugaq enam tiang) dan sekepat (berugaq empat tiang). Tempat ini kerap digunakan oleh penduduk desa untuk melangsungkan acara musyawarah desa atau tempat berembuk memutuskan suatu hal terkait dengan adat setempat. Di seberangnya, dengan ukuran yang lumayan besar dibandingkan bangunan yang lain, berdiri rumah sang kepala adat. Halaman luas yang membentang di depannya kerap digunakan sebagai tempat pengarahan awal sebelum tur keliling desa dilakukan.

.: Rumah Adat Desa Sade :.

Sembari menunggu peserta tur berkumpul, Wahid menjelaskan bahwa desa adat Sade mulai dikembangkan sebagai desa wisata sejak tahun 1975. Namun, baru tahun 1988 mulai dikunjungi wisatawan. Setiap bulannya ada sekitar 4.000 hingga 6.000 wisatawan domestik yang datang bersambang. Sedangkan turis asing hanya separuhnya saja. Jumlah tersebut akan meningkat drastis saat musim liburan sekolah berlangsung. Desa akan penuh sesak seperti pasar.

Tur keliling desa dimulai dari depan rumah kepala adat. Dipisahkan oleh lorong dan gang sempit, rumah-rumah adat di Sade berdiri saling berhimpitan layaknya bangunan di pemukiman padat Jakarta. Listrik sudah menerangi sekitar 150 buah rumah yang dihuni oleh 150 orang kepala keluarga. Penduduk seluruhnya sekitar 700-an jiwa. Jika ada yang menikah dan membangun keluarga baru, mereka akan membangun tempat tinggal di sekitar desa yang sudah dibatasi dengan pagar batu.

"Yang tinggal di rumah-rumah ini merupakan generasi ke-15 dari leluhur yang membuka desa Sade pertama kali.", kata Wahid menjelaskan.

.: Bagian Dalam Rumah Adat Sade :.

Rumah-rumah ini berdinding anyaman bambu (bedek) atau biasa disebut pager. Tiangnya dari kayu dan atapnya dari bambu yang ditutup dengan anyaman jerami atau alang-alang kering. Saya minta izin masuk ke salah satu rumah warga. Ternyata, rumah adat Sasak itu bentuknya berundak dalam tiga trap atau tingkatan. Begitu memasuki pintu, saya berada di ruangan yang disebut rong-rong. Ruangan ini biasa digunakan untuk menyimpan alat-alat bertani, penumbuk padi, alat-alat tenun, dan alat kerajinan. Lantainya berupa tanah. Beberapa bagian seperti sudah dicampuri semen. Konon, untuk membuat lantai ini tetap nyaman dan terkesan sejuk tanpa nyamuk, masyarakat Sade biasa mengepel lantai dengan campuran tanah dan kotoron sapi.

Saya melangkah menaiki undakan. Ruangan 'lapis kedua' disebut sesangkok. Biasa digunakan sebagai ruang keluarga, tempat makan, atau tempat tidur anak laki-laki. Sebagaimana rumah di desa-desa adat Lombok, setiap rumah punya tiga anak tangga berundak yang merupakan simbol keyakinan dalam konsep Islam wetu telu yang dianut warga Lombok. Melalui sebuah tangga mungil bertingkat tiga itulah, saya memasuki pintu kecil seukuran setengah badan untuk masuk dalem bale atau ruangan dalam. Ruangan terakhir ini dibagi menjadi dua, yaitu dalem bale tempat memasak dan tempat tidur untuk perempuan, serta bale dalem yang digunakan sebagai tempat melahirkan, menyimpan barang berharga dan tempat tidur bagi anak gadis pemilik rumah.

Saat akan keluar dari dalem bale, saya melihat seikat padi yang digantung di atap. Padi ini merupakan simbol pengharapan rezeki atau berkah. Orang Sasak menyebutnya dengan pemon.

"Biasanya, kita mengambil padi untuk pemon ini seminggu sebelum panen.", kata Wahid memberi tahu, seakan mengerti raut tanda tanya yang terpancar dari muka saya. Dia berjalan duluan keluar dari rumah adat untuk menunjukkan bagian lain dari desa adat Sade.

.: Lumbung Padi dan Berugaq dengan Atap Khas Sasak :.

Di depan rumah yang saya masuki, sebuah bangunan unik yang mirip stupa dari alang-alang kering berdiri menjulang. Bangunan ini sejatinya merupakan lumbung padi. Di bawahnya dibuat berugaq, tempat warga bisa duduk santai bercengkerama atau biasa digunakan untuk tempat menjajakan aneka kerajinan tangan, tenun, dan pernak-pernik cenderamata.

Sebagai pecinta wastra nusantara, berada di antara ratusan tenun kualitas prima seperti ini membuat saya ingin mengoleksi semuanya. Tenun khas Sade tersohor akan kehalusan tekstur kain dan keragaman motif tenunan. Warnanya mencolok dan terkesan elegan. 

.: Seorang Perempuan Sedang Memintal Benang untuk Dibuat Kain Tenun :.

Di samping bangunan lumbung padi, di antara bangunan kios-kios cenderamata, seorang nenek tampak telaten memintal benang. Beginilah salah satu rutinitas perempuan Sade. Keterampilan menenun diajarkan secara turun-temurun kepada anak perempuan. Sama seperti kebiasaan masyarakat Sasak secara umum, konon, seorang anak perempuan tidak boleh menikah apabila tidak bisa menenun. Hasil tenunan buah tangan sendiri itulah yang akan dijadikan sebagai barang seserahan kepada pihak laki-laki. 

.: Aneka Tenun Ikat Kreasi Tangan-Tangan Telaten Perempuan Sade :.

Saya sendiri belum pernah menyaksikannya sendiri. Wahid bilang bahwa proses menikah suku Sasak sendiri tergolong unik. Anak gadis sebenarnya akan disembunyikan oleh keluarganya, dijaga baik-baik, dan dilindungi dari gangguan orang luar. Makanya, mereka tidur dan tinggal bale dalem, bagian yang susah dijangkau oleh tamu dan orang luar. Namun, jika saatnya tiba, seorang perempuan akan 'diculik' oleh calon pengantin pria, untuk kemudian dilarikan atau disembunyikan di rumahnya. Adat ini dikenal dengan nama merarik.

Pihak keluarga calon pengantin pria akan memberitahukan kepada keluarga calon mempelai wanita, bahwa anak gadisnya telah ditemukan dan tinggal di rumahnya. Setelah itu, ritual pernikahan adat baru bisa digelar. Menurut adat desa Sade, seorang calon pengantin pria dianggap lebih terhormat saat mempunyai niat untuk menikahi seorang gadis pujaannya dengan cara diculik daripada terus terang melamar kepada orang tua si gadis. Dengan menculik tersebut, seorang pria dianggap sudah mampu bertanggungjawab dan sungguh-sungguh akan menghidupi si gadis. Meski sering membuat kernyit di dahi, tapi kisah-kasih pernikahan yang diawali dengan prosesi penculikan ini sungguh menarik bagi orang di luar suku Sasak.

"Tapi kebanyakan, orang-orang Sade ini menikah di antara para sepupu. Maksudnya, mereka yang tinggal di sini sebenarnya satu saudara. Beranak pinak secara turun-temurun dan menikah dengan tetangga yang sebenarnya masih terpaut saudara." kata Wahid menenangkan dan mencairkan suasana.

Saya pun menanggapinya dengan tersenyum dan berlalu sembari bertanya-tanya dalam hati, kapan kira-kira saya akan menculik seorang gadis? Atau malah diculik? Entahlah.

.: Di Antara Rumah-Rumah Adat Sade :.

Karena kunjungan ini bukan yang pertama kali saya lakukan ke desa adat Sade, saya sudah cukup hafal dengan lorong dan gang yang ada di penjuru desa. Saya dengan mudah menemukan masjid untuk sholat ashar dan mengenali orang-orang yang dulu saya ajak ngobrol pada kunjungan sebelumnya. Saya menyempatkan diri untuk bermain dengan anak-anak desa setempat, membantu mereka mengambilkan buah mangga, dan memotret tingkah polah mereka saat bermain kelereng bersama. Sungguh sebuah pemandangan lucu yang mengingatkan saya pada memori masa kecil. Waktu memang berjalan dengan cepatnya tanpa kita sadari sepenuhnya. 

Setelah ashar selesai,  saya berjalan kembali ke halaman depan, tempat berugaq di depan rumah kepala adat berada. Saat melewati beberapa rumah dan gang sempit, saya memerhatikan bahwa atap rumbia rumah-rumah ini terkesan baru dan bersih. Melihat cuaca cerah seperti ini, saya membayangkan apakah atap seperti ini tembus air saat musim hujan datang. Dan berapa lama atap rumbia seperti ini bertahan? Saya bertanya kepada Wahid.

"Atap alang-alang kering seperti ini awet. Jika anyamannya bagus, harusnya tidak akan bocor saat hujan.", jawab Wahid.

.: Kukila Warga Sade :.

Atap ini akan diganti secara periodik sekitar 7-10 tahun sekali. Tapi saat ini, untuk menjaga eksistensi rumah adat Sasak dengan atap tersebut perlu dana yang sangat besar serta persaingan yang ketat. Banyak hotel dan resort yang membangun properti mereka dengan atap serupa. Berhubung permintaan melonjak, sementara penyedia anyaman atap ini sedikit, harga alang-alang melonjak drastis. Bayangkan, satu pikul alang-alang yang terdiri dari dua ikat dibanderol dengan harga 50ribu rupiah. Sementara, untuk sebuah rumah, diperlukan paling tidak 50 pikul atau sekitar 100 ikat alang-alang. Sungguh biaya yang tidak murah untuk secara konsisten merawat tradisi.

Saat akan kembali ke mobil, saya diberitahu satu informasi menarik oleh Wahid. Meskipun desa adat Sade ini sudah terkesan modern dan sadar wisata, masyarakatnya masih melaksanakan satu tradisi unik hingga kini. Sebagaimana ritual Nyepi di Bali, penduduk Sade melaksanakan satu ritual adat untuk memohon keselamatan dan berkah yang disebut mole monte. Ritual tersebut mengharuskan setiap orang untuk kembali ke alam, menjalankan kehidupan dalam satu hari dengan melucuti segala atribut yang berbau modernisasi. Maksudnya, tidak menggunakan listrik, makan menggunakan piring dari tanah liat, dan minum dengan gelas dari bambu. Seperti keinginan saya untuk merasakan suasana Nyepi di Bali, informasi dari Wahid mungkin bisa dijadikan alasan menarik kenapa saya mungkin akan kembali menyambangi desa ini suatu saat nanti. []

18 komentar:

  1. kok ada acara culik menculik ya..hehe. mas Adie hati hati diculik....xixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha itu acara adat kok mas. Tradisinya memang begitu. Ih, mau dong diculik hahaha ;)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Hahaha itu itungannya lama lho mas Cum. Tapi bayar untuk beli alang-alangnya yang agak mahal. Jadi serasa kayak bayar kontrakan rumah gitu deh hehehe :)

      Hapus
  3. Aku masih penasaran pengen lihat langsung acara merariq...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha penasaran dengan acara culik-menculik itu. Aku sih pernah lihat prosesi pernikahannya aja. Gak sengaja pas lewat di jalan gitu :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Bukan enggak, tapi belum hahaha :)

      *piknik lagi*

      Hapus
  5. tapi agama masyarakat sade ini apa sbnrnya mas?

    aku jg suka tuh ama kain tenun sade.. wrnanya itu sih sbnrnya yg bikin menarik, kinclong warna warni ^o^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka muslim mbak. Kan ada masjid di dalam kompleks desa ini. Masjidnya gede banget.

      Iya, tenunnya khas banget. Lumayan buat nambah koleksi mbak ;)

      Hapus
  6. suka banget sama desa2 tradisional seperti ini ..
    kalau dulu dicanangkan tahun 75 baru dikunjungi tahun 88 ... kalau sekarang sih belum dicanangkan sudah dikunjungi .. asal sudah di posting di instagram atau medsos ... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha kekinian banget ya. Apa-apa yang instagramable langsung heits dan banyak pengunjungnya :)

      Hapus
  7. Selalu penasaran dengan Lombok :) semoga tahun ini bisa kesana

    BalasHapus
  8. Tulisannya keren kak adie ! Komprehensif dan enak dibaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya mz. Salam kenal ;)

      Hapus
  9. Aku pernah ke Sade sekali. Ga tahan borong kain tenun disana~

    Dari situ jadi tau, anak gadis harus bisa menenun dulu sebelum dibawa nikah sama calonnya~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, senang sekali pastinya bisa borong kain di Sade. Aku cuma beli satu lembar saja. Itupun kain selendang kecil saja ;)

      Hapus