Minggu, 24 Mei 2020

Memorabilia Maria

.: Tengara Maria 🍁🌿 :.

Saat masih SD, saya mengenal sosok Bunda Maria hanya dari figur yang terdapat di altar dalam rumah kawan saya yang Katolik. Beranjak remaja dan mulai suka jalan-jalan, saya mulai mengenal lebih jelas bahwa figur tersebut begitu diagungkan di dalam sebuah gua di Puhsarang, Kediri.

Begitu sudah bekerja dan mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan ke tempat yang lebih jauh, saya menyaksikan bentuk 'penghormatan' yang begitu meriah kepada sosok Bunda Maria pada perayaan Semana Santa di Larantuka, Flores Timur. Masyarakat tumpah ruah ke jalan, mengarak figur agung tersebut keliling kota. Figur yang sungguh indah saya temui saat berkunjung ke gereja-gereja di Filipina. Sebagaimana di Nusa Nipa, menurut saya, gereja-gereja di Filipina sungguh memanjakan mata.

Sabtu, 09 Mei 2020

Ekspedisi Alkahfi

.: Persimpangan Jalan Menuju Lokasi Alkahfi :.

Hampir setiap hari Jumat, saya menerima pesan pendek yang isinya mengingatkan untuk memperbanyak amalan ibadah dan anjuran untuk membaca Surat Alkahfi. Surat ke-18 dalam Alquran ini termasuk dalam surah Makkiyah. Terdiri dari 110 ayat.

Salah satu isinya mengisahkan tentang tujuh pemuda beriman dan seekor anjing yang tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun. Syahdan, mereka bersembunyi dan terkurung di dalam gua karena berusaha mempertahankan aqidah untuk beriman kepada Allah dan menolak memuja dewa-dewa dalam kepercayaan Pagan yang banyak dianut oleh penduduk setempat kala itu.

Sabtu, 25 April 2020

Pengabdi Artemis

.: Kucing Penjaga di Jalan menuju The Great Theater :

Kota tua Efesus yang teronggok di episentrum wilayah Selçuk merekah menjadi magnet utama destinasi wisata di kawasan barat daya Anatolia. Situs-situs uzur berkoloni membuat liga dan sanggup bertahan hingga saat ini. Saya bertamu di suatu siang yang terik tanpa prasangka apapun. Bahkan, saya tidak begitu memerhatikan adanya kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut yang bertujuan untuk mengawasi gerak-gerik pengunjung.

Saya menikmati suasana kota tua ini. Bagai terlempar kembali ke masa kejayaan bangsa Romawi berabad silam, saya menyusuri jalan-jalannya yang dilapisi pualam dengan penuh keceriaan seorang remaja yang akan berjumpa dengan artis idolanya.

Sabtu, 11 April 2020

Menembus Gerbang Efesus

.: Panggung untuk menikmati Lower Agora :.

Pagi berjalan merayap di Selçuk. Suasananya yang tenang dengan hawa sejuk musim semi seperti menuntun siapa saja untuk menikmati momen tanpa diburu ketergesa-gesaan. Toko-toko dan jalanan sepertinya baru benar-benar hidup setelah embun angkat kaki digusah mentari. Saya merasa, mungkin beginilah suasana kota yang cocok untuk melewatkan hari saat pensiun tiba.

Setelah mandi dan sarapan seadanya, saya istirahat sebentar. Hawa yang sejuk dan suasana yang tenang membuat saya betah berlama-lama duduk di samping jendela kamar hotel, memandang bukit Bulbul yang hijau di kejauhan, sambil sesekali terhibur dengan seliweran burung-burung liar di seantero kota.

Minggu, 29 Maret 2020

Isa Bey dalam Pusaran Reinkarnasi

.: Ahlan wa sahlan, Isa Bey :.

Sesaat setelah keluar dari gerbang reruntuhan Saint John Basilica, saya berjalan kembali ke arah Selçük otogar. Niat hati ingin mampir ke bank lokal untuk menukar uang lira dan membeli roti simit (roti khas Turki) untuk sarapan. Maklum, persediaan lira saya menipis. Saya sengaja hanya membawa dolar saja. Saya tukar di bank lokal supaya mendapat nilai tukar yang lumayan daripada di money changer.

Namun sebelum berjalan terlalu jauh, saya membaca papan penunjuk jalan. Di gang yang saya lalui, menurut informasi tersebut, ada dua situs bersejarah. Satunya berupa gereja, satu lagi berupa masjid. Saya pikir satunya lagi berupa kastil yang baru saja saya datangi. Saya menerka dalam hati, mungkin bangunan seperti bongkahan kubus yang saya lihat dari ketinggian kastil tadi masjidnya. Saya pun bertanya ke seorang penjual cenderamata tentang keberadaan mesjid tadi.

Sabtu, 07 Maret 2020

Menziarahi Yohanes

.: Selamat Datang di Reruntuhan Gereja St. John 🍁 :.

Langit masih gelap saat bus yang saya tumpangi berhenti di Izmir Otogar. Saya terbangun dengan geragapan. Maklum, saya hanya sempat memajamkan mata sejenak. Angin dingin menembus kulit saya yang sudah dibebat tiga lapis kain. Benar-benar membuat gigil.

Saya pun langsung menuju bagian informasi, menanyakan apakah operator bus ini menyediakan suttle gratis menuju Selcuk, tujuan saya berikutnya. Jawabannya nihil. Saya hanya dijawab dengan kalimat singkat sambil ditunjukkan arah menuju terminal utama.

"Servis otobűsű yok. Orada", katanya.

Sabtu, 29 Februari 2020

Menjejak Konya dalam Sekejap Mata

.: Menara-Menara Mini di Museum Mevlana 🌿🍁:.

Traveling tanpa rencana perjalanan yang jelas memang penuh tantangan. Saya sadar dengan konsekuensinya. Saya harus disiplin, cermat dalam mengatur waktu serta biaya, dan bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Hal seperti ini sudah saya perhitungkan sejak mendarat di Istanbul dalam rangkaian #TurkeyTrip ini. 

Saat kembali ke Göreme Otogar dari Uchisar Castle, saya segera menuju agen tiket untuk menuju kota berikutnya. Saya dihadapkan pada dua pilihan: Selcuk atau Konya. Selcuk sudah lama ada dalam bucket list kunjungan saya karena adanya kota kuno Ephesus dan situs sejarah lainnya. Sementara itu, saya baru mendengar kota Konya pada hari terakhir di Göreme dalam sebuah obrolan ringan di ruang resepsionis penginapan.

Kamis, 30 Januari 2020

Sendirian di Uchisar Castle

.: Kastil Batu Karang Uchisar 🍁🍂 :.

Sewaktu berada di bukit belakang penginapan untuk menikmati panorama Cappadocia dengan  balon udara yang melayang-layang di langitnya, saya melihat sebongkah batu karang raksasa yang menyembul di kejauhan. Fasadnya terlihat seperti sebuah keraton. Bernuansa gelap dan terkesan misterius.

Saya bertanya kepada seorang kawan-baru dari Suriname tentang keberadaan bongkahan batu raksasa tersebut.

"That's Uchisar Castle, the highest point of Cappadocia. You should go there if you have more time. Very beautiful and magical," katanya.

Terhipnotis dengan kata magical dan kesan misterius yang ditimbulkannya, saya pun tergoda untuk mampir sebentar.  Apalagi setelah Erme, resepsionis penginapan mengompori.

Minggu, 26 Januari 2020

Malaikat Penjaga dari Cappadocia

.: Malaikat Penjaga yang Manis Sekali 😍🐕 :.

Sebelum berangkat liburan ke Turki beberapa waktu lalu, saya kerap dinasihati oleh beberapa kawan.

"Kalau lo mau jogging pagi di Goreme nanti hati-hati ya. Anjingnya guedhe-gedhe. Galak lagi. Suka gonggongin orang." Begitu kata mereka.

Dulu, saya memang takut sekali dengan anjing. Lebih tepatnya, trauma. Saya sudah pernah menuliskannya di sini. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, saya pelan-pelan berusaha untuk bersikap biasa saja saat bertemu dengan anjing.

Minggu, 19 Januari 2020

Balon Raksasa di Langit Cappadocia

.: Up In The Air :.

Cappadocia yang menghampar di jantung Anatolia, Turki kerap dijadikan rujukan untuk wisata balon udara. Meski bukan satu-satunya, tapi balon udara Cappadocia hampir selalu dijadikan bucket list oleh kebanyakan pejalan dari seluruh dunia saat mengunjungi Turki. Saya saja sampai bosan ditanya orang-orang di bus saat menuju Desa Göreme.

"Mau naik balon udara ya," duga mereka.

Begitu populernya wisata balon udara ini sampai-sampai setiap penginapan pun sepertinya bisa mengurus pendaftaran paket wisatanya. Harganya bervariasi, tergantung kapasitas keranjang dan jumlah peserta yang ikut. Berkisar antara US $140-$200. Jumlah yang cukup 'mahal' jika dibandingkan dengan keseluruhan biaya yang saya keluarkan untuk #TurkeyTrip ini.

Minggu, 12 Januari 2020

Bertamu ke Rumah Flintstones

.: Welcome Home 🍁🍂 :.

Di antara rimbunan pilar aneh yang membentuk kawasan Cappadocia, kompleks gua di Göreme Open Air Museum disusun oleh batu-batu dengan lanskap yang paling menarik. Lokasinya ada di pinggir jalan raya antara Urgup dan Göreme. Jika tidak ikut tur, kompleks gua kuno ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik sepeda dari Desa Göreme.

Di suatu sore yang cerah, dalam perjalanan mengunjungi Taman Nasional Göreme, saya menyempatkan diri untuk mampir ke museum ini. Sekilas, fasadnya memang sama saja dengan gua-gua batu yang tersebar di seluruh Cappadocia. Tapi di sini, gua-guanya sudah rapi, lebih terawat, dan beberapa jalannya dibuat jalur berundak supaya lebih mudah dilalui.

Minggu, 05 Januari 2020

Teroka Cappadocia

.: Welcome to The Fairy Chimneys 🌲😻 :.

Malam menggelayut sendu saat kereta metro melaju kencang mengantarkan saya menuju Istanbul Central Bus Station (Otogar). Perjalanan kali ini memang sungguh impulsif. Saya hanya mengantongi tiket pergi-pulang Jakarta-Istanbul, salinan visa elektronik, dan beberapa lembar dolar Amerika. Tanpa reservasi hotel dan tanpa tujuan yang jelas.

Tapi begitu mendarat di Istanbul tengah malam, saya memutuskan untuk segera ke terminal bus dan menuju Cappadocia. Saat melakukan perjalanan, saya kerap berjudi dengan waktu. Dan kali ini, kalau sampai tidak ada lagi bus yang berangkat malam ini juga, terpaksa saya akan bermalam di Istanbul saja. Angin dingin membuat saya terkesiap. Suhunya 12 derajat Celcius malam itu. Cukup hangat untuk cuaca yang baru lepas dari musim dingin.

Rabu, 25 Desember 2019

Pentingnya Piknik

.: Piknik Kuy. Berangkaaat 😜🌲🌴 :.

Tinggal hitungan hari, tahun 2019 akan berakhir. Rasa-rasanya waktu begitu cepat berlalu. Tahun depan sudah tahun baru. Dekade yang baru juga. Betapa kehidupan dibingkai dalam waktu dan sesekali, diabadikan dalam foto dan video. Saya mencoba melihatnya kembali pengalaman satu dekade ini melalui file foto di komputer. Ternyata banyak juga. Saya baru ingat bahwa perjalanan-perjalanan ini saya mulai tahun 2010 silam. Tepat satu dekade yang lalu.

Setelah melakukan perjalanan sejauh ini, saya merasakan banyak sekali perubahan berarti, setidaknya dalam menjalani hidup dan memandang sesuatu. Soft skill saya tentu saja bertambah. Merasakan begitu banyak hal positif, saya jadi ingin merangkumnya di sini mengapa jalan-jalan atau piknik itu penting banget dilakukan oleh setiap orang, terutama mereka-mereka yang berkutat dengan rutinitas.

Minggu, 22 Desember 2019

Demam Harry Potter

.: Let The Magic Begins :.

Setelah bagian kedua film Harry Potter dan Relikui Kematian dirilis bulan Juli 2011 silam, penantian saya selama bertahun-tahun akhirnya selesai juga. Bagi seorang Potterhead (sebutan untuk para fandom Harry Potter), masa penantian sebelum buku atau film terbaru rilis ini sungguh membuat deg-degan. Mereka akan sibuk meributkan segala kemungkinan akhir dari kisah penyihir yatim piatu melawan musuh bebuyutannya, Lord Voldemord.

Saya sendiri, selain suka membaca ulang kisah sebelumnya, membahas kisah-kisahnya dengan sesama Potterhead layaknya 'orang gila', juga suka mengumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan Harry Potter seperti buku serinya dalam bahasa Inggris, koran serta majalah yang mengulas tentang Harry Potter, dan pernak-pernik semacam stiker, tongkat sihir, syal, dan lain-lain. Rasanya seperti menemukan 'teman main' yang mengasyikkan. Maklum, saya tumbuh dan berkembang bersama kisah ini. Jadi, begitu film terakhirnya rilis, rasa-rasanya ada sesuatu yang 'hilang' setelah masa-masa kebersamaan dari zaman SMP hingga sudah bekerja yang penuh kenangan.

Jumat, 29 November 2019

Nostalgia dalam Sinema Bersama Trinity Traveler

.: The Naked Traveler 2 :.

Semalam saya nonton film Trinity Traveler. Film ini diangkat dari sebagian kisah di buku The Naked Traveler 2. Saya pertama kali membaca buku ini tahun 2010. Waktu itu beli karena mau ke Bali dan tidak punya buku buat bacaan di perjalanan. Saat itu, saya belum kenal Trinity, belum pernah melihat orangnya, bahkan fotonya sekalipun. Entah sudah berapa kali buku ini saya baca. Satu dasawarsa berselang, buku ini diangkat ke layar lebar.

Seperti yang pernah saya tulis di postingan ini bahwa mungkin terkesan lebay kalau dibilang buku ini mengubah hidup saya. Tapi jujur, beberapa prioritas dalam hidup saya agak sedikit bergeser setelah membaca buku dan mengikuti postingan (budhe) Trinity di blognya. Saya yang dari kecil sudah terbiasa diajak jalan-jalan sama orang tua, jadi kecanduan untuk bisa jalan-jalan terus.

Minggu, 18 Agustus 2019

Nikmatnya Jalan-Jalan Sendiri

.: Menikmati suasana kawasan Kamondo Merdivenleri, Istanbul, Turki :.

Saat mengunggah foto perjalanan ke Turki beberapa bulan lalu, saya banyak sekali mendapatkan pertanyaan. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sering sekali dilontarkan. Tapi saya menjawabnya singkat saja atau sambil lalu. Pertanyaan yang paling sering ditanyakan tentu saja tentang mengapa kalau jalan-jalan selalu sendirian saja. Apa tidak takut? Nanti di tempat tujuan bagaimana? Menginapnya di mana? Makan apa? Menuju ke sananya piye? Aman tidak? Kalau diculik bagaimana? Nah, panjang kan? Lho, apanya? Ya pertanyaannya. 😜

Terus terang, saya sebenarnya juga tidak ada masalah saat harus jalan-jalan berombongan. Faktanya memang, sejauh ini, saya tidak pernah benar-benar jalan sendirian. Selalu ada teman pejalan lain yang sama juga sedang jalan-jalan.

Minggu, 11 Agustus 2019

Menjadi Seorang Pelari Maraton

.: Berlari di Ajang Borobudur Maraton 2018. Foto oleh Rungrapher :.

Beberapa kali ikut ajang lari kategori maraton penuh membuat saya sering ditanya tentang kesan apa yang saya rasakan setelah menjadi seorang pelari maraton. Padahal ada banyak pelari lain yang lebih berpengalaman malang-melintang di pelbagai ajang maraton baik di dalam maupun di luar negeri. Mungkin karena mereka tidak menulis seperti saya sehingga kisah-kisah heroik yang mereka alami, tidak didengar oleh pelari yang baru akan merintis pengalaman menjadi seorang pelari maraton. Pengalaman saya dalam 'belajar' berlari maraton selama ini, banyak kisah pelari maraton 'senior' yang menginspirasi.

Sebagai bentuk timbal balik, saya membuat daftar hal yang kerap ditanyakan oleh pelari pemula dalam berlari. Tentu saja, semuanya berdasarkan apa yang sudah saya alami. Saya ingin agar para pelari pemula atau mereka-mereka yang berminat untuk mulai berlari, benar-benar menyiapkan diri dan pada saat yang sama, tidak menganggap olahraga lari sebagai kegiatan yang eksklusif. Semua pernah menjadi pemula. Dan sebagaimana menjadi pemula yang bijak, sebaiknya runut mengikuti dan menikmati setiap proses yang akan dijalani.

Sabtu, 03 Agustus 2019

Pocari Sweat Run Bandung 2019: Perjuangan Meraih Sub Empat Maraton Penuh

.: Merayakan latihan di ajang Pocari Sweat Run Bandung 2019 😻 Foto oleh Cerita Lari :.

Setelah mendapatkan catatan waktu terbaik 4:18:38 untuk maraton penuh di ajang bergengsi Bank Jateng Borobudur Marathon 2018 silam, saya mulai menghitung ulang kemampuan diri, mengatur strategi latihan, dan berusaha untuk mendapatkan catatan waktu terbaik sub empat jam di ajang maraton penuh lain yang akan saya ikuti di tahun 2019. Terlihat ambisius memang. Tapi, sepertinya ini menjadi semacam siklus alami bagi seorang pelari: selalu ingin mendapatkan catatan waktu terbaik di ajang maraton berikutnya. Konsekuensinya, selama empat bulan setelahnya, saya harus menjalani latihan yang cukup.

Saya kembali berlatih lari tingkat dasar. Saya pikir, semuanya harus dimulai lagi dari awal. Mungkin inilah cara sederhana yang saya lakukan agar tidak terperangkap dalam belenggu kesombongan. Mendapatkan catatan waktu terbaik di ajang maraton penuh yang jalurnya sangat menantang, acapkali menyeret seorang pelari untuk bersikap jumawa, gampang meremehkan orang lain, dan kerap mengabaikan hal-hal mendasar dalam kegiatan berlari yang ditekuninya. Hal-hal tidak perlu inilah yang berusaha saya hindari.

Minggu, 23 Juni 2019

Cinta Mati dengan KFC

.: Kedai KFC di Mal Yayasan, Bandar Sri Begawan :.

Warning!: Tulisan ini tidak disponsori oleh KFC. 😞

Sejauh ini, saya belum pernah sampai ribet harus menyiapkan menu dari rumah saat akan jalan-jalan. Sebisa mungkin, saya selalu menyempatkan diri untuk mencicipi menu lokal. Namun, saya tetap membawa kopi sachet, minuman sereal, dan biskuit untuk jaga-jaga jika daerah yang akan dikunjungi, saya perkirakan agak susah untuk mendapatkan makanan halal.

Saya masih ingat saat jalan-jalan ke Tana Toraja. Berhubung tidak tahu tempat dan tidak pakai jasa tur guide, saya hanya makan seadanya saja bekal dari Makassar. Perut rasanya lapar sekali. Tapi saya tahan karena tidak mau mencicip menu berbahan babi. Begitu kembali lagi ke Makassar keesokan harinya, tempat pertama yang saya tuju adalah kedai KFC di dekat lapangan Karebosi. Saya pesan menu komplet dan superbesar karena kelaparan yang luar biasa.

Selasa, 18 Juni 2019

Run for The Oceans, Berlari demi Lautan yang Bebas Plastik

.: Run for The Oceans, A Movement for Our Oceans :.

Setelah hampir sebulan tidak berlari karena fokus dengan kegiatan selama ramadan dan lebaran, ada semacam kerinduan tersendiri saat akhirnya saya kembali ke track lari. Untungnya, saya tidak mengalami kesulitan untuk memulainya. Saya awali dengan lari ringan sejauh lima kilometer, hingga berlanjut ke jarak yang lebih jauh lagi. Perlahan, semuanya kembali normal seperti sedia kala.

Salah satu pemantiknya adalah tantangan di aplikasi runtastic bertajuk Run for The Oceans. Tantangan ini dibuat dalam rangka untuk menyelamatkan laut kita dari bahaya pencemaran sampah plastik. Entah disadari atau tidak, kebiasaan hidup kita sehari-hari yang sepertinya tidak dapat dipisahkan dari penggunaan plastik, perlahan tapi pasti menimbulkan akibat semakin menumpuknya sampah yang dihasilkan. Nah, sampah-sampah yang tidak dapat diuraikan ini banyak sekali yang menjadi limbah, terbuang ke laut, dan menyebar ke seluruh penjuru samudra. Maka tak ayal, akhir-akhir ini, kita semakin sering membaca berita tentang paus yang mati akibat isi perutnya dipenuhi sampah plastik, penyu yang mulutnya terluka karena tak sengaja menggigit pencukur jenggot, terumbu karang yang tak lagi sehat karena dirimbuni sampah, dan sebagainya.