Selasa, 13 September 2016

Safari di Bali

.: Deretan Kamar di Mara River Safari Lodge :.

Berlibur ke Bali rasanya tak pernah membosankan. Meski sekarang sudah semakin macet dan lahannya semakin sempit karena masifnya pembangunan, Bali selalu menawarkan sesuatu yang menarik untuk dijelajahi. Pertama kali ke Bali standarnya pasti pergi ke pantai. Itupun Pantai Kuta selalu menjadi daftar wajib kunjung. Setelah itu deretan pura dan atraksi budaya menjadi menu wisata berikutnya. Berkali-kali ke Bali, saya juga sudah main-main ke sawahnya yang unik, gunungnya yang asri sehingga diganjar sebagai taman bumi, dan tentunya mencicipi beragam kulinernya yang memanjakan lidah.

Berhubung untuk pertama kalinya ikut dalam hajatan tahunan Maybank Bali Marathon 2016 di Gianyar, saya pun menyisipkan agenda untuk mengunjungi Bali Safari and Marine Park yang menjadi venuenya. Untungnya, semua peserta lari mendapat voucher tiket masuk secara cuma-cuma. Jadi, sayang banget bukan kalau dilewatkan. Saya sendiri sebenarnya agak rewel kalau diajak main ke 'kebun' binatang. Syaratnya mesti panjang dan berbelit. Pada dasarnya saya tidak suka melihat hewan yang dikerangkeng. Hewannya harus bebas bergerak, tidak stres, cukup makan dan minum. Intinya, kalau boleh memilih, saya lebih suka main ke taman nasional daripada ke kebun binatang.

Ceritanya, daripada duduk bengong menunggu peserta full marathon yang COTnya sampai tengah hari, saya pun melipir saja masuk ke dalam. Tinggal menunjukkan vouchernya, saya pun dipersilakan melenggang mulus ke dalam area safari. Sepertinya memang tak banyak yang memanfaatkan voucher gratis saat itu juga. Soalnya, hanya beberapa orang saja yang ada di halte penjemputan. Itupun yang pakai kostum lari hanya saya saja. 

.: Ikan Piranha di Akuarium Jumbo :.

Sebelumnya, saya sudah pernah main ke Taman Safari di Cisarua, Jawa Barat. Meski katanya lebih kecil, Bali Safari ini dikemas lebih menarik. Pengunjung tidak boleh naik mobil sendiri. Sebagai gantinya, semua pengunjung dinaikkan dalam mobil safari dengan jendela kaca lebar sehingga lebih leluasa untuk menikmati suasana safari layaknya di habitat aslinya menuju Terminal Bali. Tadinya saya mengira atraksinya bakal basi banget. Soalnya begitu sampai terminal, lho, kok sepi tidak ada apa-apa. Sempat deg-degan juga karena ada patung leak dan Calon Arang melayang-layang di langit-langit bangunan. Sementara saya sendirian. Duh.

Saya pun segera melipir ke lorong-lorong yang ternyata dipagari dengan akuarium dengan koleksi yang beragam. Ada penyu, kura-kura, aneka jenis ikan dengan berbagai ukuran, termasuk ikan arwana yang ukurannya besar sekali dan ... piranha. Mata saya langsung terbelalak dan kaki saya seperti ditarik untuk segera mendekat. Bayangkan, ratusan ikan piranha dengan giginya yang tajam itu mangap sembari berkedip dengan jarak hanya sejengkal dari saya. Mereka seperti melayang-layang di akuarium. Berharap mendapat reaksi suatu gerakan, saya mendekatkan kepala dan beradu pandang dengan si ikan. Tapi nihil. Tak ada gerakan apapun, cuma kedipan dengan mulut menganga siap memangsa. Sialan.

.: Kakatua Cantik yang Cerewet :.
Mengikuti lorong berdinding akuarium, saya sampai di sebuah bangunan mirip piramida suku Maya di Meksiko, Chichén Itzá. Di sebelahnya, terdapat beberapa wahana layaknya taman air. Baru sadar, ternyata selain menyajikan suasana safari seperti di habitat aslinya, Bali Safari juga mengoleksi beberapa wahana 'basah-basahan' layaknya wisata waterpark di Jakarta. Tentu, saya hanya melewati saja karena waktunya yang sempit dan lagi malas banget buat ganti baju.

Mengikuti petunjuk dari petugas taman dan mendengar pengumuman dari pengeras suara, langkah saya sampai di area Hanuman Stage. Area ini sungguh rindang. Melewati sungai kecil dengan jembatan berarsitektur naga yang dijaga patung Dewa Siwa berkepala tiga. Ada pohon beringin besar dengan akar bergelantungan. Di sela-selanya terdapat pelinggih penunggun karang tempat sesaji. Saat berjalan seorang diri di suasana hening seperti ini, tiba-tiba ....

"Tet ... tet ... selamat siang ... tet ... apa kabar?", kata sebuah suara.

Saya terkesiap dan mencari sumber suara. Orang terdekat yang bisa saya lihat dari posisi saya berdiri berjarak kurang lebih 300 meter. Saya pun bingung mencari lagi asal suara misterius itu. Ternyata, beberapa ekor kakatua cantik jelita sedang mangkal di area Taman Banyan. Mereka sungguh lucu dan menggoda. Untung mereka tidak bisa terbang gesit. Jadi, saya pun menggoda mereka untuk 'mengejar' langkah kaki saya layaknya kucing-kucing lucu di kompleks perumahan sebelum saya tinggal lari ke arena pertunjukan.

Tepat pukul 11.00 WITA, pertunjukan hewan di Hanuman Stage dimulai. Atraksi ini bukan sirkus binatang, tapi semacam pertunjukan edukasi tentang apa dan bagaimana binatang yang tampil itu dengan dipandu oleh MC dengan dua bahasa. Binatang yang ditampilkan banyak sekali dan beberapa sudah kita kenal sehari-hari seperti: tikus, kucing, merpati, anjing, dan tupai. Setelah itu tampil pula beberapa hewan yang pernah saya lihat di habitatnya langsung seperti: orangutan, ular piton, burung kakatua, elang, dan lain-lain. Saya senang sekali akhirnya bisa melihat hewan yang baru saya kenal. Namanya binturong (Arctictis binturong), sejenis musang dengan tubuh layaknya beruang, tapi berkumis seperti kucing. Karena gemuk, wujudnya jadi kelihatan lucu seperti boneka. Ah, jadi pengen meluk. #eh 

.: Ikut Ambil Bagian dalam Atraksi Binatang di Hanuman Stage :.

Di tengah keriuhan dan tepuk tangan membahana, tiba-tiba MC menawarkan kepada pengunjung, siapa yang bersedia menjadi voluntir untuk atraksi edukasi dengan binatang ini. Dengan bodohnya, tanpa pikir panjang, tangan saya tiba-tiba terangkat. Sependek pikiran saya, kapan lagi bisa main langsung sama binatang di taman safari. Lalu MC memberi tahu bahwa 'kawan' yang akan datang berikutnya berasal dari pedalaman Kalimantan. Bertubuh besar dan berbulu lebat. Saya diminta untuk melencangkan lengan. Saya pikir, saya akan dipeluk orangutan dari belakang. Ternyata hewan yang akan datang adalah seekor burung. Saya pun 'digoda' terlebih dahulu oleh MC-nya yang adalah seorang perempuan muda.

"Masnya sudah pernah megang burung sebelumnya? Burung yang dipegang biasanya besar atau kecil? Berbulu lebat atau enggak mas burung yang biasa dipegang?"

Duh. Pertanyaannya nakal sekali. Saya pun jadi bahan tertawaan di area stage. Dalam waktu beberapa detik kemudian, tiba-tiba ... hap, seekor burung rangkong dengan paruhnya yang tajam, berdiri nyaman di lengan saya. Saya pun akhirnya membuat iri semua pengunjung karena diperbolehkan untuk foto bersama dengan burung rangkong. Maklum, saat menjelajah rimba Kalimantan, saya hanya puas memotretnya saja, tidak sampai foto bersama. Atraksi pun berakhir tak lama setelah hewan-hewan yang tampil tadi muncul kembali secara bersamaan di panggung dengan ditutup tepuk tangan meriah dari pengunjung.

.: Bermain-main dengan Gajah Sumatera :.

Berhubung waktunya terbatas, secara marathon saya segera menuju pertunjukan berikutnya yaitu di Harimau Amphitheatre. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba kaki saya terhenti. Di sebuah kubangan, dua ekor gajah sedang asyik dimandikan oleh pawangnya. Demi memendam keinginan mendalam untuk bertemu gajah di Tangkahan atau Way Kambas yang belum juga kesampaian, saya menyempatkan diri sejenak untuk menyapa mereka. Baru kali ini juga saya bercengkerama secara langsung dengan gajah, menyuapinya dengan penuh sayang, membelainya dengan manja, sampai tiba-tiba ... prooot ... belalainya yang panjang menyemburkan air kubangan. Terima kasih untuk sapaan persahabatannya. Saatnya mengucapkan salam perpisahan dan segera bertamu di kandang harimau.

.: Pertunjukan Spektakuler di Kandang Harimau :.

Mengingat harimau merupakan binatang buas, meski sudah dilatih tetap saja pengunjung tidak boleh bercengkerama secara langsung. Pertunjukannya dilakukan secara teatrikal di panggung terbuka yang dibatasi dengan sungai dan pagar tinggi dengan dinding kaca. Jadi, pengunjung tetap leluasa menyaksikan pertunjukan dan segala tingkah polah harimau dengan aman. Ada tiga ekor harimau beneran yang ikut ambil bagian di pertunjukan tersebut. Sepertinya memang lucu-lucu sih harimau tersebut. Penampakannya garang seperti kucing tapi seukuran manusia dewasa. Kegarangan itu mendadak direduksi saat ketiganya minum susu dari botol bayi di bawah terik matahari. Uh, lutunya.

Bosan duduk terus menikmati sajian atraksi binatang, saya segera menuju Terminal Toraja untuk ikut Safari Journey keliling area taman safari. Saya kembali diantar naik mobil safari berjendela kaca besar dengan ditemani seorang pemandu dan diterangkan dengan dua bahasa. Di awal-awal rute tur keliling hutan, eh taman, saya bertemu dengan sekawanan babi rusa, burung hantu, buaya, dan gajah. Kecuali buaya yang leyeh-leyeh berkubang lumpur, mereka tampak sedang menikmati sajian makan siangnya yang nikmat. Apalagi gajah-gajah itu sungguh mengundang sekali untuk dibelai, berdiri berkerumun sembari lahap mengunyah rumput. 

.: Seekor Antelope yang Lincah :.

"Yang lagi berdiam itu adalah tapir. Tapir ini tubuhnya mirip babi, telinganya kayak telinga badak, eh moncongnya monyong seperti trenggiling. Sungguh hewan gak jelas dan gak punya kepribadian.", begitulah kira-kira terjemahan harfiah dari penjelasan pemandu yang disambut dengan gelak tawa pengunjung.

Selanjutnya, mobil bergerak melewati 'habitat' banteng (wuiih ukurannya besar banget), kancil, angsa, orangutan, owa, bangau tongtong, beruang madu, burung merak, rusa tutul (mengingatkan saya pada kawanannya yang berkeliaran di Istana Bogor), dan antelope. Betapa rusa-rusa dan 'keluarganya' bisa bergerak lincah lelarian ke sana-sini. Hewan unik lainnya yang saya temui adalah sekawanan kuda nil yang sedang berkubang di rawa, seekor citah yang sedang tidur siang, dan sepasang harimau (ukurannya lebih besar daripada harimau di tempat pertunjukan) juga sedang tidur siang. Sepertinya kombinasi siang yang terik dan angin sepoi-sepoi mampu meninabobokan siapa saja, termasuk penghuni taman safari.

.: Singa betina sedang leyeh-leyeh :.

Tiba-tiba terdengar seperti suara gerbang sedang dibuka. Ternyata memang pengamanannya sedemikian ketat untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung. Sang raja hutan ditempatkan di area terpisah yang dijaga oleh pawang atau petugas khusus untuk memasok makanannya setiap hari. Tapi sayangnya, singa-singa itu juga sedang asyik istirahat siang. Suara gerbang yang ditutup mengiringi langkah mobil safari keluar dari 'kandang' singa. 

Di tempat agak lapang yang areanya dirimbuni pepohonan rindang dan dialasi rumput hijau yang subur, sekelompok jerapah menjulurkan lehernya yang jenjang untuk menggapai pucuk-pucuk daun, beberapa ekor unta berdiam diri di bawah pohon palem bersanding dengan keluarga sapi watusi dengan tanduk panjang dan tajam. Saya baru pertama kali ini melihat spesies watusi.

.: Sepasang Burung Unta sedang Bercengkerama :.

Tak jauh dari situ, tiba-tiba saja sepasang burung unta berlarian di antara batang pohon. Saya jadi ingat adegan film India. Rasanya memang menyenangkan menyaksikan aneka satwa bergerak bebas dengan leluasa. Di sisi yang lain, beberapa ekor zebra tampak merumput di bawah bale-bale. Demi menyaksikan hewan-hewan lucu dan gemuk itu bercengkerama, kalau tidak ingat bahwa di antara mereka terdapat harimau, rasanya saya ingin turun dari mobil safari dan memukul pantatnya yang montok. Aww. :D

Mendekati akhir rute tur safari, saya kembali dikagetkan dengan keberadaan badak putih yang ukurannya subhanallah besar sekali. Kalau tidak diberitahu oleh pemandu, saya akan mengira itu sebuah gundukan batu kali berwarna pucat. Untung saja pas lewat, badak putihnya sempat melengos sebentar, bukti sahih bahwa yang ada di depan saya itu makhuk hidup, bukan pondasi taman. Melihat ukurannya yang super jumbo seperti itu, saya jadi mikir, pantas saja hewan ini rawan kepunahan. Soalnya tingkat perkembangbiakannya boleh dibilang jarang sementara perburuannya di alam bebas sungguh masif.

.: Sekawanan Zebra yang Montok Menggemaskan :.

Sebenarnya, pengalaman bersafari ini akan semakin lengkap kalau kita melewatkan waktu semalam dengan menginap di Mara River Safari Lodge, yang kamarnya langsung menghadap tempat hewan-hewan lucu ini bercengkerama. Kalau ingin ngopi-ngopi ganteng sembari ditemani singa atau harimau, tinggal melipir saja ke Tsavo Lion Restaurant. Sungguh, demi menikmati suasana safari ini, saya mendadak lupa sejenak kalau sedang ada di Bali. Setidaknya, setelah menyelesaikan tur safari ini, boleh dong saya berharap jika suatu saat bisa main-main ke benua Afrika dan merasakan pengalaman bercengkerama dengan aneka satwa tersebut di habitat asalnya. Saya hanya berharap kesempatan itu segera tiba. []

18 komentar:

  1. Waw seru dan ada yang menantang juga ya kang liburannya jadi penasaran nih pengen nyoba yang menantangnnya karena yang serunya mah sudah pernah.

    BalasHapus
  2. belum pernah ke bali safari, tiketnya mahal sih
    sad :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, masa? Kan 'cuma' 125rb. Tapi aku gratis sih mas gara-gara ikut Bali Marathon ini hehehe. Seru banget kok tur keliling lihat hewannya ;)

      Hapus
  3. koleksi hewannya banyak juga ya adie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak banget. Lumayan lengkap sih menurutku hehehe ;)

      Hapus
  4. Belum pernah si ke Bali Safari & Marine Park, kalo ke Bali Zoo iya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ini juga gara-gara dapet voucher heratis kok kak Olip. Kebetulan lagi nunggu juga yang lagi lari, ya makanya langsung cuz aja masuk ke dalam :)

      Hapus
  5. Saya kepengen banget ke sini Mas, penasaran sama kemasannya yang kayaknya berbeda daripada kebun binatang atau taman safari yang sudah ada *emot love di mata* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera kesampaian ya keinginannya. Nabung dulu. Eh, tapi murah kok sebenarnya tiketnya. Coba aja. Lumayan kok :)

      Hapus
  6. keren juga bali safari ini ... kayaknya kemasannya memang lebih menarik dari yang cisarua, waktu ke taman safari cisarua .. ceritanya tidak seseru yang di Bali :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku udah lama mas gak ke Taman Safari yang di Cisarua. Denger mau piknik ke Puncak aja yang kebayang langsung macet. Duh! Hahaha :'(

      Hapus
  7. anjaii. ada koleksi piranha juga? wah keren nih. aku harus ke sini. lahir d bali aku blm pnh sama sekali ke sini. sedih g sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, iya. You should go there. Asyik banget kok fasilitas tur safarinya. Cobain deh :)

      Hapus
  8. 30 oktober melu ya. Kelud Volcano Road Run. Aku wis ndaftar. 10 K ndaaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum tau mas. Aku tiap akhir pekan sudah daftar race soalnya. Nanti aku cek lagi, tanggal 30 sudah ada jadwal atau belum :)

      Hapus
  9. Tempat wisata alternatif selain pantainya yang indah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, terima kasih sudah berbagi. Lombok punya objek wisata yang gak kalah sama Bali kok hehehe ;)

      Hapus