Rabu, 06 April 2011

Cukang Taneuh is Better Than Green Canyon

gerbang Cukang Taneuh
Waktu teman saya mengajak survey ke Pangandaran untuk acara touring sepeda motor, saya langsung mengiyakan saja dengan pertimbangan kalau ikutan touring naik motor, saya bakal kecapekan selain karena jaraknya yang jauh, jalannya juga naik turun. Bisa-bisa tepar duluan sebelum sampai. Jadi begitu diajak survey naik mobil, saya langsung melonjak kegirangan menyambut dengan gembira. Secara sudah lama saya pengen banget melihat pantai Pangandaran pasca tsunami yang terjadi tahun 2006. Berangkat malam hari sesudah jam pulang kantor dan menghindari macetnya tol Padalarang saat akhir pekan, saya dan beberapa orang 'panitia' touring istirahat dulu di rumah teman yang ada di Purwakarta, sekalian menjemput adik teman saya tersebut untuk diajak liburan.

Pagi-pagi kami check in dulu di hotel sebelum melanjutkan perjalanan ke Green Canyon. Entah kenapa orang menamainya Green Canyon, padahal nama aslinya adalah Cukang Taneuh. Mungkin karena namanya kurang komersial atau orang kita ya yang memang suka sesuatu yang kebarat-baratan. Memang sih di gapura tertulis Cukang Taneuh / Green Canyon, tapi coba tanya ke orang-orang di sekeliling Anda, pasti akan tanya, hah, Cukang Taneuh? Apaan tuh? Di mana tempatnya? Tapi coba tanta tentang Green Canyon, paling tidak orang akan tahu atau pernah mendengarnya. Nama Green Canyon itu diadaptasi dari istilah Grand Canyon yang ada di Amerika.

Yang paling menarik di sini sebenarnya adalah gua terbuka dengan tebing tinggi dan air sungai yang berwarna kehijau-hijauan. Datang ke sini paling asyik ya pas akhir pekan tapi bukan yang bertepatan dengan musim liburan sekolah karena kalau musim liburan tiba, tempat ini akan rame berjubel orang. Jadi gak nikmat bukan kalau liburan musti berjubel dan penuh antrian.

menuju Canyon


Untuk mencapai gua dan 'danau' yang ada di hulu sungai hanya bisa dijangkau pakai perahu (saya gak tahu kalau ada jalan untuk tracking ke hulu itu). Satu perahu maksimal diisi lima orang. Dan loket ditutup pada tengah hari untuk memastikan bahwa semua yang sudah beli karcis bisa terangkut semua. Saya kira perahu yang saya tumpangi sudah akan langsung berangkat, tapi ternyata harus isi bensin dulu. Bensin ini diambil dari belakang rumah seseorang. Dan menurut perkiraan saya, bensin ini adalah bensin jenis Irex, bensin campur yang biasa digunakan oleh truk-truk fuso seperti yang banyak dijual di sepanjang jalan dari Surabaya hingga Krian. Bensin jenis itulah sepertinya yang digunakan karena seperti namanya IRit dan EKonomis, pastilah harganya juga murah meriah.

Sekitar limabelas menit naik perahu, mata saya disuguhi dengan pemandangan hijau mulai dari tetumbuhan di kanan kiri sungai hingga air sungai yang juga berwarna hijau sebelum sampai di 'dermaga' gua. Selain itu, kita juga akan memintas di bawah beberapa jembatan dan melewati dermaga-dermaga kosong tak terpakai. Saya yang mulai ngeri dengan ketenangan airnya harus pegangan erat kalau perahu sedikit saja goyang. Saya tanya ke mas-mas yang jadi pemandu perahu saya, katanya kedalaman sungainya bisa mencapai enam sampai dengan delapan meter. Saya jadi ingat film Anaconda yang dibintangi Jenifer Lopes, kira-kira di dalam sungai ini ada ular yang kayak begitu gak ya? Ngeri juga kalau memang ada. Soalnya, dasar sungainya gak kelihatan, kan gak tahu kalau tiba-tiba ada hewan atau apa gitu yang lagi merayap di dasar sungai. Ah, saya tak mau memikirkannya. Tapi yang jelas, biawak adalah salah satu hewan yang mudah ditemui di pinggir-pinggir sungai di sini. Persis kayak kadal gedhe leyeh-leyeh menunggu mangsa. Hiii.

antri menjejak Canyon
Sebelum mencapai 'dermaga' berbatu karang, saya harus melangkah melewati perahu-perahu lain yang sudah merapat lebih dulu. Dan di sini, 'sistem' antrian mau lewat pun berlaku. Jadi, tak jarang saya mendengar ujaran seperti 'permisi', 'punten', dan 'numpang lewat ya Pak' diucapkan oleh orang yang lalu lalang menuju ke batu-batu karang pembatas aliran sungai atau waktu kembali ke perahu masing-masing.

Dan apa yang dapat dilihat di sini memang menakjubkan. Dinding tinggi yang ditimpa berkas sinar yang menerobos melalui celah pepohonan, air sungai yang mengalir deras, gua dengan 'atap' melengkung yang terbuka lebar, dan hampir semuanya berwarna atau memantulkan warna hijau. Jika kita tergoda ingin berenang di sungai yang ada di bawah tebing, kita akan dimintai duit lagi oleh yang punyai perahu sebagai 'ongkos tunggu' dengan tarif tergantung kesepakatan.

bergaya di Canyon
Banyak juga pengunjung yang berenang di sini. Walaupun airnya berwarna kehijauan seperti ada lumutnya, sebenarnya kalau diambil jernih juga. Dan segar tentu saja. Saya hanya bermain-main air di sini karena arusnya kenceng banget. Orang-orang yang mau berenang di bawah tebing harus dibantu dengan tali tambang yang sudah lebih dulu diikatkan di antara batu karang sebagai sarana pegangan agar tidak tersangkut arus. Yang paling menyebalkan adalah orang yang menguasai spot menarik untuk foto-foto, tapi gak nyadar kalau sedang ditungguin untuk gantian foto-foto di tempat yang sama. Rasanya pengen tak ceburin aja ke sungai yang alirannya deras itu. Huh.

Kalau tidak bisa berenang tetapi nekat pengen nyebur juga bisa. Biasanya di perahu juga disediakan life jacket yang bisa disewa. Sebenarnya, Anda bisa menentukan sendiri sampai kapan mau ada di sini. Tapi perlu diingat juga, karena jumlah perahu terbatas dan yang punya perahu juga butuh makan, maka kalau sudah puas dan tidak ingin berenang di bawah tebing, ya segeralah balik ke dermaga asal, biar pengunjung yang lain kebagian waktu dan perahu untuk sampai ke sini. Kan kasihan kalau hanya untuk memenuhi ego pribadi, pengunjung yang lain jadi terlantar dan pemilik perahu hanya dapat penghasilan sedikit. Benar kan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar